
"Arghh... Sakit, Sayang" rintih Zhia dengan keringat yang bercucuran.
"Kamu yang kuat ya, Sayang. Demi bayi kita" ucap Rayyan mengelus lembut puncak kepala Zhia.
"Arghh!!"
"Jalannya semua telah terbuka. Cepat siapkan persalinannya" perintah Dokter.
"Ayo ikuti arahanku ya, Nyonya. Tarik napas.. Buang pelan pelan... Tarik... Buang.... Sekarang dorong"
Arghhh....
"Kurang kuat ya, Nyonya. Kita coba lagi"
"Arghhh... Sakit, Dok"
"Ayo, Sayang kamu pasti bisa. Aku ada di sampingmu" ucap Rayyan terus mengengam tangan Zhia.
"Ayo kita coba lagi ya, Nyonya. Kepala bayinya sudah terlihat"
"Tarik napas... Buang pelan... Tarik... Buang.... Tarik... Sekarang dorong"
"Argghhh...."
Oe...oe
Allhamdulillah...
Suara tangisan bayi dan juga ucapan syukur mengema di ruangan itu. Zhia menitikkan air matanya ketika melihat buah hatinya terlahir ke dunia ini.
"Terima kasih, Sayang" ucap Rayyan menitikkan air matanya sambil menciumi wajah Zhia.
"Selamat ya, Nyonya! Bayinya laki laki, terlahir dengan sehat dan lengkap. Kami mandikan dulu ya" ucap Dokter itu memperlihatkan bayi Zhia yang masih berlumuran darah.
"Baik, Dok!" ucap Rayyan menatap bayinya penuh haru.
"Terima kasih ya, Sayang! Kamu memang wanita kuat" ucap Rayyan terus menghapus keringat Zhia.
"Itu sudah menjadi tugasku menjadi istrimu, Sayang" ucap Zhia menghapus air mata Rayyan yang membasahi sudut matanya.
Setelah beberapa menit akhirnya bayi Zhia di berikan kepada Rayyan untuk di adzan. Rayyan dengan lantangnya mengomandangkan adzan di telinga bayi munggil mereka.
Setelah selesai melakukan perawatan akhirnya Zhia di pindahkan ke ruang inap. Wildan, Sinta, Kinan, Nur, Kinan dan juga Rissa sudah datang memenuhi ruang rawat Zhia. Para wanita saling berebutan untuk mengendong bayi munggil yang sangat tampan itu.
"Apa kau sudah membuat nama untuk keponakanku yang tampan ini?" ucap Kinan menoel wajah gembul bayi Zhia yang ada di dalam gendongan Rissa.
__ADS_1
"Gibran Archazia Ardianta" ucap Rayyan tersenyum sambil membelai lembut rambut panjang Zhia.
"Gibran! Nama yang bagus, untuk keponakan paman yang paling tampan" ucap Kinan setuju.
"Oh, ia! Sesuai janji kakak. Ini hadiah untuk keponakan kakak yang paling tampan" ucap Kinan memberikan sertivikat kepemilikan taman bermain untuk Gibran.
"Tapi, Kak!" ucap Zhia menatap Rissa tidak enak.
"Tidak apa apa, Zhi. Itu kado kami untuk keponakan kami yang paling tampan ini" ucap Rissa terus saja menciumi wajah gembul Gibran.
"Ris, gantian dong! Aku juga mau gendong" ucap Shinta menatap gemas Gibran.
"Ini! Mudah mudahan kamu juga cepat cepat hamil ya. Biar Gibran ada teman" ucap Rissa tersenyum.
"Kamu juga dong! Biar kita bisa hamil bersama sama" ucap Sinta.
"Terus lahirannya juga sama sama" ucap Rissa terkekeh kecil.
"Aamiin" ucap Wildan dan Kinan serentak.
"Nyonya sudah sembuh? Ini aku bawa bubur untuk, Nyonya. Pasti makanan di rumah sakit ini tidak enak'kan?" ucap Nur tiba tiba datang bersama Ardiyan.
Nur mengeluarkan bekal untuk Zhia yang dia masak dari rumah. Dia memasak bubur ayam kesukaan Zhia dengan harapan tenanga Zhia yang terkuras setelah melahirkan Gibran akan pulih kembali.
"Ayo, Sayang! Kamu makan yang banyak ya" ucap Rayyan mulai menyuapi Zhia.
Zhia menerima setiap suapan yang diberikan Rayyyan. Jujur saja dia sangat lapar setelah mengalahkan maut saat melahirkan Gibran tadi. Rayyan juga menyuapi Zhia dengan begitu teliti sampai semangkok bubur di tangan Rayyan habis tidak tersisa.
"Hai semuanya!" ucap Rafi datang bersama seorang wanita cantik.
