
Saat memasuki perkarangan salon Rissa, Kinan mengerutkan keningnya binggung ketika melihat sebuah mobil sport yang tidak asing di matanya terparkir di halaman salon Rissa. Kinan mencoba turun dari mobilnya dan melihat mobil sport yang sedang terparkir di samping mobilnya.
"Sial! Ternyata dia senekat ini" batin Kinan geram sambil mengayunkan langkahnya memasuki salon Rissa.
"Kakak!" ucap Rissa ketika melihat Kinan masuk ke salonnya dengan raut wajah yang tidak dapat di artikan.
Kinan menatap pasangan sejoli yang sedang duduk bersampingan di sofa itu. Memang Rissa dan Wildan tidak melakukan apapun. Mereka hanya duduk sambil bercerita bersama, bahkan jarak mereka juga tidak terlalu menempel. Tapi ntah mengapa perasaan Kinan tiba tiba amburadul ketika melihat pemandangan itu.
"Kanapa kau membiarkan pria menemuimu malam malam begini?" ucap Kinan melihat jam tangannya yang sudah menunjuk ke pukul delapan malam.
"Ini masih pukul delapan, Nan. Belum terlalu malam untuk berkunjung" jelas Wildan mencoba membatu Rissa.
"Apa kau tidak lihat jika adikku sendirian di sini" ucap Kinan menatap tajam Wildan.
"Sudah, Kak. Kamu lebih baik pulang saja. Biar Kak Kinan aku yang ngurus" ucap Rissa menarik tangan Wildan untuk berdiri.
Melihat Rissa yang memegang tangan Wildan, Kinan membulatkan matanya terkejut. Kinan mencoba mendekati mereka lalu menepis kasar tangan Wildan sehingga lepas dari tangan Rissa.
"Dia sudah besar! Dia pasti bisa berdiri sendiri" ucap Kinan ketus.
"Kenapa, sih kamu seposesif ini kepada Rissa? Ingat, Nan Rissa sudah besar. Dia berhak mengatur jalannya sendiri" ucap Wildan menatap tajam Kinan.
"Aku hanya ingin melindungi adikku. Aku tidak mau jika dia jatuh ke tangan pria yang tidak tepat" ucap Kinan mencoba mencari alasan.
Walaupun sebenarnya dia tidak tau kenapa dia bisa seposesif itu kepada Rissa. Dia tidak ingin jika ada pria lain yang menatap apalagi menyentuh Rissa. Tapi, Kinan tidak pernah mengerti kenapa hal itu bisa terjadi.
__ADS_1
"Wil, lebih baik kamu pulang saja dulu. Aku tidak mau ada keributan di sini" ucap Rissa ketika melihat emosi Kinan yang semakin memuncak.
"Baiklah! Aku pulang dulu ya. Besok aku akan berkunjung lebih cepat" ucap Wildan tersenyum manis sambil mengacak acak rambut Rissa.
"Sok manis banget" gumam Kinan kesal sambil merapikan rambut Rissa yang berantakan akibat ulah Wildan.
Wildan menatap Kinan lalu melangkahkan kakinya keluar dari salon Rissa. Kinan terus saja melemparkan tatapan tajamnya sampai Wildan masuk kedalam mobilnya. Setelah melihat mobil Wildan keluar dari perkarangan salonnya Rissa langsung melemparkan tatapan tajamnya kepada Kinan.
"Kenapa kakak selalu saja memperlakukanku seperti anak kecil? Aku sudah besar kak. Aku berhak menentukan jalan hidupku" bentak Rissa sambil menatap Kinan dengan tatapan tidak dapat di artikan.
"Kakak hanya ingin melindungimu dari pria brengsek itu, Ris. Dia bukan pria baik baik. Dia tidak pantas mendapatkanmu" ucap Kinan menatap Rissa penuh dengan rasa tidak percaya. Karna selama mereka tumbuh bersama baru kali ini Rissa melawan perintahnya.
"Jadi pria seperti apa yang pantas untuk Rissa, Kak? Rissa sudah dewasa dan sudah waktunya Rissa mencari pendamping hidup. Jika kakak terus terusan seperti ini kapan aku akan menemukan teman hidupku. Bisa bisa aku jadi perawan tua jika kakak terus seperti ini" ucap Rissa berusaha membendung air matanya.
"Zhia... Zhia... Zhia terus yang ada di pikiran kakak. Kakak selalu saja mementingkan Zhia dan tidak pernah memikirkan aku. Aku benci sama kakak" ucap Rissa menatap Kinan dengan tatapan penuh kekecewaan.
Jujur saja Rissa merasakan sakit ketika Kinan selalu mementingkan Zhia ketimbang dirinya. Bahkan Kinan selalu membagakan Zhia di depan Rissa tanpa pernah memperdulikan perasaan Rissa. Terlebih lagi Rissa yang tau benar jika Kinan mencintai Zhia membuat hatinya semakin terluka karna cintanya yang sudah lama dia pendam tidak pernah terlihat oleh Kinan.
