
Setelah ada pertunangan maka sebentar lagi akan ada pernikahan. Kinan membuat acara pertunangan dan juga pernikahannya dengan Rissa berjarak dekat. Seminggu lagi pernikahan Kinan dan Rissa akan di laksanakan. Sebenarnya Rissa ingin langsung menikah agar menghemat biaya dan juga waktu.
Tapi, Kinan ingin memperlakukan Rissa dengan sangat istimewa. Dia tidak perduli berapa banyak uang yang harus dia keluarkan untuk biaya pertunangan dan juga pernikahannya yang di laksanakan secara besar besara. Kinan ingin membuat acara bahagia mereka menjadi kenangan yang sangat indah untuknya dan juga Rissa.
Karna jarak pertungan dan pernikahan Kinan dan Rissa hanya berjarak dua minggu, Zhia yang sedang hamil di buat keteter olehnya. Sudah seminggu dia mengurus semua keperluan pernikahan Rissa dan Kinan dengan sangat baik. Sekarang dia hanya punya waktu seminggu lagi.
"Huff aku sangat lelah. Walaupun hanya mengontrol tapi badanku pegel semua" gumam Zhia duduk bersandar di sofa ruang tamu setelah pulang dari memilih bungga untuk dekorasi pesta pernikahan Kinan dan Rissa.
"Tinggal memilih kue pernikahannya. Coba aku kirim beberapa contohnya kepada Rissa" Zhia mencoba mengambil ponselnya lalu memilih gambar kue pernikahan yang dia rasa menarik lalu mengirimnya kepada Rissa.
"Nyonya kelelahan ya? Nyonya mau minum apa?" ucap Nur panik melihat wajah Zhia yang kelelahan.
"Tidak usah, Nur. Aku sudah meminta pelayan lain untuk membuatkan minum untukku. Kamu baru pulang kuliah?" ucap Zhia melirik Ardiyan yang berdiri di belakang Nur.
"Ia, Nyonya. Tadi Ardiyan menjemputku" jelas Nur.
"Sudah tidak apa apa. Aku juga pernah muda kok, jadi kamu tidak usah canggung seperti itu" ucap Zhia tersenyum.
"Ini minumnya, Nyonya" ucap pelayan lainnya memberikan minuman yang di minta Zhia.
"Terima kasih, Bik" ucap Zhia tersenyum ramah lalu menyeruput minumannya.
"Ar, apa kita bicara sebentar?" ucap Zhia menatap Ardiyan.
"Bi... Bisa, Nyonya"
"Nur, kamu ke belakang dulu ya. Bersihkan dirimu dan kerjakan tugas kuliahmu. Aku mau bicara sebentar dengan Ardiyan"
"Iya, Nyonya" ucap Nur mengerutkan keningnya binggung mencoba berpikir apa yang ingin di bicarakan Zhia dengan Ardiyan.
Tapi, karna dia tau apa statusnya di sana dia tidak bisa berkata apapun. Nur hanya berjalan menunu kamarnya sambil sesekali mencoba menoleh ke arah Zhia dan Ardiyan yang duduk di sofa berdua.
"Ada apa, Nyonya?" ucap Ardiyan duduk di sofa.
"Apa kamu mencintai Nur?" ucap Zhia menatap lekat Ardiyan.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Zhia, Ardiyan langsung terdiam dan menatap Zhia yang terus saja menatapnya. Ardiyan tidak mengerti mengapa Zhua bertanya seperti itu kepadanya, apa Zhia tidak suka dengan kedekatan mereka?
"Kenapa kamu diam?"
"A...aku mencintainya, Nyonya" ucap Ardiyan menunduk.
"Jika kamu mencintainya maka katakan dengan tegas, Ar. Jika kamu mengatakannya seperti itu aku merasa kamu hanya ingin mempermainkan Nur" ucap Zhia menatap Ardiyan dengan tatapan penuh selidik.
"Aku mencintai Nur, Nyonya. Aku sangat mencintainya" ucap Ardiyan menatap Zhia dengan penuh kesunguhan.
"Aku tau kau mencintainya, Ar. Itu makanya aku mengajakmu berbicara berdua. Aku hanya ingin menitipkan Nur kepadamu!"
"Maksud, Nyonya?"
"Aku sudah mengangap Nur seperti adikku sendiri. Maka aku tidak ingin dia jatuh ke tangan yang salah. Tapi, sudah lama aku perhatikan kamu sangat berubah setelah berhubungan dengan Nur. Maka aku merestui hubungan kalian asalkan kamu mau berjanji untuk selalu membahagiakan Nur dan menjadikannya ratu dalam kehidupanmu" ucap Zhia tersenyum hangat.
"Apa kamu tau jika dia sudah mengalami banyak cobaan yang sangat berat? Bahkan dia harus bekerja sambil kuliah untuk menyambung hidupnya. Bahkan dia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, dia juga harus memikirkan ibunya yang ada di kampung. Jadi aku mohon berilah dia hadiah atas perjuangannya selama ini. Hadiah yang membuat hidupnya sangat berati dan membantunya menopang semua beban yang ada di pundaknya selama ini" ucap Zhia membayangkan bagaimana perjuangan Nur selama ini.
