Dibalik Diamnya Seorang Istri

Dibalik Diamnya Seorang Istri
Part 76


__ADS_3

Di pagi hari Sinta yang merasakan sakit di sekujur tubuhnya mencoba membuka matanya. Dia melihat Wìldan masih tertidur lelap sambil memeluk dirinya. Sinta yang ingin ke kamar mandi mencoba menyingkirkan tangan Wildan yang melingkar di perutnya.


"Biarkan sebentar lagi, Sayang" ucap Wildan malah mempererat pelukannya.


"Aku mau ke kamar mandi, Wil"


"Baiklah! Kalau begitu aku akan mengantarmu" ucap Wildan langsung bangkit dari tidurnya lalu membawa Sinta kedalam gendongannya.


"Aku bisa sendiri, Wil! Turunkan aku"


"Untuk apa aku ada di sini jika kamu melakukan apapun sendiri? Biarkan aku membantumu agar aku merasa berguna ada di sampingmu" ucap Wildan terus saja melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Sesampainya di kamar mandi Wildan meletakkan tubuh Sinta ke bathtub lalu ikut berendam bersama Sinta di bathtub yang sama. Wildan mengelus rambut Sinta dengan lembut sambil sesekali menciumi wajah Sinta. Bayangan malam panas mereka semalam selalu terlintas di dalam pikiran Wildan, sehingga Wildan memancarkan senyuman kebahagiaan sambil menatap Sinta yang malu malu.


"Terima kasih, Sayang"


"Untuk apa?"


"Karna kamu telah membantuku, aku berjanji akan segera menikahimu" ucap Wildan menatap mata Sinta dengan lekat sambil membelai lembut wajahnya.


"Aku tidak butuh kata kata, Wil! Yang aku butuhkan adalah bukti"


"Aku akan membuktikannya. Kamu cukup bersiap siap saja" ucap Wildan mengabil sabun lalu mengusapkannya ke tubuh Sinta.


"Biarkan aku memandikanmu, Sayang. Kita nikmati saat ini bersama sama. Karna setelah ini aku tidak akan melakukannya lagi kecuali setelah aku menghalalkanmu" ucap Wildan tetap pada tekadnya yang tidak mau menyentuh Sinta sebelum mereka menikah.


"Tapi kamu sudah terlanjur menyentuhku, Wil. Kenapa kau tidak mau menyentuhku lagi setelah ini?"


"Karna aku mencintaimu! Aku tidak ingin menodai cinta kita. Maafkan aku yang telah terpaksa menyentuhmu dan setelah ini aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku tidak mau lagi menyentuhmu bukan berarti aku tidak mencintaimu. Tapi, karna aku mencintaimu! Cinta yang tulus dari hatiku. Bukan cinta karna nafsu"


"Terima kasih"


"Untuk apa?"


"Karna kamu telah mencintaiku dengan tulus" ucap Sinta menitikkan air matanya sambil menatap Wildan dengan lekat.


"Itu karna dirimu yang sangat spesial. Jadi tidak ada alasan untukku untuk tidak mengukir indah namamu di hatiku"


Mendengar ucapan Wildan, Sinta hanya mampu tersenyum sambil memeluk Wildan. Sinta menengelamkan wajahnya di dada bidang Wildan sambil menghirup aroma tubuh Wildan yang menenangkan pikirannya.

__ADS_1


Sedangkan Kinan dan Rissa yang berada di kamar pengantin masih tertidur dengan lelapnya. Kinan terus memeluk Rissa seakan tidak rela jika Rissa jauh darinya walau sebentar saja. Berlahan Kinan membuka matanya dan melihat Rissa masih tertidur lelap dalam pelukannya.


"Kamu lelah ya, Sayang? Maaf ya, karna aku terlalu menguras tenangamu. Tapi, aku akan tetap mengulanginya karna kamu adalah canduku" gumam Kinan menyingkirkan rambut Rissa yang menghalangi wajah cantiknya.


Rissa yang merasa terusik dengan tingkah Rayyan yang selalu memainkan wajahnya membuka matanya berlahan. Dia menatap Kinan yang kini menatapnya sembil tersenyum.


"Selamat pagi tuan putriku. Apa tidurmu nyenyak, Sayang"


"Nyenyak apa? Pingangku hampir copot karna ulah kakak" ucap Rissa merasakan sakit pada pinggang dan juga bagian intimnya.


"Maaf, Sayang! Pagi ini aku akan menjadi tukang pijit sepesial untukmu" ucap Kinan bagkit dari tidurnya lalu memijit pinggang Rissa dengan lembut.


