
"Tentu saja boleh pak, silahkan di periksa di mobil saya." izin pria paruh baya ini dengan ramah.
...***...
"Polisi tim tindak kejahatan, tolong periksa blackboks yang ada di mobil di depan kedai es kelapa muda Mang Udin, dan segera tangkap pelaku yang saya laporkan tadi dari TKP." perintah polisi yang berpangkat letnan ini.
Roy yang kembali setalah mengurus kebutuhan Arina langsung menghampiri Dio yang sedang berbincang dengan polisi dan seorang yang entah siapa. Namun keempat polisi ini di ikuti oleh pria paruh baya ini berpamitan jadi setalah Roy datang hanya Dio yang menjelaskan segalanya.
"Musuh, musuh, siapa ya musuh dari perusahaan lain." sambil berjalan mondar mandir.
"Aduh kepala ku," rintih Younga yang membuatkan pikiran Dio dan Roy.
"Tuan sudah sadar,"
"Roy, Dio jangan di kasih tau Arina gw takut di bahkan nangis."
Sambil menghembuskan nafas dengan kasar Dio menyampaikan apa yang sedang terjadi. "istrilu udah tau, dia lagi pingsan terus di rawat di lain kamar."
Mendengar Arina pingsan tanpa pikir panjang Younga langsung melepas tali infus dengan kasar dan turun dari ranajang. "Gw harus ketemu Arina, kasian istri gw. Jangan diTahan Dio." sambil menerobos Dio dan Roy.
"Tolong Dio Roy istri gw lagi terbaring di sana."
"Tapi elu juga pasien Gaa," lerai Dio.
"Gw udah gak papa gw sehat, istri gw lebih penting," sambil melepaskan tangan Dio.
Younga yang berlari langsung menuju ke arah meja suster. Dan menanyakan ruanga milik Arina, setelah mendapat jawaban dari suster ia segara berlari tak jauh dari tempat ia berdiri Younga melihat bu Halimah dan Mila mondar-mandir di depan pintu ruangan rawat.
"Bagaimana keadaan istri saya bu,"
" Belum tau dari tadi dokter belum keluar ruangan." kada khawatir bu Halimah.
__ADS_1
Tak berapa lama dua orang lelaki berseragam putih dan biru keluar dari ruangan dan segera menghampiri Younga. Kedua orang ini saling memberikan kabar tantangan Arina.
" Istri saya bagaimana dok? "
" Bapak suami pasien, tapi sepertinya bapak juga pasien," dengan sesama dokter ini melihat ke arah Younga.
"Saya tidak apa dok, cuma terbentur saja kepala saya." jawab Younga dengan enteng. "Apakah istri saya baik-baik saja dok," nada panik lah yang mendominasi saat ini.
"Baik-baik saja pak. Istri anda hanya syok dan sedikit stres. Bahkan kandungannya pun tidak ada masalah semuanya baik, anda sudah boleh melihat silahkan masuk," ucap dokter berbaju biru.
Tanpa menghiraukan Younga langsung menerobos masuk dan menarik kursi, segera mendudukan tubuhnya dan meraih tangan Arina. Dengan penuh hati-hati Younga membeli wajah Arina dan merapikan anak rambut yang berada di wajah Arina.
"Bagun sayang, Arina ku,"
Arina yang berkesiap saat melihat Younga langsung terbangun dan memeluk suaminya. Bahkan pelukan yang erat tak memeperdulikan perut besarnya. Dengan wajah yang masih sayu Arina kembali menangis meski sudah memeluk suaminya. Tangisan yang pecah karena sedari tadi ia tak berhenti menyalahkan diri sendiri, Younga yang merasa Arina sudah akan sesak langsung mendekap wajah mungil istrinya dengan telapak tangan besarnya. Melihat mata sembab dan wajah pucat Arina ia seperti tak sanggup lagi segera mendiamkan istrinya dan menyuruh Arina jangan menangis lagi.
