Dibalik Diamnya Seorang Istri

Dibalik Diamnya Seorang Istri
Part 70


__ADS_3

"Ayo, Sayang! Ingat kita harus terlihat mesra" ucap Wildan megulurkan tangannya kepada Sinta yang masih berada di dalam mobil.


"Kau tidak perlu selalu mengingatkanku. Aku tau apa yang harus aku lakukan" ucap Sinta ketus sambil menerima uluran tangan Wildan.


"Jangan galak galak dong, Sayang. Jika kamu galak seperti ini ingin sekali rasanya aku melahapmu hidup hidup" bisik Wildan memperlihatkan tatapan mesumnya.


"Dasar pria mesum" guman Sinta mengerutu kesal.


Bukannya merasa bersalah karna telah membuat mood Sinta anjlok seketika Wildan malah terkekeh kecil tanpa dosa. Mereka berjalan mendekati Rayyan yang sedang mengobrol bersama Ardiyan dan juga Rafi.


"Hai, bro! Udah punya ngandengan baru lagi ni" ucap Ardiyan menatap Sinta yang berada di samping Wildan.


"Dia adalah kekasihku! Bukan wanita sewaanku" ucap Wildan merangkul mesra Sinta.


"Jadi kalian sudah jadian?" ucap Rafi terkejut.


"Tentu saja" ucap Wildan.


"Apa kamu mengancamnya?" bisik Rayyan yang memang tau betul bagaimana sifat sahabatnya yang satu itu.


"Tidak! Aku hanya memberikan penawaran kepadanya" ucap Wildan tersenyum tanpa dosa.


"Hai, Sin! Kamu kenapa datang bersama Wildan?" ucap Zhia tiba tiba datang.


"Hai, Zhi. Kami adalah pasangan kekasih. Jadi wajar saja jika kami datanh secara bersamaan" ucap Wildan tersenyum.


"Apa! Kamu pacaran dengan Wildan? Apa yang dia lakukan sehingga kamu mau menerimanya?" ucap Zhia terkejut sambil mendekati Sinta.


"Ti...tidak ada, Zhi. Aku hanya merasa jika kami cocok saja. Lagian apa salahnya jika kami saling berpacaran agar saling mengenal satu sama lain. Jika cocok di lanjut jika di tidak ya berhenti" jelas Sinta.


"Tapi, kita akan lanjut ke pelaminan, Sayang" ucap Wildan tersenyum sambil mempererat rangkulannya.


"Sudah, Sayang. Lebih baik kita makan saja. Aku sudah lapar" ucap Rayyan mengalihkan perhatian Zhia.


"Ok, Sayang. Aku juga lapar! Kita makan mie ayam itu ayo" ucap Zhia dengan semangat jika mendengar yang namanya makan.

__ADS_1


"Ha..ha.. Lihat nyonya, Zhia dia sekarang sangat doyan makan sehingga membuat tubuhnya semakin membulat saja" ucap Ardiyan terkekeh kecil sambil melihat Rayyan dan Zhia yang telah menjauh dari mereka.


"Tapi, dari Zhia aku bisa melihat besarnya perjuangan wanita untuk melahirkan bayinya. Dulu Zhia sangat menjaga tubuhnya tapi sekarang" ucap Rafi menatap kagum Zhia yang lebih mementingkan keadaan kandungannya.


"Kalian tau'kan bagaimana besarnya pengorbanan kami para wanita. Kami rela kehilangan tubuh indah kami hanya untuk memberikan keturunan kepada kalian. Kami rela kehilangan kebebasan kami hanya untuk membuat kalian senang. Tapi, kenapa kalian para pria tidak bisa menghargai kami para wanita?" sindir Sinta mengingat ketiga pria yang di depannya adalah pria brengsek yang suka mempermainkan wanita.


Mendengar ucapan Sinta, Wildan, Rafi dan Ardiyan langsung terdiam tanpa kata. Mereka hanya mampu menunduk tanpa berani menatap Sinta yang bermulut pedas. Hingga akhirnya Sinta melihat Rissa dan Kinan, dengan cepat dia berjalan ke arah mereka untuk memberi selamat.


Mereka semua menikmati pesta mewah yang sudah di siapkan Kinan. Ardiyan memilih untuk mengobrol dengan para rekan bisnis Rayyan tanpa memperdulikan wanita wanita di sana karna yang ada di hatinya hanya Nur. Rayyan sibuk mondar mandir untuk memenuhi semua keinginan Zhia yang banyak protes. Wildan sibuk mencari perhatian Sinta agar Sinta tidak melihat para pengusaha pengusaha muda di pesta itu. Sedangkan Rafi yang masih jomblo dan belum mempunyai pelabuhan hati sibuk mencari wanita yang sesuai keriterianya.


