
Setelah nenek Widia pulang, Younga yang langsung kembali ke ruangan kerja karena Roy sudah menunggu, sebelum ia masuk ke ruangan terlebih dahulu untuk meminta izin ke istrinya. Karena ia takut Arina akan mencarinya, setalah izin ia langsung berlari menuju ke dalam ruangan kerja miliknya.
"Ada berita apa Roy? Apakah Banyu sudah di temukan?"
"Detective yang kita pinta sudah menemukan keberadaannya namun sepertinya ia mengetahui kedatangan polisi makanya ia pergi terlebih dahulu."
"Segera urus dia karena jika tidak segera di selesaikan akan berujung panjang. OH bagaimana kerja sama di Milan apakah sudah ada lopran bulan?" tanya Younga.
"Sudah tuan, bapak Dio sudah menyelesaikan dan merekap semuanya tinggal tuan memeriksa kembali."
"Baiklah, lanjutkan pekerjaan mu." seraya melihat kembali tumpukan berkas yang da di hadapannya.
Dio yang telah menyelesaikan laporanya ia segera kembali ke perusahaan karena masih banyak juga pekerjaan yang harus ia selesaikan. Sementara Younga yang menyibukkan diri diruangan kantornya sedangkan Arina yang sibuk menonton drama korea yang di temani oleh setoples kerupuk membuat ia enggan untuk beranjak.
Walau Suara bel berbunyi Arina pun tak mempedulikan, masih saja menatap ke arah layar televisi. Mila yang masuk dengan Dio dan sekretaris Younga Laura. Seperti biasa Dio yang terkadang jahil akan menyomot apapun yang ada di tangan Arina atau dihadapanya.
"Mas Dio udah makan?" tanya Arina
"Belum, dari tadi kerja kesibukan ku bertambah karena nyonya sedang santai." sembari berjalan ke arah meja makan. Sementara Laura hanya berdiri di hadapan Arina.
"Enak sekali hidup nyonya Arina, andai pak Younga mudah berpaling tak memiliki sifat dingin mungkin aku sudah mengeser nyonya. Arina." batin Laura sembari melihat sekeliling isi ruang keluarga yang sangat besar.
Dio yang datang langsung membuyarkan pikiran Laura, dengan segera Laura yang ikut mengekori di belakang Dio untuk menuju ke ruangan kerja Younga.
TOK, TOK, TOK
__ADS_1
Suara pintu yang dibuka membuat Younga menoleh kearah pintu dan begitu pula dengan Roy. "Bagaimana urusan perusahaan sudah selesai atau belum selesai juga?" sindir Younga yang menatap sinis ke arah Dio.
"Hemmm, siap sudah selesai semua. Oh ya kerja sama dengan Milan mereka mengirim testimonial yang sangat bagus ke perusahaan kita. Jadi ada peluang besar buat kita untuk membuka sistem yang sama di kantor cabang. Ini sekedar saran sih, klo gak tertarik juga gak masalah karena klo buat indonesia menurut gw kurang pas sama sistem kerja kita." terang Dio kepada Younga.
Mereka semua bekerja dengan serius bahkan sampai lupa waktu, jika hari telah sore. Karena kesibukanlah yang membuat mereka melupakan segalanya, Sementara Arina yang tidur setelah menonton drama sampai lupa waktu juga. Roy yang menyadari bahwa waktu telah menunjukan sore hari ia langsung beranjak dan merapikan berkas serta menutup laptop yang ada di hadapannya.
Dio yang ikut melirik jam di tangannya langsung membaulatkan mata secara sempurna karena ia ingin segera pulang mungkin karna memiliki janji dengan Mayang di buat dari teks pesan. Dengan sigap ia meninggalkan ruangan yang di ikuti lirikan heran dari Younga dan Roy. Bahkan Younga yang menaruh rasa curiga dengan sahabatnya ia tau sekali jika Dio sedang merasakan cinta maka ia akan memprioritaskan janji yang dibuat secara tepat waktu.