Younga yang kembali menarik tubuh istrinya langsung meletakkan di dadanya. "Sayang, jangan nangis lagi hooo, kamu tambah sakit nanti." Meski saat ini kepalanya sudah kembali merasa sakit karna pengaruh obat yang sudah tidak lagi berfungsi namun di tahan oleh Younga karena ia takut Arina kembali menangis melihat ia kesakitan.
Setalah Arina mulai tenang dan tidak menangis lagi Younga merebahkan kembali Arina supaya ia istirahat kembali. Tanpa basa-basi Dio yang menerabas masuk langsung mendapat tatapan yang mengintimidasi dari Younga.
"Daripada lu sibuk nyuruh gw balik keuangan mending lu cari tau pelaku yang mukulin gw,"
"Gak di suruh udah di cari ama polisi."
"Kerja bagus."
"Jangan khawatir untuk kasus lu, semua udah di urus sama pihak polisi." sambil mengarah keluar namun dia kembali menghentikan langkahnya. "Ahhh. Gw lupa ini dompet sama handphone lu. Ohhh lu cinta banget ya ama istrilu foto di dompet sweet banget," sambil melarikan diri keluar luar ruangan.
"Ishh ini orang, _______"
Younga yang kembali menatap wajah Arina yang masih menyiskan air mata di pipinya langsung di usap oleh Younga. "Maaf ya sayang bikin kamu nangis."
__ADS_1
Di luar ruangan nenek Widia dan bu Rahma datang dengan tergopoh-gopoh, Younga yang mendengar suara ribut didepan langsung keluar untuk melihat keadaan di luar.
"Nenek, Ibu, tau dari mana," sambil menoleh ke arah Roy dan menghunuskan tatapan untuk asisten pribadinya ini.
"Ya ampun kamu kenapa nak," bu Rahma mebalikan tubuh Younga dan memeriksa kepala yang terbalut oleh peran. Younga yang meraih tangan mertunya terus menggengam tangan ibu mertunya sambil mengelus dan menatap wajah yang penuh rasa khawatir.
"Aku tidak apa bu, jangan khawatir."
"Siapa yang berani melakukan ini ke cucuku. Tapi kemana cucuku satunya lagi." sambil mencari keberadaan Arina.
"Sedang di rawat nek, tadi dia jatuh pingsan dan sedikit syok karena melihat aku terluka. Namun dia baik-baik saja nek saat ini sedang istirahat." menegaskan Arina baik-baik saja di dalam sana.
Mereka yang sedang berbincang langsung menoleh ke arah kedatang polisi yang mencari keberadaan Younga.
" Selamat sore pak, kami ingin meminta keterangan dari bapak. Tentang kekerasan yang di alami oleh bapak tadi siang." ungkap kepala polisi.
"Baiklah pak, saya akan memberikan keterangan prihal kejadian tadi siang." seraya mendudukan tubuhnya di kursi besi di koridor.
Setalah para polisi ini mendapat keterangan dari Younga mereka langsung pergi berpamitan untuk melanjutkan investasi tentang kekerasan yang Younga alami.
"Siapa orang yang memiliki dendam dengan mu," nenek Widia mencoba bertanya ke Younga.
"Ahhh inget........" Dio berteriak.
"Banyu."
"Bukanya polisi udah nangkep dia," heran Younga.
"No no, sia berhasil lolos cuma para pejabat perusahaan dia yang terlibat," timpal Dio.
"Itu benar tuan, polisi sedang mencari keberadaan dia saat ini."
__ADS_1
"Pasti dia ada di sekitar lingkungan ini. Roy bilang ke polisi agar mengetatkan pencarian Banyu.
Waktu yang sudah akan gelap membuat nenek dan ibu mertua berpamitan untuk pulang. Mereka tak ingin memngangu Arina yang di beri waktu untuk tidur karena syok yang di alami. Sehingga mereka memutuskan untuk menemuinya besok pada saat Arina. Telah kembali dari rumah sakit.