
Meeting yang telah berlalu Younga langsung keluar tanpa memperhatikan staf yang lain dan ia langsung mengarah ke parkiran dan langsung menuju mobil miliknya. Dia berniat menjemput istrinya yang sedang bersama Mayang.
Sedangkan Mayang dan Arina yang tengah asik berjalan di mall, Arina yang merasa lelah ia duduk di bangku cafeteria. Mayang yang berinisitif membeli makanan ia segera berjalan ke arah kedai wafel.
Saat Mayang sedang mengantri tanpa ia sadari jika Zain sudah berdiri di samping Mayang sontak ia langsung kaget.
"hahhhhh, Zain,"
"Mayang, sama siapa?" tanya Zain.
"Sama teman ke sini, itu dia duduk di sana?" sambil menunjuk ke arah Arina yang asik memainkan ponsel pintarnya.
Zain yang melihat Arina langsung terkejut mengigat ia dulu pernah mengagumi namun tak sempat berkenalan ia tahu jika Arina telah menikah dengan Younga.
" Buhhhh. Nyonya Arina teman kamu?" sambil memandang ke arah Arina.
"Iya, kok lu tau?"
"Siapa yang gak tau istrinya Younga semua orang juga tau. Semua orang memuji dia kan istri pengusaha kaya raya dari keluarga Dhiningrat." terang Zain.
"Yuk gabung, santai aja Arina ramah kok." sambil berjalan ke arah meja yang Arina tempati.
Dengan langkah santai Zain mengekori langkah Mayang, karena ia ingin melihat Arina lebih dekat wajah Arina. Benar adanya Arina memang sangatlah cantik meski hanya menggunakan lipstik warna natural. Bahkan saat ini Zain tak henti-hentinya memandangi wajah Arina yang cantik ketika tersenyum.
"Mayang, eiii sama siapa lu?"
"Teman lama biasa tapi baru ketemu lagi. Ohya kenalin dia Zain pengusaha muda katanya." sambil tersenyum ke arah Zain.
"Hallo Arina," sambil mengulurkan tangan ke arah Zain.
"Oh Zain, salam kenal barang kali bisa jadi sahabat juga."
Sambil memukul punggung Zain, Mayang terkekeh mendengar Zain berkata seperti itu. Karena hal mustahil bagi Zain untuk bisa dekat seperti dirinya dengan Arina.
"Duduk ayok lah berdiri terus." ujar Mayang.
__ADS_1
"Duduk nanti keram lo berdiri terus," ledek Arina
"wahh, terima kasih banyak nih."
Mereka bertiga duduk di meja cafeteria dan di tempat yang sama Younga yang telah sampai ia segera memarkirkan mobilnya dan berlari masuk ke mall. Younga yang mencari keberadaan sang istri langsung menyipitkan mata ketika melihat ada seorang lelaki yang duduk di hadapan istrinya. Tak mau hanya menebak ia segara berjalan ke arah meja yang di duduki Arina dan Mayang.
"Sayang," sambil mencium pipi istrinya tanda bahwa ia adalah suami Arina.
"Oo kamu tadi bilang meetting udah selesai?"
"Sudah, kan mau nemenin jagoan ku belanja." sambil mengelus perut istrinya yang sedikit buncit bila di lihat dari samping.
"Heissss, suami siaga bang Younga. Sampe tau banget istrinya yang suka ngeluh capek kalo lagi jalan." goda Mayang.
"Makanya di larang jalan sama kamu karna dia akan capek nantinya." sungut Younga.
Mereka bertiga saling lempar kata namun sampai melupakan orang di hadapan mereka. Zain yang mendengar mereka berargumen hanya tersenyum simpul.
"Oh ya pak Younga yang terhormat ini kenalin temen saya Zain. Zain ini pak bos dingin pak Younga."
"Ampun udah biasa ini pak. Salah mulu gw Rin ama suami lu tuhan." gerutu Mayang.
"Younga,"
"Zain," sambil membalas jabatan tangan dari Younga.
Mereka berempat duduk sambil mengobrol sesekali Younga menanyakan prihal perusahaan milik Zain dalam perkembangannya. Zain yang suka rela berbagi cerita tentang perusahaan tentu saja merasa senang karena Younga mau berbagi tips dan ilmu di dunia bisnis.
