Dibalik Diamnya Seorang Istri

Dibalik Diamnya Seorang Istri
Part 33


__ADS_3

Melihat reaksi Rayyan saat bertemu dengan Enjel di layar rekaman cctv Zhia mencoba membuang napasnya kasar. Dari cara Rayyan memperlakukan Enjel, Zhia yakin jika suaminya benar benar berubah dan mau memperbaiki kesalahannya. Zhia semakin yakin jika keputusannya untuk memaafkan Rayyan adalah keputusan yang tepat.


"Tolong jangan beritau suami saya jika saya melihat kejadian tadi" ucap Zhia kepada penjaga lalu bangkit dari duduknya.


"Baik, Nyonya" ucap para penjaga menunduk hormat.


Zhia meningalkan ruangan cctv lalu menemui Rayyan yang kini berada di ruangannya. Zhia mencoba menyembuyikan jika dia sudah tau semuanya dan pura pura tidak tau apa apa. Walaupun Zhia tidak bisa mendengar percakapan mereka tapi Zhia tau dari gerak gerik Rayyan jika Rayyan tidak menyukai kehadiran Enjel.


"Hai, Sayang" ucap Zhia tersenyum manis lalu memeluk Rayyan dari belakang.


"Hai! Kenapa kamu tidak bilang mau ke mari, Sayang?" ucap Rayyan terkejut karna melihat Zhia tiba tiba datang.


"Apa kamu tidak menginginkan kehadiranku?" ucap Zhia memayunkan bibirnya.


"Bukan seperti itu, Sayang. Aku hanya tidak mau jika kamu kelelahan" Rayyan langsung saja menarik tubuh Zhia lalu mendudukkannya di pangkuannya.


"Kamu kenapa terlihat habis marah, Sayang? Apa ada sesuatu?" ucap Zhia mencoba mengorek informasi.


"Ti... Tidak ada, Sayang. Aku hanya sedang banyak pikiran saja" ucap Rayyan gugup.


"Bener?" ucap Zhia menatap lekat wajah Rayyan.


"Ia, Sayang. Kamu sudah makan siang?" ucap Rayyan mengalihkan pembicaraan.


"Belum! Aku ke sini mau mengajakmu makan siang"


"Kalau begitu ayo kita makan siang di luar. Di dekat kantor ini ada restoran baru buka. Rasanya sangat enak aku yakin kamu akan suka"


"Ayo! Aku sudah sangat lapar" ucap Zhia semangat empat lima.


"Giliran makan saja, Kamu langsung semangat. Aku yakin anak kita di dalam sini pasti sangat sehat karna tidak kekurangan nutrisi" ucap Rayyan tersenyum sambil mengelus perut datar Zhia.

__ADS_1


"Jika aku gemuk apa kamu tidak malu, Ray?" ucap Zhia menatap Rayyan dengan lekat.


"Mau bagaimanapun bentuk tubuhmu aku akan tetap mencintaimu, Zhi. Aku tau aku pernah melakukan kesalahan yang sangat besar. Tapi, dari kesalahanku itu aku sadar jika cinta karna rupa tidak akan pernah kekal. Karna kecantikan wanita itu hanyalah titipan yang bisa di ambil Allah kapan saja. Tapi, jika kecantikan dari dalam sini akan selalu kekal abadi. Aku mencintaimu bukan karna kecantikanmu tapi, karna ketulusan dan juga kesabaranmu. Kamu adalah wanita dari surga yang di titipkan Allah untuk mengubah jala hidupku" ucap Rayyan dengan tulus.


"Ray!" ucap Zhia dengan mata berkaca kaca. Dia tidak menyangka jika suaminya yang brengsek itu bisa sedewasa ini.


"Sudah! Ayo kita makan. Aku tidak mau jika kamu dan anak kita kelaparan" ucap Rayyan tersenyum nakal sambil mencubit kecil hidung mancung Zhia.


Rayyan dan Zhia langsung saja keluar dari ruangan Rayyan sambil bergandengan mesra. Rayyan terus saja mengandeng tangan Zhia dengan mesra seakan dia tidak rela melepaskan tangannya walaupun hanya sedetik saja. Para karyawan yang melihat keromantisan Rayyan dan Zhia yang semakin hari semakin romantis langsung menatap kagum mereka berdua. Bahkan ada yang merasa iri dengan keromantisan pasangan suami istri itu yang selalu saja terlihat sangat bahagia.


Rayyan membawa Zhia ke restoran yang dia katakan. Zhia yang melihat berbagai menu makanan yang sangat menghiurkan mencoba untuk menelan ludahnya. Mata Zhia terlihat sangat berbinar melihat makanan makanan lezat di buku menu itu.


