DIA ITU SUAMIKU

DIA ITU SUAMIKU
Tak pernah melihat


__ADS_3

Setelah meninggalkan Banyu yang sedang di lobby, Younga bersama Arina pergi ke sebuah restoran Jepang. Bahkan wajah Younga terkesan biasa saja ketika mendapat teriakan dari Banyu. Karena baginya itu hanyalah gertakan semata, Banyu yang sudah di buat hancur oleh Younga itu menurut dia hal wajar karena itu bukan maunya meliankan ulahnya sendiri.


Sepanjang perjalanan Younga hanya terdiam dan Arina hanya menoleh ke arah wajah suaminya yang terlihat datar saat ini. Arina yang terus menandatangani wajah suaminya membuat ia sendiri enggan untuk berbicara.


"Kamu ngeliatin muka ku terus apa ada yang salah," seraya menarik dan mendekap tubuh mungil istrinya.


"Enggak, wajah kamu gak salah cuma ekspresi wajah aja yang asing buat ku," Arina yang baru pertama kali melihat wajah Younga yang mengeluarkan aura dingin.


Younga yang terkejut karena perkataan istrinya ia langsung mendaratkan ciuman di bibir istrinya. Bahkan Younga tak memperdulikan sopir yang sedang fokus ke arah jalan, karena semenjak menikah Younga sama sekali tidak menampakkan wajah sangar di hadapan istrinya. Karena ia akan takut Arina tak ingin mendekat karena merasa takut melihat wajah sangar dan kejamnya.


"Maaf ya sayang. Bukan buat kamu kok, maaf ya, maaf ya." seraya megusap pucuk kepala dan mengelus perut istrinya.


Arina yang masih terdiam karena heran melihat wajah Younga hanya tersenyum seraya mengelus pipi suaminya. Entahlah sampai kapan Younga akan menyembunyikan prihal ekspresi kejam, sangar dan emosional jika ada yang tak ia sukai. Karena selama menikah yang Arina tau Younga penyayang dan pengertian.


Setalah sampai di mansion Younga yang turun dan menunggu istrinya berjalan masih menahan ekspresi marah karena perkataan Banyu tadi di perusahaan. Sifat asli Younga adalah kejam apabila ada yang mengusik ketenangan dia apalagi membawa nama perusahaan. Dengan penuh sabar ia menahan kemarahannya, apabila ia melupakan kemarahannya yang ada nantinya Arina ketakutan.


Setalah mengantarkan istrinya ke kamar Younga berpamitan pergi ke ruangan kerja dan meninggalkan sejenak Arina. Arina yang merasa tak curiga hanya mengiyakan karena ia sudah merasa lelah untuk berjalan kemana-mana.


Diruangan kerja Younga membanting gelas yang ada di atas meja dan segera ia menelepon Roy agar membereskan Banyu untuk di kirim ke Malaysia dan mencekal Banyu untuk masuk ke Indonesia lagi. Begitupun dengan Alita ia ingin


kedua orang ini tak muncul lagi di hadapannya. Dengan penuh hati-hati bu Halimah masuk dan menutup kembali pintu.


BU Halimah hanya mengelengkan kepala ketika melihat serkaan gelas beling yang tak berbentuk karena hancur. "Tuan harap segera meredakan amarah tuan. Jika nyonya tau nanti nyonya akan ketakutan." pinta bu Halimah. Younga yang hanya diam tanpa berekspresi langsung duduk di kursi kerja miliknya.

__ADS_1


Hal seperti ini sudah tidak asing lagi bagi bu Halimah karena ia tau siapa Younga dan seperti apa sifat kejam majikannya. Mungkin semenjak menikah ia tak ingin menyakiti hati Arina oleh karena itu dia menyembunyikan sifat temperament yang ia miliki.


Younga memang di kenal sebagai orang penahluk darah dingin karena apa yang ia lakukan di lakukan secara tenang. Tapi tak semua orang percaya akan sifat yang di miliki oleh Younga malah mereka mengira itu hanya gertakan. Setalah beberapa waktu ia meredakan emosinya ia segera kembali ke kamar, ia yang melihat istrinya tertidur masih mengenakan gaun pergi hanya mengelengkan kepala.