Setalah lama duduk di cafeteria Arina yang mengajak Mayang untuk melanjutkan mengelilingi mall tentu saja Younga mengekori istrinya. Dua wanita ini sibuk untuk berbelanja dan Younga dan Zain yang juga ikut karena Mayang yang meminta tentu saja mengikuti kemana saja kedua wanita ini jalan.
Zain yang sesekali melihat ke arah Arina hanya tersenyum "Terlambat" inilah yang ada di dalam hatinya. Melihat Arina dan Younga yang saling pengertian membuat ia menyadari cinta dan tulus kedua pasangan ini. Mayang yang sibuk memilih baju melihat dan membandingkan kedua pakaian yang ia pegang saat ini, dia yang sibuk sampai tak tau jika Arina telah selesai memilih.
Sementara Arina yang sedikit merasa lelah ia segera duduk di samping Younga. "Huffff panas." sedikit kata yang keluar dari mulut Arina secara lirih.
"Capek pasti," sambil mengerutkan alis Younga meraih tangan Arina.
__ADS_1
Setalah puas berkeliling mereka memutuskan untuk pulang, Mayang yang pulang bersama Zain dan mereka segara pergi ke parkiran mobil ke arah jalan pulang masing-masing.
......................
Di lain tempat seorang sedang tertawa puas karena ia baru saja mendapatkan keuntungan kerja sama jang tak terduga. Banyu yang masih merasa senang mendapat keuntungan yang menurut dia sangatlah besar.
"Aku akan kcepat kaya jika keuntungan ku seperti ini terus."
Sambil meletakkan kakinya di atas meja dan menyesap wine yang ada di tangannya. Dia masih menikmati pendapatan yang melimpah. Tapi Banyu tak berhenti sampai situ saja ia juga merencanakan banyak cara untuk menjadi bagian di dalam perusahaan milik Younga.
Bahkan ia kini merencanakan untuk membeli beberapa persen saham perusahaan Younga. Karena baginya saham BackMan Corp milik Younga sangatlah menguntungkan namun untuk membeli saham disana tidak lah mudah. Karna selain saham milik pribadi dan harus orang terpilih lah yang hanya boleh membeli saham keluarga Dhiningrat.
Dengan demikian Banyu harus lah menyusun rencana agar ia bisa menjadi bagian dari BackMan Corp. Sambil memutarkan gelas ia berfikir untuk meyakinkan Younga bahwa ia bisa di percaya. Karena dengan demikian Younga bisa menjadikan dia orang kepercayaan di saham milik keluarga Dhiningrat.
Sementara itu Younga yang masih tenang menghadapi keserakahan Banyu hanya bisa menyimak pergerakan dari pihak lawan. Younga yang diam bukan berarti tak tau apa yang di lakukan oleh pihak perusahaan Banyu tapi menunggu waktu saja.
Beberapa hari kemudian
"Roy, semua sudah siap dengan apa yang Dio minta?"
"Semua susah siap tuan, hanya menunggun aba-aba dari tun saja." Roy meyakinkan Younga.
"Ayo kita tunjukan siapa yang di buat mainan oleh Banyu dia pikir aku manusia bodoh yang hanya diam saja." geram Younga.
Dengan persiapan yang benar-benar matang mereka menjalankan aksi untuk menyingkirkan Banyu dari perusahaan milik Younga sekaligus menarik semua aset yang telah di nikmati Banyu.
Semua orang yang bekerja sama telah berkumpul termasuk pihak Banyu dengan sigap semua orang yang sedang diruangan rapat berdiri karena melihat Younga dan para staf nya datang.
Banyu yang tersenyum seolah ia orang yang akan dipuji nantinya hanya merapikan dasinya ketika melihat Younga duduk di kursi direktur utama. Setalah rapat selesai semua orang berhamburan keluar ruangan begitu pun dengan Banyu uang ikut menyalami Younga tanpa ada rasa curiga jika beberapa saat lagi akan hancur.
Arina yang datang membuat semua mata terpana melihat lebih dekat wajah Arina. Banyu yang menyaksikan lebih dekat Arina ia langsung merasa jika Arina adalah memang wanita berkualitas dan juga cantik.
Rendy yang terlihat membalakan matanya ketika menutup telponnya segera ia berisik ke telinga Banyu. Dengan sontak terkejut Banyu menoleh ke arah Younga yang telah hilang bayangannya dan segera Banyu berteriak sekencang mungkin.
"DASAR KAU YOUNGA AKAN KU HANCURKAN KAU." teriaknya membuat semua orang melihat ke arahnya.
__ADS_1