
Setelah selesai memberikan beasiswa kepada para mahasiswa yang berprestasi para donatur mencoba untuk keluar dari gedung pertemuan di kampus itu. Tidak lupa pemilik kampus mengucapkan banyak terima kasih karna mereka semua telah menyempatkan waktu mereka untuk pertemuan itu. Setelah para donatur kembali ke tempat tujuan mereka masing masing, Ardiyan malah berkeliling kampus untuk mencari keberadaan bidadarinya.
Hingga akhirnya Ardiyan melewati ruang kelas Nur. Dia melihat Nur sedang pokus belajar mendengarkan ilmu yang di berikan dosen yang sedang membimbingnya. Ardiyan mencoba bersender di dekat pintu dimana dia bisa melihat Nur dengan jelas.
"Ya Allah, indahnya ciptaanmu ya satu itu. Andai saja aku bisa menyentuhnya sedikit saja" gumam Ardiyan sambil menatap kagum Nur.
Tanpa Ardiyan sadari tingkahnya yang mengintip Nur saat belajar membuat suasana kelas Nur menjadi heboh. Para chiby chiby bersorak ria ketika melihat ketampanan Ardiyan yang sangat mempesona. Dosen yang menyadari kehebohan mahasiswinya mencoba mencari sumber kericuhan itu.
Hingga akhirnya mata Dosen yang membimbing Nur tertuju ke seorang pria tampan yang sedang berdiri di depan pintu. Sama seperti mahasiswi lainnya Dosen wanita itu juga terpesona akan ketampanan Ardiyan. Tapi, dia berusaha menyembunyikannya lalu berjalan dengan angunnya mendekati Ardiyan.
"Ehem! Maaf ada yang perlu saya bantu, Tuan?" ucap Dosen itu mencoba menegur Ardiyan.
"Hem! Tidak ada" ucap Ardiyan terkejut ketika melihat Dosen itu tiba tiba ada di sampingnya.
"Lalu kenapa anda berdiri di sini?" ucap Dosen itu mengerutkan keningnya.
"Tidak apa apa. Saya hanya ingin melihat bidadari saya yang sedang mencari ilmu di ruang kelas ini" uca Ardiyan mencoba menatap Nur dan melambaikan tangannya sehingga membuat seisi kelas menatap ke arah Nur.
"Sayang belajar yang rajin ya. Aku pulang dulu" ucap Ardiyan dengan pedenya sambil melayangkan senyuman termanisnya.
"Wau... Nur lho keren bangets. Cowok lho sangat tampan" teriak para chiby chiby menatap ke arah Nur.
"Adai gue jadi lho, Nur. Gue pasti sangat bahagia"
"Ia, lho sangat beruntung. Sudah bekerja di rumah pria tampan seperti Tuan Rayyan yang memiliki sejuta pesona. Sekarang lho malah mempunyai pacar yang tidak jauh mengoda dari Tuan Rayyan" ucap salah satu mahasiswi yang mengetahui pekerjaan Nur sebagai pembantu di kediaman Rayyan.
"Wahh... jika waktu bisa di ubah, gue maunya jadi lho Nur. Lho beruntung banget di kelilingi cowok cowok tampan"
Begitulah para chiby chiby menatap kagum sekaligus cemburu kepada Nur. Melihat suasana kelas yang menjadi ricuh seketika Dosen wanita itu langsung menatap tajam Ardiyan. Tanpa ada rasa bersalah Ardiyan malah cengengesan tanpa dosa.
"Sudah! Saya permisi dulu. Titip bidadari saya" ucap Ardiyan mencoba mengayunkan langkahnya meninggalkan kelas yang sangat ricuh itu.
__ADS_1
Dosen itu hanya mampu menghela napasnya kasar tanpa bisa berkata kata. Dia mencoba menenangkan para mahasiswinya lalu kembali melanjutkan pelajarannya.
Bukannya kembali ke kantor Ardiyan malah memilih menunggu Nur di dalam mobilnya. Dia melihat jam pulang Nur sebentar lagi, dia tidak mau menyianyiakan waktu agar bisa berdua dengan pujaan hatinya itu.
Setelah tiga puluh menit menunggu akhirnya Ardiyan melihat Nur keluar dari kampus seorang diri. Tidak mau membuang buang waktu Ardiyan keluar dari mobilnya lalu mencoba mendekati Nur. Nur yang melihat Ardiyan masih berada di kampusnya mencoba mengerutkan keningnya binggung.
"Kak Ardiyan belum pulang?" ucap Nur gugup.
"Belum. Kakak sedang menunggu bidadari kakak. Ayo kita pulang bersama" ucap Ardiyan tersenyum manis sehingga membuat wajah Nur merah merona.
Melihat sikap Nur yang malu malu Ardiyan mencoba menarik hidungnya gemas. Ingin rasanya dia memakan Nur hidup hidup tapi, dia harus mengontrol dirinya karna wanita di depannya bukan wanita sembarangan.
"Ayo" ucap Ardiyan mengayunkan langkahnya menuju mobilnya.