"Sayang! Kamu mau pesan apa?" ucap Rayyan melihat Zhia begitu asik melihat menu makanan di depannya.


"Aku bingung, Sayang. Aku pesan sate kambing satu, sama nasi soto. Untuk minumnya aku mau jus jeruk saja" ucap Zhia akhirnya dapat menentukan pilihannya.


"Aku pesan sop buntut sama milk shake" ucap Rayyan.


"Baik, Tuan" ucap pelayan itu meninggalkan Rayyan dan Zhia.


Mereka makan siang bersama sambil bercanda ria. Tidak lupa dengan kelakuan manja Zhia yang terus saja membuat suasana hati Rayyan semakin berbunga bunga. Rayyan merasa sanagt bahagia karna kehadiran bayi dalam kandungan Zhia membuat hubungan mereka bisa harmonis seperti ini.


Sedangkan Ardiyan terus saja berjuang untuk mendapatkan cinta Nur si pelayan montok. Awalnya Ardiyang hanya ingi bermain main tapi, lama kelamaan dia mulai mencintai Nur dan ingin mendapatkannya seutuhnya. Tapi, sikap Nur yang terkesan cuek membuat Ardiyan semakin susah untuk mendapatkannya.


Berbagai cara terus saja Ardiyan lakukan agar bisa bertemu dengan Nur. Seperti saat di di jam makan siang dia pura pura menjemput Zhia ke rumah Rayyan agar bisa melihat Nur yang sudah berhasil membuat cassanova seperti Ardiyan kelepek klepek.


"Maaf, Tuan. Anda mencari siapa?" ucap Nur menghampiri Ardiyan yang terus celingukan kesana kemari.


"Cari jodohku yang belum aku dapatkan" gumam Ardiyan sambil melirik Nur yang semakin lama semakin cantik saja.


"Apa?" ucap Nurengerutkan keningnya karna bisa mendengar ucapan Ardiyan.

__ADS_1


"Tidak apa apa. Aku hanya ingin menjemout Nyonya Zhia" ucap Ardiyan mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Nyonya Zhia sudah berangkat ke kantor Tuan Rayyan" jelas Nur.


"Jadi Nyonya Zhia udah berangkat. Jadi aku terlambat dong?" ucap Ardiyan menatap keadaaƱ rumah yang begitu sepi.


"Ia, Tuan. Nyonya Zhia sudah berangkat dari tadi. Mungkin sekarang dia telah sampai"


"Em! Kamu di rumah bersama siapa? Aku lihat keadaan rumah ini sangat sepi" ucap Ardiyan mulai mengalihkan pembicaraan.


"Para pelayan yang lain lagi istirahat, Tuan"


"Kalau begitu kamu juga lagi istirahat ya?"


"Em! Ia, Tuan" ucap Nur menunduk.


"Kalau boleh saya tau kamu sudah punya pacar belum?" ucap Ardiyan to the point.


"Belum, Tuan. Saya lagi pokus bekerja untuk mengumpulkan biaya pengobatan ibu saya" ucap Nur menunduk sedih mengingat keadaan ibunya yang sakit sakitan dan membutuhkan uang yang banyak untuk perobatannya.


"Kalau boleh saya tau ibu kamu sakit apa?" ucap Ardiyan mulai merasa kasihan kepada Nur.


"Apa lebih baik kita ceritanya di sana saja. Soalnya kakiku sudah pegal" ucap Ardiyan merasakan kakinya uang lelah karna berdiri sedari tadi.


"Boleh, Tuan" ucap Nur terkekeh kecil melihat tinhkah Ardiyan yang sangat lucu di matanya.


Ardiyan dan Nur langsung saja duduk di kursi tamu untuk bercerita. Nur menceritakan semua masalahnya tanpa ada di tutup tutupi sedikitpun. Nur juga menceritakan alasannya yang nekat merantau ke kota untuk mencari pengobatan ibunya yang sakit sakitan.


Hingga akhirnya Nur bertemu dengan Zhia yang juga sedang mencari pelayan di rumahnya. Awalnya Zhia merasa kasihan kepada Nur yang terlonta lantung di jalanan karna tidak tau arah tujuan. Hingga akhirnya Zhia mendapatkan ide untuk mendiamkan Rayyan dan menyuruh Nur untuk menyiapkan semua keperluan Rayyan.


Bersambung....

__ADS_1


Haii semuanya... Sambil nunggu up jangan lupa mampir di karya temanku ya.



__ADS_2