
Setelah kepergian Kinan, Zhia menatap Rayyan yang sedang tertidur sambil terus saja bergumam di atas kasur mereka. Zhia mencium bau alkohol yang sangat menyengat dari tubuh Rayyan sehingga membuatnya ingin muntah saat itu juga. Zhia mencoba pergi ke kamar mandi dengan perasaan geram lalu membawa satu gayung air untuk menyadarkan Rayyan.
Byyuur...
"Banjir!" teriak Rayyan tersontak kaget ketika satu gayung air dingin meluncur ke wajah tampannya.
"Apa banjir? Ini baru banjir betulan" ucap Zhia geram lalu menyeret tubuh Rayyan kedalam kamar mandi.
"Ampun, Sayang! Ampun!" teriak Rayyan bersimpuh di kaki Zhia.
"Tidak ada ampun ampun. Ikut aku!" teriak Zhia sambil menyewer telinga Rayyan lalu menyeretnya masuk kedalam kamar mandi.
"Minum saja terus! Mabuk mabuk.. Bughh" Zhia mencoba memukul bokong Rayyan mengunakan gayung berulang kali.
"Aww... Sakit, Sayang. Ampun ini semua karna Kinan" ucap Rayyan mencoba membela diri.
"Apa? Sudah salah masih saja membawa bawa nama orang lain. Rasakan ini! Biar pikiranmu jernih" ucap Zhia menguyur tubuh Rayyan mengunakan air dingin sehingga membuat kesadaran Rayyan kemabli seratus persen.
"Sayang! Dingin. Ampun aku tidak akan mengulanginya lagi" ucap Rayyan penuh penyesalan.
"Aku sudah bosan mendengar kata kata itu dari mulutmu. Apa perlu aku menyiapkan ritual mandi kembang agar setan di dalam tubuhmu itu keluar? Sudah mau jadi ayah tapi kelakuanmu masih sama saja" ucap Zhia penuh kekesalan.
"Ampun! Maafkan aku. Aku salah" hanya kata kata itu yang keluar dari mulut Rayyan.
Dia terus saja meminta ampun sambil mengigil kedinginan. Melihat keadaan Rayyan seketika Zhia merasa kasihan ketika melihat Rayyan mengingil kedinginan.
"Bersihkan tubuhmu! jangan sampai aku masih mencium bau menjijikkan itu keluar dari tubuhmu. Jika aku menciumnya sedikit saja. Maka, bersiaplah untuk tidur di teras" ucap Zhia dengan tegas sambil melemparkan sabun kepada Rayyan.
"Ia, Sayang. Aku akan membersihkan tubuhku. Aku akan keluar dalam keadaan wangi" ucap Rayyan mencoba membuka pakaiannya lalu melakukan ritual mandi dengan menghabiska satu botol sabun.
"Awas jika aku masih menciumnya" ucap Zhia melemparkan tatapan elangnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi.
"Siap, Sayang" ucap Rayyan melayangkan senyuman manisnya.
"Awas kau Kinan! aku akan membalasmu" batin Rayyan sambil menatap kepergian Zhia.
__ADS_1
Sedangkan di luar kamar Kinan yang sengaja menguping pertengkaran Zhia dan Rayyan tertawa terbahak bahak. Dia membayangkan bagaimana wajah Rayyan yang tidak berkutik di depan Zhia.
"Ha...ha.. Mapus! ada dua permintaan lagi" ucap Kinan sambil memikirkan dua permintaan yang akan dia lontarkan kepada Rayyan.
"Lebih baik aku berpikir sambil bobok sayang saja. Agar permintaanku yang dua lagi lebih menghibur" ucap Kinan tersenyum senyum sendiri sambil melanhkahkan kakinya menuju kamar tamu.
Kinan dan Rafi tidur bersama di kamar tamu. Rafi yang sebetulnya ingin pulang di larang oleh Kinan karna mengingat kondisinya yang sedang terpengaruh alkohol. Karna dia juga masih sayang dengan nyawanya maka Rafi memilih untuk menurut dan tidur di kamar tamu dengan Kinan.
Kinan mencoba membaringkan tububnya di samping Rafi. Dia menatap Rafi yang sudah tertidur dengan pulas di sampingnya. Namun, beberapa kali dia mencoba memejamkan matanya tetap saja dia tidak bisa tertidur. Kinan mencoba mengambil ponselnya dan mencoba memainkannya dengan harapan dia bisa tidur setelah ini.
Tapi, sayang usahanya sia sia. Dia tetap saja tidak bisa tidur hingga akhirnya Kinan menatap layar ponselnya yang tertera nomor kontak Rissa. Ntah mengapa ingin sekali dia melihat senyuman Rissa sebelum dia tertidur. Tanpa banyak pikir Kinan mencoba menghubungi Rissa dengan pangilan Vidio Call.
Tak menunggu lama senyuman di wajah Kinan mengembang ketika melihat wajah Rissa yang terlihat jelas di layar ponselnya. Dia melihat wajah polos Rissa dan penampilannya yang acak acakan karna tidurnya tergangu oleh pangilan Kinan.
"Ada apa, Kak? Kamu mengangu tidur cantikku saja" ucap Rissa kesal sambil memasang wajah memelasnya.
"Maaf! Kakak sudah mengangu tidur adik kakak yang paling cantik ini. Tapi, kamu cantik seperti itu" ucap Kinan tersenyum mengoda Rissa yang berpenampilan acak acakan.