Melihat Ardiyan yang telah melangkah Nur mencoba mengikuti langkah Ardiyan. Ardiyan dengan romantisnya membukakan pintu untuk Nur dan mencoba meletakkan tangannya di atas kepala Nur agar tidak terbentur. Setelah memastikan Nur telah duduk dengan nyaman Ardiyan mencoba menutup pintu mobil lalu, masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku pengemudi.
Ardiyan menatap Nur yang duduk di sampingnya sambil melayangkan senyumannya. Ardiyan mencoba mendekatkan tubuhnya kepada Nur sehingga membuat Nur terkejut.
Bukanya menjawan Ardiyan malah tersenyum sambil mengerakkan tangannya mencoba menyentuh Nur.
"Kakak hanya ingin memasang sabuk pengamanmu" ucap Ardian tersenyum sambil menatap kagum kecantikan Nur dari dekat.
Mendengar ucapan Ardiyan wajah Nur langsung merona karna dia salah duga dengan Ardiyan.
"Kenapa? Apa kamu mengira aku akan menciummu? Jika boleh aku akan melakukannya" ucap Ardiyan tersenyum mengoda sambil memasang sabuk pengaman Nur.
"Lebih baik kita pulang saja. Nanti Nyonya Zhia mencariku karna telambat pulang" ucap Nur menyembunyikan rasa kegugupannya.
"Baiklah, Tuan Putri. Tapi, kita makan siang dulu ya. Lihat jam makan siang telah tiba. Biar aku nanti yang mengurus Nyonya Zhia" ucap Ardiyan tersenyum sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Ardiyan terus menatap Nur yang sedang menatap ke arah kaca jendela. Setelah mengetahui perjalanan hidup Nur yang penuh perjuangan, Ardiyan merasa sangat kasihan kepada wanita yang telah berhasil mengisi hatinya itu. Nur harus menghadapi berbagai cobaan hidup seorang diri. Bahkan di saat dia ingin terbang bebas dia malah memikul beban berat untuk menafkasi ibunya yang sedang sakit sakitan di kampung.
__ADS_1
Nur memang sangat beruntung karna bisa bertemu Zhia saat pertama kali menginjak kota yang sangat kejam itu. Selain bisa melanjutkan kuliahnya dia juga bisa bekerja paruh waktu di rumah Zhia untuk membiayai ibunya di kampung.
Ardiyan mencoba membawa mobilnya ke perkarangan restoran bintang lima. Melihat restoran megah di depannya Nur mencoba membulatkan matanya menatap kagum kemegahan restorant itu.
"Kita ngapain ke sini, Kak? Pasti harganya sangat mahal. Lebih baik kita makan di wartek depan saja" ucap Nur dengan polosnya.
"Untukmu tidak ada yang mahal di dunia ini" ucap Ardiyan tersenyum manis lalu merangkul pingang Nur dan berjalan memasuki restorant itu.
Ardiyan memilih ruangan VVIP untuk makan siang bersama Nur. Ardiyan tau jika Nur belum pernah makan di restorant mewah seperti ini. Jika dia mengambil meja di keramaian pasti Nur akan merasa tidak nyaman
Ardiyan dan Nur duduk berhadapan. Nur terus menatap ke seluruh sudut ruangan yang tertutup itu dengan perasaan tidak menentu. Nur merasa sangat gugup karna ini pertama kali baginya berada di satu ruangan bersama seorang pria. Apalagi pria di depannya sangat tampan dan memiliki sejuta pesona hampir sama dengan bosnya Rayyan.
"Kamu tidak perlu gugup seperti itu. Aku tidak akan memakanmu" ucap Ardiyan tersenyum.
Hingga akhirnya beberapa pelayan masuk ke ruangan mereka sambil membawa pesanan mereka. Pelayan itu menata makanan dan minuman yang Ardiyan pesan di atas meja. Setelah selesai melakukan tigasnya pelayan itu mencoba pamit undur diri.
"Bagaimana cara makannya ini?" batin Nur melihat steak di depannya.
"Ayo makan" ucap Ardiyan mencoba memotong steak miliknya.
Nur mencoba melihat cara makan Ardiyan. Dia mencoba mengambil pisau dan garpu sesuai dengan yang di lakukan Ardiyan. Nur mencoba memotong steak miliknya dengan susah payah. Melihat Nur yang kesusahan Ardiyan mencoba melayangkan senyuman manisnya.
"Kamu makan yang ini saja" ucap Ardiyan memberikan piring yang berisi steaknyang telah dia potong potong.
"Terima kasih, Kak" ucap Nur menerima piring pemberian Ardiyan lalu mencoba memasukkan satu persatu potongan steak itu ke mulutnya.
"Wah! Rasanya enak sekali, Kak. Pantas saja harganya sangat mahal" ucap Nur sambil melahap steak itu dengan lahapnya.
Melihat tingkah Nur yang sangat mengemaskan di matanya, Ardiyan mencoba melayangkan senyumannya. Dia menatap Nur yang sedang makan dengan lahap di depannya sambil tersenyum bahagia.
Bersambung....
__ADS_1