DIA ITU SUAMIKU

DIA ITU SUAMIKU
Ini salahku


__ADS_3

"Tuan, saya akan temani tuan untuk pergi."


"Tidak usah pak, bapak istirahat saja."


Sopir pribadi Younga menuruti permintaan majikannya. Younga yang telah menghilang ia mengendarai mobil dengan tenang dan laju kecepatan yang rendah. Hingga tanpa ia sadari ada sebuah motor yang mengikuti dia sedari ia pergi keluar dari pintu gerbang utama. Setalah tak berapa lama Younga mengendarai mobil ia sampai di senuah kedai ketoprak langganan Arina dan Younga beli.


"Akhirnya sampai juga," sembari membuka pintu mobil dan turun, tanpa ia sadari motor yang mengikuti Younga sudah mengambil posisi untuk menyerang.


Tanpa ia sadari setah turundari mobil bdua orang laki-laki bertubuh besar melayangkan pukulan menggunakan balok di punggung Younga.


BUGH


Younga yang kehilangan keseimbangan langsung tersungkur ke tanah. Dengan kepala yang telah berdarah, kedua pereman ini ingin mmukuli kembali Younga yang tak sadarkan diri namun keburu ada orang yang melihat.


"Hoiiii, sedang apa kalian." tanpa berfikir panjang para pereman ini langsung melarikan diri mengunakan sepeda motor.


Younga yang terkapar langsung di tolong oleh warga yang melihat. Salah satu dari mereka menelfon ambulans untuk membawa Younga yang sudah hampir kehabisan darah. Tak berapa lama ambulans yang datang langsung membawa Younga. Orang yang di sekitar kejadian berusaha mencari kontak keluarga Younga. Ponsel milik Younga hanya nisa di buka menggunakan face detection,


......................


Hampir tiga jam Younga pergi namun tak ujung kembali dan Arina yang mondar-mandir, ponsel milik Younga tak tak kunjung di angkat walau terhubung membuat Arina frustrasi.


Bu Halimah yang melihat Arina gelisah berusaha menenangkan nyonya mudanya adat tak stess. Mila yang mencoba menghubungi Roy langsung bertanya keberadaan Younga namun Roy tak bersama Younga. Ia menghubungi Dio dan jawaban ya g di berikan pun sama.


"Kok mas Younga belum pulang ya bu."


"Mungkin macet nona," Mila yang mendengar langsung menimpali.


"Huhh, gak mungkin." seraya menghembuskan nafas dengan kasar.


Sematara Dio dan Roy yang mendengar Mila mencari Younga segera mereka bergegas pergi ke rumah Younga. Takut istri tuanya khawatir dan cemas mereka berdua ingin mendengar langsung apa yang terjadi di rumah.

__ADS_1


"Roy ayo Roy,"


"Baik pak," seraya mengekori Dio yang berjalan terlebih dahulu.


Melihat reken kerjanya bergegas pergi Ririn yang ingin membahas masalah pekerjaan langsung di beri selembar kertas oleh Dio.


"Settel ini semua kita mau pergi sebentar," seraya menyerahkan lembaran kertas di tangannya.


"Woeee, pada mau kemana ini kok buru-buru?"


Namun pertanyaan Ririn yang di hiraukan karena mereka terlebih dahulu menaiki lift yang teleh terbuka pintunya. Mereka berdia langsung menaiki mobil yang sudah di siapkan oleh penjaga kantor.


Sementara Arina yang masih mondar-mandir do depan jendela kamar langsung keluar mendekat kearah kolam renang yang terhubung pintunya dengan kamar miliknya.


Di sebuah rumah sakit terdapat polisi yang memenuhi panggilan informasi dari warga yang menolong Younga langsung bergegas melihat korban berutal preman. Setalah di lihat mereka mengenali sosok yang tak asing bagi kedua polisi ini langsung menelfon pihak keluarga.


Dio dan Roy yang telah sampai langsung bergegas lari ke dalam ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka yang masuk dan menemui bu Halimah dan Mila langsung meminta keterangan apa yang terjadi saat ini. Bu Halimah dan Mila yang menceritakan Younga pergi karna ingin membeli ketoprak dan es kelapa muda yang tak begitu jauh membuat Dio dan Roy merasa sedikit curiga karena ia tak biasanya seperti ini. Dio yang mencoba menelepon Younga namum tak ada jawaban meski telfon Younga tak di matikan. Dio yang ingin pergi karena sinyal ponsel yang masih aktif.


