Dibalik Diamnya Seorang Istri

Dibalik Diamnya Seorang Istri
Part 44


__ADS_3

Setelah selesai berdebat masalah Enjel, mereka semua pamit untuk pulang. Tinggal Kinan dan Tika yang masih menemani Zhia dan Rayyan. Kinan menatap lekat wajah sendu Zhia yang tertidur dengan lelapnya. Dia menatap wajah sang adik yang memerah karna tamparan Jefri.


"Zhi, kamu istirahatlah. Kakak akan membalas semua orang yang berani menyakitimu" batin Kinan sambil mengelus rambut panjang Zhia.


"Nan, lebih baik kami istirahat sekarang. Kamu bisa mengunakan kamar tamu" ucap Rayyan memegang bahu Kinan.


"Hem! kakak istirahat dulu ya. Kamu tidur yang nyenyak agar keponakanku di dalam kandunganmu juga sehat karna mamanya sehat" ucap Kinan mencium kening Zhia lalu mengelus perut Zhia yang mulai membuncit.


"Ris, kamu ikut kakak" ucap Kinan menatap Rissa yang berdiri di belakangnya.


"I... Ia, Kak" ucap Rissa menganguk patuh lalu melangkahkan kakinya mengikuti Kinan.


Setelah Kinan dan Rissa keluar dari kamarnya Rayyan mencoba naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping Zhia. Dia menatap wajah sendu Zhia yang tertidur dengan lelapnya. Berlahan air mata Rayyan menetes membasahi wajah tampannya.


Rayyan merasa gagal sebagai seorang suami karna tidak bisa menjaga Zhia dengan baik. Bayangan wajah Zhia yang sangat kacau saat dia menemukan Zhia si ruang ganti tadi selalu terlintas di dalam pikirannya. Rayyan bertekat akan menghapisi semua dalang yang telah berani mengusik kehidupan istrinya.


Sedangkan Kinan membawa Rissa ke kamar tamu yang di katakan Rayyan. Dia duduk di sofa dengan gaya coolnya sambil menatap Rissa seperti seorang terdakwa yang siap untuk di sidang. Rissa yang merasa risih dengan tatapan Kinan mengambil bantal dan melemparnya ke wajah Kinan.


"Kenapa kamu meleparku?" ucap Kinan mengambil bantal yang telah berhasil mendarat di wajah tampannya.


"Kenapa kakak menatapku seperti itu?" ucap Rissa menatap tajam Kinan.


"Kenapa Rissa jika marah semakin cantik saja?" batin Kinan baru menyadari kecantikan adiknya yang satu itu.


"Hello? Kakak!" teriak Rissa hingga membuat Kinan tersadar dari lamunannya.


"Kakak belum tuli! Jadi kamu tidak perlu berteriak seperti itu" ucap Kinan menutup telingganya karna teriakan Rissa hampir memecahkana gendang telinganya.


"Terserah! Aku mau tidur. Kakak tidur di sofa" ucap Rissa memberikan selimut ke Kinan.


Bukannya menerima selimut pemberian Rissa, Kinan malah menarik tangan Rissa sehingga terjatuh kedalam pangkuannya.


Degh....

__ADS_1


Jantung keduanya seakan berhenti berdetak. Kinan menatap wajah cantik Rissa yang terlihat sangat jelas bila sedekat ini. Sedangkan Rissa menatap ketampanan Kinan yang selama ini dia kagum kagumi.


"Kamu duduk di sini. Kakak ingin bicara" ucap Kinan menepis pikiran pikiran kotornya lalu mendudukkan Rissa di sampingnya.


"Mau bicara apa? Apa rencana kita gagal?" ucap Rissa mengingat rencana mereka yang menjadikan Sinta sebagai kekasih kontrak Kinan.


"Tidak! Rencana kita berjalan lancar. Kakak hanya ingin bertanya kenapa kamu ada di acara pesta tadi?" ucap Kinan to the point karna dia penasaran kenapa Rissa bisa datang bersama ketiga sahabat Rayyan.


"Lihat gaunmu! Sangat terbuka. Apa kau ingin memamerkan keindahan tubuhmu?" ucap Kinan memutar mutar tubuh Rissa dan melihat gaun Rissa yang terbuka di bagian dada dan juga punggungnya.


"Aw! Kakak" ucap Rissa kesal karna Kinan terus saja mengerakkan tubuh Rissa sesuka hatinya.


"Huf! Maaf. Jelaskan kepada kakak kenapa kau bisa berbarengan dengan ketiga pria brengsek itu?" ucap Kinan menatap Rissa dengan tatapan penuh selidik.


"I...tu!"


"Itu apa?"


"Apa! Jadi kamu berkencang dengan pria lacknut itu?" ucap Kinan membulatkan matanya terkejut.


