Dibalik Diamnya Seorang Istri

Dibalik Diamnya Seorang Istri
Part 60


__ADS_3

Kinan melihat jam tangannya sudah menunjuk ke pukul sembilan malam. Tapi, perasaan terus saja gusar tidak menentu. Dia teris saja membayangkan ekspresi wajah Rissa saat melihatnya bermesraan dengan Sinta. Kinan merasakan ada kecemburuan yang terpancar dari wajah Rissa.


"Apa Rissa mencintaiku? Tapi itu tidak mungkin. Dia selama ini mengangapku seperti kakaknya sendiri" gumam Kinan frustasi.


Kinan mencoba bangkit dari tidurnya lalu mengambil kemejanya. Dia mencoba keluar dari rumahnya dengan tergesa gesa lalu melajukan mobilnya menuju salon Rissa. Dia tidak tau kenapa bayangan Rissa selalu saja terlintas dalam pikirannya. Padahan saat sia mencintai Zhia dia tidak sefrustasi ini.


Tidak menunggu lama Kinan akhirnya sampai di salon Rissa. Dia melihat salon Rissa yang telah tertutup rapat padahal hari belum larut malam. Kinan mencoba membuka pintu dan suatu keberuntungan pintunya tidak terkunci.


Kinan mencoba melangkahkan kakinya memasuki salon Rissa lalu mencoba mencari keberadaan Rissa di dalam sana. Kinan mencoba berjalan menuju kamar Rissa, perasaan Kinan semakin gusar ketika melihat kamar Rissa dalam keadaan gelap gulita. Kinan mencoba menghidupkan lampu agar bisa mencari Rissa dengan mudah.


"Ris, kamu kenapa?" ucap Kinan ketika melihat Rissa duduk seorang diri di lantai.


"Kakak! A.. Aku tidak apa apa" ucap Rissa gugup sambil menghapus air matanya.


"Kamu menangis? Siapa? Siapa yang berani membuatmu menangis seperti ini?" ucap Kinan panik lalu menghapus air mata Rissa.


Kinan menatap mata sembab Rissa karna terlalu lama menangis. Melihat keadaan Rissa yang sangat kacau Kinan merasakan sakit yang teramat dalam di dalam hatinya. Kinan memang bisa menghadapi bagaimana kerasnya hidup ini. Bahkan Kinan terkenal sangat tangguh dan tidak terkalahkan. Tapi, setangguh tangguhnya Kinan juga memiliki kelemahan dia tidak bisa melihat kedua adik kecilnya bersedih.


"Apa Wildan menyakitimu? Katakan kepada kakak. Apa dia menyakitimu?" ucap Kinan mengepalkan tangannya geram.


"Ti... Tidak, Kak. Dia tidak menyakitiku. Dia tidak tau apa apa. Aku hanya merindukan ayah ibu" ucap Rissa mencoba mencari alasan kalau tidak sudah pasti Wildan akan mati mengenaskan di tangan Kinan.


"Kamu tidak berbohong?" ucap Kinan mengambil ponsel Rissa dan membuka semua pesan Rissa dengan Wildan untuk memastikan apa yang di katakan Rissa benar apa adanya.


Kinan mencoba membuang napasnya lega ketika membaca chatingan Wildan dan Rissa. Kinan melihat jika hubungan Rissa dan Wildan tidak ada masalah setelah membaca pesan singkat Wildan dan Rissa. Kinan mencoba membuang napasnya kasar lalu duduk di samping Rissa.


Kinan mencoba merangkul tubuh Rissa lalu meletakkan wajah rissa di dada bidangnya. Kinan mencoba mengusap punggung Rissa sambil sesekali mengelus rambut panjangnya.


"Apa kamu tidak mengangap kakak lagi?" ucap Kinan menatap lekat wajah Kinan.

__ADS_1


"A..aku!"


"Kenapa kamu pendam penderitaanmu seorang diri? Kakak ada disini. Kakak selalu bersedia mendengarkan keluh jesahmu dan juga Zhia. Tapi, kenapa kamu malah memilih berdiam diri dan mengurung dirimu dalam kegelapan?"


"Maafkan aku, Kak. Aku melupakan kakak. Aku terlalu larut dalam kesedihanku" ucap Rissa memelek erat Kinan sambil meneteskan air matanya.


"Menangislah! Menangislah sepuasmu. Tuangkan semua kesedihanmu, kakak akan menyediakan bahu kakak untukmu"


Rissa mencoba menuangkan semua kesedihannya di dalam pelukan Kinan. Dia menangis sepusnya hingga akhirnya dia tertidur dalam pelukan Kinan. Melihat Rissa yang sudah tertidur Kinan mencoba memindahkan tubuh Rissa ke atas ranjangnya.


Kinan menatap lekat wajah Rissa yang telah tertidur dengan lelapnya. Dia menatap mata Rissa yang membengkak karna kelamaan menangis. Kinan mencoba menghapus air mata Rissa yang tersisa lalu mencium lembut keningnya.


