Dibalik Diamnya Seorang Istri

Dibalik Diamnya Seorang Istri
Part 62


__ADS_3

Brukk...


"Kakak!" teriak Zhia membanting kasar pintu ruang rapat kantor Kinan.


Suasana yang tadinya hening karna membicarakan masalah keungan kantor tiba tiba berubah menjadi menegangkan. Zhia tidak peduli jika Kinan sedang melakukan rapat dengan beberapa karyawannya. Dia terus saja menatap Kinan dengan amarah yang memuncak.


"Mampus! Salah apa aku sehingga membangunkan singa betinaku yang sangat menyeramkan itu?" batin Kinan mencoba mengusap bulu kuduknya yang merinding.


Tatapan tajam dan ekspresi menyeramkan yang sedari tadi dia pancarkan tiba tiba berubah menjadi eksperi penuh ketakutan. Para karyawan yang melihat kejadian langka itu hanya mampu menahan tawa mereka. Ketika, melihat bos kulkas yang sangat meyeramkan Kini berubah menjadi kucing lugu di depan Zhia.


"A...ada apa? Kenapa kamu melihat kakak seperti itu?" ucap Kinan gugup.


"Kakak jahat! Kakak menipuku! Aku benci sama kakak" teriak Zhia mencoba mengejar Kinan.


Kinan yang sadar nyawanya sedang berada dalam bahaya mencoba untuk melindungi diri. Dia berlari dan meminta bantuan kepada para karyawannya. Namun, Zhia terus saja mengejar Kinan sehingga acara kejar kejaran terjadi di ruang rapat itu dan di saksikan para karyawan Kinan.


Para karyawan baru yang belum mengenal Zhia mengira Zhia adalah istri Kinan. Mereka menatap Kinan dengan rasa tidak percaya karna sangat memanjakan istrinya. Sedangkan para karyawan yang sudah mengenal Zhia hanya bisa membuang napasnya kasar sambil menahan tawanya karna sudah biasa dengan pemandangan itu.


"Zhi, jangan lari lari seperti itu. Ingat kandunganmu" teriak Kinan terus saja bersembuyi untuk menyelamatkan dirinya.


"Kakak jahat! Kakak membohongiku" teriak Zhia mengambil snack yang ada di meja lalu melempari Kinan.


"Aw! Ampun, Zhi. Kakak tidak punya pilihan. Tolong maafkan kakak" ucap Kinan mengerti sumber kemarahan Zhia karna melihat Sinta datang di belakang Zhia.


"Zhi, maafkan Bos Kinan. Dia hanya ingin membahagiakanmu, walaupun caranya salah" ucap Sinta mencoba membujuk Zhia.


"Kakak minta maaf! Kakak akan menerima semua hukuman darimu. Tapi jangan seperti ini" ucap Kinan sambil berlindung di belakang karyawannya.


"Ingat kandunganmu, Zhi. Jika kamu emosi seperti ini kandunganmu bisa kenapa napa" ucap Sinta terus saja membujuk Zhia.


"Baiklah! Aku juga lelah. Aku mau istirahat dulu. Tapi, aku akan melanjutkannya lagi" ucap Zhia dengan tegas lalu duduk di kursi kuasa Kinan.

__ADS_1


Zhia mencoba merilekskan pikirannya terlebih dulu sambil duduk bersandar di kursi kuasa Kinan. Zhia melihat minuman dan snack milik Kinan yang ada di depannya. Tanpa banyak pikir Zhia menyeruput minuman Kinan dan memakan snacknya dengan lahapnya.


"Kalian semua boleh keluar. Rapatnya di lanjutkan nanti" ucap Zhia melihat para karyawan Kinan yang masih betah di kursi mereka.


"Baik, Nyonya. Kami ucapkan selamat atas kehamilan, Nyonya" ucap sekertaris Kinan mencoba bangkit dari duduknya.


"Terima kasih" ucap Zhia tersenyum ramah.


Melihat para karyawannya berjalan keluar Kinan mencoba mengikuti mereka untuk mengindari amukan Zhia. Tapi, sayang Zhia melihat kelakuan Kinan yang mencoba kabur darinya.


"Jika kakak keluar maka kakak tidak akan bisa menemuiku lagi selamanya" ucap Zhia penuh penekanan di kata kata terakhirnya.


Mendengar anacaman Zhia, mau tidak mau Kinan akhirnya menghentikan langkahnya. Dia memilih berputar arah dan berjalan mendekati Zhia sambil menyatukan kedua tangannya. Seperti anak kecil yang sedang kena marah oleh ibunya begitulah ekspresi Kinan saat ini.