"Hai! Cewek mana yang kamu gandeng, Raf?" ucap Wildan menatap penampilan wanita yang bersama Rafi dari atas sampai bawah.
"Kenalkan dia Githa, calon tunganku" ucap Rafi memperkenalkan Githa dengan penuh kebangaan.
"Sini sebentar!" ucap Wildan menarik Rafi.
"Ada apa?" ucap Rafi mengerutkan keningnya menatap Wildan bingung.
"Apa kamu gak salah mau bertunangan dengannya?"
"Tidak! Dia cantik. Aku juga merasa nyaman dekat dengannya"
"Aku lihat dari penampilannya saja dia bukan wanita baik baik. Kamu jangan terlalu bodoh, Raf. Dulu saja kau mencintai Enjel segitunya sehingga kau di butakan oleh cintamu. Padahal Enjel tidak pernah melirikmu sama sekali. Bahkan dia sering menghinamu. Seharusnya dari sana kau harus berhati hati untuk membuka hatimu kembali" ucap Wildan tidak suka dengan hubungan Rafi dan Githa.
"Tidak semua wanita itu sama, Wil. Aku tau Githa adalah gadis liar tapi aku yakin kemudian hari dia akan berubah menjadi yang lebih baik lagi"
__ADS_1
"Aku hanya tidak mau kau sakit hati lagi, Raf. Tapi, aku tidak bisa melarangmu untuk meningalkannya. Terserah kau saja tapi, aku hanya ingin menasehatimu saja"
"Kamu tenang saja. Githa tidak seperti Enjel wanita ular itu" ucap Rafi terus bersikeras melanjutkan hubungannya dengan Githa.
"Terserah kau saja, yang penting aku sudah menasehatimu" ucap Wildan membuang napasnya kasar lalu kembali bergabung dengan para sahabatnya.
Setelah selesai berbincang bincang dan bermain dengan Gibran mereka semua pamit undur diri. Hanya Rissa dan Kinan yang membantu Rayyan untuk merawat Zhia. Rissa dan Kinan memilih untuk menginap di rumah sakit untuk menemani Rayyan merawat Zhia.
"Permisi, Nyonya! Sudah waktunya memberi ASInya ya" ucap suster membawa Gibran untuk di susui Zhia.
"Sini, Sus!" ucap Zhia membawa Gibran kedalam gendongannya.
"Terima kasih ya, Sus" ucap Rayyan ramah.
"Saya permisi dulu ya, Tuan, Nyonya" ucap Suster itu pamit undur diri.
Zhia mncoba membuka kancing bajunya dan memberikan sumber nutrinya untuk Gibran. Gibran yang sudah merasa haus mencoba membuka mulutnya lalu menghisap sumber hidupannya dengan begitu rakusnya. Rayyan yang melihat tingkah puntranya itu hanya bisa tersenyum sambil memainkan wajah gembul putranya yang begitu mengemaskan.
"Astaga, Zhi!" teriak Kinan tiba tiba datang dan menutup matanya ketika tidak sengaja melihat gunung kembar Zhia.
"Apa kamu tidak bisa ketuk pintu dulu, woy!" pekik Rayyan sambil melempar bantal ke wajah Kinan.
"Kau sebagai suami bukannya mengunci pintunya terlebih dulu. Untung yang datang hanya aku, bagaimana jika tadi ada pria lain" ucap Kinan dengan kesal sambil membuka matanya setelah Zhia menutup gunung kembarnya dengan kain.
"Sudah! Kalian ini di depan Gibran saja bisa bertengkar. Apa tidak bisa kalian berdamai sebentar saja?" ucap Zhia membuang napasnya kasar melihat tingkah kedua pria yang sangat berarti dalam hidupnya itu.
"Dia duluan!" teriak Kinan dan Rayyan serentak.
"Kalau kalian masih ingin bertengkar maka pintu keluar ada di sana" ucap Zhia tegas sehingga membuat Rayyan dan Kinan diam tidak berkutik.
"Ia, kakak salah. Kakak mau tidur saja" ucap Kinan memilih membaringkan tubuhnya di sofa sambil meletakan kepalanya di paha Rissa yang sedang duduk di sofa.
"Semoga benihku bisa melakukan tugasnya dengan baik, agar aku juga bisa merasakan bagaimana rasanya jadi papa" ucap Kinan mengelus lembut perut datar Rissa.
"Bagaimana mereka bisa melakukan tugasnya dengan baik, orang bibit bibit ungulmu sudah kau letakkan di kloset" ucap Rayyan terkekeh kecil.
"Dari pada kau! Sembarangan membuang benih di rahim wanita pangilan"
"Memang kau tidak? Kau juga sama saja"
"Rayyan! Kak Kinan! Keluar kalian"
"Ampun! Kami diam"
Bersambung....
__ADS_1