"Maafkan kakak yang tidak bisa menjaga air matamu" ucap Kinan lirih lalu mencoba membaringkan tubuhnya di samping Rissa.


Kinan mencoba menyelimuti tubuhnya di dalam satu selimut bersama Rissa. Dia mencoba membawa tubuh Rissa dalam pelukannya lalu mencoba memejamkan matanya. Hingga akhirnya kedua insan itu larut dalam mimpi indahnya sambil berpelukan.


Ntah mengapa setiap kali dia memeluk Rissa dia merasakan kehangatan dan ketenangan yang sangat luar biasa. Kehangatan dan ketenangan yang tidak pernah dia rasakan selama ini jika bersentuhan dengan wanita wanita pangilannya.


Tanpa Rissa sadari sikapnya itu telah membangunkan dua makhluk sekaligus. Kinan yang merasakan geli pada dadanya karna hembusan napas Rissa mencoba membuka matanya. Bukan hanya Kinan yang bangun tapi juniornya juga bangun akibat ulah Rissa.


"Ris, kamu jangan seperti itu. Kamu membangunkan sesuatu yang seharusnya tidak bangun" ucap Kinan dengan suara seraknya.


"Memangnya aku melakukan apa? Kakak sendiri yang memelukku bagaimana aku mau bangun" ucap Rissa mengeluarkan tubuhnya dari pelukan Kinan.


"Sudah jam berapa?" ucap Kinan langsung bangkit dari tidurnya lalu melangkahkan kakinya ke kamar mandi tanpa menatap Rissa.


"Sudah pukul tujuh. Buruan kakak mandi" ucap Rissa memberikan handuk kepada Kinan.


"Terima kasih" ucap Kinan singkat lalu masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Sesampainya di dalam kamar mandi Kinan mencoba membuang napasnya dalam dalam. Dia merasakan ada sesutu yang bergerak gerak di dalam celananya. Kinan mencoba mengelengkan kepalanya dalam dalam ketika juniornya bangun dengan segarnya ketika merasakan hembusan napas Rissa.


"Kau bangun di waktu yang tidak tepat. Dia adikku aku tidak mungkin melakukan itu kepadanya" gumam Kinan tersenyum kecil lalu mulai melakukan aksinya bersolo karir.


Dia mencoba menguyur tubuhnya dengan air dingin sambil menuangkan hasratnya seorang diri. Dia mencoba berpikir keras kenapa hasratnya bisa langsung bangkit begitu saja saat bersama Rissa. Padahal selama ini dia tidak merasakan hal yang beda ketika bersama Rissa.


Kinan mencoba membayangkan wajah cantik Rissa sambil melakukan kegiatannya yang semestinya di lakukan dengan lawan jenisnya. Tapi kini dia harus melakukannya seorang diri dengan bantuan sabun dan guyuran air.


"Kakak! Cepat. Aku mau ke kamar mandi" teriak Rissa mengedor pintu kamar mandi karna Kinan terlalu lama di dalam sana.


"Sabar dulu. Kakak sedang melakukan kegiatan pagi kakak. Atau kamu mau membantunya?" ucap Kinan dengan suara seraknya.


"Kakak gila!" teriak Rissa melangkahkan kakinya menjauhi pintu kamar mandi sambil mengidik ngeri.


Rissa juga wanita dewasa yang tidak sepolos itu. Dia bisa mengerti apa yang di maksud Kinan walaupun Kinan tidak mengungkapkannya secara tidak langsung. Setelah beberapa menut akhirnya Kinan keluar dengan rambut basahnya yang di biarkan begitu saja. Tidak luoa dengan handuk yang melilit di tubuhnya hingga memperlihatkan tubuh kekarnya.


"Itu pakaiam kakak. Haritu tertinggal di sini. Kakak kenakan saja, itu juga bisa kakak kenakan ke kantor" ucap Rissa sambil melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


"Baik, Bos" ucap Kinan singkat lalu mengenakan pakaiannya setelah melihat Rissa masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai mengenakan pakaiannya Kinan langsung pergi dari salon Rissa. Dia pergi dengan terburu buru karna mengingat ada rapat penting pagi ini. Rissa yang baru keluar dari kamar mandi melihat kamarnya telah kosong dan tidak ada jejak Kinan lagi di sana.


"Mungkin kakak sudah pergi" gumam Rissa sambil berjalan mendekati lemari pakaiannya.


Tapi, saat melewati meja riasnya dia melihat ponsel kinan yang tertinggal. Ntah mengapa rasa kepo Rissa tiba tiba bangkit. Dia mencoba mendekati ponsel Kinan dan melihat ada pesan masuk yang belum di baca.


Degh....


Jantung Rissa langsung berdetak kencang ketika membaca pesan singkat yang baru di kirim oleh seseorang yang sangat dia kenal. Tak terasa air mata Rissa kembali menetes ketika membaca pesan mesra itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2