Dibalik Diamnya Seorang Istri

Dibalik Diamnya Seorang Istri
Part 77


__ADS_3

Sesuai janji Wildan dia akan menikahi Sinta secepatnya. Tak berselang lama pernikahan Wildan dan Sinta juga di laksanakan. Tapi, Wildan tidak mau membuang buang waktu dengan pertunangan dia memilih untuk langsung menikah dengan Sinta. Acara di lakukan dengan begitu mewah dan di hadiri para tamu dari kalangan atas.


Wildan dan Sinta berada di altar pernikahan dengan penuh kebahagiaan yang terpancar di wajah mereka masing masing. Para sahabatnya juga hadir dengan membawa pasangan mereka masing masing. Tinggal Rafi yang masih berkelana mencari cinta sejatinya.


"Sayang! Kamu kenapa?" ucap Rayyan melihat Zhia memijit kakinya yang mulai membengkak.


"Aku tidak apa apa, Sayang. Aku hanya sedikit lelah saja" jelas Zhia yang memang sudah kesulitan bergerak karna perutnya yang sudah membesar.


"Kita istirahat saja ya"


"Tidak! Aku mau menunggu acara pelemparan bunga" ucap Zhia menolak.


"Memangnya kamu mau mengantri dengan para jomblo itu?"


"Tidak! Aku hanya ingin menyaksikan acar spesial"


"Acara apa?" ucap Rayyan mengerutkan keningnya binggung.


"Kamu lihat saja nanti" ucap Zhia membenarkan duduknya lalu kembali menikmati acara.


"Hai adik kesayangku! Bagaimana kandunganmu, Sayang?" ucap Kinan tiba tiba datang lalu memeluk Zhia dan mencium perut buncit Zhia.


"Kakak lihat gimana?" ucap Zhia memayunkan bibirnya manja.


"Namanya perjuangan seorang ibu, Sayang. Jangan cemperut gitu dong" ucap Kinan tersenyum sambil menatap haru tubuh Zhia yang mulai membengkak.


"Kakimu mulai membengkak, Sayang. Kamu harus rajin jalan pagi ya, agar kakimu tidak terlalu membengkak nantinya" jelas Kinan menatap kaki Zhia.


"Ia, Kak. Rayyan juga selalu menemaniku jalan pagi" jelas Zhia.


"Itu sudah kewajibannya sebagai seorang suami. Tapi, usia kandunganmu sudah lewat tujuh bulan kan?"


"Ia, Kak. Bahkan sebentar lagi aku mau lahiran"


"Kalau begitu besok kita belanja keperluan bayimu sepuasnya"


"Kakak yang teraktir?"


"Tentu saja"


"Yach... Terima kasih, Kak" ucap Zhia bersorak gembira lalu memeluk Kinan dengan eratnya.

__ADS_1


"Sama sama, Sayang. Keponakan paman baik baik di dalam ya" ucap Kinan mengelus perut Zhia sambil menciuminya dengan penuh kelembutan.


Degh...


"Dia menendang, Sayang. Dia sangat aktif ya" ucap Kinan tersenyum bahagia ketika merasakan gerakan kandungan Zhia.


"Dia memang sangat aktif, Kak. Sampai sampai kadang aku sangat susah tidur" keluh Zhia menyampaikan keluhannya selama hamil.


"Tidak apa apa, Sayang. Yang terpenting kamu dan bayimu sehat" ucap Kinan menatap iba perjuangan Zhia.


"Bagaimana denganmu Ris? Apa sudah isi?" ucap Rayyan.


"Belum! Lagian kami masih belum terlalu berharap. Kami lebih memilih menghabiskan masa masa romantis dulu" jelas Rissa.


"Aku lapar. Kita makan dulu ya" ucap Kinan merasa perutnya yang sudah keroncongan.


"Makan? Ayo" ucap Zhia semangat.


"Tapi kamu baru makan, Sayang" ucap Rayyan.


"Tapi aku mau makan lagi" ucap Zhia memayunkan bibirnya.


"Ingat kata dokter, Zhi. Kamu harus mengontrol makananmu karna berat bayimu sudah berlebih. Nanti kamu sulit melahirkan" ucap Rissa menasehati.


"Kamu mau makan lagi?" ucap Rayyan tidak tega melihat ekspresi sedih istri manjanya itu.


"Ia!" ucap Zhia menganguk pelan.


"Ayo! Tapi sedikit saja ya. Besok ingat kamu harus melakukan senam" ucap Rayyan yang memang sudah menyewa pembimbing senam untuk Zhia


"Siap, Bos!" ucap Zhia semangat.