"Kakak! Kakak mengejekku'kan" ucap Rissa memayunkan bibirnya karna baru sadar dengan penampilannya.
"Kakak menginap di rumah Zhi?" ucap Rissa melihat suasana kamar Kinan.
"Ia, kakak habis mengantarkan Rayyan yang sedang mabuk"
"Apa! Jangan bilang itu karna ulah kakak" ucap Rissa langsung bisa menebak.
"Tidak! Kakak hanya menyuruhnya saja. Dianya yang minum terlalu banyak" ucap Kinan tanpa dosa.
"Kakak kapan sih berhenti mengerjai Rayyan. Kasihan dia harus menghadapi amukan Zhia seorang diri. Kakak tau sendirikan bagaimana Zhia sedang marah"
"Kakak tau. Kakak tau jika Zhia sangat galak, bahkan jauh lebih galak darimu. Kakak yakin kamu kelak tidak akan segalak itu pada suamimu"
"Jika aku punya suami seperti Rayyan maka aku akan jauh lebih galak dari Zhia. Jika suamiku selingkuh dariku, aku akan memotong sumber reproduksinya lalu menjadikannya sate. Bahkan aku tidak akan segan segar menghajarnya abis abisan jika dia berani macam macam"
Mendengar ucapan Rissa, Kinan refleks memegang selangkangannya. Dia mengidik ngeri ketika membayangkan miliknya di jadikan sate oleh Rissa.
__ADS_1
"Aku hanya bercanda. Mana mungkin aku menjadikan sate milik suamiku. Bisa bisa aku merana" ucap Rissa terkekeh kecil ketika melihat wajah pucat Kinan.
"Kamu ini bisa saja. Kakak hampir saja takut menikah karna ulahmu" ucap Kinan terkekeh kecil.
"Sudah ya kak. Aku sudah mengantuk. Aku mau bobok cantik dulu. Dadahh kakaku yang paling jelek" ucap Rissa mencoba mematikan sambungan vidio callnya lalu melanjutkan bobok cantiknya.
"Haha... Kamu ini sangat mengemaskan. Ingin sekali aku melahapmu hidup hidup, Ris" guman Kinan terkekeh kecil lalu mencoba membaringkan tubuhnya.
Setelah melihat senyuman manis Rissa, akhirnya Kinan bisa tertidur dengan lelapnya. Dia langsung larut dalam tidurnya sambil berharap Rissa bisa hadir dalam mimpi indahnya.
Beda dengan Rayyan yang masih di sidang oleh Zhia. Setelah selesai mandi menghabiskan satu botol sabun, Rayyan keluar dari kamar mandi dengan mengigil sambil memegang bokongnya yang terasa sakit karna pukulan Zhia. Zhia menatap bibir pucat Rayyan dan juga tubuhnya yang tidak berhenti mengingil.
"Kenakan pakaianmu" ucap Zhia memberikan pakaian tidur Rayyan.
"Terima kasih, Sayang" ucap Rayyan tersenyum lalu mencium wajah Zhia.
Dengan cepat Rayyan mengenakan pakaiannya dengan harapan tubuhnya berhenti mengigil. Tapi, walapun dia telah berpakaian lengkap tetap saja dia masih kedinginan hingga menusuk tulangnya.
"Jangan harapkan yang macam macam. Masih syukur aku membiarkanmu tidur di sini" ucap Zhia menatap Rayyan waspada.
"Maaf, Sayang. Lebih baik kita tidur ya. Tidak baik jika kamu begadang saat hamil muda seperti ini" ucap Rayyan mencoba mengalas ranjang mereka yang basah mengunakan selimut tebal.
"Maafkan aku ya, Sayang. Maaf karna aku belum bisa jadi kepala rumah tangga yang baik" ucap Rayyan mencoba membawa tubuh Zhia kedalam gendongannya lalu membaringkannya di atas ranjang.
"Sayang! Jangan kamu contoh perlakuan papa ya. Kamu harus jadi anak yang baik agar bisa membangakan mama dan papa. Maaf ya papa belum bisa jadi contoh yang baik untukmu" ucap Rayyan mengelus perut buncit Zhia lalu menciuminya dengan lembut.
Setelah puas bicara dengan buah hatinya di dalam kandungan Zhia, Rayyan mencoba naik ke atas ranjang lalu membalut tubuhnya dengan selimut yang sama dengan Zhia.
"Selamat malam, Sayang. Jangan marah lagi ya. Aku sudah mendapat hukuman darimu. Jadi aku mohon maafkan aku" ucap Rayyan menatap lekat wajah Zhia.
Zhia hanya diam tidak menjawab. Dia hanya memeluk Rayyan lalu menengelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Melihat sikap Zhia, Rayyan mencoba tersenyum lalu membalas pelukan Zhia. Tidak lupa sebelum memejamkan matanya dia menciumi kening Zhia terlebih dulu lalu mencoba memejamkan matanya.
Mereka berdua larut dalam tidur mereka sambil bertukar kehangatan bersama. Rayyan merasa bersyukur karna semarah marah apapun Zhia kepadanya Zhia tidak pernah mau tidur berpisah darinya. Zhia selalu saja tidur dalam pelukan Rayyan dan jika ingin bertengkar lagi maka di lanjutkan besok setelah bangun.
Bersambung.....
__ADS_1