
Di pagi hari seperti biasa Zhia akan sibuk dengan alat masaknya di bantu oleh Nur. Kedua wanita cantik itu dengan sibuk bergulat dengan alat masak sambil bercandaria bersama. Nur menatap kagum Zhia yang sangat baik bahkan mengangapnya seperti adik kandungnya sendiri.
Memang semua pelayan di rumah Rayyan akrab dengan Zhia. Bahkan Zhia sering mengajak para pelayan bersantai dan mengobrol bersama. Zhia memang sangat baik kepada semua pelayannya sehingga seluruh pelayan di sana merasa sangat nyaman bekerja bersama Zhia. Bahkan para pelayan tidak merasa iri akan kedekatan Nur dengan Zhia.
"Bagaimana kuliahmu, Nur?" ucap Zhia membuka suara.
"Allhamdullillah, Nyonya. Kuliahku lancar, bahkan aku baru mendapatkan pencairan beasiswa" ucap Nur sambil mengaduk masakannya.
"Syukurlah! Kamu belajar yang rajin ya. Buktikan jika kamu bisa sukses dengan kerja kerasmu sendiri. Buat ibumu bangga kepadamu"
"Terima kasih, Nyonya. Aku bisa melanjutkan kuliahku karna dorongan dari nyonya"
"Aku hanya membantumu, yang memengang kunci kesuksesanmu hanya dirimu" ucap Zhia tersenyum.
"Oh, ia! Tuan Rayyan menjadi donatur di kampus saya ya, Nyonya?" ucap Nur mengingat keberadaan Ardiyan di penyerahan beasiswa kemarin.
"Mungkin! Rayyan memang banyak memberikan donasi pada kampus kampus yang menerima beasiswa untuk orang yang tidak mampu"
"Pantas saja kemarin aku melihat Tuan Ardiyan di kampus"
"Em! kalau boleh aku tau kamu ada hubungan apa dengan Ardiyan?" ucap Zhia karna memperhatikan gerak gerik Nur yang berubah saat bertemu Ardiyan.
"Em! Kenapa nyonya bertanya seperti itu" ucap Nur menunduk malu dengan wajah merah merona karna mendengar nama Ardiyan.
Melihat sikap Nur, Zhia dapat menebak jika ada hubungan spesial antara Nur dan Ardiyan. Zhia mencoba membuang napasnya kasar lalu berjalan mendekati Nur.
"Kamu boleh menjalin hubungan dengan lawan jenismu. Tapi, kamu harus mengingat kuadratmu sebagai wanita. Wanita itu bagaikan berlian yang terpajang indah yang hanya orang tertentu bisa mendapat dan juga menyentuhnya" ucap Zhia menatap lekat wajah Nur.
"Jangan pernah menyianyikan kecantikanmu hanya untuk seorang pria yang tidak bisa menghargaimu. Jangan pernah kau rendahkan dirimu sendiri, Nur. Jangan gampang membuka hati kepada setiap pria, jika kamu ingin membuka hati pastikan dulu jika pria itu juga mencintaimu" ucap Zhia tersenyum manis.
__ADS_1
"Terima kasih, Nyonya. Nyonya sudah seperti kakak kandungku yang mau menasehati dan juga membinmbingku dengan penuh kesabaran" ucap Nur menatap lekat wajah cantik Zhia.
"Aku melakukan ini karna aku tidak ingin kamu mengalami hal yang sama sepertiku. Rasanya sangat sakit jika dirimu tidak di hargai oleh pasanganmu" ucap Zhia mengingat perlakuan Rayyan dulu.
"Tapi, sekarang nyonya sudah bahagia dan tuan juga sudah menyesal dan mau berubah. Malah sekarang tuan sangat menyayangi nyonya dan memperlakukan nyonya seperti seorang ratu"
"Ia! Aku bersyukur karna kesabaranku selama ini berbuah manis. Aku dan Rayyan kini hidup bahagia setelah mengahadapi cobaan yang sangat besar. Aku berharap kamu tidak pernah mengalami apa yang aku alami selama ini"
"Aamiin" ucap Nur memeluk Zhia dengan penuh kasih sayang.
"Kalian mau memasak atau mau bergosip?" ucap Kinan tiba tiba datang.
"Kakak ngangu acara saja. Kami sedang membahas urusan wanita" ucap Zhia memayunkan bibirnya manja.
"Lama lama bibirmu itu kakak ikat ya. Maju terus" ucap Kinan menarik hidung mancung Zhia.
"Aw! Kakak" ucap Zhia membalas menarik hidung Kinan.
