
Dengan langkah cepat Younga berlari terlebih dahulu, sebab ia khawatir dengan keadaan istrinya saat ini. Sambil menoleh kiri kanan dan bingung karena pasien yang mayoritas wanita semua membuat ia terkecoh. Akhirnya ia menemukan keberadaan Mayang yang masih memandangi ruang UGD.
"Mayang," suara berat Younga.
"Ehhh, pak bos. Ada di dalem sabar ya." santai Mayang.
Younga yang memasang wajah panik langsung menghampiri dokter yang baru membuka pintu ruangan UGD. Dengan penuh khawatir "Dokter bagaimana keadaan istri saya dok?"...
"Ahhh. Pak Younga selamat sore pak, bisa ikut saya pak untuk membicarakan keadaan nyonya Arina." sapa dokter dengan ramah.
"Sore kembali dokter. Baiklah dok," sambil mengekori dokter wanita di depannya, dan memasuki ruang pribadi dokter ini.
"Sebelumnya, selamat ya pak. Ini normal untuk wanita yang baru mengandung dia mengalami pusing, mual, dan tak jarang makan pun memilih."
"wanita baru mengandung." sambil mengulang perkataan dokter karena tak di percaya ia akan menjadi seorang ayah.
"iya ibu Arina mengandung 3 minggu dan sangat sehat, harap di jaga ya pak meski kandungan ibu normal dan kuat namun ini masih sangat rentan."
"Baik lah dok akan saya perhatikan kesehatannya." dengan menjabat tangan sang dokter.
Sementara Arina yang telah sadar masih sedikit sakit di kepala membuat ia merasa lemas. "ummm, kenapa gw Mayang?" bertanya kepada Mayang yang menyodorkan air putih.
"Pingsan tadi lu,"
"Kok bisa sih kan gw abis makan." herannya.
"Tunggu dokter ama suamilu yakk,"
"Hahhh, mas Younga. Ahhhhh, udah kelar idup. Nanti gak boleh maen lagi kita May." keluh Arina.
__ADS_1
"Lah gw panic mau gimana ya gw telpon suami lu, dia juga berhak tau lah Rin." jelas Mayang.
Tak berapa lama Younga datang dengan seorang dokter dan perawat, seolah mengabaikan semua isi ruangan Younga memeluk Arina dengan erat seraya mengecup kening sang istri. Arina yang nampak malu dia di hujani kecupan oleh suaminya hanya bisa menyembunyikan wajahnya di ketiak suaminya.
"Sayang, Naa makasih ya. Dan selamat kamu akan menjadi seorang ibu sayang. Dan aku akan menjadi ayah yang sigap untuk anak kita." sambil mengusap perut istrinya yang masih rata.
"Hahh, yang bener kamu mas," seolah tak percaya.
"Sebelumnya selamat Nyonya Arina atas kehamilan pertamanya. Sehat selalu, dan tolong di jaga ya meskipun kandungan tergolong kuat tapi ada baiknya dijaga." jelas dokter.
Arina yang tak percaya menitikan air mata bahagia seraya memeluk kembali suaminya, pasalnya dia akan segera menjadi seorang ibu. Bahkan ini menjadi kado istimewa untuk nya karena tepat di bulan depan ia akan ulang tahun.
Semua orang yang di ruangan merasa senang melihat kedua pasangan ini bahagia. Bahkan raut bahagia akan segera menyelimuti kedua keluarga ibu Rika dan nenek Widia.
****
"Kak Mer ini bagus gak, sepatunya?" sambil mperlihatkan kakinya yang mengenakan sepatu hak tinggi. Namun Merry hanya mengangguk, dia tak tau bagai mana nanti jadinya jika Austine melibatkan ambisinya.
"Aku mau kelihatan paling oke di banding model yang lain, supaya Younga melirik ku." dengan penuh keyakinan hati Austine menatap diri di pantulan cermin.
