Dibalik Diamnya Seorang Istri

Dibalik Diamnya Seorang Istri
Part 58


__ADS_3

Setelah melakukan ritual mandi bersama Zhia dan Rayyan pergi ke ruang makan. Mereka melihat Rafi dan Kinan telah duduk bersantai sambil memainkan ponselnya menunggu kedatangan mereka.


Melihat wajah santai Kinan, Rayyan menatapnya dengan perasaan dongkol. Gara gara permintaan Kinan dia harus menghadapi amukan Zhia yang sangat menyeramkan seorang diri. Kinan yang sadar dengan tatapan Rayyan terlihat tetap santai dan berusaha menahan tawanyaembayangkan bagaimana wajah Rayyan saat menghadapi amukan Zhia.


Rayyan mencoba menarik kursi untuk Zhia terlebih dahulu lalu menarik kursi untuknya. Dia terus saja menatap Kinan yang terlihat santai dengan ponselnya sambil memaki Kinan lewat tatapannya. Kinan yang akhirnya tersadar tidak mau kalah dia membalas tatapan Rayyan tanpa ada rasa takut sedikitpun.


Rafi yang sadar dengan perang tatapan itu memilih untuk diam tak berkutik. Rafi tidak mau menjadi sasaran empuk kemarahan kedua musuh bebuyutan itu. Lain dengan Zhia yang terus saja mengoceh tidak ada hentinya sambil mengisi piring Rayyan.


"Kalian kenapa saling bertatapan seperti itu?" ucap Zhia binggung melihat tingkah Rayyan dan Kinan.


"Tidak apa apa. Lebih baik kamu makan yang banyak ya. Bayi kita pasti sangat lapar" ucap Rayyan mengalihkan pandangannya lalu mengisi piring Zhia dengan lauk pauknya.


"Zhi, kamu tidak perlu lagi menjadi model Ramlan. Kakak sudah membatalkan kontrakmu" ucap Kinan to the point.


"Tapi, Kak"


"Tidak ada tapi tapian. Jangan kerasa kepala. Jika kau masih ingin menjalani karirmu sebagai model kamu bisa menjadi model kakak dan juga Rayyan"


Mendengar ucapan Kinan, Zhia hanya bisa diam menunduk sambil mengaduk aduk makanannya. Jujur saja dia merasa tidak enak kepada Ramlan karna membatalkan kontrak kerja mereka begitu saja.


"Sayang, kamu tidak boleh begitu. Turunkan sedikit saja egomu demi anak kita. Kamu itu masih hamil muda, di usia kemilanmu ini masih sangat rawan sayang" ucap Rayyan mencoba membujuk Zhia.


"Aku akan menuruti kalian. Tapi, kalian harus meneraktirku belanja sepuaanya" ucap Zhia tersenyum.


"Kalau itu mah gampang. Kamu boleh memborong satu mall sekaligus" ucap Kinan dengan sombongnya.


"Lebih baik kamu habiskan sarapanmu. Setelah ini kita pergi belanja. Aku dan Kinan akan memberikan waktu kami bersamamu hari ini" ucap Rayyan.


"Baiklah! Nur kamu siap siap. Kamu perlu pakaiankan untuk pergi ke kampus" ucap Zhia menatap Nur yang sedang beres beres.

__ADS_1


"Tapi, Nyonya" ucap Nur merasa tidak enak.


"Tidak apa apa. Kamu tidak perlu khawatir ada kedua pengusaha kaya yang akan meneraktir kita. uang mereka tidak akan habis walaupun kita memborong satu mall" ucap Zhia tidak mau di bantah.


Rayyan dan Kinan tersenyum mengaguk sehingga Nur tidak bisa membantah lagi. Nur dengan cepat menyiapkan pekerjaannya lalu pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.


"Ray, pembantumu cantik juga ya" ucap Rafi menatap kepergian Nur.


"Jaga mata. Dia milik Ardiyan" ucap Zhia tegas.


"Apa!" ucap Kinan dan Rafi serentak ketika mendengar ucapan Zhia.


"Kenapa kalian terkejut seperti itu?" ucap Zhia mengerutkan keningnya binggung.


"Tidak apa apa. Ardiyan dan Rayyan sudah menemukan pelabuhan hatinya. Kita kapan?" ucap Rafi memelas sambil menatap Kinan.


"Kita akan menikmati masa mas kebebasan kita terlebih dahulu. Single itu lebih menyenangkan" ucap Kinan tersenyum.


"Makan saja sarapanmu. Kita akan menemukan pelabuhan hati kita nantinya" ucap Kinan menuduk tidak berani berkutik lagi.


Setelah selesai sarapan Rafi pamit untuk pergi ke kantornya. Sedangkan Kinan, Rayyan, Nur dan Zhia pergi ke sebuah mall ternama di kota mereka. Tidak lupa Zhia menghubungi Rissa terlebih dulu dan menyuruhnya untuk segera bersiap siap.


