DIA ITU SUAMIKU

DIA ITU SUAMIKU
Rumah sakit


__ADS_3

Melihat istrinya Younga tersenyum dan melanjutkan berjalan ke ruang wardrobes dan memakai baju yang telah di siapkan istrinya semalam.


"Mas," suara Arina yang mendekat. "Nanti siang aku jalan sama Mayang ya, tapi aku mau ke rumah mama dulu." sambil meraih dasi dan melingkarkan di leher suaminya.


"boleh sayang, inget tapi jangan sampai malam ya? Kamu kalo udah sama sahabat kamu itu lupa waktu. Nanti kamu kalo kemalaman takutnya kenapa-napa yaa." sambil meyibakan rambut istrinya ke belakang daun telinga.


"hemm, janji enggak sampai malam kok," sambil memilih parfum untuk suaminya, dan menyemprotkan ke baju suaminya.


Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh dan Arina telah rapi telah siap di antar oleh sopir pribadi yang di minta Younga. Karena ia tak boleh menyetir sendiri sekarang. Sebenarnya Arina tak nyaman jika di beri sopir lebih senang mengendarai mobil sendiri namun Younga melarang.


Tak berapa lama Arina sampai di rumah masa kecilnya dia keluar dari mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh sang sopir. Dengan sigap pula sopir Arina mengeluarkan barang-barang yang di bawa untuk ibunya.


"Hufttt, panas. Bu ini buat di sini ya?" sambil menunjukan barang bawaan yang telah di keluarkan oleh sang sopir.


"Kamu itu bawa barang banyak banget. Younga kerja kamu bilang dia gak ke sini? Pamitan ya nak kalo mau pergi karna kamu udh punya suami sekarang." sang ibu mencecar pertanyaan dan memberi nasihat kepada sang putri.


"iya bu sudah tadi sudah Pamitan, dan dia ngizinin kok."


Arina datang kerumah sang ibu untuk melihat perkembangan sekolah sang adik yang kelak akan meneruskan semua bisnisnya. Cukup lama ia menikmati kebersamaan dengan sang ibu walau hanya untuk menyirnakan rasa rindu sebentar. Mayang yang sudah mengirim pesan bahwasanya dia telah sampai di depan membuat ia merasa terkejut kepada sahabatnya ini.


Arina yang beranjak dari sofa segera ia menampakkan diri di depan pintu. Dengan senyum simpul Mayang berdiri di depan gerbang yang hanya sebatas dadanya.


"Maaf bu saya cuma mau numpang makan aja kok jangan di marah," canda Mayang yang membuat Arina membalas candaan tersebut.


"Maaf ya mbak. Klo mau makan ada baiknya anda masak terlebih dahulu,"

__ADS_1


Mereka berdua tertawa, sambil mempersilahkan Mayang masuk. "Mana ibumu," sambil menoleh ke kiri dan kanan.


"Ada di belakang." sambil melangkah ke ruang belakang. Mayang yang bersahabat dengan Arina dari sewaktu sekolah ia tak sungkan lagi dengan keadaan rumah Arina. Karena jaman sekolah dulu mereka saling menginap dirumah Arina.


Setelah menyapa bu Rika, Mayang ikut merebahkan tubuhnya di kasur lantai. "Ehh Rin kita mau kemana nanti?" sambil memiringkan posisi menghadap Arina.


"Makan rujak langganan yukk," ajak Arina sambil terbangun. "Aduh sakit kepala lagi." sambil merasakan pusing di kepalanya. Namun tak di hiraukan bahkan ia akan mengajak Mayang makan rujak langganan sewaktu ia sekolah dulu.


Mayang yang ikut terbangun segera ia mendudukan badannya dan menghadap ke arah Arina. "Ayuk, ehh tapi elu sakit kepala?" tanya Mayang dengan karena ia sedikit khawatir akan kesehatan sahabatnya.


Arina yang kekeuh akhirnya membuat Mayang mengikuti kemauan sahabatnya, dengan senang hati mereka berdua pergi ke tempat penjual rujak yang di maksud. Sesampainya di tempat rujak membuat Arina mendadak menelan salivanya karena warna buah jambu. Arina yang meminta rujak hanya buah jambu dan mangga ini langsung membuat matanya mengembang dan merasa senang.


Mereka menikmati rujak di pinggir jalan tanpa menghiraukan orang yang sedang memperhatikan mereka berdua. Entah mengapa banyak sekali mata memandang ke arah mereka berdua.