"Kau jangan terlalu percaya diri Austine, istri Younga bukanlah orang sembarangan dia juga orang ber prestasi bahkan nilainya melebihi dirimu." Merry memang seperti itu ketika berbicara langsung pada intinya.
"Aku tak perduli, intinya aku akan mendapatkan Younga lagi." ucap Austine enteng.
"Lalu apa kata warga net nanti jika kau merebut suami orang. Pupus sudah apa yang kau bangun sampai detik ini." nasihat dari Merry.
"Yah biarkan saja toh nanti Younga dengan mudah menurunkan berita-berita itu. Aku tak Perduli apapun." dengan penuh keangkuhan Austine menjawab.
Mendengar perkataan Austine Merry hanya mengeleng kepala, karena hal mustahil bagi Austine untuk mendapatkan Younga. Merry merasakan sakit kepala karena berdebat dengan Austine.
__ADS_1
Sementara di apartemen kecil ini Alita berusaha mencari cara untuk mendekati Younga dan menjatuhkan Arina. Dengan cara apapun akan dia lakukan, meski itu akan meresikokan keadaannya.
Ia menghubungi salah seorang teman yang bekerja di Djoyo Dhiningrat, bertanya dengan lowongan pekerjaan dan dia juga rela menjadi apa saja di perusahaan milik Younga.
"Alita ada lowongan pekerjaan tapi hanya seorang cleaning services Tapi ini Untuk lantai atas tempat Younga dan wakilnya.
"tidak masalah uang penting aku ada jalan untuk masuk keempat Younga." sambil meminum es coklat dingin.
"Baiklah akan ku atur, tapi jagan lupa CV mu ya biar untuk memastikan kamu masuk." ujar wanita di hadapannya.
"tidak masalah akan ku buatkan cv untukmu," dengan wajah dan senyuman licik Alita merasa bahagia.
Cukup lama mereka berdua berbincang di cafe pojokan, sampai akhirnya mereka keluar dan saling berpisah. Alita yang merasa peluang akan berpihak kepada dia dengan segera ia merasa bahagia. Ayahnya akan kembali baik setalah di tolong nantinya oleh Younga. (me author : biarin aja dua wanita ini halu. Mereka lagi kebanyakan makan pisang ambon 🍌).
Waktu telah berlalu kini dua minggu sudah mereka melakukan kegiatan, Younga yang masih sibuk bekerja dan sesekali ia memandangi pigura yang bergambar hasil USG sang istri yang sengaja ia bingkai di jejerkan dengan foto pernikahan yang beberapa bulan lalu di ambil. Dengan adanya gambar ini di meja kerjanya akan membuat Younga merasa bahagia.
Arina yang tak boleh lagi pergi tanpa mendapat izin atau pergi dengan Younga hanya bisa terdiam di rumah. Bahkan nenek Widia mengelengkan kepala kepada cucunya yang membatasi Arina berjalan di keramaian mall atau apalah.
Sementara bu Rika yang masih senantiasa sering kerumah Younga ini pun merasakan bahagia akan ada kehadiran cucu pertama di hidupnya. Bahkan momentum ini dia menjadi lebih sering menikmati dirinya menjadi nenek karna semua makanan yang di masak pelayan resep dari ibu Rika.
Alita masih sering merasa kesal karena sudah ingin setengah bulan bekerja dia tidak kunjung bertemu dengan Younga lebih tepatnya sangat sulit untuk menemui Younga.
"sampai kapan aku akan bertahan seperti ini," gerutu dia sambil membersihkan toilet.
"Yang bersih itu jangan sampai masih ada kotoran di tembok," sang supervisor menegur Alita karna ia mengoceh terlalu kuat.
Dan Austine dia pun sama hanya mengerutu bahkan ia selalu mengomeli sang fotografer bahkan berulang kali meminta dipangilkan atasan tapi hasilnya tetap nihil. Tak ada atasan yang ia minta, malah bukan Younga yang datang melainkan Roy lah yang mendatanginya.
(kasian banget ye ama ini dua perempuan sabar sist. 😂)
__ADS_1