Dibalik Diamnya Seorang Istri

Dibalik Diamnya Seorang Istri
Part 64


__ADS_3

"Jadi kamu tidak ingin pergi? Jadi adik Kinan yang ingin kabur itu siapa?" ucap Rayyan menatap binggung Zhia.


"Rissa" ucap Zhia polos.


"Apa!" ucap Rayyan membulatkan matanya.


"Ha...ha... Kamu takut ya aku tinggalin? Lagian kenapa kamu tidak menghubungiku, Sayang" ucap Zhia mencubit gemas kedua wajah Rayyan.


Setelah menyadari kebodohannya yang tidak menghubungi Zhia terlebih dulu, Rayyan mencoba melempar tatapannya kepada Ardiyan.


"He..he.. Maaf, Bos. Aku lupa menghubungi, Nyonya. Aku berpikir cepat saja, bos'kan mantan cassanova jadi aku kira nyonya kabur karna bos kumat lagi" ucap Ardiyan cengengesan tanpa dosa.


"Ardiyan!" bentak Rayyan kesal sambil melayangkan tatapan membunuhnya.


"Maaf, Bos! Aku pulang dulu. Aku lupa harus menjemput Nur" ucap Ardiyan mengalmbil langkah seribu untuk mencari aman.


"Nasibku memang sial! Punya asisten bodohnya minta ampun" gumam Rayyan menyadari kebodohannya karna panik tidak menentu.


"Ternyata seorang cassanova tobatnya jadi bucin akut ya" ucap Kinan mencoba mengoda Rayyan.


"Diam kau! Kau juga main tutup tutup bandara segala tanpa ada kejelasan. Apa salahnya memberi kabar jika kau menutup bandara karna adikmu yang bernama Rissa mau kabur. Apa kau luoa kau membpunyai dua adik? Jadinya aku salah paham'kan" ucap Rayyan kesal sambil menyalahkan Kinan.


"Sudah, Sayang. Jangan marah marah seperti itu. Kamu datang kemari ada untungnya juga kok" ucap Zhia manja sambil memeluk Rayyan.


Melihat sikap manja Zhia rasa lelah Rayyan tiba giba menghilang seketika. Dia melemparkan senyuman termanisnya lalu mencium wajah Zhia dengan lembut.


"Kamu mau apa, Sayang?"


"Aku lelah! Aku mau di gendong"


"Kalau itu gampang, Sayang. Ayo kita pulang pasti kamu lelah" ucap Rayyan membawa tubuh Zhia kedalam gendongannya.


"Aku tidak mau pulang"


"Jadi ratu kesayanganku ini mau kemana?"


"Aku mau makan! Aku lapar, Sayang"


"Baiklah! Kita pergi ke restoran favoridmu" ucap Rayyan tersenyum lalu mengayunkan langkahnya sambil mengendong Zhia.


"Tunggu! Kami ikut" ucap Kinan melangkahkan kakinya mengikuti Rayyan sambil merangkul mesra pinggang Rissa.

__ADS_1


"Ris, katanya kamu mau pergi? Kenapa? Apa aku ada salah?" ucap Wildan tiba tiba datang karna mendengar berita kaburnya Rissa.


"Tidak! Kamu tidak salah apa apa" ucap Rissa menunduk merasa tidak enak kepada Wildan.


"Maaf, Wil. Aku dan Rissa sudah jadian. Kami ingin menikah" jelas Kinan tidak ingin Wildan terus mengharapkan Rissa.


"Maafkan aku, Wil" ucap Rissa menatap Wildan penuh penyesalan.


"Tidak apa apa. Kamu santai saja. Dalam perjuangan cinta kalah dan menang itu soal biasa. Aku ucapkan selamat untuk kalian berdua" ucap Wildan tersenyum ramah.


"Nan, siap siap jadi budak cinta seperti pria bucit itu ya" ucap Wildan terkekeh kecil sambil menunjuk ke arah Rayyan yang mulai menjauhi mereka.


"Suatu saat kamu juga akan merasakannya" ucap Kinan terkekeh kecil sambil kembali mengayunkan langkahnya.


"Huff! Jomblo lagi" gumam Wildan melirik Sinta yang hanya diam menatap kepergian pasangan bucin itu.


"Kita mengalami nasib yang sama. Aku di tinggal Rissa dan kamu baru di putuskan oleh Bram. Apa salahnya jika kita bersatu" ucap Wildan menyerahkan bungga yang dia pegang kepada Sinta.


"Amit amit aku punya pacar seorang pengila lobang sepertimu" ucap Sinta melemparkan bungga yang di berikam Wildan ke wajah Wildan.


"Setelah menikah denganmu milikku akan hanya cocok dengan milikmu" ucap Wildan tersenyum tanpa dosa.


