Dibalik Diamnya Seorang Istri

Dibalik Diamnya Seorang Istri
Part 50


__ADS_3

Rissa bersandar lemas di sofa santai yang dia sediakan di ruang salonnya. Dia merasa bosan karna tidak ada pelangan yang yang datang berkunjung ke salonnya. Ingin sekali dia menghubungi Zhia untuk bergosip bersama. Tapi, sayangnya ponselnya masih di sita oleh Kinan karna pesan singkat yang di kirim Wildan kepadanya.


"Huff! Kenapa ya nasibku sial banget? Ketika aku mendapatkan jalan untuk melupakan Kak Kinan malah Kak Kinan semakin dekat denganku dan membuatku susah move on darinya" gumam Rissa membayangkan nasib cintanya yang menyedihkan.


Di saat Rissa bergulat dengan pikirannya dia melihat sebuah mobil sport mewah berhenti di depan salonnya. Rissa yang penasaran siapa yang berkunjung ke salonnya di malam seperti ini mencoba melihatnya.


"Hai! Apa aku mengangumu?" ucap Wildan tersenyum ramah ketika melihat Rissa berdiri di depan salonnya.


"Tidak! ayo masuk" ucap Rissa tersenyum ramah.


"Terima kasih. Ini ada cemilan untukmu" ucap Wildan memberikan kantongan kresek yang berisikan beberapa cemilan.


"Wah! Terima kasih ya"


"Ia. Kenapa ponselmu tidak bisa di hubungi?"


"Kak Kinan menyinta ponselku" ucap Rissa memelas sambil menghamburkan tubuhnya di sofa.


"Kenapa bisa? Kamu bukan anak kecil lagi. kenapa dia memperlakukanmu seperi ABG saja?"


"Kak Kinan memang seperti itu. Dia terlalu posesif kepadaku dan Zhia. Sudahlah kamu duduk saja di sini. Aku buatkan minum dulu ya" ucap Rissa pergi ke dapur untuk membuat minum kepada Wildan.


Wildan hanya menganguk patuh sambil menatap punggung Rissa yang berjalan menjauhinya. Sambil menunggu Wildan memilih untuk memainkan ponselnya dan Wildan melihat status terbaru dari Siska yang sedang merias penyayi di club tempatnya sering nongkrong bersama.


"Ini bukannya kekasih Kinan yang dia bawa ke acara lelang itu? Tapi, kenapa Kinan membiarkannya bekerja di tempat seperti itu?" batin Wildan terus menatap wajah Sinta yang tersenyum di dalam photo itu.


"Ini minumannya. Silahkan di minum" ucap Rissa meletakkan dua cangkir teh di meja.


"Terima kasih" ucap Wildan gugup sambil mengambil teh buatan Rissa.


"Ada apa? Aku lihat kamu seperti orang kebingungan"


"Tidak! Aku hanya heran saja kenapa Kinan membiarkan kekasihnya bekerja paruh waktu di tenpat seperti ini" jelas Wildan menunjukkan photo status Sinta.

__ADS_1


"Em! Mungkin Kak Sinta sendiri yang menginginkannya" ucap Rissa gugup.


"Tapi, aku perhatikan mereka sepertinya tidak memiliki perasaan satu sama lain. Karna aku melihat di acara lelang itu sikap mereka saling acuh. Tidak memperlihatkan kemesraan sedikitpun"


"Kak Kinan memang seperti itu. Bahkan dia belum pernah pacaran dengan serius. Dia juga belum pernah mengenalkan wanitanya kepada kami. Kak Sinta wanita pertama yang dia perkenalkan kepada kami"


"Sudahlah! Untuk apa kita membicarakan mereka. Lebih baik kita mencari topik pembicaraan yang lain" ucap Wildan mengalihkan pembicaraan.


Wildan mencoba mencari topik pembicaraan yang terdengan lucu di teliga Rissa hingga membuat Rissa tersenyum. Mereka berdua mencoba menceritakan kehidupan mereka sambil bercandaria bersama.


Di kantor Kinan.


Kinan menatap jam tangan yang melingkar di tangannya. Dia melihat jam pulang telah tiba, melihat itu dia mencoba merapikan meja kerjanya bersiap siap untuk pulang. Kinan menatap ponsel Rissa yang dia letakkan di atas mejanya bersama ponselnya.


"Rissa pasti bosan karna tidak memegang ponsel beberapa hari ini. Lebih baik aku mengantarnya, kasihan juga bocah itu" gumam Kinan bangkit dari duduknya bersiap siap untuk pulang.


