Dibalik Diamnya Seorang Istri

Dibalik Diamnya Seorang Istri
Part 75


__ADS_3

"Bagaimana ini?" bisik Rafi.


"Aku tidak tau! Salahnya sendiri main serobot saja" ucap Rayyan kebinggungan.


"Lebih baik kamu cari wanita untuknya saja" ucap Ardiyan mencoba berpikir.


"Kalian bicara apa sih?" ucap Kinan kebingungan.


"Diam!" teriak Ardiyan, Rafi dan Rayyan serentak.


"Aku hanya bertanya" ucap Kinan mengaruk kepalanya pelan.


"Kalian letakkan apa di minuman tadi?" ucap Wildan mulai tersadar dengan perubahan tubuhnya.


"He...he.. kamu sih main serobot saja" ucap Rayyan terkekeh kecil.


"Jangan bilang!" ucap Kinan dan Wildan serentak.


"He..he... Aku hanya meletakkannya sedikit" ucap Rayyan cengengesan tanpa dosa.


"Mampus! Aku harus bagaimana ini? Pangil dokter!" teriak Wildan cemas.


"Untuk apa pangil dokter? Dokter mana mau melayanimu, mereka juga punya selera. Lebih baik pangil wanita pangilan saja" ucap Rafi.


"Aku tidak mau. Kalian harus tangung jawab" ucap Wildan tegas.


"Mau tidak mau kamu harus melakukannya. Bisa bisa kamu dalam bahaya" ucap Rayyan mencoba menenangkan Wildan.


"Aku hanya mencintai Sinta. Jadi aku tidak mau tidur dengan wanita lain lagi" ucap Wildan.


"Ada apa ini?" ucap Zhia tiba tiba datang bersama Sinta dan Nur.


Sinta yang melihat Wildan yang seperti menahan sesuatu di tambah lagi dengan matanya yang memerah langsung mendekati Wildan.


"Kamu kenapa?" ucap Sinta khawatir.


"Kamu harus menolongnya" ucap Rayyan to the point.


"Menolongnya bagaimana?" ucap Sinta kebingungan.


"Kamu haru membantunya menuntaskan hasratnya" ucap Rafi keceplosan.


"Apa!"


"Tidak! Aku baik baik saja. Aku akan ke kamar untuk menenangkan diriku" ucap Wildan berjalan sempoyongan.


Sinta yang merasa cemas dengan keadaan Wildan mencoba untuk mengikutinya dari belakang. Sedangkan Zhia menatap Rayyan dengan tatapan penuh pertanyaan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" ucap Zhia melemparkan tatapan elangnya sehingga membuat keempat pria di depannya menunduk ke takutan.


"Katakan!" teriak Zhia sehingga membuat semua yang ada di sana terkejut seketika.


"Ka..kami meletakkan sedikit perangsang ke minuman Wildan. Ta..tapi sebetulnya bukan untuk Wildan tapi dia merampas minuman itu dari tanganku" jelas Rayyan menunduk ketakutan.


"Maksudnya apa, Nyonya?" bisik Nur yang tidak mengerti apa yang di maksud Rayyan.


Zhia mencoba menarik napasnya lalu menjelaskannya kepada Nur. Nur yang mendengar penjelasan Zhia langsung terkejut lalu menatap Ardiyan tajam.


"Mampus! Aku tidak ikut ikutan, Sayang" ucap Ardiyan ketakutan ketika melihat tatapan Nur yang begitu mematikan.


"Aw! Sakit sayang. Maafkan aku" teriak Rayyan kesakitan ketika Zhia menjewer telinganya.


"Ayo ikut aku. Gara gara kamu Wildan dalam masalah" teriak Zhia sambil menarik telinga Rayyan.


"Ayo pulang" ucap Nur menatap tajam Ardiyan.


"Ia, Sayang" ucap Ardiyan menunduk lalu berjalan mengikuti Nur.


"Ha..ha.. ibu negara jika ngamuk sangat mengerikan ya" ucap Rafi terkekeh kecil melihat kedua sahabatnya yang tidak bisa berkutik di depan wanita mereka masing masing.


"Kamu juga nanti akan seperti mereka. Sudahlah aku mau bersenang senang dulu" ucap Kinan tersenyum lalu berjalan menuju kamar pengantin.


"Sendiri lagi! Nasib jomblo" ucap Rafi mengaruk kepalanya yang tidak gatal lalu berjalan keluar aula pesta seorang diri.


"Kamu istirahat saja aku tidak apa" ucap Wildan dengan napas memburunya.


"Aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini. Apa yang harus aku lakukan untuk bisa membantumu?" ucap Sinta merasa cemas dengan keadaan Wildan.


"Tidak perlu! Aku tidak mau menodaimu sebelum menghalalkanmu. Aku tidak bisa menodai cinta kita"


Degh...


Jantung Sinta langsung berdetak mendengar ucapan Wildan. Walaupun Wildan sekarang berada di dalam pengaruh obat dia tetap saja tidak mau mengecewakan Sinta. Dia tidak mau menyentuh Sinta sedikitpun dia benar benar menjaga Sinta.