"Dunia sudah terbalik. Apa kamu lupa ada sinetron yang berjudul dunia terbalik" ucap Wildan tidak mau menyerah.


"Aku pacaran samamu" ucap Sinta menatap Wildan dengan lekat.


"Ia! Aku dan kamu jadi satu" ucap Wildan menaik turunkan alisnya.


"Mimpi!" pekik Sinta penuh kekesalan lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Wildan.


"Kamu lihat saja. Aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku" gumam Wildan penuh keyakinan sambil melangkahkan kakinya mengikuti Sinta.


Sedangkan Ardiyan langsung meninggalkan bandara secepat mungkin. Dia mencoba kembali ke kantor dan mengambil mobilnya yang tertinggal. Dia mencoba melirik jam tanggannya dan memperlihatkan waktunya Nur pulang kuliah.


"Sepertinya Nur sudah pulang kuliah. Apa aku menjemputnya? Aku juga sudah sangat merindukannya" guman Ardiyan membayangkan wajah cantik Nur.


Tidak banyak pikir Ardiyan langsung melajukan mobilnya menuju kampus Nur. Lagian pekerjaannya tidak terlalu banyak dan dia juga bisa menyelesaikannya nanti. Yang penting saat ini Ardiyan ingin meluluhkan hati Nur terlebih dulu agar bisa secepatnya melepaskan masa lajangnya.


Ardiyan sudah dewasa dia sudah sangat pantas untuk membangun rumah tangga. Walauoun di antara ke tiga sahabatnya baru Rayyan yang telah menikah tapi dia juga ingin merasakan bahagianya berumah tangga seperti Rayyan.


Sesampainya di kampus Nur, Ardiyan mencoba memarkirkan mobilnya lalu menunggu Nur di dalam mobil. Dia melihat satu persatu mahasiswi yang keluar dari kampus. Hingga akhirnya senyuman Ardiyan mengembang ketika dia melihat wanita idamannya keluar dari kampus.

__ADS_1


"Nur" ucap Ardiyan melambaikan tangannya.


Mendengar suara Ardiyan, Nur langsung menatapnya prnuh kebinggungan. Nur mencoba melirik jam tanggannya dan melihat jam masih menunjuk ke jam kerja. Tapi mengapa di jam kerja seperti ini Ardiyan malah menemuinya.


"Kakak tidak kerja?" ucap Nur mendekati Ardiyan.


"Bekerja! Tapi kakak keluar sebentar karna tidak ada pekerjaan yang harus di kerjakan" ucap Ardiyan mencari alasan.


"Sudahlah! Ayo masuk. Lihat cuacanya sangat panas. Tidak baik untuk kulitmu jika berlama lama di bawah sinar matahari seperti ini" ucap Ardiyan membukakan pintu untuk Nur.


"Terima kasih, Kak" ucap Nur tersenyum lalu masuk ke dalam mobil.


Setelah melihat Nur duduk dengan nyaman, Ardiyan mencoba menutup pintu dengan pelan. Dia juga berjalan menuju bangku pengemudi lalu duduk disana. Ardiyan mencoba melirik Nur yang telah duduk nyaman di sampingnya sambil membaca buku. Melihat Nur yang sering membaca buku Ardiyan jadi sadar jika Nur adalah seorang kutu buku.


"Kita mau ke mana?" ucap Ardiyan membuka suara.


"Pulang!" ucap Nur to the point.


"Kenapa harus pulang? Apa kamu tidak ingin jalan jalan dulu"


"Em! Kemana? Nanti nyonya mencariku"


"Kamu tenang saja. Nyonya Zhia tidak akan mencarimu karna dia sedang bermesraan dengan suaminya" ucap Ardiyan tersenyum lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Baiklah! Tapi jangan lama lama ya. Soalnya aku punya banyak tugas dari kampus" ucap Nur.


"Tidak! hanya makan siang bersama" ucap Ardiyan mencoba melajukan mobilnya.


"Bagaimana keadaan ibu di kampung?" ucap Ardiyan mengingat jika Nur pernah bercerita jika ibunya mengalami sakit TBC.


"Allhamdullillah mulai mulai membaik, Kak. Berkat gaji yang besar dari Nyonya aku bisa mengirim untuk biaya pengobatan ibu"


"Nyonya Zhia memang sangat baik. Dia sangat suka menolong, Tuan Rayyan memang sangat beruntung karna mendapatkan istri sepertinya"


"Ia! Nyonya Zhia memang sangat baik. Dia juga di kelilingi orang orang baik. Dia memang pantas mendapatkan kebahagiaan yang sekarng telah dia dapatkan"


"Kamu benar. Kamu juga nanti akan mendapatkan kebahagiaan seperti yang di dapatkan Nyonya saat ini"


"Aamiin" ucap Nur tersenyum sambil melirik Ardiyan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2