Karna mereka melewati salon Rissa, Kinan yang mengemudi seorang diri memilih untuk menjempur Rissa terlebih dulu. Sedangkan Zhia dan Nur yang ikut dengan mobil Rayyan memilih untuk langsung ke mall dan menunggu Rissa dan Kinan di sana.


Setelah menempuh tiga puluh menit perjalanan akhirnya mereka sampai di mall yang megah itu. Nur yang tidak pernah melihat mall semegah dan sebesar itu menatap kagum bangunan kokoh itu. Dia tidak pernah membayangkan jika dia akan berbelanja di sana. Jangankan membayangkan untuk berbelanja di sana, membayangkan untuk meninjakkan kakinya di sana saja Nur tidak berani.


"Ayo, Nur. Kamu pilih saja semua keperluan kuliahmu. Tidak usah malu malu" ucap Zhia mengadeng tangan Nur.


"Tapi, Nyonya" ucap Nur melepaskan gengaman tangan Zhia karna merasa malu dengan penampilannya yang lusuh. Sangat berbeda dengan Zhia yang selalu terlihan elegan dan anggun.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu malu. Penampilan tidak akan membedakan kita" ucap Zhia tersenyum lalu kembali mengengam tangan Nur dan berjalan memasuki mall itu.


"Sayang, lihat pakaian bayi itu" ucap Zhia menatap kagum pakaian pakaian bayi yang begitu banyak dan tersusun rapi.


"Tapi, kata orang tidak boleh membeli perlengkapan bayi sebelum usia kandungan tujuh bulan, Sayang. Lebih baik kita belanja keperluan bayi kita setelah usia kandunganmu lewat tujuh bulan" ucap Rayyan mengingat isu isu tentang jadwal yang tepat untuk membeli perlengkapan bayi.


"Masak sih, Sayang?" ucap Zhia mengerutkan keningnya binggung.


"Aku hanya dengar dengar saja. Tapi, lebih baik kita berjaga jaga. Aku tidak mau terjadi sesuatu kepadamu dan calon bayi kita. Lebih baik kamu mencari keperluanmu saat hamil saja" ucap Rayyan berusaha meyakinkan Zhia.


"Wah... Kamu mau beli perlengkapan bayimu, Zhi. Lihat topi ini imut sekali" ucap Rissa tiba tiba datang bersama Kinan.


"Tidak! Usia kandunganmu belum sampai tujuh bulan. Kamu belum bisa membeli perlengkapan bayimu" ucap Kinan tegas.


"Kakak tau dari mana?" ucap Rissa mengerutkan keningnya.


"Kakak hanya dengar isu isu saja. Apa kamu tidak pernah menonton film horor yang mengisahkan tentang sepasang suami istri yang membeli ayunan kayu rotan kepada bayinya yang saat itu usia kandungan istrinya masih empat bulan" ucap Kinan mengidik ngeri membayangkan film horor yang pernah dia tonton.


"Kinan! Kamu tidak usah membawa bawa film horor di sini. Ayo lebih baik kita pergi" ucap Rayyan mengidik ngeri mendengar ucapan Kinan.


Mereka semua mencoba meninggalkan tempat penjualan perlengkapan bayi itu lalu mencoba mencari keperluan lainnya. Zhia membeli begitu banyak pakain hamil dan juga sandal dan sepatu yang tidak memiliki tumit atas pilihan Rayyan dan Kinan.


Zhia yang tidak bisa menolak keinginan kedua pria yang posesif itu hanya mampu menurut tidak bisa membantah. Kinan dan Rayyan memilih semua keperluan Zhia saat hamil karna tidak ingin kandungan Zhia kenapa napa.


Mereka juga tidak mengijinkan Zhia mengunakan pakaian ketat dan juga highels lagi. Sedangkan Nur dan Rissa memilih pakaian, sepatu, tas untuk keperluan kuliah Nur. Tidak lupa jika Rissa juga memilih pakaian untuknya karna tidak ingin kehilangan kesempatan belanja gratis seperti saat ini.


Zhia menatap Rissa dan Nur yang bisa berbelanja sesuka hati mereka. Sedangkan dirinya harus menunggu persetujuan dari kedua pria yang sangat menyebalkan itu. Walaupun kesal tapi Zhia merasa sangat bersyukur karna Kinan dan Rayyan sangat memperhatikan kandungannya.


Setelah puas berbelanja mereka pergi ke restoran untuk mengisi perut mereka. Zhia memesan makanan yang begitu banyak lalu melahapnya sampai habis. Rayyan dan Kinan menatap Zhia yang saat ini semakin gemuk karna tidak pernah diet lagi. Terlebih lagi napsu makan Zhia yang semakin besar sehingga membuat tubuhnya semakin berisi dan juga perutnya yang semakin lama semakin membuncit saja.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2