Younga yang memandangi wajah Arina dengan lamat hanya tersenyum, ia mengelus wajah istrinya yang berkeringat. Padahal ruangan kamar mereka telah dingin namun tidak untuk Arina, yang msih mengeluh panas bahkan berkeringat. Younga yang mengambil handuk kecik dan membasahinya segera ia mengelap wajah istrinya, seraya membuka gaun dan menggantikan dengan baju tidur.


"Wajah kamu yang lembut, membuat aku tak mampu menampakkan sifat kejam ku." sambil mengusap wajah Arina. Younga yang ingin beranjak untuk menganti bajunya namun suara ketukan pintu kamar mengurungkan niatnya. Dengan segera ia mengampiri pintu, yang tak hentinya di ketuk.


" Tunggu, " seraya membuka pintu.


" Maaf tuan, nyonya besar Widia datang." kata salah seorang pelayan.


"Baiklah," seraya keluar kamar dan membiarkan Arina tetap tidur. Dan berjalan ke arah ruang keluarga, benar nenek Widia sedang berkunjung ke Mansion kali ini.


"Anak nakal. Masih saja kau cerewet." seraya mengelus kepala Younga bagai anak usia 5 tahun. "Kemana cucu ku?" seraya menoleh kiri kanan mencari keberadaan Arina.


"Sedang tidur nek, dia kelelahan tadi aku mengajaknya pergi."


"Awaskau jika tidak menjaga dia dengan baik!" ancam nenek Widia.


"akan ku pastikan jika istriku tidak kekurangan dan menangis sedih disini nyonya besar Widia." seraya meledek neneknya.


"Bagus, jangan membuatku bertindak jika kau membuat dia menangis.

__ADS_1


" Baik nekk, lalu nenek ke sini ada keperluan apa jarang sekali nenek pulang kesini. " tanya Younga.


" Kau habis mendedam dengan siapa? "


" Mendedam, ohhhh dia anak kandung dari Surojo dari istri lama. Mungkin niatnya ingin membalas dendam tapi salah langkah. Mungkin ia akan kapok pasca mendapat masalah seperti ini dengan ku." ujar Younga santai.


"Atur saja dia, asal jangan biarkan dia malh semakin mendedam kepada mu." sambil menikmati teh yang telah di sajikan oleh pelayan.


"Nenek mau bertemu Arina? Jika ingin bertemu aku bangunkan?"


"Jangan biarkan dia istirahat nanti sampaikan salam ku padanya saja. Aku ingin pergi ke negara Eropa untuk beberapa bulan."


"Jangan terlu lama nek. Nanti Arina akan melahirkan usia kandungan istriku sudah kuat." Younga memberitahukan sang nenek.


"Baiklah aku tau. Aku akan pulang sekarang jaga istrimu dan perhatikan makannya." seraya berdiri dan meninggalkan rumah Younga.


Setalah neneknya pergi Younga kembali ke kamar karena ia ingin segera mandi dan melihat istrinya. Dengan langkah mantap ia berjalan ke kamar dan membuka pintu kamar, Arina yang masih tertidur Younga memilih membiarkan terlebih dahulu istrinya. Tak berapa lama setalah ia selesai mandi segera keluar dengan balutan kaos polos warna hitam Pas body dan celana pendek selutut.


Setelah Ia keluar kamar mandi Younga melihat sejenak istrinya dan setalah itu ia keluar dari kamar untuk meminta di buatkan kopi oleh Mila. Younga yang kembali keruangan kerja karena ada urusan yang harus ia selesaikan dengan cepat.


Arina yang terbangun dari tidur langsung melihat sekeliling kamar tapi ia tak mendapati suaminya. Segera ia pergi mencari di luar, karena ia tau pasti Younga sedang ada di luar kamar. Mila yang baru saja keluar dari ruang kerja Younga langsung melihat nyonya mudanya sedang celingukan mencari keberadaan Younga.


"Nona, Tuan ada di ruang kerjanya." beritahu Mila kepada Arina. Arina uang mengangguk langsung kepergi ke ruangan kerja milik Younga. Arina yang membuka pintu ruangan dan langsung berlari ke arah Younga dan memeluk Younga.

__ADS_1


__ADS_2