
Suasana tiga bulan setalah kekalahan dan setalah semua orang tau jika Younga telah memiliki seorang istri yang memiliki kemampuan cerdas semua orang memuji dan semua istri para kolega ingin mengenal Arina.
Di bandara internasional kini seorang wanita cantik memiliki perawakan jenjang tinggi dan berbadan langsing sedang menunggu kedatangan jemputan miliknya. Tak berapa lama telah datang van putih yang berhenti di hadapan wanita cantik ini.
"Kak Mer kenapa lama sih panas," gerutu wanita cantik ini.
"Austine ini Indonesia bukan Canada," gerutu sang manager
"Baiklah, ayo kita jalan. Ohhh kak kamu tau gak kabarnya Younga,"
"Tau kan dia pebisnis hebat, maksudnya yang lainnya,"
"Kabarnya dia udah nikah,"
"Hahhhhh just merried or......," Austine memasang wajah masam. Sambil menyandarkan tubuhnya di kursi mobil, ia mengingat masa di mana ia dulu bertemu dan pernah mengisi ruang hati Younga. Mungkin Younga memebencinya karna ia telah berkhianat dulu. Tapi setelah pergi dari Younga ia masih memiliki perasaan dan bahkan mengharapkan kembali dengan Younga.
**
Sementara itu Younga masih sibuk dengan pekarjaan yang datang silih berganti. Dan Arina masih sama menjadi nyonya rumahan dan tetap sesekali menyambangi perusahaan karna tidak semuanya Rike yang menyetujui.
Sedangkan Alita dan Surojo menjadi orang bisa yang yauh dari kemewahan. Alita yang masih tetap sama mencari cara untuk dekat dengan Younga, dia pun tetap masih mendendam kepada Arina karna dia menjadi penghalang untuk dekat dengan Younga.
Siang ini Arina ingin pergi ke perusahaan milik Younga dan seperti biasa asisten Roy lah yang akan menjemput nyonya mudanya. Dengan sigap ia telah sampai di mansion dan menunggu Arina turun. Setalah nyonya mudanya turun Arina masuk ke dalam mobil dan asisten Roy memastikan jika nyonya mudanya telah duduk mantap di dalam mobil.
Tak berapa lama perjalanan mereka telah sampai di perusahaan milik Younga dan seperti biasa Arina melangkah dengan ramah dan menyapa para karyawan perusahaan. Asisten Roy yang masih mengekori nyonyanya ini langsung mempersilahkan masuk ke lift yang telah di pencet oleh salah seorang OB yang melihat Arina datang.
__ADS_1
TING
Lift telah sampai di lobby ruangan Younga dan Ririn yang mengetahui istri bosnya datang langsung menyambut dengan ramah.
"Siang nyonya muda, pak bos ada di dalam masuk aja saya gak melarang kok," sambil tersenyum dan menggoda. Mereka terbiasa dengan banyolan ringan karna Arina tak ingin karyawan merasa takut untuk menyapa.
"Baiklah. Ehhh mbak Ririn udah makan belum?" tanya Arina yang berhenti sejenak
"Udah Nona tadi sudah makan siang,"
" Baiklah aku akan menyapa mas Younga." berjalan ke arah pintu ruangan Younga.
Pintu yang terbuka dengan otomatis karna sensor wajah Arina, sebenarnya ruangan Younga ini dilengkapi dengan keamam yang ekstra tapi dia memilih membawa pulang segala berkas penting.
"Mas, udah siapa kamu udah makan siang belum?" sambil berjalan ke arah meja suaminya.
"Panas," sambil mendudukan tubuhnya di sofa dan memejamkan mata karena agak sedikit lelah. Entahlah belakangan ini Arina kerap sekali merasa lelah walau hanya berjalan sebentar. Bahkan tidur itu akan menjadi hal yang menyenangkan menurutnya. Younga yang melihat istrinya sedikit lemas ia bergegas beranjak dari kursi kerja miliknya dan ikut duduk di samping istrinya.