"Baik, Nyonya. Saya akan segera meresmikan hubungan kami dan mengembalikan peran aslinya yaitu sebagai tulang rusuk, bukan tulang punggung" ucap Ardiyan penuh semangat karna telah mendapatlan jalur kuning dari Zhia.
"Baik, Nyonya! saya akan membuktikannya"
"Baiklah kalau begitu! Aku tunggu. Tapi, kamu mau krmbali ke kantor'kan?"
"Ia, Nyonya. Saya mau ke kantor"
"Ya sudah. Kamu pamit kepada Nur terlebih dulu. Aku mau bersiap siap sebentar, aku juga mau menemui suamiku" ucap Zhia bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah kamar utama.
"Tapi, kamu jangan terlalu lama berpamitannya. Karna tidak baik untuk kalian terlalu lama berada di dalam satu ruangan berduaan" ucap Zhi menghentikan langkahnya.
"Ia, Nyonya! Aku berpamitannya melalui telepon saja"
"Ide yang sangat bagus" ucap Zhia tersenyum sambil kembali mengajunkan langkahnya.
Setelah melihat Zhia telah menjauh Ardiyan mencoba menghubungi Nur melalui sambungan telepon. Setelah itu dia memilih untuk memainkan ponselnya sambil menunggu Zhia. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Zhia kembali dengan dandan yang sangat cantik dan juga senyuman yang tidak pernah pudar dari wajah cantiknya.
__ADS_1
"Ar, tolong ambilkan bekal makan siang di belakang ya. Minta saja kepada kepala pelayan" ucap Zhia yang memang sudah menyuruh kepala pelayan untuk menyiapkan bekal makan siang untuk Rayyan.
"Baik, Nyonya" ucap Ardiyan menunduk patuh lalu berjalan ke arah dapur.
Sedangkan Zhia memilih untuk berjalan ke arah mobil untuk menunggu Ardiyan di sana. Walaupun sudah lewat jam makan siang tapi, Zhia sudah mengatakan kepada Rayyan akan datang ke kantornya untuk mengantar makan siang. Jadi Zhia tidak perlu khawatir jika Rayyan sudah makan siang terlebih dulu. Walaupun Rayyan sudah makan siang, Zhia bisa menghabiskan makanan itu seorang diri.
Ardiyan mencoba meletakkan bekal makan siang Rayyan di kursi sampong pengemudi. Setelah memastikan Zhia telah duduk nyaman di bangku belakang Ardiyan mencoba melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia harus mengemudikan mobil dengan sangat hati hati kalau tidak dia akan mendapat ocehan dari kedua pria yang begitu poseseif dengan kandungan Zhia.
Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya mereka sampai di kantor Rayyan. Zhia langsung turun dari mobil lalu berjalan ke ruangan Rayyan karna sudah sangat merindukan suaminya. Walaupun baru beberapa jam berpisah tapi Zhia sudah sangat merindukan Rayyan.
"Hello, Sayang" ucap Zhia langsung masuk ke ruangan Rayyan lalu memeluk Rayyan dengan penuh kehangatan.
"Sayang! Kamu lelah ya? Ayo duduk" ucap Rayyan mengelus lembut rambut panjang Zhia lalu mendudukkannya di sofa.
"Maaf, Bos. Saya keluar dulu ya" ucap Ardiyan meletakkan bekal makan siang Rayyan lalu pamit keluar.
"Sayang, aku bawa bekal makan siang untukmu. Ayo kita makan" ucap Zhia menata bekal yang dia bawa di atas meja.
"Terima kasih ya, Sayang. Kamu memang istriku yang paling srmpurna"
"Kamu juga suamiku yang paling tampan dan juga penyabar" ucap Zhia mencubit gemas wajah Rayyan.
"Sayang, suap" ucap Zhia memberikan sendok kepada Rayyan lalu membuka mulutnya lebar lebar.
"Ini namanya bukan bekal untukku, Sayang" ucap Rayyan terkekeh kecil lalu menyuapi Zhia dengan lembut sambil sesekali menyuapkannya ke mulutnya sendiri
Bersambung.....
Haii semuanya👋👋. Terima kasih ya karna sudah mau mengikuti kisah Zhia dan Rayyan sampai saat ini🥰.
Di sini author hanya menceritakan perjalanan cinta Rayyan, Kinan, Ardiyan dan Wildan ya. Untuk kisah cinta Rafi akan ada ceritanya sendiri agar kalian semua puas mengikuti jalan cinta si cassanova yang belum menemukan pawangnya itu ya.
Penasaran kan bagaimana sosok jodoh Rafi nantinya?😅
Tunggi ya awal awak tahun akan langsung ke perjalanan cinta Rafi ya🥰
__ADS_1