
Tiga hari setelah kepulangan Arina dan Younga dari Italia, seperti biasa di pagi hari Younga akan berangkat kerja. Arina yang hari ini enggan turun dari tempat tidur karena mengeluh malas membuat Younga mendengkus karena Arina yang tak ikut menemaninya sarapan.
Setelah tiba di kantor Younga di sambut oleh Dio dan Ririn yang sudah menunggu dengan beberapa staf yang sudah berdiri di depan lobby. Younga yang bersama Roy langsung turun dari mobil dan melangkah ke dalam.
Dia bergegas untuk pergi ke dalam ruang kerja miliknya yang di ikuti oleh staf dan juga bawahan Younga. Kini mereka sudah ada di dalam ruangan kerja milik Younga.
"Kabar apa yang akan kalian laporkan. Beritahu dengan detail apa rencana kalian, ingat dia orang yang awam bukan orang profesional." tegas Younga.
Mendengar bosnya tegas mereka semua memasang wajah serius karena mereka tau jika Younga sedang serius maka tak akan ada canda di sellingan mereka.
"Kami sudah menyetujui apapun yang di minta oleh pihak Banyu dan kami buat rencana ini se natural mungkin." terang Dio.
"Baiklah buatlah rencana seolah kerja sama ini menguntungkan pihak dia dan kita lihat apa reaksi dari pihak Banyu. Karna bagi ku ini bukanlah bisnis besar yang harus di publik mungkin ini hanya mainan yang akan rapuh nantinya meski hanya sekali banting." Younga yang menanggapi dengan santai.
Bukan berarti pihak Younga akan kalah malah ini akan berpeluang menghancurkan pihak Banyu jika dia terus terbuai karena bukan Younga namanya jika tidak memojokan lawan.
" Oh ya Gaa, tim khusus kita juga udah masuk ke sistem punya perusahaan Banyu dan semua tidak ada yang janggal hanya saja beberapa bukti kecurangan ada di dalam kinerja meraka." Dio kembali menimpali.
"Kita hanya menunggu waktu saja pak, karena pertama kita harus tau maksudnya dan tujuan Banyu sebenarnya apa?" Ririn yang tak kalah cerdik mengucapkan kata.
"Kalian atur, jika waktu dan kenyataan berpihak ke kita langsung saja kita beri dia pilihan."
Karena bagi Younga tak ingin berlama-lama berurusan dengan orang yang tak jelas tujuannya.
Di Mansion
Arina yang masih setia duduk mengunakan pejamas sambil melihat Mila membongkar belanjaan yang di beli olehnya. Taks belanja tersebut sangatlah banyak karena ia berbelanja di Milan dan di Italia.
Mila yang heran dengan semua belanjaan yang di bawa hanya bisa melongo. Sedangkan bu Halimah yang pusing karna bingung ingin menyusun sepatu dan tas yang begitu banyak.
Sambil menunggu mereka membongkar semuanya Arina mengambil ponsel yang tak jauh dari jangkauanya langsung menghubungi Mayang.
"Mayang halo,"
__ADS_1
"Ada apa Rin, gw lagi rebahan nih."
"Gak tanya kan gw. Ehhh kerumah gw buru mau oleh-oleh kaga," tawar Arina.
"Wihhh mau banget lah, tunggu 30 menit gw sampe istana lu tunggu." antusias Mayang di balik sambungan telfon.
Arina yang mengakhiri sambungan telfon dengan Mayang ia kembali merebahkan diri di kasur, sembari memainkan ponsel miliknya. Sementara itu Mila yang ditemani oleh kedua pelayan sedang merapikan semua barang yang Arina beli dari Italia. Younga yang tiba-tiba datang, sampai mereka terkejut melihat kepulangan Younga. Mengingat waktu masih menunjukan pukul dua belas tiga puluh, bahkan Arina yang masih tetap mengunakan baju yang sama.
"Tuan, tuan kembali," Mila terkejut dengan kedatangan Younga yang tiba-tiba.
