
Melihat Zhia seorang diri di ruang ganti senyuman licik tiba tiba menghiasi wajah Enjel. Enjel mencoba mendekati Jefri pria hidung belang yang merepukan pemenang lelang gaun yang di kenakan Zhia.
"Hai cantik! Apa kabar?" ucap Jefri tersenyum manis ketika Enjel mendekatinya.
"Aku baik! Bagaimana dengan dirimu" ucap Enjel mengambil minuman di tangan Jefri lalu meminumnya sampai habis.
"Kamu semakin cantik saja. Apa aku bisa memberi penawaran untukmu?" ucap Jefri tersenyum nakal sambil membelai wajah Enjel.
"Apa kamu tidak melakukan penawaran lebih dengan model utama yang kau tawar gaunnya dengan harga semahal itu?"
"Em! Apa dia juga bisa di tawar?"
"Tentu saja. Apa kau lupa jika setiap model Tuan Ramlan bisa di tawar dengan nilai plus"
"Ok! Aku akan melakukan penawaran dengan Tuan Ramlan. Tapi setelah dengannya aku akan melakukannya denganmu" ucap Ramlan membelai wajah Enjel lalu menciumnya dengan lembut.
"Tidak! Kau tidak perlu menawarnya melalui Tuan Ramlan. Dia sedang ada di ruang ganti. Kamu bileh menemuinya" ucap Enjel membelai dada bidang Jefri yang masih di balut jas kuasanya.
"Baiklah! Aku sudah tidak sabar melihat tubuh indahnya. Tapi, nanti malam aku akan berkencang denganmu. Temui aku di apartementku aku akan memberikan bonus besar untukmu" ucap Jefri tersenyum lalu melangkahkan kakinya menuju ruang ganti.
Sesampainya di ruang ganti Jefri melihat kaki Zhia yang sangat mulus melalui celah bawah pintu ruang ganti. Tidak mau membuang waktu Jefri langsung masuk kedalam dan memergoki Zhia yang sedang ingin ganti baju. Zhia yang melihat Jefri masuk secara tiba tiba langsung membulatkan matanya terkejut dan berusaha menjauh dari Jefri.
"Kamu tidak perlu takut seperti itu, Sayang. Aku hanya ingin melakukan penawaran untukmu" ucap Jefri tersenyum manis sambil berusaha mendekati Zhia.
"Mundur kau! Atau kau akan menyesal nantinya" ucap Zhia menatap tajam Jefri.
"Ok! Aku mundur. Aku akan melakukan penawaran denganmu. Kau ingin uang berapa untuk tàmbahan membeli gaun yang kau kenakan itu?" ucap Jefri tersenyum nakal sambil memperhatikan tubuh indah Zhia.
"Apa maksudmu? Aku tidak menerima uang tambahan dari siapapun" ucap Zhia tegas.
"Kau sepertinya model baru Tuan Ramlan. Pasti pikiranmu masih sangat suci. Baiklah aku akan memberimu dua kali lipat dari harga gaun yang kau kenakan itu asalkan kau mau menemaniku" ucap Jefri berusaha untuk menyentuh Zhia.
__ADS_1
Plakkk....
Satu tamparan berhasil mendarat di wajah Jefri. Zhia menatap Jefri dengan amarah yang memuncak. Selama menjadi model bertahun tahun baru kali ini dia mendapatkan penawaran sehina ini. Jefri yang merasakan wajahnya yang memanas karna tamparan Zhia langsung menatap Zhia penuh emosi.
"Aku tidak butuh uangmu! Jika aku mau aku bisa membelimu bersama dengan perusahaanmu itu!" bentak Zhia dengan emosi yang memuncak.
"Oh! Bukan hanya jual mahal ternyata kau sangat sombong juga. Kita lihat saja sampai kapan kau bisa menghindar dariku" ucap Jefri tersenyum sinis sambil mengayunkan langkahnya mendekati Zhia dan mencoba menyentuh tubuh mulus Zhia yang begitu indah di matanya.
Bugh...
Zhia langsung menendang ************ Jefri lalu berusaha kabur. Tapi, ketika dia ingin membuka pintu, pintunya terkunci dari luar sehingga Zhia tidak bisa kemana mana.
"Ternyata dia melakukan pekerjaannya dengan baik. Setelah aku mendapatkan tubuh wanita ini aku akan memberikan bonus besar untukmu sayang" batin Jefri tersenyum sinis.
