
Younga yang masih sibuk dengan layar komputer dan berkas di atas meja yang ada di hadapannya. Tanpa ia sadari waktu sudah menunjukan jam pulang, sedari tadi Roy yang duduk di sofa ikut menutup berkas dan berdiri untuk mengajak tuan mudanya pulang.
"Waktu sudah sore tuan muda, apakah tuan muda tidak mau pulang?" tanya Roy.
"Pulang Roy, aku pun merindukan pelukan hangat dari istriku." sembur Younga.
Roy hanya mengganguk dan tak berani mengeluarkan perkataan apapun, takut ia terkena semprot bosnya kembali. Mereka berdua berjalan dan segera keluar meninggalkan ruangan tak lupa Roy mengunci rungan Younga dengan sidik jarinya dan face detecting. Setalah keluar dari lift rupanya ada seorang wanita yang sedang menunggu di lobby bawah perusahaan.
"Younga, kamu beneran gak kenal sama aku," Austine mencoba melangkah mendekati Younga.
"Austine, tentu aku mengenalmu. Kau adalah wanita yang menghalalkan segala cara untuk meraih sesuatu." sindir Younga sehingga membuat Austine terdiam.
"Itu dulu, sekarang aku sudah berubah."
"Hahaha, mana ada orang yang telah berubah mengatakan dirinya berubah itu lucu nona." semprot Younga kembali.
Austin yang hanya diam, di serta dengan Younga melangkah meninggalkan dia. Dan seolah tak perduli dengan wanita. Younga yang sekarang bukanlah Younga yang dahulu sering keluar masuk club malam dan gonta ganti pasangan satu malam.
Kini ia telah berubah semenjak bertemu Arina yang menurutnya wanita sempurna dan tak ada yang lain dan bisa mengantikan. Kini ia lebih memilih meninggalkan wanita yang di hadapannya tadi ehh lebih tepatnya mantan kekasih lamanya.
Sesampainya di rumah pelayan menyambut Younga sedangkan Arina sedang berada di kamar, setalah Mayang pulang tadi ia di kamar dan belum turun kembali.
"Arina di mana bu," tanya Younga ke bu Halimah.
"Ada di atas tuan, sepertinya tuan harus memindahkan kamar ke bawah tuan karena nona sudah malas dan lelah sekali untuk naik turun. Meski kandungan masih muda tapi biasanya sifat malas bisa di picu dari bawaan bayi," bu Halimah melaporkan.
__ADS_1
"Baiklah, bu buka kamar utama bawah dan pindahkan semua barang ke kamar utama bawah." perintah Younga.
Dan setelah mendapat perintah, bu Halimah paham segera bu Halimah menghubungi kontraktor interiors untuk mendesain kamar utama bawah. Dengan sigap juga bu Halimah membuka pintu ruangan kamar yang tak seluas ukuran kamar utama untuk di desain menjadi kamar bayi.
Younga yang menaiki anak tangga dan masuk ke dalam ruangan sedang mendapati istrinya duduk di meja rias sehabis mandi dan mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Ia memeluk istrinya dari belakang dan mencium bibir istrinya dengan sekilas, perlakuan Younga yang seperti ini langsung di balas Arina dengan mengelus pipi suaminya.
"Mas, kamu jawab jujur ya?" Arina tiba-tiba berbalik ke hadapan suaminya.
"Apa sayang. Kenapa kamuu," sambil membelai pucuk rambut istrinya yang belum begitu kering.
"Mas, aku gendut ya sekarang,"
"hahaha," Younga tertawa lepas karena pertanyaan lucu istrinya.
"Ihhhhn, mas aku tanya hishh, gendut enggak?" kesal Arina.
Arina yang sambil bersedekap kesal, dan terus memgumpat kepada suaminya. Dengan muka menggemaskan Arina mengekspresikan kekesalannya.
****
Sementara di tempat lain, Alita yang masih menyusun rencana bagai mana agar membuat usahanya kali ini berhasil karna hampir semua usahanya selalu gagal. Ia mengetuk ngetukan jarinya diatas sebuah meja kecil depannya dan dia mencari strategi. Dendam yang menyelimuti kini akan merugikan diri Alita jika ia sampai gagal.