"Rayyan mana? Apa dia masih tidur?" ucap Kinan belum melihat Rayyan pagi ini.
"Mungkin! Ya sudah aku akan membangunkannya dulu ya. Biar kita sarapan bersama" ucap Zhia bangkit dari duduknya lalu mencoba mengayunkan langkahnya.
Tapi, saat Zhia hendak melewati pintu dapur dia kembali berbalik arah lalu menatap Kinan yang sedang menatap Nur. Zhia yang tau dengan sikap Kinan yang pantang melihat wanita cantik mencoba untuk berbalik arah ke mendekati Kinan.
"Aw! Sakit, Zhi" ucap Kinan ketika Zhia menarik telinganya.
"Kakak ini pantang melihat wanita bening sedikit saja. Mata keranjangnya langsung terlihat jelas. Aku harus membersihkan pikiran kakak agar tidak berisi pikiran mesum semuanya" ucap Zhia mencoba membawa Kinan keluar dari dapur.
"Kakak hanya sedang mencari kakak ipar yang tepat untukmu. Jadi wajar saja jika kakak melihat wanita wanita cantik dan montok seperti Nur" ucap Kinan mencoba membela diri.
__ADS_1
"Tapi kakak sudah memperkenalkan Sinta kepadaku? Apa kakak membohongiku saat itu?" ucap Zhia menatap Kinan dengan tatapan penuh selidik.
"Itu.. Itu! He..he... Sudahlah kamu bangunkan saja kebo yang masih tertidur itu. Kakak mau mandi dulu" ucap Kinan mengambil langkah seribu untuk menyelamatkan diri dari pertanyaan pertanyaan Zhia yang akan menjadi petaka buat dirinya sendiri.
"Kakak! Aku belum selesai" teriak Zhia ketika melihat Kinan sudah menjauh darinya.
Zhia hanya mampu membuang napasnya kasar ketika melihat Kinan telah menjauh. Tidak punya pilihan lain Zhia mencoba mengayunkan langkahnya menuju kamar utama. Ketika membuka pintu Zhia melihat Rayyan masih betah mengulung di bawah selimutnya.
"Ray, ayo bangun" ucap Zhia mencoba menarik selimut Rayyan.
Rayyan mencoba membuka matanya lalu merengangkan otot ototnya. Rayyan mencoba bangkit lalu memeluk erat pinggang Zhia yang sedang berdiri di tepi Ranjang. Rayyan mencoba menciumi perut buncit Zhia lalu menenggelamkan wajahnya di sana.
"Apa kamu sudah memaafkanku, Sayang?" ucap Rayyan menatap lekat wajah Zhia.
"Tidak! Aku tidak bisa memaafkanmu begitu saja" ucap Zhia tegas tidak mau melihat wajah Rayyan.
"Kau sudah menghukumku semalam. Apa hukuman itu tidak cukup. Bahkan tubuhku rasanya sangat sakit sampai sekarang. Apa kamu tidak kasihan kepada suamimu ini?" ucap Rayyan memasang wajah memelasnya.
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu memaafkanku" ucap Rayyan tegas lalu mengeratkan pelukannya.
"Ray, aku mau mandi. Lihat tubuhku masih bau bumbu dapur"
"Baiklah! Kita mandi bersama. Tapi sebelum itu kita memberi vitamin kepada anak kita terlebih dulu" ucap Rayyan tersenyum nakal lalu membaringkan tubuh Zhia di atas ranjang.
"Ray!" ucap Zhia ketika Rayyan mencoba mengukung tubuhnya.
"Kamu diam saja, Sayang. Aku akan melakukannya dengan hati hati" ucap Rayyan mulai melancarkan aksinya.
Rayyan mencoba menyentuh tubuh Zhia dengan penuh kelembutan. Dia melakukan tugasnya dengan sangat baik dan juga hati hati agar tidak mengangu perkembangan janin Zhia. Setelah melakukan pergulatan panas bersama Rayyan mencoba membawa tubuh Zhia kedalam gendongannya. Rayyan membawanya tubuh Zhia kedalam kamar mandi untuk melakukan ritual mandi bersama.
__ADS_1
Rayyan mencoba membantu Zhia untuk membersihkan tubuhnya sambil mencoba mengoda Zhia dengan sikap jahilnya. Zhia mencoba tertawa terbahak bahak ketika Rayyan mengelitik perutnya. Hingga akhirnya ruangan kamar mandi itu di penuhi suara gelak tawa keduanya.
Bersambung....