"Kakak minta maaf! Kakak hanya ingin membahagiakanmu saja" ucap Kinan memasang wajah memelasnya di hadapan Zhia.


"Kenapa kamu mengatakannya?" ucap Kinan pelan sambil menatap tajam Sinta.


Bughh...


"Kenapa kakak memarahinya? gara gara kakak dia di putuskan oleh kekasihnya. Bukan hanya itu dia juga di hina di depan umum" ucap Zhia menatap tajam Kinan.


"Maaf! Kakak tidak tau jika sampai itu terjadi. Tapi, dengan kejadian ini kita bisa tau jika kekasinya yang bajingan itu tidak pantas untuknya. Jika dia memang pria baik baik yang mencintai Sinta dengan tulus tidak mungkin dia memutuskan hubungan mereka begitu saja. Bahkan dia sampai tega menghina Sinta di depan umum" ucap Kinan.


"Ucapan kakak memang benar apa adanya. Tapi" ucap Zhia bangkit dari duduknya.


"Aw! Sakit, Zhia" ucap Kinan merintih kesakitan ketika Zhia menarik telinga Kinan.


"Kakak telah menyakiti hati wanita yang mencintai kakak sedari lama. Bahkan dia ingin meninggalkan kota ini karna kakak" ucap Zhia lirih.


"Maksudmu, Zhi?" ucap Kinan mengerutkam keningnya binggung.

__ADS_1


"Rissa telah pergi! Dia meninggalkan kita. Itu semua karna kakak! Kakak jahat karna tidak pernah sadar dengan perasaan Rissa" ucap Zhia menitikkan air matanya sambil memukuli dada bidang Kinan.


"Maksudmu Rissa selama ini mencintai kakak?" ucap Kinan menangkup wajah Zhia lalu menatap netra matanya dengan lekat.


"Ia, Rissa mencintai kakak! Kakak harus menghentikannya. Aku tidak mau jauh dari Rissa, Kak" ucap Zhia memeluk Kinan sambil menangis kesegukan.


"Kakak akan menghentikannya. Kamu tenang saja" ucap Kinan mencoba menghapus air mata Zhia.


"Terima kasih karna sudah memberitau kakak. Kamu memang adik kakak yang terbaik" ucap Kinan mencium kening Zhia lalu mencoba mengelus perut buncit Zhia.


"Kamu jaga adikku!" ucap Kinan kepada Sinta lalu berlari keluar untuk mengejar Rissa.


Kinan mencoba merogoh saku celananya lalu mengabil ponselnya dari sana. Kinan mencoba mencari nomor kontak bandara lalu dengan cepat mencoba menghubunginya.


"Hentikan penerbangan ke semua arah sekarang juga" perintah Kinan dengan suara britonnya yang sangat menyeramkan sehingga pihak bandara tidak berani menolak perintahnya.


Kinan mencoba berlari sekuat tenanganya berharap jika pesawat yang di tumpangi Rissa belum lepas landas. Kinan mencoba melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil membunyikan klaksonnya agar pengemudi jalan memberikan ruang untuknya.


Mendengar berita Kinan menutup bandara dengan alasan adiknya yang kabur Ardiyan yang mendengar itu langsung memberitau Rayyan. Dia menduga jika adik Kinan yang kabur adalah Zhia.


"Bo...bos! Kinan menutup bandara. Aku dengar adiknya kabur" ucap Ardiyan ngosngosan.


"Apa! Apa itu Zhia?" ucap Rayyan panik.


"Aku tidak tau Bos. Tapi, aku telah menghubungi Nur dan katanya Nyonya sudah pergi sejak tadi" jelas Ardiyan yang memang langsung menghubungi Nur setelah mendengar berita penutupan bandara.


"Siapkan mobil sekarang!" perintah Rayyan tegas sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya.


Rayyan mencoba berjalan dengan tergesa gesa sambil berpikir apa kesalahan yang dia lakukan sehingga Zhia sampai kabur. Rayyan terus saja mengutuk dirinya sendiri karna terus membuat Zhia bersedih.


Sesampainya di parkiran Rayyan masuk kedalam mobilnya lalu meminta Ardiyan menyerahkan kunci mobilnya. Ardiyan hanya mampu diam lalu duduk di samping Rayyan yang memegang kemudi.

__ADS_1


"Zhi, apa salahku sehingga kamu pergi meninggalkanku? Aku memang pria bodoh" gumam Rayyan sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa memperdulikan cacian para pengemudi yang dia lewati.


Bersambung....


__ADS_2