"Hehe... Matanya jangan melotot seperti itu. Nanti mata indah kakak keluar" ucap Rissa cengengesan sambil mengusap mata Kinan yang melotot mengenakan tangan indahnya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan. Sejak kapan kamu berhubungan dengannya" ucap Kinan mengengam tangan Rissa dan menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat di artikan.


Rissa hanya terdiam sambil menatap wajah Kinan yang semakin mendekat ke wajahnya. Jantung Rissa rasanya ingin meledak karna terus berdetak dengan kencangnya. Rissa memang ingin melupakan Kinan dan mencoba membuka hatinya kepada pria lain.


Melihat sikap Kinan yang tidak pernah menyadari cintanya membuat Rissa merasa lelah. Dia mencoba membuka hatinya untuk pria lain agar bisa melupakan Kinan dan menerimanya sebagai kakaknya. Rissa tidak mau hubungannya dengan Kinan rusak hanya karna perasaannya yang tidak terbalas Kinan.


Di saat Rissa mau membuka lembaran baru Wildan datang dan mencoba mendekatinya. Rissa memang tau jika Wildan hanyalah seorang cassanova sama seperti Rayyan. Tapi, Rissa tidak keberataan karna niatnya hanya ingin mencari tempat untuk mengubur perasaannya kepada Kinan.


"Kenapa kamu hanya diam? Jawab kakak, Ris" ucap Kinan menatap lekat netra mata Rissa sehingga kedua netra mereka saling bertemu.


Degh....

__ADS_1


Jantung Kinan berdetak kencang ketika melihat pancaran netra mata Rissa. Dia dapat melihat kesedihan yang selama ini Rissa pendam seorang diri. Kinan juga merasakan ada hal yang berbeda saat dia menatap netra mata Rissa tapi, dia tidak bisa menyadari perasaan apa itu.


"Aku mulai berhubungan dengannya sekitar satu minggu lalu kak" ucap Rissa memalingkan wajahnya dari tatapan Kinan.


Mendengar ucapan Rissa, Kinan mencoba menarik napasnya kasar lalu menyandarkan tubuhnya. Dia menatap Rissa yang sepertinya engan untuk menatapnya.


"Kakak tidak setuju kamu berhubungan dengannya" ucap Kinan tegas sambil membuka jas kuasanya.


"Apa! Kenapa kakak tidak setuju?" ucap Rissa membulatkan matanya terkejut mendengar ucapan Kinan yang dengan jelas menentang hubungannya dengan Wildan.


"Dia tidak pantas mendapatkan wanita sepertimu. Kamu juga lebih pantas bersanding dengan pria yang jauh lebih baik darinya" ucap Kinan mencoba membuka kancing kemejanya tanpa menatap Rissa.


Mendengar ucapan Kinan, Rissa mencoba membuang napasnya kasar lalu mencoba memijit keningnya. Rissa tidak tau harus berbuat apa sekarang. Memang dia tidak ada niat serius dengan Wildan, tapi dia juga tidak mungkin mengatakan jika dia berhubungan dengan Wildan hanya untuk melupakan Kinan.


"Kamu istirahatlah! Kakak akan tidur di lantai" ucap Kinan mencoba membentangkan selimut sebagai alasnya untuk tidur.


"Kenapa kakak tidur di lantai? Kakak kan bisa tidur di sofa" ucap Rissa menatap binggung Kinan yang membentangkan selimut tepat di bawah ranjang.


"Kakak tidak nyaman tidur di sofa. Bisa bisa kakak akan terjatuh ke lantai. Kamu tidur saja! Mana ponselmu?" ucap Kinan tegas.


"Untuk apa?" ucap Rissa mengerutkan keningnya bingung.


"Jangan banyak tanya. Kakak hanya tidak ingin gagal lagi menjadi seorang kakak" ucap Kinan kembali mengingat kegagalannya menjauhkan Zhia dengan Rayyan.


"Tapi, Kak"


"Kakak hanya ingin kamu bahagia. Kakak tidak mau kedua bidadari kakak jatuh ke tangan pria yang tidak tepat" ucap Kinan mengelus puncak kepala Rissa lalu mengambil ponsel yang ada di tangannya.


"Kamu tidur ya. Jangan pikirkan pria yang tidak pantas kamu pikirkan" ucap Kinan lembut dan membawa Rissa ke atas ranjang.


Kinan mencoba membaringkan tubuh Rissa dan menyelimuti tubuhnya. Tidak lupa Kinan mencium lembut kening Rissa lalu melayangkan senyuman manisnya. Setelah itu Kinan mencoba membaringkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya. Namun, beberapa kali dia mencoba merubah posisi tidurnya tapi, dia tetap tidak bisa memejamkan matanya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2