"Aw! Kurang bawah sikit, By" ucap Rissa menuntun tangan Kinan ke pingannya yang terasa sakit.


"Sini, Sayang?"


"Ia! Pijitan Hubby sangat enak. Kalau begini aku mau di pijitin tiap hari"


"Boleh! Aku akan memijitmu kapan saja yang kamu inginkan, Sayang"


"Benarkah!" ucap Rissa menatap Kinan sambil tersenyum lebar.


"Kapanpun dan dimanapun?" ucap Rissa menunjukkan wajah memelasnya.


"Aku hanya bercanda, Sayang. Aku akan memijitmu kapanpun di saat kamu lelah" ucap Kinan menarik hidung mancung Rissa.


"Sudah! Ayo kita mandi bersama. Setelah mandi kita akan melanjutkan pembuatan pabrik anak lagi" ucap Kinan membawa tubuh Rissa kedalam gendongannya.


"Apa!"


"Ha..ha... Aku bercanda, Sayang. Kamu tidak usah terlalu serius begitu" ucap Kinan menatap Rissa gemas.


Sesampainya di kamar mandi Kinan meletakkan tubuh Rissa di bathtub dan mengisinya dengan air sabun. Tidak mau berpikir panjang Kinan langsung masuk dan merendam dalam bathtub yang sama dengan Rissa. Sepasang pengantin baru itu melakukan ritual mandi bersama sambil bercanda gurau sehingga membuat ruang kamar mandi di penuhi gelak tawa keduanya.


Beda dengan Wildan dan Kinan yang kini sedang di mabuk asmara, Rayyan kini malah terdiam di atas ranjang sambil menatap Zhia yang sibuk sendiri dengan ponselnya. Kebiasan buruk Zhia yang tidak pernah bisa Zhia ubah adalah amarahnya yang selalu bersambung.


Padahal semalam saat mau tidur Zhia sudah diam dan memeluk Rayyan saat tidur seperti tidak ada masalah sedikitpun. Tapi, saat bangun tidur Zhia kembali melanjutkan amarahnya yang semalam belum selesai dia luapkan karna semalam dia terlanjur lelah dan mengantuk.


"Sayang!" ucap Rayyan mencoba mencolek perut Zhia.

__ADS_1


"Hem!" dehem Zhia tanpa menatap Rayyan.


"Jangan diem seperti itu dong, Sayang. Kamu masih marah ya?"


"Itu tau! Kenapa masih nanyak?" ucap Zhia ketus.


"Maaf, Sayang. Aku salah"


"Tau salah kenapa kamu melakukannya?"


"Namanya juga bercanda, Sayang"


"Bercanda? Tapi candaanmu kelewatan, Ray! Coba kamu pikirkan bagaimana kedaan Wildan saat ini" ucap Zhia kesal sambil menarik telinga Rayyan.


"Aaw! Sakit, Sayang. Nanti telingaku ini putus gimana? Jika sampai putus nanti suamimu ini tidak tampan lagi"


"Is, Ray! Ini serius tapi kamu terus saja bercanda. Coba kamu pikirkan sedikit saja bagaimana keadaan Wildan saat ini" ucap Zhia kesal lalu mencubit lengan Rayyan.


"Aw! Sakit, Sayang" rengek Rayyan sambil mengelus lengannya yang memanas karna cubitan Zhia.


"Paling dia sekarang sudah melakuakan ritual mandi dengan Sinta. Wildan yang enak enakan bisa gitu sama Sinta, aku malah kena getahnya" ucap Rayyan memayunkan bibirnya karna dia malah kena semprot oleh Zhia sedangkan Wildan sedang romantis romantisan dengan Sinta.


"Apa kamu sadar jika karna kelakuan kamu mereka sampai melakukan hal yang seharusnya mereka tidak lakukan. Seharusnya mereka melakukan itu saat malam pertama tapi karna ulah kamu!" ucap Zhia menatap Rayyan geram.


"Coba kamu bayangkan, bagaimana nasib Sinta jika sampai Wildan tidak tanggung jawab? Apa kamu tidak memikirkan itu, Ray?" sambung Zhia memijit kepalanya pelan.


"Sayang maafkan aku! Aku tidak merencanakan itu untuk Wildan. Dia saja yang asal ambil minuman yang ada di tanganku. Jadi, aku tidak bersalah dengan kejadian ini" jelas Rayyan.


"Jadi kamu mau memberikan minuman itu untuk siapa?"


"Untuk Kinan"


"Apa?"


Bughh....


"Ampun, Sayang" teriak Rayyan penuh permohonan ketika Zhia memukulinya pakai bantal.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2