Saat keluar dari ruangannya Kinan melihat Sinta yang berjalan dengan buru buru. Kinan mencoba mengerutkan keningnya bingung melihat tingkah kekasih kontraknya itu yang berjalan melewatinya tanpa menatapnya sedikitpun.


"Hei! Kamu" teriak Kinan menghentikan langkah Sinta.


"Aku, Bos?" ucap Sinta bingung.


"Tidak! Setan. Ya kamu lah. Jadi siapa lagi" ucap Kinan dengan kesal.


Mendengar ucapan Kinan, Sinta mengaruk kepalanya kesal lalu mencoba melangkah mendekati Kinan.


"Ada apa, Bos? Bukankah jam kerjaku sudah habis?" ucap Sinta.


"Em! Kau mau kemana buru buru seperti itu? Sampai sampai kau mengangapku hantu tak kasat mata" ucap Kinan kesal.


"Maaf, Bos. Aku sedang buru buru karna ada klienku yang meminta aku rias sekarang juga" jelas Sinta berharap bos kulkasnya itu mengizinkannya untuk pergi sekarang juga.


"Kau ada kerjaan sampingan selain di kantor ini?"

__ADS_1


"Ia, Bos. Saya bekerja di Club yang ada di dekat kantor ini untuk merias penyanyi yang ada di sana" jelas Sinta.


"Baiklah! Mari aku antar kebetulan aku juga lewat sana" ucap Kinan mengayunkan langkahnya.


"What's? kesambet setan apaantu bos kulkas?" batin Sinta membulatkan matanya terkejut.


"Apa kau ingin terus terusan berada di sana?" ucap Kinan menatap Sinta yang masih diam mematung.


"I... Ia, Bos" ucap Sinta gugup lalu melangkahkan kakinya mendekati Kinan.


Mereka berdua berjalan melewati lorong kantor dengan diam. Tidak ada kata kata yang keluar dari mulut keduanya sehingga membuat suasana begitu hening. Sesampainya di parkiran Kinan langsung masuk ke mobilnya dan membiarkan Sinta membuka pintu seorang diri.


"Dasar bos kulkas. Tidak ada romatis romantisnya sedikit saja. Apa salahnya membukakan pintu untuk seorang wanita" batin Sinta berdecak kesal sambil membuka pintu seorang diri.


Setelah melihat Sinta duduk nyaman di sampingnya Kinan mencoba melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka berdua saling diam hingga mengakibatkan suasana di penuhi keheningan.


"Besok kita ke rumah Zhia untuk makan malam bersama" ucap Kinan membuka suara.


"Apa? Bukannya perjanjiannya hanya dia acara lelang itu saja?" ucap Sinta membulatkan matanya terkejut.


"Apa kau tidak membaca surat perjanjian yang ku berikan kepadamu? Kita akan tetap menjadi pasangan kekasih di depan Zhia sampai aku menemukan wanita yang tepat untukku" jelas Kinan kesal.


"Maaf! Aku lupa" ucap Sinta cengengesan tanpa dosa.


Mendengar ucapan Sinta Kinan mencoba membuang napasnya kasar sambil menatap gadis cantik di sampingnya. Sinta memang cantik bahkan dia seorang make over terkenal yang di buru banyak pengusaha ternama untuk menjadi perias model mereka. Tapi, Sinta memilih untuk tetap bekerja di kantor Kinan selain gajinya yang cukup besar Sinta juga merasa telah nyaman bekerja di sana.


Untuk merias penyayi di Club malam Sinta hanya memanfaatkannya untuk mengasah ilmunya. Dia ingin mengisi waktu luangnya untuk beraktivitas sekaligus bisa menampah saldo rekeningnya. Sesampainya di Club tempat Sinta bekerja sampingan Kinan mecoba menepikan mobilnya.


"Apa kau yakin bekerja di sini? Apa gaji yang ku berikan tidak cukup untukmu sehingga kau memilih bekerja di tempat seperti ini?" ucap Kinan menatap Club yang di penuhi berbagai macam pria itu.


"Gaji yang bos berikan sangat besar bahkan lebih untukku. Tapi, aku bekerja di sini untuk mengisi waktu luangku di saat libur di kantor saja. Dari pada aku keluyuran tidak jelas dan menghabiskan isi rekeningku kan lebih baik aku bekerja di sini. Selain mengisi waktu luang aku juga bisa menambah saldo rekeningku" jelas Sinta tersenyum penuh semangat.


Mendengar ucapan Sinta, Kinan menatapnya dengan penuh kekaguman. Dia menatap kagum Sinta walaupun sedikit menjengkelkan tapi Sinta adalah sosok wanita yang pekerja keras.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2