Dibalik Diamnya Seorang Istri

Dibalik Diamnya Seorang Istri
Part 67


__ADS_3

Di sebuah club malam Rafi dan Wildan sedang asik berjoget dengan botol minuman di tangan mereka. Biasanya mereka melakukan rutinitas itu berempat bersama Rayyan dan Ardiyan. Tapi kini Rayyan dan Ardiyan telah aibuk dengan kehidupan mereka masing masing dan tidak mau lagi melakukan kebiasaan buruk mereka.


"Hai Wil! Apa kau juga nanti akan seperti Ardiyan dan Rayyan? Lihat mereka mereka tidak pernah lagi mau bersenang senang bersama kita" ucap Rafi duduk di sofa karna merasa kepalanya mulai berat.


"Aku tidak akan pernah mau di perbudak oleh yang namanya cinta. Aku lebih baik hidup seorang diri dan berkencang dengan wanita mana saja sesuka hatiku" ucap Wildan menghampaskan tubuhnya di sofa tepat di sampijng Rafi.


"Apa kau yakin? Aku tidak yakin denganmu"


"Aku sangat yakin"


"Apa karna kini Rissa lebih memilih Kinan makanya kau tidak mau mengenal yang namanya cinta?"


"Ha...ha... Tidak! Aku juga tidak tau, aku tidak merasakan kekecewaan sedikitpun ketika mengetahui Rissa lebih memilih Kinan dari pada diriku. Apa memang aku sama sekali tidak mencintainya?"


"Kau memang tidak pernah mencintai wanita manapun. Bagimu wanita itu hanyalah sebuah mainan yang layak untuk di mainkan. Tapi untung saja Kinan langsung menikungmu sebelum kau benar benar menjalin hubungan dengan Rissa. Jika tidak aku jamin hidupmu akan berhenti saat itu juga" ucap Rafi mengingat bagaimana kekejaman Kinan jika adik adiknya di sakiti.


"Kamu benar! Jika aku menyakiti Rissa sedikit saja aku yakin Kinan akan sangat murka. Tapi, bukan itu yang aku takutkan" ucap Wildan tersenyum kecil.


"Apa?"


"Kemurkaan Zhia. Jika Zhia sudah murka pasti Rayyan dan Kinan ada di belakannya. Jika Zhia sudah memerintahkan maka Rayyan dan Kinan tidak akan pernah bisa menolaknya. Kalau Kinan yang murka aku tidak takut karna lawanku hanya dia. Tapi, jika Zhia yang murka lawanku bukan hanya dia tapi kedua singanya sekaligus" ucap Wildan tersenyum kecil mengingat bagaimana tunduknya Kinan dan Rayyan kepada Zhia.


"Kau memang benar. Zhia memang sangat hebat dapat menjinakkan dua singa sekaligus"


"Sudahlah! Lebih baik kita bersenang senang saja. Lupakan cinta lupakan wanita. Kita hidup hanya untuk bersenang senang" ucap Wildan kembali meminum anggur merah di tangannya.


"Ha...ha... Aku harap kau bisa memegang ucapanmu itu" ucap Rafi mengeleng kecil sambil menengak segelas anggur di tangannya.


Saat Wildan sedang asik meminum anggur merah di tangannya tiba tiba matanya teralih ke arah ruang rias penyayi di cafe itu. Wildan menatap seorang wanita cantik yang sedang pokus merias kliennya itu. Tiba tiba raut wajah Wildan berubah, dia terus saja tersenyum sambil menatap ciptaan Allah yang sangat sempurna itu.

__ADS_1


"Pelayan!" teriak Wildan memangil pelayang yang sedang melayani tamunya.


"Saya, Tuan" ucap pelayan itu menunduk hormat.


"Kau berikan bungga ini kepada mae over itu" ucap Wildan mengambil setangkai bungga mawar putih yang ada meja.


"Tapi itu bunga untuk hiasan meja ini, Tuan. Nanti bos marah" ucap pelayan itu.


"Apa kau lupa siapa saya? Apa perlu aku berbicara dengan bosmu itu?" ucap Wildan menatap tajam pelayan itu.


