
Rayyan melihat tanggal kelahiran calon bayinya tingal menunggu hari lagi. Dia sudah menyiapkan semua keperluan Zhia dan juga calon bayi jika tiba tiba Zhia mengalami kontraksi. Rayyan terus saja mengelus rambut panjang Zhia sambil membayangkan bagaimana sakitnya perjuangan Zhia melahirkan bayinya nantinya.
"Kamu belum tidur, Ray?" ucap Zhia tiba tiba terbangun dari tidurnya.
"Ini aku mau tidur, Sayang. Kamu mau apa biar aku ambilkan"
"Tidak ada! Aku hanya mau di peluk" ucap Zhia tersenyum manja.
"Sini bobok di pelukan suamimu yang tampan ini"
"Pede amat!"
"Biarin! Memang aku tampan, buktinya istriku saja seperti bidadari yang turun dari kayangan"
"Kamu bisa saja. Tolong pijitin pingangku sayang"
"Pinganmu sakit?"
"Ia! belakangan ini pingganku sering sakit. Tapi kata dokter itu biasa jika mau melahirkan"
"Ya, sudah biar aku pijitin ya, Sayang" ucap Rayyan mencoba memijit pelan pingang Zhia.
"Sayang!"
"Hem"
"Aku besok ke kantor Kak Kinan ya"
"Ngapain?" ucap Rayyan menatap Zhia dengan tatapan penuh selidik.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Aku hanya ingin menemui kakak saja" ucap Zhia mengusap wajah Rayyan dengan telapak tangannya.
"Aku akan menemanimu besok. Sekarang lebih baik kamu tidur saja. Sini biar aku peluk" ucap Rayyan membawa Zhia kedalam pelukannya.
"Selamat malam, Sayang!" ucap Zhia mencium wajah Rayyan lalu mrnengelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Selamat malam juga, Sayang" ucap Rayyan mencium lembut puncak kepala Zhia lalu membelai rambut panjang Zhia dengan lembut.
Keduanya saling bertukar kehangatan sambil mejamkan mata mereka masing masing hingga akhirnya mereka larut dalam mimpi indah mereka.
Keesokan paginya.
Setelah membersihkan dirinya Rayyan melihat Zhia masih tertidur dengan pulasnya. Memang belakangan ini Zhia sulit tidur sehingga dia sering bangun kesiangan. Rayyan menyelimuti tubuh Zhia dan mencium keningnya dengan hati hati agar Zhia tidak terusik.
__ADS_1
Rayyan mengambil ponselnya lalu mrnghubungi Ardiyan untuk mengurus masalah kantor karna Rayyan ingin menemani Zhia ke kantor Kinan. Setelah selesai berbicara dengan Ardiyan melihat Zhia masih tertidur pulas. Sambil menunggu Zhia bangun Rayyan memilih duduk bersandar di samping Zhia sambil memainkan ponselnya.
"Sayang" rintih Zhia merasakan kontraksi pada perutnya.
"Kamu kenapa, Sayang. Apa ada yang sakit?" ucap Rayyan mengelus puncak kepala Zhia.
"Perutku sakit! Pingangku juga sakit" ucap Zhia menahan sakitnya.
"Apa kamu mau melahirkan, Sayang? Kalau begitu ayo kita ke rumah sakit" ucap Rayyan mengingat tanda tanda ibu hamil yang mau melahirkan yang pernah dokter jelaskan kepadanya.
"Mungkin hanya kontraksi saja, Sayang. Lagian tangal yang di tetapkan dokter seminggu lagi"
"Tapi, dokter bilang itu hanya perhitungan medis saja. Bisa sebelum itu dan kadang bisa lewat sayang"
"Lebih baik kamu pijit saja kaki sama pinggangku. Mana tau sakitnya bisa berkurang"
Mendengar ucapan Zhia, Rayyan mencoba memijit kaki Zhia dengan lembut. Rayyan terus saja menatap Zhia dengan penuh kekehawatiran tapi, Zhia tetap kekeh tidak mau pergi ke rumah sakit.
"Zhi, kamu kenapa?" ucap Kinan dan Rissa yang datang tiba tiba.
"Zhia mengalami kontraksi, Nan. Tapi dia tetap tidak mau pergi ke rumah sakit" jelas Kinan.
"Kakak sedari tadi menghawatirkanmu, Sayang. Pasti kamu mau melahirkan. Ayo kita ke rumah sakit, Sayang" ucap Kinan mencoba membujuk Zhia.
