
Jefri terus saja berusaha menyentuh tubuh Zhia. Zhia yang tidak sudi tubuhnya di jajah oleh pria hidung belang seperti Jefri terus saja memberontak. Bahkan Zhia beberapa kali mencakar dan menendang Jefri sekuat tenaganya sehingga membuat Jefri lepas kendali.
"Dasar wanita tidak tau di untung"
Plakk...
Jefri menampar wajah Zhia sehingga membuat Zhia jatuh tersungkur di lantai dengan darah segar yang mengalir di sudut bibirnya. Zhia mencoba menghapus darah di sudut bibirnya mengunakan ibu jarinya sambil menatap Jefri tajam.
"Jika disuruh memilih aku mati menggenaskan di tanganmu atau harus melayanimu. Maka, aku akan memilih untuk mati dari pada merendahkan harga diriku untuk melayani pria bejat sepertimu" ucap Zhia penuh keberanian tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Bagi Zhia kehormatannya jauh lebih berharga dari apapun. Walaupun sedari kecil dia hidup bebas tapi, Zhia selalu menjaga kehormatannya. Karna Kinan selalu berkata kepadanya jika dia harus selalu menjaga kehormatannya sebagai wanita.
"Jika itu yang kamu mau maka baiklah. Aku akan mendapatkan tubuhmu dengan caraku sendiri" ucap Jefri penuh amarah sambil membuka jas dan kemeja yang melekat di tubuhnya.
Jefri menarik legan baju Zhia sehingga memperlihatkan belahan dada Zhia. Zhia terus saja mencoba menutup bagian tubuhnya yang terbuka akibat ulah Jefri. Tidak mau berhenti begitu saja Zhia terus berteriak meminta tolong dengan harapan seseorang di luar sana mendengarnya dan mau membantunya.
Brugh....
Jefri menatap kedua orang pria yang telah menendang pintu hingga terbuka. Rayyan dan Kinan yang melihat keadaan Zhia yang sangat kacau serta beberapa bagian gaun yang melekat di tubuhnya langsung menatap Jefri dengan amarah yang memuncak.
"Zhia" teriak Rayyan dan Kinan serentak.
"Kakak!" teriak Zhia dengan isak tangisnya langsung berlari ke arah Kinan.
Zhia memeluk Kinan sambil mengadu perbuatan Jefri kepadanya. Kinan dan Rayyan yang mendengar perkataan Zhia langsung menatap Jefri penuh amarah.
"Berani kau menyentuh istriku?" teriak Rayyan sambil menatap tajam Jefri.
"Kau urus dia! Buktikan jika kau memang pantas melindungi adikku" ucap Kinan dingin sambil menutup tubuh Zhia yang terbuka mengunakan jas kuasanya.
Mendengar ucapan Kinan, Rayyan langsung menatap keadaan Zhia yang sangat kacau. Dengan seketika tatapan Rayyan berubah menjadi tatapan yang sangat menyeramkan. Jefri yang melihat tatapan membunuh Rayyan berlahan melangkahkan kakinya mundur berusaha mengambil celah untuk kabur.
Bugh....
Belum sempat kabur Rayyan terlebih dulu menghajar Jefri dengan membabi buta. Dia melayangkan tinjunya hingga membuat Jefri terjatuh tersungkur sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya.
__ADS_1
"Itu balasan karna kau berani menampar istriku"
"Arrghhh...." Teriak Jefri ketika Rayyan mematahkan tangannya dengan sekali hentakan.
"Itu akibatnya jika kau berani menyentuh istriku"
Bugh... Bugh...
Rayyan terus saja memukul dan menendang Jefri yang telah tergeletak tidak berdaya di lantai. Zhia yang melihat keberutalan Rayyan berusaha menangkupkan wajahnya di dada bidang Kinan karna tidak sangup melihat keadaan Jefri yang mengenaskan.
"Stop! Ada apa ini" ucap Ramlan tiba tiba datang karna mendengar ada laporan keributan.
"Kau! Beraninya kau menjual istriku" teriak Rayyan beralih ke Ramlan.
Rayyan menarik kerah baju Ramlan dengan tangannya yang terkena darah Jefri sambil menatapnyan dengan penuh amarah.
"A...aku tidak menjual istrimu, Ray" ucap Ramlan panik karna dia tidak tau apa apa.
Dia memang sering menjual modelnya yang mau melayani pria hidung belang. Tapi, untuk Zhia dia tidak akan berani melakukan itu. Karna bukan hanya saja karirnya yang akan hancur di buat Kinan dam Rayyan tapi juga nyawanya akan melayang di saat itu juga.
"Kau tidak perlu mengelak. Apa kau tidak tau siapa aku sehingga kau berani melakukan itu? Ha!" teriak Rayyan penuh emosi sambil menghajar Ramlan.
"Maaf, Tuan. Kami tidak ada melakukan penawaran kepada Tuan Jefri tentang pelayanan Nyonya Zhia" jelas asisten Ramlan yang mengatur jalannya acara lelang itu.
"Jadi siapa yang menyuruh untuk mengosongkan tempat ini?" ucap Kinan mulai mencurigai seseorang.