Younga yang hanya menoleh dan menghiraukan Mila, la berjalan begitu saja melewati Mila dan dua pelayan lainnya.
"Sayang, kamu belum mandi astaga. Mau aku mandiin apa gimana?" sembari mencium kening istrinya yang masih asik dengan ponsel di tangannya.
Arina yang kaget dengan kedatangan Younga segera ia bangun, Younga yang tersenyum melihat istrinya yang masih sama mengunakan baju tidur yang sama seperti pagi tadi. Namun Younga memaklumi istrinya yang sering berubah mood dan juga memiliki sifat malas sejak hamil.
"Kamu belum mandi Sayang" sambil membelai rambut istrinya.
"Belum mas, aku males. Kamu mau makan siang di rumah atau memang pulang?" Arina Sambil beranjak bangun. "Aku mau mandi" Mila yang mengeleng Kepala melihat Nona mudanya sering malas ketika sedang hamil.
Sambil menunggu istrinya selesai ia mengecek kembali semua pekerjaan inti. Dio yang menggantikan Younga untuk sementara waktu, karena menurut Younga ia akan bekerja dari rumah karena ingin lebih sering dekat dengan sang istri. Saat ini Arina lebih sering merajuk karena enggan ditinggal, namun Arina tak berbicara dengan Young. Hanya saja Bu Halimah yang menggadu karena sejak usia kandungannya semakin bertambah.
Tak berapa lama Arina keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan Kimono. Mila yang sudah selesai dia berpamitan untuk keluar. Arina yang telah mengganti baju ia segera menghampiri suaminya yang masih sibuk dengan layar ponsel.
"Mas, aku boleh jalan sama Mayang gak nanti?"
"Jangan Sayang, kan kamu baru pulang sayang." Sambil membelai rambut istinya.
"Baiklah."
Tak berapa lama seorang pelayan mengetuk pintu, memberi tahu bahwa Mayang sudah datang. Dengan segera kedua pasangan ini langsung Keluar dan menghampiri Mayang.
"May kita makan siang dulu yuk." ajak Arina.
__ADS_1
"Gak papa ini Rin."
"Lah, santai aja dodol. Jangan kaku kek sama siapa aja." tangap Arina.
"Lah kan gw jomblo liat kalian gw sedih gigit garpu." gerutu Mayang.
Setelah selesai makan siang, Arina mengajak Mayang ke kamar miliknya. Mayang yang takjub melihat isi kamar Arina ia terheran dengan luasnya kamar milik sahabatnya. Bahkan ruang wardrobe miliknya tak seluas milik dia.
Arina yang menyodorkan tas merk Eropa untuk Mayang, membuat sahabatnya ini membalakan mata.
"Waw, ini buat gw Rin?"
"Bukan buat Mila," dengkus Arina.
Mayang yang senang dengan oleh-oleh pemberian Arina, langsung memeluk Arina.
Setelah Mayang berpamitan Arina Kembali ke dalam kamar, sementara Younga yang telah menyelesaian pekerjaanya ia kembali menemani Arina.
"Sayang," sambil memeluk tubuh mungil Istrinya.
"Mas, kamu kok gak ngantor?"
"Ada Dio, dia sementara gantiin aku."
"Terus kamu dirumah ngapain?" tanya Arina.
"Jagain kamu yang kerjanya ngerajuk terus." Sambil mencubit pipi istrinya yang sedikit tembem.
Arina yang tiba-tiba memeluk suaminya, membuat Younga terkejut sekaligus bahagia. Karena jarang sekali Arina memeluk suaminya secara erat. Memang Arina manja tapi tidak secara tiba tiba, sehingga membuat Younga terkejud.
"I love you, istriku." Itulah yang diucapkan Younga.
"Mas, mau tahu gejrot !"
__ADS_1
"Hah, ayok kita jalan." Ajak Younga.
"Tadi aku gak boleh jalan sama Mayang." dengkus Arina kepada Younga.