"Aku baik baik saja! Tunggu sebentar lagi jika kontraksinya terus berlanjut baru kita pergi ke rumah sakit" ucap Zhia tetap kekeh pada pendiriannya.
"Baiklah! Biar kakak pijit kakimu ya" ucap Kinan mengalah lalu memijit kaki Zhia.
Rayyan dan Kinan saling berbagi tugas ada yang memijit kaki Zhia ada juga yang memijit pingangnya. Sedangkan Rissa mengeluarkan semua keperluan Zhia dan calon bayinya selama di rumah sakit yang telah di simpan di dalam koper.
"Zhi, ketubanmu sudah pecah! Ayo cepat kita kerumah sakit" ucap Kinan panik ketika melihat ketuban Zhia telah pecah.
"Ayo! Siapkan mobil" ucap Rayyan langsung membawa Zhia kedalam gendongannya.
Kinan dan Rissa mengikuti Rayyan sambil menyeret koper yang berisi keperluan Zhia dan calon bayinya selama di rumah sakit.
"Kamu temani Zhia di belakang" ucap Rissa membuka pintu.
"Sudah! Ayo cepat masuk" ucap Kinan duduk di kursi kemudi lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Arghh... Sakit" pekik Zhia ketika merasakan kontraksi bayinya semakin kuat.
"Kamu yang kuat, Sayang. Sebentar lagi kita sampai" ucap Rayyan mengengam tangan Zhia sambil mengelap keringat Zhia yang bercucuran.
__ADS_1
Tinn...tin...
Kinan terus saja membunyikan klaksonnya agar para pengendara lain memberi jalan untuknya. Rissa juga memgerakkan tangannya untuk memberi kode kepada pengemudi lain jika ada keadaan darurat. Para pengemudi yang melihat itu langsung menyingkir dan memberi jalan kepada mereka.
"Kamu uang kuat ya, Sayangm kita sebentar lagi sampai" ucap Kinan menitikkan air matanya ketika melihat Zhia yang kesakitan dari kaca spion depan.
Tak menunggu lama akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Kinan langsung menghentikan mobilnya di depan pintu utama rumah sakit lalu berlari untuk meminta pertolongan. Mrlihat kedua pengusaha ternama datang ke rumah sakit para suster dan dokter langsung berhamburan keluar.
Dokter yang biasa mengontrol kandungan Zhia langsung siap siaga. Dia memerintahkan para suster untuk menyiapkan ruang persalinan untuk Zhia. Rayyan dan Kinan mendorong bangsal Zhia secara berasamaan. Kedua pria itu menatap iba Zhia yang terus merintih kesakitan.
"Ini semua karnamu!" ucap Kinan menatap tajam Rayyan.
"Kenapa karnaku?" ucap Rayyan mengerutkan keningnya binggung.
"Karna kau menghamilinya sehingga dia merasakan sakit seperti ini" ucap Kinan menyalahkan semuanya kepada Rayyan.
"Sudah! Apa kalian bisa tidak berdamai sebentar saja? Bahkan kalian masih bisa bertengkar di saat situasi genting seperti ini" ucap Rissa menatap kesal kedua pria yang selalu bertengkar itu.
"Dia duluan" ucap Rayyan dan Kinan serentak sambil menunjuk satu sama lain.
Melihat kelakuan Rayyan dan Kinan yang masih menyempatkan diri untuk bertengkar. Para suster yang membawa Zhia ke ruang persalinan hanya mampu menggelengkan kepalanya pelan.
"Kak! Sakit" rintih Zhia mengengam tangan Kinan.
"Kamu yang sabar ya, Sayang. Nanti juga hilang! Waktu bikinnya dulu kamu tidak ingat sama kakak"
"Kak Kinan!" ucap Rissa mencubit perut Kinan sambil melemparkan tatapan elangnya.
"Aw! Aku hanya bercanda, Sayang" rintih Kinan memegang perutnya yang memanas karna cubitan Rissa.
"Maaf! Kalian tunggu di luar dulu ya" ucap Dokter yang menangani Zhia.
"Tapi saya kakaknya, Dok" ucap Kinan memelas.
"Maaf! Hanya suaminya yang bisa masuk" ucap Dokter itu sopan.
"Ayo, Tuan" ucap Dokter kembali mendorong bangsal Zhia.
"Dadahhh..." ejek Rayyan melambaikan tangannya sambil menjulurkan lidahnya.
"Dasar adik ipar lacknut"
Bersambung....
__ADS_1