DIA ITU SUAMIKU

DIA ITU SUAMIKU
Kebenaran tentang Surojo.


__ADS_3

Younga yang sibuk mencari sang nenek, dia tidak menemukan dimana pun sang nenek. Dia teringat dengan taman belakang, Younga yang masih memanggil sang nenek sampai ia terkejut seorang wanita setengah tua berdiri dari tempat duduk nya.


Nenek Widia memiliki hobby berkebun ia bahkan sering menghabiskan waktunya di kebun belakang.


Benar dugaan Younga jika nenek nya sedang berkebun dibelakang mansion. Dia yang melihat neneknya madih sehat dan kuat menggunting tanaman bonsai ini tersenyum bahagia.


Tiba-tiba dia mengingat tentang Surojo segera ia bergegas menemui neneknya, dan akan memberitahu jika Surojo sudah bertindak.


"Nenek.....," panggil Younga.


"Anak nakal ini selalu meengagetkan ku," sambil beranjak dan melepas sarung tangan.


"Maaf kan aku nek, sungguh aku tidak ada maksud membuatmu mengalihkan semua harta kekayaan secara cepat untukku," Younga mencoba menggoda sang nenek.


Nenek dan cucu ini segera duduk dibangku besi taman, tak lama kemudian Rosa datang dengan nampan berisi dua buah cangkir teh. Setelah menghidangkan teh dia dengan setia berdiri di samping nenek Widia.


Younga segera menceritakan maksud kedatangan dia menghadap neneknya ini. Setelah menceritakan semua yang menjadi kendala dan kesulitan dia nenek Widia berdiri dari kursi besi itu.


Dia memulai berbicara awal cerita mengapa Surojo sangat benci dengan pesaingnya ini. Banyak cara Surojo ingin menjatuhkan perusahaan milik keluarga Djoyo Dhiningrat tapi terus gagal. Bahkan pernah di usia Younga yang belum mengerti bisnis, dia mencoba memanipulasi harga saham tapi malah pihak Surojo lah yang merugi.


Sang nenek kembali mengingat kejadian 26 tahun lalu, ia sengaja tidak mempublikasi penyebab kematian anak dan menantunya itu. Yang orang tau mereka mengalami kecelakan biasa tapi setelah di teliti dan di cari tau sebenarnya ternyata truk besar itu bagian rencana dari Surojo.


Younga yang mendengar cerita dari neneknya ini langsung mengeraskan rahangnya dan mengubah wajahnya menjadi seperti monster yang tak kerkendali.


Sang nenek yang melihat ekspresi cucunya ini sudah tak heran, karna ketika ia bercerita ini ke Younga maka ana menimbulkan dendam dan ambisi ke diri cucunya ini.


"Rosa, mendekatlah!" panggil nenek Widia. Dan segera Rosa mendekat kearah nyonyanya ini.


"Iya nyonya, ada yang bisa di kerjakan," tanya Rosa.


"Ambilkan berkas yang bungkus map coklat,"


" Baik nyonya," tanda mengerti dan langsung berjalan ke arah dalam mansion.

__ADS_1


Tak berselang lama datanglah, Rosa dengan map coklat ditanganya, segera ia menyerahkan ke Younga. Younga yang tetap masih tetap dalam mode emosi, segera ia menerima map coklat itu. Dia pun tak tau apa saja di dalamnya yang dia tau pasti neneknya menyiapkan bom besar untuk Surojo.


Sambil duduk di samping cucunya, "Itu bukti kecurangan, korupsi, dan bukti kecelakaan orang tuamu nak. Nenek sudah menyiapkan ini dan nenek akan berikan ketika kamu sudah memiliki strategi untuk mengalahkan Surojo.


Sambil meraih tangan cucunya yang sedari tadi hanya diam dan tak banyak kata ini, sambil berpesan untuk memanfaatkan bukti dan moment tept untuk menuntaskan segalanya.


"Nek, aku benar tak habis fikir dengan ini semua. Dan mengapa Surojo tidak puas dengan segala kebejatan yang telah ia perbuat. Apa dia tak puas dengan menghakimi orang tuaku, dan kemarin mengancam ku dengan surat kaleng. Apa ini semua nek...," sambil memasang mata merah.


Nenek Widia mencoba menenangkan cucunya ini, dan menyuruh dia segera pulang ke kantor lagi. Akhirnya Younga menuruti perkataan neneknya, dan ia segera kembali ke perusahaan.


