
Wildan dan Rafi menatap pelayan yang berjalan mendekati Sinta. Tiba tiba Wildan Melihat pelayan itu menunjuk dirinya di ikuti oleh Sinta yang menatap ke arahnya. Dengan cepat Wildan memperlihatkan gaya coolnya sambil melambaikan tangannya.
"Ha... Ha... Dia melempar bunga yang kau berikan ke tong sampah" ucap Rafi terkekeh geli melihat aksi Sinta yang menolak Wildan secara terang terangan.
"Diam kau! Lihatlah aku akan memberinya pelajaran" ucap Wilda menatap Sinta penuh tantangan.
"Apa kau ingin memperkosanya?"
"Jika itu cara agar bisa mendapatkannya maka aku akan melakukannya"
"Apa kau sudah gila?" ucap Rafi terkejut mendengar ucapan Wildan.
"Aku gila karna dia" ucap Wildan tersenyum sinis.
"Jika kau melakukan itu aku yakin dia akan semakin membencimu"
"Aku tidak segila itu. Aku hanya ingin bermain main dengannya saja. Aku ingin melihat bagaimana wajah angkuhnya itu lebih dekat lagi" ucap Wildan membulatkan tekadnya.
Melihat sikap Wildan yang keras kepala Rafi hanya mampu mengeleng kecil. Dia tidak bisa berkata apapun lagi dan lebih memilih mencari teman kencang untuk menemaninya malam ini.
"Aku sudah mendapatkan mangsaku. Selamat menikmati masa perjuangan mendapatkan cintamu. " ucap Rafi tersenyum kecil lalu berjalan medekati wanita yang telah berhasil mengoda matanya.
"Wanita tidak akan mampu membuatku harus berjuang karna cinta. Karna aku di takdirkan bukan untuk memperjuangkan cinta"
"Jadi itu apa" Rafi menghentikan langkahnya lalu kembali menatap Wildan.
"Aku hanya ingin terpesona akan keindahan tubuhnya. Lihat tubuhnya sangat indah, jika aku busa melihat tubuh polosnya pasti jauh lebih indah lagi" ucap Wildan tersenyum nakal.
"Dasar otak mesum" ucap Rafi mengeleng kecil lallu kembali mengayunkan langkahnya.
Setelah kepergian Rafi, Wildan kelihat Sinta sedang berpamitan dengan teman temannya. Dengan cepat Wildan mengikuti Sinta secara diam diam. Satu keberuntungan bagi Wildan Sinta berjalan ke arah parkiran yang begitu sepi dan juga gelap.
Jleepp....
Arghh....
"Siapa kau?" pekik Sinta ketika Wildan meleparkan tubuhnya dan menjadikannya seperti bakul beras.
Wildan tidak memperdulikan teriakan dan cacian Sinta. Dia terus saja membawa Sinta ke kamar yang tersedia di club itu. Setelah sampai di kamar Wildan langsung mengunci pintu lalu meletakkan kuncinya di saku celananya.
Brukk...
"Aw... Dasar pria gila!" pekik Sinta ketika Wildan melempar tubuhnya ke atas ranjang.
__ADS_1
"Aku memang gila! Apa kau ingin melihat kegilaanku yang sebenarnya?" ucap Wildan tersenyum tipis sambil membuka satu persatu kancing kemejanya.
"Apa yang kau lakukan?" ucap Sinta ketakutan ketikan melihat tatapan Wildan yang menatap ke arah seluruh tubuhnya.
"Ingin bersenang senang, setelah kau buat aku kecewa" ucap Wildan tersenyum sinis lalu naik ke atas ranjang dengan bertelanjang dada.
"Hentikan! Kau jangan gila"
Sinta berusaha mendorong tubuh Wildan lalu berlari ke arah pintu keluar. Tapi sayang ketika Sinta ingin membuka pintu ternyata pintunya telah terkunci.
"Apa kau menginginkan ini?" ucap Wildan memperlihatkan kunci di tangannya.
"Berikan itu"
"Jika kau mau ini maka aku mau kau menciumku terlebih dulu" ucap Wildan menatap bibis seksi Sinta yang sangat mengoda.
"Aku tidak mau!"
"Jika kau tidak mau maka aku akan merebutnya secara paksa. Jika aku yang melakukannya maka jangan salahkan aku jika aku mengambil yang lain darimu" ucap Wildan menatap tubuh Sinta dengan tatapan penuh hasrat.
"A... Aku mohon jangan lakukan itu. Aku minta maaf karna sudah menyakiti hatimu. A..aku menolakmu bukan karna aku membencimu tapi, aku tidak ingin sakit hati lagi" ucap Sinta menitikkan air matanya sambil menagis tersedu sedu mengingat penghianatan Bram kepadanya.