"Sayang! Aku mengatuk, mau tidur" ucap Zhia bersender manja karna merasakan matanya yang sudah sangat berat.


"Ayo kita istirahat. Lagian tidak baik untukmu terus terusan berada di sini" ucap Rayyan merasa risih melihat tatapan pria hidung belang yang melihat kecantikan istrinya.


"Gendong!"


"Siap, Tuan Putri" ucap Rayyan langsung membawa Zhia kedalam gendongannya.


Rayyan membawa Zhia menuju kamar yang telah mereka sewa untuk menginap malam ini. Belum sampai di kamar Zhia sudah terlelap dalam gendongan Rayyan. Rayyan yang melihat sikap manja Zhia mencoba untuk tersenyum, dia tidak merasa lelah sedikitpun untuk memenuhi semua keinginan Zhia yang semakin hari semakin banyak protes.


Rayyan mencoba membuka sepatu Zhia lalu menyelimutinya dengan selimut, tidak lupa Rayyan meningalkan jejak kasih sayangnya di kening Zhia lalu membaringkan tubuhnya di samping Zhia. Rayyan mencoba membawa Zhia kedalam pelukannya lalu mencoba memejamkan matanya.


Sedangkan di acara pesta Kinan melihat para tamu undangan mulai berpulangan. Dia yang juga merasa lelah mencoba membawa Rissa untuk beristirahat.


"Sayang, kita bobok yuk" ucap Kinan menatap Rissa.


"Apa acaranya sudah selesai?"


"Sudah! Lihat tamunya sudah pulang. Tinggal tiga pria brandal itu" ucap Kinan menunjuk ke arah Ardiyan, Wildan dan Rafi.


"Hai, Nan. Aku pulang dulu ya. Mau melakukan pemanasan dulu" ucap Rafi sambil mengandeng wanita yang telah dia dapatkan di pesta itu.


"Baiklah! Nikmati malam indahmu" ucap Kinan mengeleng kecil melihat sikap rafi yang tidak pernah lepas dengan yang namanya wanita.


"Hai, Ris! Aku pulang dulu ya. Sudah malam" ucap Sinta mendekati Rissa dan Kinan di ikuti Wildan yang selalu menempel bagaikan prangko.

__ADS_1


"Sudah tobat, bro?" bisik Kinan terkekeh kecil.


"Aku sudah bosan dengan yang namanya wanita penghibur. Sekarang aku mau merasajan yang presh" bisik Wildan tersenyum nakal.


"Jangan macam macam! Dia tidak seperti wanita yang selalu kau kencangi" bisik Kinan memperingatkan.


"Aku tau. Itu makanya aku ingin memilikinya seutuhnya"


"Ayo! Aku sudah lelah" ucap Sinta menghentikan obrolan nakal kedua pria mesum itu.


"Ia, Sayang" ucap Wildan tersenyum lalu merangkul mesra pingang Sinta dan berjalan ke luar gedung.


"Nan, aku pulang dulu ya. Nanti Nur marah jika tau aku pulang terlalu malam" ucap Ardiyan berpamitan.


"Ha... Ha... Belum jadi saja udah takut, Bro" ucap Kinan terkekeh kecil.


"Memangnya kau tidak takut?" ucap Ardiyan menatap Rissa.


"Takut, sih!" ucap Kinan mengusap bulu kuduknya ketika melihat tatapan Rissa.


"Memang para cassanova jika sudah menemukan tempat pelabuhannya langsung jadi bucit akut ya" ucap Ardiyan terkekeh kecil.


"Sudahlah! Lebih baik kau pulang saja. Aku mau bobok cantik dulu" ucap Kinan merangkul pinggang Rissa lalu berjalan ke araha kamar meteka yabg berada di samping kamar Zhia dan Rayyan.


" Kakak mau ke mana?" ucap Rissa melihat Kinan yang ingin ikut masuk ke dalam kamarnya.


"Mau tidur!"


"Kakak tidur di kamar kakak" uxap Rissa mendorong tubuh Kinan keluar dari kamarnya.


"Tapi, Sayang. Aku mau tidur denganmu"


"Ingat, Kak. Belum mahrom!" ucap Rissa lalu menutup pintunya rapat rapat.


"Sendiri lagi" ucap Kinan memelas lalu berjalan ke kamarnya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2