Dibalik Diamnya Seorang Istri

Dibalik Diamnya Seorang Istri
Part 78


__ADS_3

Seperti yang di janjikan Kinan, hari ini mereka berbelanja untuk kebutuhan bayi Zhia. Sebenarnya Rayyan sudah membeli sebagian keperluan bayinya sehingga mereka hanya berbelanja kekurangannya saja. Zhia yang sudah lelah keliling mall merasakan kram pada perutnya hingga membuat Rayyan dan Kinan panik seketika.


"Aw!" pekik Zhia sambil mengelus perutnya yang kram.


"Kamu kenapa, Zhi?" ucap Rayyan dan Kinan panik.


"Perutku sakit!"


"Ayo duduk! Kamu minum dulu, Sayang" ucap Rayyan mendudukkan Zhia di kursi lalu memberikan botol air mineral kepadanya.


"Apa masih sakit, Zhi? Apa perlu kita ke dokter?" ucap Kinan mencoba menghubungi dokter kandungan yang biasa memeriksa kandungan Zhia.


"Aku tidak apa apa, Kak. Mungkin hanya kelelahan saja" ucap Zhia menenangkan Rayyan dan Kinan yang panik.


"Biar aku pijit kakimu, Zhi. Pasti perutmu keram karna terlalu lelah berkeliling" ucap Rissa memijit pelan kaki Zhia yang sudah membengkak.


"Kita pulang saja ya, Kak. Aku lelah! Lagian semua sudah di beli'kan?" ucap Zhia.


"Sudah! Ayo kita pulang. Sampai di rumah nanti kamu langsung istirahat ya" ucap Kinan membawa semua belanjaan Zhia.


"Ray! Kamu gendong adikku. Biar barang barang ini aku yang bawa" ucap Kinan kembali.


"Ia! Ayo, Sayang" ucap Rayyan membawa tubuh Zhia kedalam gendongannya.


"Aku bisa jalan sendiri, Sayang. Malu di lihat orang banyak. Nanti mereka kira aku kenapa napa" ucap Zhia turun dari gendongan Rayyan lalu melangkahkan kakinya pelan.


Rayyan mencoba membantu Zhia berjalan sambil membawa sebagian barang belanjaannya. Sedangkan Kinan dan Rissa mengikuti mereka dari belakang sambil menatap haru Rayyan yang selalu berusaha menjadi suami yang baik untuk Zhia.


Sesampainya di rumah para pelayan langsung membereskan barang belanjaan Zhia. Mereka menyimpan semua keperluan calon bayi Zhia pada tempatnya. Kamar Rayyan dan Zhia memang sudah di rombak sehingga mereka bisa satu kamar dengan calon bayi mereka nantinya.


Zhia menatap tempat tidur bayinya yang ada di samping ranjang mereka. Zhia mengelus perutnya pelan sambil berbicara kecil dengan kandungannya. Rissa yang sedang membantu para pelayan mencoba mendekati Zhia dan duduk di sampingnya.


"Hai keponankan tante! Kamu baik baik saja kan di dalam?" ucap Rissa mengelus perut Zhia.


"Saya baik, Tante cantik. Apa lagi setelah di kasih hadiah yang sangat banyak dari paman" ucap Zhia tersenyum.

__ADS_1


"Nyonya! Saya boleh bicara sebentar?" ucap Nur tiba tiba datang.


"Ada apa, Nur?" ucap Zhia menatap lekat Nur.


"Aku dan Ardiyan telah sepakat ingin langsung menikah saja setelah nyonya melahirkan. Lagian nyonya sebentar lagi mau melahirkan, untuk apa kami membuang buang waktu untuk bertungan? Kami mau langsung menikah saja setelah nyonya pulih nantinya" jelas Nur yang sebenarnya merasa tidak enak jika Zhia yang menyiapkan semua keperluannya saat bertunangan sampai menikah nantinya.


"Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Setelah aku melahirkan kita akan melaksanakan pernikahanmu. Tapi, bagaimana keadaan ibumu sekarang?"


"Allhamdulillah dia sudah lebih baik, Nyonya. Dia juga sangat senang mendengar aku mau menikah. Rencananya kami akan menjemputnya sebelum hari pernikahan kami" jelas Nur.


"Allhamdulillah kalau begitu. Sekarang kamu harus pokus dengan kuliahmu terlebih dulu ya. Ingat pendidikanmu itu lebih penting dari apapun"


"Ia, Nyonya. Kalau begitu aku lanjutkan perkerjaanku lagi ya, Nyonya" Mendengar ucapan Nur, Zhia langsung tersenyum menganguk.