"Kamu sakit apa gimana kok agak lemes sayang," sambil menarik tubuh mungil Arina. Dan mendekap serta menghujani ciuman di pucuk kepalanya.
Arina yang merasa nyaman di pelukan suaminya langsung meletakkan kepalanya di dada bidang Younga. Sambil mengelengkan kepala "enggak aku gak sakit, cuma agak ngantuk aja mas," malah makin memeluk erat tubuh Younga. Dan belakang ini juga tubuh Younga seolah menjadi penenang dan menjadi tempat ternyaman bagi Arina.
Ting
Suara pintu ruangan Younga berbunyi, asisten Roy yang ingin masuk langsung membelakangi pemandangan di depannya. "Masuklah Roy, tidak masalah," seru Younga. Asisten Roy yang berjalan sedikit mengendap "Baik tuan muda, saya cuma ingin memberikan berkas ini." sambil menunjukkan berkas di tangannya.
__ADS_1
"Letakan di atas meja Roy," perintah Younga. Arina yang malah tertidur ini membuat Younga enggan untuk beranjak. Asisten Roy yang meletakkan berkas diatas meja kerja milik bosnya, langsung berjalan keluar karna pemandangan ini membuat ia sakit mata.
Selang beberapa menit Ririn ikut masuk dengan membawa bingkisan kue dan keranjang buah. "Maaf Tuan muda......." dia langsung menutup mulutnya, ketika melihat nyonya mudanya tertidur di dada bosnya.
"Ada apa Ririn, dan dari siapa itu semua?" tanya Younga.
"Ini tuan ada note kecil untuk tuan. Ini tadi satpam dan resepsionis yang memberikan seraya menyerahakan note kecil ke Younga.
" Baiklah kau Letakan di atas meja ini. Dan kelurlah, " hanya itu yang keluar dari mulut Younga. Sambil melihat lihat ia membuka isi note tersebut.
"Hai, Younga apa kabar kamu baik baik aja kan, semoga baik ya? Aku juga baik kok ohya ini ada kue kesukaan kamu, selamat makan dari aku.
Austine"
Younga yang terkejut langsung meremas kertas di tangannya dia tak ingin tergoda lagi dengan kabar Austine. Dia mengingat kejadian lampau, yang bisa membuat kehancuran. Dia langsung memandangi wajah istrinya yang tertidur di dadanya dan mengangkat tubuh istrinya untuk di Letakan dikamar pribadi milik nya.
Dengan mengecup kening istrinya ia keluar dan melanjutkan pekerjaannya tanpa memikirkan setiap kata yang di tuliskan Austine untuk dirinya. Terus bekerja tak terasa waktu begitu cepat berlalu dan Arina yang kebetulan telah terbangun namun iya kini langsung duduk di tepi ranjang. Younga yang telah merapikam pekerjaannya segera ia menuju ke kamar pribadi, ia melihat istrinya telah bangun.
"Sayang, udh bangun?" sambil mengelus pucuk kepala istrinya.
"Udah, rasanya enak banget bisa pulas tertidur."
"kamu belakangan ini ehh tepatnya 2 minggu ini sering tertidur kamu kenapa sayang," Younga dengan nada lembut sambil menyibakkan anak rambut ke arah belakang daun telinganya.
"Enggak mas, cuma ngantuk aja, aku juga gak sakit. Cuma memang ngantuk aja di bilang,".
__ADS_1
"ya udah pulang yuk udah mau malam," ajak Younga. Arina yang berjalan mengekor di belakang Younga langsung menoleh ke arah cake diatas meja kerja suaminya. "Mas ini kamu beli," sambil menunjuk cake tersebut. Younga yang melihat istrinya langsung berbalik arah "Jangan sayang itu gak dimakan." suara Younga mengurungkan niat Arina untuk membuka box tersebut.
Sebenernya Arina ingin makan cake yang sama itu sudah sejak kemarin tapi dia tidak ingin meminta tolong karna ia ingin membelinya sendiri. Younga yang memanggil Ririn dan memerintahkan untuk segera membereskan bingkisan diatas meja kerjanya dan membuangnya.