Deghh...
"Maafkan aku!" ucap Wildan lirih lalu membawa Sintabke dalam pelukannya.
"Hikss...hikss... Maafkan aku! Aku telah menyakiti perasaanmu karna ucapanku. Tapi, aku mohon jangan nodai aku. Jika kau menodaiku maka tidak akan ada lagi pria yang mau menerimaku hiks...hikss" ucap Sinta penuh permohonan.
Melihat Sinta yang terus saja menangis sambil memohon kepadanya tiba tiba Wildan merasa sangat bersedih. Dia mencoba mencaci dirinya sendiri karna sudah membuat Sinta sangat ketakutan.
"Baiklah! Aku akan melepaskanmu dan akan melupakan ucapan yang telah menyakitiku. Tapi, aku punya satu syarat" ucap Wildan tegas sambil tersenyum penuh kelicikan.
"A..apa?"
"Kamu harus menjadi kekasihku selama seminggu dan dua hari lagi pertunangan Kinan dengan Rissa aku mau kau mendampingiku sebagai kekasihku" ucap Wildan tidak mau di bantah.
"Menjadi kekasihmu selama seminggu?" ucap Sinta mencoba berpikir.
"Ya, selama seminggu. Selama seminggu ini kita akan menjalin hubungan bagaimana orang pacaran pada umumnya"
"Apa kau juga melakukan itu?" ucap Sinta waspada.
"Apa kau dan Bram juga melakukan itu saat berpacaran dulu?" ucap Wildan menatap lekat wajah Sinta.
__ADS_1
"Tidak!" ucap Sinta tegas.
"Apa dia menciummu?"
"Ia!"
"Berarti aku juga boleh menciummu selama seminggu ini" ucap Wildan tersenyum penuh kemenagan.
"Apa!"
"Kalau kau menolak maka bersiaplah untuk menjadi tawanan ranjangku" ucap Wildan menatap tajam Sinta.
"Aku menerima tawaranmu yang pertama" ucap Sinta mengidik ngeri.
Lebih baik dia menjadi kekasih Wildan selama seminggu dari pada dia harus menjadi tawanan dan tempat pelampiasan hasrat Wildan. Dia tau benar bagaimana sifat Wildan, Wildan selalu mendapatkan apa yang dia inginkan termasuk tubuh wanita yang mampu mengoda matanya.
"Aku akan mendapatkanmu seutuhnya setelah seminggu ini" batin Wildan tersenyum tipis.
"Aku sudah menyetujui keinginanmu untuk menjadi kekasihmu selama seminggu. Jadi berikan kuncinya"
"Tidak semudah itu" ucap Wildan mendekati Sinta lalu melingkarkan tangannya di pinggang Sinta.
"A.. Apa yang aku inginkan?"
Tidak ada jawaban Wildan langsung saja menempelkan bibirnya ke bibir Sinta. Awalnya hanya tempelen biasa tapi lama kelamaan Wildan memperdalamnya dan mengisap bibir Sinta denagn sangat lembut. Sinta tidak menyangka jika Wildan memperlakukab wanita dengan selembut itu.
Tidak mau membuat suasana hati Wildan semakin memburuk dia mencoba membalas ****** Wildan sambil melingkarkan tangannya di leher senjang Sinta. Melihat tidak ada perlawanan dari Sinta, Wildan mencoba lebih memperdalam *******nya. Hingga akhirnya dia melepaskannya untuk memberikan ruang untuk mereka bernapas.
"Terima kasih, Sayang" ucap Wildan dengan deru napas yang mengebu gebu.
Dia mencoba mengontrol hasratnya lalu mencium lembut kening Sinta. Wildan mencoba merogoh saku celananya lalu memberikan kunci kamar itu kepada Sinta sambil mengacak acak rambutnya.
"Ini kuncinya. Kamu pulanglah" ucap Wildan tersenyum.
"Terima kasih" ucap Sinta langsung mengambil kunci yang ada di tangan Wildan.
"Langsung pulang. Jangan kemana mana" ucap Wildan sambil melambaikan tangannya.
Sinta hanya bisa menganguk lalu berjalan keluar kamar dengan perasaan lega. Sepeningalan Sinta, Wildan langsung melemparkan tubuhnya di atas ranjang sambil membayangkan *******nya dengan Sinta yang sangat nikmat.
"Manis sekali! Seminggu ini aku akan mendapatkannya sesuka hatiku. Tapi setelah seminggu aku tidak akan melepaskanmu, sayang" gumam Wildan yang sedang di mabuk asmara.
Bersambung.....
__ADS_1