Rissa memang menyayangi Zhia sama seperti Kinan. Selain mereka menjadi sahabat bahkan sudah seperti kakak adik kandung mereka juga tumbuh besar bersama. Kinan memang selalu memperlakukan mereka berdua seperti adiknya sendiri.
Bahkan Rissa sudah terbiasa dengan perlakuan Kinan yang lebih memanjakan Zhia. Tapi, Rissa juga manusia biasa yang mempuyai sisi kelemahan. Dia merasakan sakit ketika melihat Kinan lebih mementingkan Zhia walaupun kini Zhia sudah menjadi istri Rayyan.
Degh....
Jantung Kinan langsung berhenti berdetak mendengar ucapan Rissa. Dia mencoba berpikir apa yang salah dengan ucapannya. Dia hanya tidak ingin jika Rissa kelak mengalami nasib buruk seperti Zhia yang pernah merasakan penderitaan dalan berumah tangga.
__ADS_1
Apa salah dia menghawatirkan adiknya? Kinan tidak tau jika perkataannya sangat menyakiti Rissa sehingga, Rissa meneteskan air matanya di depannya. Kinan meresa sangat gagal karna perkataannya Rissa menagis.
Kinan mencoba melangkahkan kakinya menuju kamar Rissa. Dia melihat Rissa yang berbaring sambil menangis kesegukan. Ada rasa sakit yang bengiris hatinya ketika melihat Rissa menangis karna dirinya. Kinan mencoba mendekatin Rissa lalu duduk di tepi ranjang sambil menatap punggung Rissa.
"Maafkan kakak. Kakak terlalu mengatur hidupmu. Kakak hanya tidak ingin kamu jatuh ketangan pria yang salah. Apa salah jika kakak ingin melihat adik adik kakak bahagia?" ucap Kinan lirih sambil mengelus rambut panjang Rissa.
Mendengar ucapan Kinan Rissa mencoba menghentikan tangisnya. Dia mencoba memikirkan ucapan Kinan. Tidak ada yang salah, hanya saja dia terlalu membawa perasaannya kedalam masalah ini. Dia terlalu mencintai Kinan sehingga dia cemburu ketika Kinan menyebut nama wanita lain walaupun wanita itu Zhia sahabat yang telah Kinan anggap seperti adik kecilnya sendiri.
"Maafkan kakak karna selalu membeda bedakan kamu dengan Zhia. Kakak melakukan itu karna kakak punya alasan yang sangat kuat. Kamu masih punya keluarga untuk tempatmu bersandar selain kakak. Sedangkan Zhia, dia tidak mempunyai siapa siapa lagi selain kakak. Dia hidup sebatang kara di dunia ini di saat usianya masi balia" jelas Kinan mengingat pertemuannya pertama kali dengan Zhia.
"Kamu dan Zhia adalah adik kecil kakak. Adik kecil yang harus kakak lindungi. Di mata kakak kalian berdua sama saja walaupun kakak lebih memanjakan Zhia. Itu semua kakak lakukan karna kakak tau Zhia lebih membutuhkan bahu kakak ketimbang dirimu" ucap Kinan kembali sambil meneteskan air matanya karna telah membuat Rissa kecewa dengan sikapnya.
"Maafkan Rissa, Kak. Rissa terlalu terbawa perasaan" ucap Rissa memeluk Kinan menyesali kelakuannya yang cemburu dengan Zhia.
"Maafkan kakak karna belum bisa menjadi kakak yang baik untukmu" ucap Kinan membalas pelukan Rissa sambil mencium lembut puncak kepala Rissa.
"Tidak! Kakak adalah kakak terbaik Rissa. Hanya saja Rissa yang salah. Rissa terlalu egois sehingga Rissa cemburu kepada Zhia" ucap Rissa menghapus air mata Kinan.
Rissa memang tau alasan Kinan lebih memanjakan Zhia. Selain Kinan yang memiliki persaan kepada Zhia, Kinan juga melakukan itu karna di antara Zhia dan Rissa, Zhialah yang memiliki beban hidup yang paling berat.
Selain di tinggal keluarganya di umurnya yang masih balia Zhia juga mendapatkan ujian yang sangat berat dalam rumah tangganya. Selama setahun Zhia mengalami penderitaan akibat ulah Rayyan yang tidak pernah menghargainya.
Selain pundak Kinan dan Rissa tidak ada pundak lain untuk Zhia bersandar. Sangat berbeda dengan Rissa dia masih memiliki keluarga yang utuh untuknya berbagi penderitaan. Walaupun kedua orang tuanya tidak pernah akur tapi mereka masih menyempatkan diri untuk mendengarkan curahan hati Rissa.
Bersambung....
__ADS_1