"Aku akan menbantumu" ucap Sinta mencoba melepaskan pakaianya.


"Tidak! Aku tidak mau menodaimu" ucap Wildan langsung memalingkan wajahnya.


"Apa kau mencintaiku, Wil?"


Mendengar pertanyaan Sinta, Wildan langsung menatap Sinta. Dia menatap netrea mata Sinta sehingga kedua netra mereka saling bertemu. Dari sana Sinta dapat melihat cinta yang begitu besar terpancar di mata Wildan untuknya.


"Aku mencintaimu! Aku sangat mencitaimu"


"Kalau begitu lakukanlah! Tapi, kau harus bertangung jawab dengan menikahiku secepatnya" ucap Sinta membelai wajah Wildan.

__ADS_1


Wildan yang tidak bisa mengontrol dirinya langsung menyerang Sinta. Dia mencoba menjajah seluruh tubuh Sinta dengan rakusnya lalu membaringkan tubuh Sinta di atas ranjang. Wildan melepas seluruh pakaian Sinta sehingga tubuh indah Sinta terlihat jelas di matanya.


"Indah sekali, Sayang" ucap Wildan dengan napas yang memburu.


Wildan yang sudah berada di puncak gairah melepaskan seluruh pakaiannya sehingga mereka berdua dalam keadaan polos dan memperlihatkan tubuh mereka masing masing. Wildan menuntaskan hasratnya dengan lembut sehingga Sinta melupakan rasa sakitnya karna ini adalah kali pertama untuknya.


Sedangkan di kamar pengantin Kinan mengerutkan keningnya bingung karna tidak melihat keberadaan Rissa di sana. Hingga akhirnya Kinan mendengar suara cipratan air di dalam kamar mandi.


"Sayang! Kamu di dalam?" ucap Kinan memastikan.


"I..ia" ucap Rissa pelan.


Mendengar suara Rissa yang berasa di dalam sana Kinan menghempuskan napasnya lega. Dia membuka jasnya dan memiih duduk bersadar sambil memaikan ponselnya di atas ranjang yang telah di taburi bunga mawar dan juga hiasan indah.


Tak berselang lama Rissa keluar dari kamar mandi dengan mengunakan lingerie tipis berwarna merah pemberian Zhia. Kinan yang melihat penampilan Rissa menelan ludahnya kasar lalu meletakkan ponselnya kesembarangan arah. Kinan melangkahkan kakinya berjalan mendekati Rissa sambil terus menatap Rissa.


"Kamu cantik sekali, Sayang" ucap Kinan menatap kagum kecantikan istrinya.


Rissa yang merasa malu dengan penampilannya mendunduk malu untuk menyembunyikan wajah tomatnya. Kinan yang melihat sikap istrinya tersenyum tipis sambil menarik dagu Rissa. Kinan menatap wajah cantik Rissa yang merah merona.


"Kamu tidak usah gugup seperti itu, Sayang. Aku tidak akan memakanmu hidup hidup" ucap Kinan membelai wajah Rissa.


"Maaf kak!"


Cup...


"Apa kamu lupa dengan ucapanku?"


"Maaf, Hubby"


Mendengar kata kata indah itu keluar dari bibir indah Rissa, Kinan langsung tersenyum lebar. Tidak mau membuang buang waktu Kinan membawa tubuh Rissa kedalam gendongannya lalu melerakkannya di atas ranjang.


"Apa boleh aku melakukannya, Sayang?" ucap Kinan menatap Rissa dengan tatapan penuh hasrat.


"Apa yang ada pada diriku adalah milikmu, jadi kamu boleh melakukannya sesuka hatimu" ucap Rissa melingkarkan tangannya di leher Kinan yang kini berada di atasnya.


"Terima kasih, Sayang. Maaf karna ini akan menyakitimu" ucap Kinan mencium lembut leher jenjang Rissa.


"Ini sudah menjadi tugasku sebagai istrimu, Hubby" ucap Rissa sambil mengeluarkan suara indahnya karna Kinan menyentuh puncak kembarnya.


Kinan berusaha melepaskan seluruh pakaian Rissa yang menghalaginya sehingga tubuh indah Rissa terlihat jelas di matanya. Kinan langsung melahap tubuh Rissa dengan penuh kelembutan sehingga Rissa menikmati setiap sentuhan yang dia berikan.


Setelah melihat Rissa berada di puncak gairah Kinan melepaskan seluruh pakaiannya lalu menindih tubuh Rissa. Kinan memasukkan juniornya ke dalam sarangnya dengan sangat hati hati. Rissa yang merasakan sakit pada bagian intimnya berusaha memeluk tubuh Kinan sambil menahan sakitnya.


Kinan yang melihat Rissa kesakitan mencoba membangkitkan gairah Rissa kembali dengan ******* bibir Rissa. Dia ******* bibir Rissa dengan rakusnya sehingga Rissa melupakan rasa sakitnya dan mulai menikmati permainan Kinan.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2