"Sekarang kamu istirahat ya. Ingat kamu tidak boleh kelelahan" ucap Rissa mencoba membantu Zhia membaringkan tubuhnya.


"Terima kasih, Kak"


"Sama sama" ucap Rissa tersenyum sambil menyelimuti tubuh Zhia.


Zhia mencoba memejamkan matanya hingga akhirnya dia terlelap di tengah tengah semua orang yang sedang sibuk membereskan keperluan calon bayinya. Rayyan dan Kinan yang sedang mengatur letak lemari pakaian calon bayi Zhia tersenyum manis ketika melihat wajah teduh Zhia saat tertidur.


"Ini minumnya, Hubby, Ray" ucap Rissa memberikan minuman kepada Rayyan dan Kinan.


"Terima kasih" ucap Rayyan menerima minuman pemberian Rissa.


Kinan dan Rayyan menatap suasana kamar yang sekarang telah berubah. Rayyan memang sengaja meletakkan semua barang barang calon bayi mereka di dalam kamar mereka. Sebenarnya Rayyan bisa meletakkan semua barang barang calon bayi mereka di kamar lain. Tapi, Rayyan ingin berada dalam satu kamar dengan bayinya agar dia bisa menghabiskan waktunya dengan calon bayinya nantinya.


"Semua sudah beres! Kami pulang dulu ya, lagian ini sudah malam" ucap Kinan melirik jam tangannya.


"Kalian menginap di sini saja. Lihat hari sudah larut malam" ucap Rayyan melirik jam tangannya yang telah menunjuk ke pukul sepuluh malam.


"Baiklah! Kalau begitu kami istirahat dulu ya" ucap Kinan merangkul pingang Rissa lalu berjalan keluar dari kamar Rayyan.


Setelah sepeningalan Kinan dan Rissa, Rayyan pergi kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai mandi Rayyan keluar dengan mengunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Saat keluar tiba tiba dia melihat Zhia telah terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Sayang?" ucap Rayyan panik sambil mendekati Zhia yang kini duduk di tepi ranjang.


"Aku tidak apa apa?" ucap Zhia polos.


"Lalu kenapa kamu bangun. Ayo tidur lagi, kamu pasti lelah" ucap Rayyan membaringkan tubuh Zhia.


"Aku mau pipis!" ucap Zhia kembali bangkit.


"Oh! Ayo" ucap Rayyan menuntun Zhia ke kamar mandi. Rayyan memang tidak pernah membiarkan Zhia pergi ke kamar mandi seorang diri jika dia ada di rumah.


Dia takut jika Zhia terpeleset dan akan membahayakan kandungannya dan juga Zhia sendiri. Rayyan terus saja menatap Zhia yang telah kesusahan bergerak dengan tatapan penuh rasa iba. Jika dia bisa memilih dia tidak ingin merepotkan istrinya seperti ini hanya untuk melahirkan keturunan untuknya.


"Maaf ya sayang" ucap Rayyan mengelus lembut rambut panjang Zhia.


"Maaf untuk apa?"


"Maaf karna aku kamu seperti ini"


Mendengar ucapan Rayyan, Zhia langsung terkekeh kecil. Dia melihat wajah polos suaminya yang terlihat sangat lucu dan mengemaskan di matanya.


"Kamu ini ada ada saja, Sayang" ucap Zhia terkekeh sambil mencubit gemas wajah Rayyan.


"Ya, sudah ayo kita istirahat lagi" ucap Rayyan merangkul pinggang Zhia lalu menuntunnya keluar dari kamar mandi.


Rayyan mencoba mendudukkan Zhia di tepi ranjang lalu mengambilkan air mineral untuk Zhia.


"Ayo minum sayang"


"Terima kasih" ucap Zhia menerima segelas air pemberian Rayyan lalu menengaknya sampai habis.


"Sayang aku mau" ucap Zhia malu malu


"Mau apa, Sayang?" ucap Rayyan mengerutkan keningnya bingung.


Cupss...

__ADS_1


Zhia langsung mengenyerang bibir Rayyan. Melihat aksi istrinya, Rayyan bisa paham apa yang sedang di inginkan oleh istrinya. Rayyan membaringkan tubuh Zhia lalu melakukan pemanasan telebih dulu. Rayyan melakukan tugasnya dengan sangat hati hati. Dia juga mengikuti arahan dokter yang pernah dia tanyakan bagaimana hubungan intim yang baik saat sedang hamil.


Bersambung....


__ADS_2