"Sial! Aku harus bagaimana? Kakak dan Rayyan di mana lagi" gumam Zhia panik sambil berusaha berpikir bagaimana caranya agar bisa lolos dari pria hidung belang di depannya.
"Kamu tidak akan bisa kemana mana, Sayang. Tidak akan ada yang bisa menolongmu di sini. Lebih baik kita penuhi saja ruangan ini dengan suara indahmu" ucap Jefri terus saja berusaha mendekati Zhia.
"Tapi, buaya darat menjadi makanan buaya asli, jadi buaya di makan buaya, dong" batin Zhia mengingat kembali perkataannya.
"Hahaha... Kakakmu tidak akan bisa menyelamatkanmu dari pelukanku, sayang. Bahkan dia tidak bisa menyentuhku karna kekuasaanku" ucap Jefri dengan sombongnya karna tidak tau siapa yang di maksud Zhia.
Walaupun Jefri terus saja mencoba menyentuhnya, Zhia selalu mencoba memberontak agar Jefri tidak bisa menodainya. Zhia mencoba berteriak meminta tolong tapi, teriakannya tidak ada gunanya karna Enjel telah mengosongkan ruangan di sekitar ruang ganti agar tidak ada yang bisa menyelamatkan Zhia dari pria hidung belang itu.
Kinan dan Rayyan mulai sadar jika sedari tadi Zhia tidak terlihat di acara pesta. Mereka mencoba melihat jam tangan mereka dan sadar jika Zhia sudah lama selesai tampil. Rayyan langsung panik dan memikirkan yang tidak tidak tentang Zhia.
"Nan, dimana Zhia? Apa ada orang yang menemaninya?" ucap Rayyan mulai menghawatirkan keadaan istrinya.
"Tidak! Setengah jam yang lalu dia meminta ijin untuk menganti gaunnya. Tapi, sampai sekarang belum kembali" ucap Kinan mulai merasa tidak tenang.
"Aku akan mencarinya di ruang ganti" ucap Rayyan langsung melangkahkan kakinya meninggalkan pesta yang masih meriah.
__ADS_1
"Aku ikut! Ayo" ucap Kinan melangkahkan kakinya mengikuti Rayyan sambil menarik tangan Sinta.
"Zhia, sudah ku bilang kamu tidak perlu menerima tawaran Ramlan bajingan itu. Tapi, kenapa kamu sangat keras kepala?" batin Rayyan bergumam kesal sambil memikirkan yang tidak tidak tendang Zhia.
"Maaf! Anda mau ke mana, Tuan?" ucap penjaga yang sedang berjaga di pintu ruang rias.
"Aku ingin menemui istriku. Dia ada di ruang ganti" ucap Rayyan tegas sambil menatap penjaga itu dengan penuh kecurigaan.
"Maaf, Tuan. Ruangan ini telah di sewa oleh pelangan Tuan Ramlan. Jadi tidak mungkin istri anda berada di dalam" jelas penjaga itu.
Degh...
Jantung Rayyan dan Kinan dengan serentak berhenti berdetak mendengar ucapan penjaga itu. Mereka langsung memikirkan yang tidak tidak tentang Zhia karna mereka tau jika Ramlan sering menjual modelnya kepada pengusaha pengusaha ternama seperti mereka.
"Kau buka pintunya atau aku mengunakan tubuhmu untuk membuka pintu ini" bentak Rayyan penuh amarah sambil menarik kerah baju penjaga itu.
"Maaf, tuan! Anda jangan coba cari keributan di sini" ucap Penjaga itu gugup sambil berusaha meminta bantuan.
"Kinanta Wirawan dan dia Rayyan Ardinata. Apa kau masih melarang kami untuk masuk" ucap Kinan menunjukkan kartu namanya kepada penjaga itu.
Setelah mengetahui siapa kedua pria yang sedang dia hadapi penjaga itu langsung membulatkan matanya terkejut. Siapa yang berani melawan kedua pengusaha muda sukses itu? Bahkan Ramlan sendiri akan menciut jika di hadapkan dengan mereka apalagi dia yang hanya seorang penjaga.
"Ba... Baik, Tuan. Silahkan masuk" ucap penjaga itu langsung membukakan pintu untuk Kinan dan Rayyan.
"Jangan jauh jauh dariku" ucap Kinan kepada Sinta yang ada di belakangnya.
"Tolong!" suara teriakan wanita yang meminta toling tersdengar jelas oleh Kina dan Rayyan sehingga mereka berdua langsung berlari sekuat tenaga ke sumber suara itu.
Brugh....
Zhia...
__ADS_1
Bersambung....