Rayyan dan Kinan langsung pergi mengambil makanan untuk permaisuri mereka masing masing. Sedangkan Zhia dan Rissa duduk menunggu sambil bercandaria bersama. Mereka melihat Nur dan Ardiyan yang duduk tidak jauh dari mereka.


"Zhi, aku tidak menyangka jika para cassanova bisa insyaf juga ya" ucap Rissa melihat Rayyan, Wildan, Ardiyan, dan Kinan yang dulu seorang cassanova kini telah insyaf setelah menemukan pelabuhan hati mereka masing masing.


"Kamu benar! Kita para wanita akan bahagia jika jatuh ke tangan pria yang tepat. Begitu juga dengan mereka kaum pria, mereka akan memperlakukan wanita yang mereka cintai dengan sebaik mungkin" ucap Zhia tersenyum.


"Kamu benar! Jika mereka memperlakukan kita seperti ratu itu tandanya mereka sangat mencintai kita. Tapi, kita juga sebagai istri harus menghargai cinta suami kita"


"Benar sekali" ucap Zhia tersenyum bahagia

__ADS_1


Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Kinan dan Rayyan datang membawa makanan untuk permaisuri mereka masing masing. Melihat makanan di depannya Zhia langsung menelan air liurnya lalu menyantap makanannya dengan lahapnya.


Hingga akhirnya acara lempar bungga pengantin di mulai. Sinta dan Wildan sudah bersiap siap di panggung untuk melempar bunga kepada para jomblo yang sudah siap mengantri di belakang mereka, tentu saja Rafi sudah ada di tengah tengah sekumpulan para jomblo itu.


Di saat ingin melemparkan bunga tiba tiba Sinta menghentikannya. Dia menatap seseorang yang sedang duduk bersama kekasihnya sehinga membuat para jomblo kebingungan. Tidak mau berpikir panjang Ardiyan langsung berlari kecil ke Sinta dan mengambil bunga pengantin yang ada di tangan Sinta.


Setelah mengambil bunga pengantin Ardiyan langsung berjalan mendekati Nur. Setelah sampai di hadapan Nur, Ardiyan langsung menekuk satu kakinya di lantai lalu memberikan bunga itu kepada Nur.


"Sayang, maaf aku tidak bisa menyiapkan lamaran yang romantis untukmu. Tapi, aku akan selalu memperlakukanmu sebaik dan seromantis mungkin. Sayang, di depan para tamu aku ingi mengatakan jika aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpamu. Nur maukah kamu menjadi istriku?" ucap Ardiyan dengan lantang sambil menatap Nur dengan tatapan penuh permohonan.


Terima... Terima... Terima...


Teriak para tamu sehingga membuat Nur semakin terharu. Nur menatap Ardiyan dengan mata berkaca kaca sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Nur tidak pernah membayangkan jika dia di lamar pria hebat seperti Ardiyan di tempat umum seperti ini.


"Nur! Maukah kamu menikah denganku?" ucap Ardiyan kembali mengulang kata katanya.


"Ia! Aku mau" ucap Nur meneteskan air matanya sambil menitikkan air mata kebahagiaannyam


"Terima kasih, Sayang" ucap Ardiyan langsung berdiri lalu memeluk Nur dengan pelukan penuh cinta.


"Selamat! Akhirnya kamu menemukan tambatan hatimu" ucap Rafi langsung memberi selamat kepada Ardiyan.


"Terima kasih"


Rayyan dan Zhia berjalan mendekati Nur dan Ardiyan di ikuti Rissa dan Kinan di belakang mereka. Zhia mememeluk Nur dengan penuh kehangatan sambil memberi selamat keoada pelayan yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.


"Selamat ya Nur. Akhirnya kamu menemukan tempat untuk berbagi semua bebanmu" ucap Zhia mengelus puncak kepala Nur.


"Terima kasih, Nyonya" ucap Nur tersenyum hangat.


"Nur kamu beritau ibumu ya. Untuk masalah pernikahanmu kamu tidak perlu khawatir, aku yang akan menyiapkan semuanya. Tapi, tunggu sampai Zhia melahirkan ya. Sebelum itu kalian akan bertunangan terlebih dulu" ucap Rayyan.


"Tapi, Tuan" ucap Nur gugup.


"Kamu tidak perlu sungkan seperti itu. Kamu adalah keluarga kami. Jadi, ini sudah tanggung jawab kami" ucap Zhia meyakinkan Nur.


"Terima kasih banyak, Nyonya. Nyonya sudah sangat banyak membantuku" ucap Nur menatap Zhia dan Rayyan.


"Tidak apa apa. Sekali lagi selamat" ucap Zhia kembali memeluk Nur.


"Terima kasih, Nyonya"

__ADS_1


"Wah! tinggal aku yang jomblo" ucap Rafi memasang wajah memelasnya.


Bersambung.....


__ADS_2