"Dengan apa dia harus menghancurkan hubungan mereka" inilah yang ada di pikiran Alita saat ini. Dia masih memainkan jari sampai terlintas di pikiran dia bahwa ada temannya dia yang memiliki kemampuan luar biasa dan sepertibya bisa ia manfaatkan.
__ADS_1
Dia dengan segera mengambil ponsel dan mencari nama seseorang di layar ponsel miliknya. Setelah ketemu ia segera menghubungi nomor yang di cari tadi.
"Hallo, Laura lu di mana?" yah Laura itulah sapaan untuk teman Alita yang akan di ajak kerja sama.
"Besok kita ketemu di cafe depan kantor tempat gw kerja ya?" Ajak Alita
Setalah keduanya melakukan kesepakatan Alita mulai menyusun rencananya dengan mulus. Di tak ingin rencana ini sampai gagal lagi, oleh karenanya dia memperhatikan detail rencana yang akan di jalani.
Dengan senyum puas Alita ia telah menyusun rencana tersebut, dan ia dengan bangga dan percaya diri akan berhasil kali ini. Hari yang telah malam Alita yang memutuskan untuk beristirahat ini langsung tergeletak dan segera memejamkan matanya karna ia tahu esok akan ada hari yang melelahkan menyambutnya.
Di waktu yang sama dan di tempat yang berbeda Austine sedang berada di semua club malam VIP dan dengan berbagai minuman alkohol di hadapannya saat ini. "Kenapa Younga lupa, kenapa......" gerutunya dengan nada lamban. Sedangkan Merry hanya mengawasi Austine. Karna ia tak mau jika ada berita miring tentang dia, selama berkarir di Indonesia. Cukup berita mengemparkan yang di Canada saja yang membuat Austine rusak jangan sampai di Indonesia juga.
Canada tiga bulan lalu.
"Austine ayo kita pesta, kita akan pesta malam ini untuk merayakan keberhasilan kita di sini." seru seorang lelaki berwajah tampan dan berambut gondrong.
Austine yang merasa terganyut dan ikut merasakan kesenangan nya bertambah setelah seorang memberikan bubuk dan dia ikut menghisap dengan keadaan bahagia dia menari dan sampai tak sadar ia telah berada di kamar hotel.
Dengan menggunakan selimut saja Austine merasakan tubuhnya merasa pegal dan lebih mengejutkan lagi ada seorang lelaki yang tak asing baginya tidur di sampingnya. Dengan masih setengah sadar ia memandangi lelaki itu "Simon Duke, hahh bodoh apa yang telah kulakukan." dengan panik ia mencari bajunya yang berserakan di lantai dan dengan segera ia memakai da keluar dari sana.
Selang tiga minggu ia tak membahas tentang ranjang bersama Simon Duke ia merasakan ada yang aneh dengan dirinya. Dia merasakan ada yang janggal dengan berat badan dan pola makan. Akhirnya ia membeli alat pemeriksaan kehamilan dan brukkk Austine terduduk di lantai kamar mandi pasca mengetahui ia garis dua.
Dia berlari keluar dengan sigap ia menghidupkan mesin mobil dan menuju ke rumah Simon. Setelah sampai, ternyata Simon sedang pulang ke Boston untuk menemui orang tuanya "ahhhhh sial," ia memukul keras stir mobil.
Ia menunggu sampai usia kandungan hampir dua bulan, Simon kembali ke Canada dan dengan sigap Austine mencarinya. Dia mengedor ruang apartemen milik Simon dan Simon muncul dengan tubuh setengah telanjang. Terlihat seorang wanita baru saja keluar dan berpamitan kepada Simon.
__ADS_1
Namun Austien tak menghiraukan keberadaan wanita itu. Langsung saja ia masuk kedalam unit apartemen Simon.
"Kau harus bertanggung jawab atas ini," sambil menunjukkan testpack yang bergaris dua. Namun Simon tak mengerti maksudnya dan dia diam saja. "Tanggung jawab itu darah dagingmu," lontar Austine. Simon yang terkejut langsung menyemburkan alkohol yang ia tenggak.