Di dalam perjalanan ponselnya berbunyi dan dia segera melihat nama istrinya lah yang tampil di layar. Segera ia menerima panggilan itu, karna emosinya akan turun ketika ia mendengar suara istrinya.


"Hallo sayang, ada apa...," nada lembut Younga lah yang terdengar saat ini.


"Mas aku mau pergi ke kantor buat ketemu Rike sama mau jalan bareng sama Mayang ke mall boleh?" suara merayu dari telfon.


"Boleh, kamu mau pake sopir gak?


Younga yang mengizinkan istrinya untuk pergi segera ia menutup sambungan telfon, dan ia segera melanjutkan perjalanannya menuju ke kantor.


🌿


Di mansion Younga, sementara Arina yang sedang sibuk mencari baju yang cocok untuk ia pakai ia menunggu jawaban telfon dari Mayang yang tak kunjung mengangkat telepon darinya.


Setelah beberapa kali akhirnya ia pun putus asa, akhirnya ia menghubungi Rike terlebih dahulu. Karna semenjak ia menikah hanya sekali ia pergi ke perusahaan miliknya.


Dan ia ingin bertemu dengan Rike sekaligus ingin melihat wakil baru yang di tunjuk oleh Younga untuk menggantikan dia.


Setelah selesai berpakaian rapi ia segera turun ke bawah, dan ia segera menemui Mila untuk berpamitan pergi ke perusahaan. Arina celingukan mencari Mila tapi hanya ada bu Halimah dia karna tak ingin membuang waktu terlalu lama ia segera berpamitan dengan bu Halimah.


Setalah berpamitan ia segera keluar dan menuju ke mobilnya yang sudah di siapkan sopir. Dengan santai ia keluar gerbang mansion dan dia langsung mengemudikan mobilnya ke arah perusahaan miliknya.


Jalanan yang tak terlalu ramai membuat ia lebih cepat sampai ke tujuannya. Tak butuh waktu lama ia sudah sampai di perusahaan miliknya. Segera ia di sambut oleh satpam dan penjaga di depan gerbang.

__ADS_1


Segera ia memarkirkan mobilnya di tempat khusus di lokasi tak jauh dari halaman kantor. Ia berjalan dengan mantap, dan menyapa semua karyawan di perusahaan milik dia. Banyak pegawai yang merindukan dia, memang dia dikenal dengan atasan yang memiliki sifat ramah.


Sebelum ia menaiki ke lantai khusus untuk pemimpin dia berkeliling ke arah sudut perusahaan. Nampak para karyawan yang bekerja dengan serius dia hanya tersenyum tak berani mengganggu.


Setalah berkeliling dia telah sampai di lantai atas, dan ia mengetuk meja sekretaris dia Linda dan sontak Linda yang tengah serius itu kaget.


"Ibu kapan sampai, kenapa tak memberi kabar?" Linda dengan raut wajah bahagia karna bosnya ini sangat sehat.


"Bagaimana masih banyak pekerjaan mu?" Arina bertanya dengan wajah yang senang karna melihat Linda kembali.


"Masih bu,"


"Semangat. Ohya bu Rike ada?" tanya Arina.


" Ada bu baru selesai meeting tadi ada di ruangan kok," beritahu Linda.


Arina pun segera pergi ke ruangan lama miliknya karna saat ini Rike lah yang mengambil alih posisinya.


Dengan semangat ia menemui sahabatnya itu, dan benar Rike yang sedang sibuk tak terasa jika Arina sudah ada di dalam. Arina yang langsung duduk di kursi sofa itupun langsung menadangin Rike.


"Mbak, masih aja serius. Kan aku bilang santai aja!" Arina yang berbicara dengan nada sedikit mengagetkan Rike.


"Yaaa, Arina....,"


"Apa mbak ya ampun, aku ini cuma mengingatkan lo,"


"Bikin buyar aja," sambil beranjak ke sofa yang di duduk Arina.


"Gimana mbak? Jangan terlalu di porsir ya kerjanya soalnya nanti kamu pusing lo," Arina bertanya sekaligus mengingatkan.


Mereka berdua pun memgobrolkan seputar perusahaan dan semua pencapaian. Ia mengerti betul Younga pasti ada alasan mengapa ia memilih Rike sebagai pemimpin karna sikapnya yang sama dengan Arina.


Karna menurutnya ia dan Arina memiliki jiwa pemimpin yang kuat dan selalu mencapai segala keinginan yang ingin di miliki.

__ADS_1


__ADS_2