"Pamit ya, sampai ketemu besok," sembari melangkah ke depan pintu
"Anak siapa yang lu tipu, man?" celetuk Younga.
"Sembarangan lu, enggak lah gak nipu gw,"
"Gak percaya banget jadi orang." sambil membuka pintu ruangan.
"Heh ge paham beluk elu,"
"Arina, suaminya minta makan katanya," sembari berlari kedepan padahal Arina tak ada di ruangan tengah, ia hanya bersiasat agar Younga diam tak meledeknya lagi.
Sementara tinggal Younga, Roy dan Laura lah yang ada di rungan. Laura yang sibuk memisahkan berkas dengan Roy, Younga yang mengecek ponsel langsung teringat dengan istrinya yang tak mengganggu nya selama ia bekerja membuat ia penasaran kemana istrinya pergi langsung beranjak keluar ruangan.
Sebelum keluar ruangan "Oh ya Roy nanti ikut makan malam ya sekalian Laura kamu ikut makan juga," seraya membuka pintu untuk keluar mencari sang istri, tanpa mendengar jawaban dari Roy dan Laura.
Laura yang mendengar hanya tersenyum tipis karena merasa bahagia atas ajakan bosnya langsung bersemangat untuk merapikan berkas yang ada. Lain dengan Roy ia mengerjakan dengan tenang tanpa bicara langsung merapikan segalanya.
__ADS_1
Younga yang celingukan mencari keberadaan Arina tapi tak mendapatkan istrinya langsung menuju ke kamar. Arina yang tidur pulas membuat ia tak sadar jika Younga sedang ada di hadapannya dan memandangi wajahnya.
"Cantiknya istriku, pipi kamu tembem juga ya sayang." sambil menyibakkan rambut yang ada di wajah Arina.
Younga yang ikut merebahkan diri di samping Arina dan sembari memeluk dan mengelus perut istrinya membuat ia merasakan kantuk juga. Younga yang ikut terlelap dan tak menyadari Arina yang bagaun karena merka a berat di perutnya langsung menoleh ke arah suaminya.
Wajah khas Younga ketika tidur namun terlihat tampan membuat Arina kerap memandangi wajah suaminya dan mengelus pelipis Younga. Baginya Younga yang tidur terlihat tenang membuat ia tau jika suaminya tak menyerahkan ketika memasang wajah tidur. Tak ada rahang yang meneras dan wajah cenderung galak di wajah Younga kali ini.
Setelah puas dengan memandangi wajah suaminya Arina berniat untuk beranjak namun Younga menahan tubuh mungil Arina. "Mau kemana kamu hahhhhh," seraya membuka matanya.
"Mau keluar, aku mau kedepan,"
"Gak boleh, kamu di sini aja." seraya menahan tubuh Arina yang tak sebanding dengan Younga itu.
"Kamu gak mau makan malem apa?" decak Arina.
"Nanti aja, kan belum di panggil sama Mira." sambil memeluk erat tubuh Arina.
Arina yang pasrah langsung merebahkan diri di dada suaminya, Younga yang gemas langsung mengelus perut istrinya yang sudah membesar.
"Sayang kamu nanti kalo anak kita udah lahir kamu di rumah ya jangan capek, kamu jangan ke kantor Arin's kalo gak sama aku?"
"Jangan ke kantor Arin's aku aja gak pernah ke kantor," decak Arina.
Dengan gemas ia mencubit pipi suaminya, ia langsung memeluk kembali Younga. Younga yang terkejut dengan perlakuan istrinya yang tiba-tiba manja. Bahkan jarang sekali Arina manja dengan Younga, karena sifat Arina yang memiliki mood yang terkadang berubah semau sendiri. Younga yang merasa gemas langsung mencium bibir Arina yang merah ranum tanpa polesan. Arina yang masih manja dengan Younga langsung memeluk erat tubuh suaminya.
__ADS_1