"Dimana Younga sekarang,"


"Di..... Di.... Di rumah sakit, dan skarat."


"Husss, jangan bicara yang bukan-bukan kamu," Roy membentak Mila.


Arina yang berada di ambang pintu langsung duduk lemas ia merasakan tulang kakinya tak kuat menopang tubuhnya dan bu Halimah yang melihat Arina terduduk lemas langsung berlari ke arah Arina. Bahkan Dio yang melihat langsung tergopoh-gopoh untuk melihat keadaan istri sahabatnya.


"Ini salah ku,"


"Andai tadi aku tidak meminta di belikan makanan ini tidak mungkin terjadi." pandangan yang kosong hanya air mata yang deras mengalir membuat semua orang panik.


"Sudah ayo kita kerumah sakit Roy, Mila jaga nyonya." Dio memberi perintah kepada Mila. Namun Arina menolak untuk berada di rumah dia pun langsung berlari tanpa menghiraukan perutnya yang berat.

__ADS_1


Dio yang melihat Arina langsung ikut berlari untuk melerai Arina. Bahkan bu Halimah dan Mila ikut meyakinkan Arina agar tetap tinggal namun ia menolak dengan tegas. Akhirnya mereka pergi bersama untuk melihat keadaan Younga. Arina yang masih tak percaya bahkan saat orang lain berbicara dengannya seolah semua suara tak ia tampung di pikirannya. Pandangan yang kosong dan menyalahkan diri sendiri inilah Arina saat ini.


Sekitar 25 menit berjalan mereka sampai di rumah sakit yang ada di pusat kota. Dengan langkah cepat ia mengekori Dio dan Roy. Bahkan bu Halimah dan Mila jalan terpontal-pontal karena mereka berjalan dengan cepat.


"Suster dimana ruangan rawat atas nama tuan Younga"


"Di sebelah sana pak, di reguler anggrek." sambil menunjuk arah lobby ruangan.


Dengan sigap Dio dan Roy melangkah, setelah sampai ia melihat Younga yang terpasang perban di kepala dan selang infus di tangan terus menghampiri bangsal milik Younga.


Arina yang melihat suaminya terbaring dengan luka di kepala membuat ia tak kuat menahan sesak didada dan lutut yang semula kuat untuk berlari kini melemas melihat keadaan suaminya.


BRUGH


Arina terjatuh pingsan, Roy yang melihat mencoba membangunkan namun mata Arina sudah terpejam. Sambil berkeringat dingin, Roy yang mengangkat tubuh nyonya mudanya tak henti - hentinya mengerutu dan mengutuki dirinya di batinya sendiri "Maafkan saya tuan, bukan maksud namun ini terpaksa." karena ia selalu ingat bosnya mengumpat dengannya jika Arina berbicara kepada dia.


Sedangkan Dio yang memilih tetap berada di sisi Younga. Tak berapa lama polisi dan saksi yang juga penolong Younga muncul mencari keluarga Younga namun hanya Dio yang ada.


"Selamat siang pak, apakah bapak kerapat korban."


"Benar pak, bagaimana ini bisa terjadi sebelumnya?" Dio bertanya.


"Maaf pak saya yang menyaksikan bapak ini di pukul oleh dua preman mengunakan balok. Setalah melihat saya kedua preman tersebut lari menggunakan sepeda motor." terang singkat orang paruh baya yang berada disamping polisi.


"Dan ini barang-barang milik korban apakah ada yang hilang?" sambil menerima plastik berisi barang Younga Dio memeriksa dan mengelengkan kepala.


"Saya rasa tidak pak, semuanya utuh." memasukan kembali dompet dan ponsel milik Younga. "Oh ya pak. Bapak Melihat wajah orang yang memukul Younga? Dan bapak parkir mobil di hadapan mobil bapak Younga atau bapak hanya lewat?" Dio menanyakan kembali.


"Saya pemilik kedai es kelapa, memang bapak ini sering beli di tampat saya. Saya tidak melihat wajah si pelaku karena ia mengunakan topi topeng wajah, dan saya tidak memperhatikan plat nomor yang di gunakan juga. Iya mobil saya parkir tepat di depan mobil bapak ini." langsung polisi didampingi dia bereaksi.


"Boleh saya pinjam blackboks yang ada di mobil bapak."

__ADS_1


"tentu saja boleh pak, silahkan di periksa di mobil saya." izin pria paruh baya ini dengan ramah.


__ADS_2