"Ba...baik, Tuan" ucap pelayan itu langsung menunduk pucat lalu melangkahkan kakinya mendekati Sinta.


"Permisi! Sin ada titipan mawar ini untukmu" ucap pelayan itu sambil memberikan bunga mawar pemberian Wildan.


"Dari siapa?" ucap Sinta mengerutkan keningnya binggung.


Sinta mencoba melihat pria yang di tunjukkan pelayan itu. Bukannya senang Sinta malah menayap sinis Wildan yang sedang melambaikan tangannya kepadanya.


"Dasar pria gila" gumam Sinta lalu melemparkan bunga pemberian Wildan ke tong sampah.


"Kenapa di buang, Sin?" ucap pelayan itu binggung melihat Sinta yang menolak secara langsung pengusaha sukses seperti Wildan.


"Maaf! Aku tidak mau menerima barang bekas" ucap Sinta santai lalu melanjutkan aksinya.


"Jangan terlalu memnenci, Sin. Lama lama bencimu itu jadi cinta. Lagian apa yang kurang dari dia? Dia tampan, sukses, dan mapan. Bahkan banyak wanita di club ini mengantri agar bisa berkencang dengannya" ucap wanita yang sedang Sinta rias.


"Amit amit aku suka sama pria yang gila lubang seperti dia. Tampan dan kesuksesan tidak menjamin semuanya. Untuk apa punya kekasih tampan dan kaya tapi kita punya banyak saingan yang dia sembunyikan. Aku tidak bisa mempercayai pria tampan dan kaya, bagiku mereka mendekati kita hanya untuk jadi mainannya saja" ucap Sinta mengingat kelakuan Bram yang meninggalkannya begitu saja.


"Apa kamu masih mencintai mantanmu si Bram itu? Ingat Sin, kamu harus move on. Jangan sampai dia meremehkanmu karna dia tau kamu belum bisa melupakannya" ucap wanita itu.

__ADS_1


"Aku tidak peduli dengannya. Lagian aku sudah melupakannya dan mengangapnya sebagai sampah di masa lalu. Aku belum mau menjalin hubungan lagi dengan pria bukan karna aku masih mencintainya. Tapi, aku hanya ingin menguji pria yang ingin mendekatiku" ucap Sinta tegas.


"Maksudmu?"


"Aku ingin mengetahui apa dia benar benar mencintaiku atau tidak. Jika memang dia mencintaiku maka dia akan terus berusaha untuk mendapatkanku. Tapi, jika dia hanya ingin mempermainkanku pasti dia akan langsung menyetah tanpa ada usaha sedikitpun. Kita itu sebagai wanita harus punya harga diri. Jangan mau di anggap gampangan oleh pria" ucap Sinta menatap sinis Wildan yang terus menatapnya.


"Terserahmu, Sin. Tapi, aku hanya ingin mengatakan jangan sampai kau menyesal di belakangan hari" ucap wanita itu sambil memeriksa hasil riasan Sinta dari pantulan cermin.


"Aku tidak akan pernah menangisi pria yang tidak mau memperjuangkanku. Karna bagiku wanita itu di perjuangkan bukan memperjuangkan" ucap Sinta cuek sambil menyimpan barang barangnya karna pekerjaannya sudah selesai.


"Terserah padamu, Sin. Jika kau tidak mau apa boleh aku mendekatinya?"


"Tentu saja!" ucap Sinta tersenyum manis.


"Ha... Ha... Aku ini tidak gila. Bagaimana mungkin aku mendekatinya jika dia menginginkanmu"


"Sudah ya! Aku pulang dulu. Aku sangat lelah, mau bobok cantik" ucap Sinta melangkahkan kakinya keluar dari ruang rias itu.


"Ok! Besok aku kasih kamu tips. Karna hasil tanganmu tidak pernah mengecewakanku"


"Baiklah! Aku tunggu"


"Ok!"


Sinta mencoba melangkahkan kakinya keluar di club itu. Tapi, saat di luar dia tiba tiba di hentikan oleh pria dan membawanya pergi.


"Siapa kau?"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2