"Seorang wanita yang juga menjadi model di acara ini, Tuan" ucap penjaga ruangan itu ketakutan ketika melihat amarah Rayyan dan Kinan.
"Ada apa, Ray? Aku dengar kau membuat ketibutan" ucap Ardiyan, Rafi dan Wildan langsung menemui Rayyan setelah mendengar berita keributan yang di lakukan okeh sahabatnya itu.
"Zhia! Kamu kenapa? Kakak Zhia kenapa?" ucap Rissa yang datang bersama ketiga sahabat Rayyan.
Rissa mencoba mengambil alih tubuh Zhia dari pelukan Kinan. Rissa memeriksa keadaan Zhia yang sangat kacau lalu menatap Kinan untuk meminta penjelasan.
"Di... Dia ingin melecehkanku, Ris" ucap Zhia menangis kesegukan sambil memeluk Rissa.
__ADS_1
Mendengar sahabatnya ingin di lecehkan Rissa langsung melemparkan tatapan tajamnya kepada Jefri yang sudah babak belur dan tulang tangannya yang sudah patah akibat ulah Rayyan. Rissa langsung melepaskan pelukannya lalu mendekati Jefri dengan penuh amarah.
"Kenapa kau melecehkan sahabatku? Apa kau tidak bisa menghormati wanita sedikit saja? Apa kau lupa jika kau terlahir dari rahim wanita dan di besarkan oleh tangan wanita? Tapi, kenapa kau memperlakukan wanita seperti ini? Kau memang pria bejat yang tidak pantas hidup di dunia ini" bentak Rissa sambil menatap Jefri dengan amarah yang memuncak.
Mendengar ucapan Rissa, Jefri langsung menunduk merasa bersalah. Bukan hanya Jefri, Kinan dan Rayyan juga merasa tersingung dengan ucapan Rissa. Karna mereka dengan Jefri tidak jauh beda sama sama selalu membuat wanita menjadi permainan mereka.
"Sudah, Ris. Lebih baik kita bawa Zhia pulang. Kasihan dia" ucap Sinta berusaha menenangkan Tika.
"Tidak! Aku harus memberi pelajaran kepada pria bejat ini terlebih dulu. Biar dia tau bagaimana caranya menghormati wanita" ucap Rissa mencoba membuka high hellsnya.
Tika langsung memukul Jefri mengunakan high hellsnya sehingga Jefri merintih kesakitan. Seluruh tubuhnya sudah membiru akibat pukulan Rayyan bahkan kepalanya sudah mengeluarkan darah. Tapi, Rissa tidak ada rasa iba sedikitpun dia terus saja memukul Jefri tanpa ada ampun.
"Sudah, biar kakak yang akan membereskannya" ucap Kinan melihat amarah Rissa semakin memuncak.
"Tidak! Aku akan menghajar pria ini. Jika perlu aku akan membunuhnya karna dia berani menyakiti adikku" ucap Rissa dengan lantang sambil terus memukul Jefri yang telah tergulai lemah.
Karna terlalu emosi Rissa bahkan menendang dan memukul Jefri berulang kali. Melihat para wartawan yang mulai mengabdikan sausana yang semakin mencengkram itu Kinan langsung mengangkat tubuh Rissa dan mengendongnya seperti memikul beras.
"Kakak turunkan aku. Aku harus membunuh pria bejat itu" teriak Rissa sambil memukul punggung Kinan.
"Ray, bawa Zhia pulang" ucap Kinan langsung memberi kode kepada Ardiyan untuk melindungi Zhia dari kamera wartawan.
Mendengar ucapan Kinan, Rayyan langsung menganguk patuh lalu membawa Zhia kedalam gendongannya. Ardiyan, Wildan langsung dengan sigap melindungi Zhia dari kamera para wartawan. Sedangkan Rafi mencoba menatap seorang wanita yang melihat mereka dari sudut ruangan sambil bersembunyi.
"Kau tunggu saja. Kau akan mendapatkan balasan akan perbuatanmu ini" ucap Kinan menatap tajam Jefri yang telah tergeletak lemas.
"Dan untukmu! Urusan kita belum selesai" ucap Kinan menunjuk ke wajah Ramlan lalu melangkahkan kakinya mengikuti Rayyan yang telah melangkah keluar membawa Zhia.
"Sial! Kenapa kalian semua seceroboh ini. Kenapa kalian bisa bisanya sebodoh ini sehingga kalian membiarkan hal itu terjadi kepada Nyonya Zhia" teriak Ramlan frustasi dengan kebodohan para karyawannya.
"Untukmu! Siapa yang menyuruhmu melakukan itu kepada istri dan adik dari pria yang di takuti seperti Rayyan dan Kinan?" ucap Ramlan menatap Jefri yang tergulai lemas.
Ramlan tidak perduli dengan keadaan Jefri yang saat ini sedang sekarat. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah bagaimana caranya agar Rayyan dan Kinan tidak menghabisinya dan tidak menghancurkan usahanya yang dia bangun dengan susah payah.
Bersambung....
__ADS_1