"Neng, orang-orang lagi ngeliatin eneng tuh. Gak ada yang mau tuh ngelirik satu aja," goda ibu di hadapan Arina.


"Oh saya kira belum neng, kalo neng yang satunya di samping si neng," menunjuk Mayang.


"Nah dia belum bu, dia masih cari jodoh." sambil menunjuk ke arah Mayang. Mayang yang melihat sambil mengunyah salak langsung terbatuk. "Dasar lu," cetuk Mayang.


Cukup lama mereka duduk di pinggir jalan dan menikmati buah segar sampai akhirnya mereka berniat makan di kedai langganan mereka. Tak jauh dari mereka makan rujak tadi, Arina yang melihat kepiting membuat ia ingin makan kepiting kari. Akhirnya mereka memutuskan untuk memesan kari kepiting porsi duo. Tak berapa lama pesanan mereka datang dan tanpa permisi Mayang dan Arina makan dengan semangat sampai tak tersisa. Mereka bersandar di bangku rumah makan karena merasa sangat kenyang. Begitulah mereka berdua ketika sedang bersama maka akan lupa waktu.


Mereka berdua meninggalkan rumah makan tersebut dan berniat berjalan menuju ke pusat perbelanjaan yang tak jauh dari tempat mereka. Arina yang berjalan memandangi anak tangga yang menurutnya malas sekali untuk naik ini dengan langkah lamban ia menaiki tangga.


Setelah sampai di lobby Arina memilih berdiri sejenak sambil mencari bangku. Sedangkan Mayang sedang melihat toko sepatu yang tak jauh dari tempat Arina. Mayang yang masih melihat-lihat sepatu, Arina yang berniat menghampiri Mayang namun seketika kepala yang berat dan mata kunang-kunang membuat ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh tak sadarkan diri.

__ADS_1


Sontak semua pengunjung yang berada di sekitaran terkejut dan berteriak. Mayang yang langsung berlari dan melihat sahabatnya tergeletak ia tarkejut. Dengan sigap ia menghubungi ambulance dan memastikan sahabatnya mendapat pertolongan. Dia mengambil ponsel milik Arina "ahh sial di beri pengaman, kode, face detected," gerutu Mayang.


Dengan masing menggunakan mode panik Mayang mencari nomor suami Arina. "Kartu nama" pekik Mayang. Tak berapa lama ambulana datang dan segera petugas membawa Arina dan di ikuti oleh Mayang. Setelah masuk dan memastikan Arina mendapat pertolongan ia kembali berkutat kelayar ponsel ingin menghubungi suami Arina.


Sementara Younga yang sibuk, seketika ingat istrinya dia segera menghubungi nomor ponsel istrinya. Namun tak diangkat, Younga masih tetap menghubungi istrinya karena ia agak merasa khawatir ketika mendapati istrinya tak mengangkat telepon darinya.


Merasa tak tenang ia memanggil asistennya dan meminta melihat kembali layar ponselnya berharap Arina menelepon kembali. "Ya tuan muda, ada yang bisa saya bantu?" tanya asisten Roy.


Tak berapa lama nomor asing yang tak terdaftar di ponselnya menghubungi dia. "Halo, maaf saya sedang berbicara dengan siapa?" suara khas Younga.


"APA!!! Rumah sakit mana sekarang,"


"Baiklah saya akan menuju ke sana." dengan nada panik ia segera mengajak Roy. "Roy ke rumah sakit Emma's khusus wanita." sambil berlari keluar dan Roy mengekori dari belakang.


Mayang Pov


Masih berkutat di ponsel ia mengabaikan telfon dari suami Arina, Yang tak merdengar suara dering ponsel. Ia merasa prustasi dan akhirnya ia menemukan kartu nama di tas Arina. Ambulans yang membawa Arina telah berhenti di rumah sakit Emma's dan dengan sigap para dokter dan suster yang telah standby di lobby segera menyambut mendorong ranjang pasien.


Akhirnya setelah Arina di tangani dokter ia memencet angka nomor suami Arina, dan terhubung dengan tenang ia menunggu Younga mengangkat telpon darinya.


"Diangkat," lirihnya.


"halo, saya Mayang sahabat Arina. Mau memberi tahu jika Arina, sedang di rawat di rumah sakit,"


"Di rumah sakit Emma's karena tadi pingsan."

__ADS_1


Setalah menghubungi Younga, merasa tenang dan dengan masih panik ia menunggu dokter untuk mengetahui perkembangan sahabatnya.


__ADS_2