Dibalik Diamnya Seorang Istri

Dibalik Diamnya Seorang Istri
Part 49


__ADS_3

Kinan turun tangan secara langsung untuk memberi pelajaran kepada Jefri yang telah mengusik adik kesayangannya. Kinan menarik seluruh saham yang dia tanam di perusahaan Jefri sehingga perusahaan Jefri bangkrut seketika.


Bukan hanya itu Kinan juga menjebloskan Jefri ke dalam penjara atas tuduhan kekerasan karna telah berani melukai Zhia.Tapi, sebelum itu Kinan terlebih dulu menyiksa Jefri dengan tangannya sendiri. Dia menjadikan tubuh Jefri sebagai bantalan tinju sehingga membuat tubuh Jefri babak belur sampai tidak di kenali lagi.


Mendengar berita kebangkrutan dan pengkapan Jefri, Ramlan mencoba untuk mendatangi Kinan di kantornya agar dia tidak terkena imbas atas perbuatan Jefri dan Enjel.


"Kinan! Aku ingin bicara" ucap Ramlan dengan wajah pucat ketakutan ketika melihat wajah menyeramkan Kinan.


"Apa kau juga ingin seperti dia?" ucap Kinan mengeraskan rahangnya.


"A..ampun! A.. Aku tidak tau apa apa. Aku juga tidak mengerti kenapa pria brengsek itu berani menyentuh Nyonya Zhia" ucap Ramlan bersimpuh meminta ampun.


"Bagaimana kau tidak tau jika kejadian itu terjadi di wilayahmu?"


"Aku benar benar tidak tau, Tuan. Tapi, aku sudah menemukan siapa dalang dibalik semua ini" ucap Ramlan memberikan sebuah flashdisk yang berisi rekaman cctv yang dia ambil di gedung pesta itu.


Kinan mencoba mengambil flashdisk itu lalu menghubungkannya ke leptopnya. Dari sana Kinan dapat melihat aksi Enjel yang menawarkan Zhia kepada Jefri. Bahkan Enjel juga yang mengatur agar Jefri dapat melakukan aksi bejatnya, dengan cara mengosongkan ruangan itu dan menyogok penjaga yang bertugas di ruangan itu.


"Sial! Wanita itu memang cari mati" ucap Kinan mengepalkan tangannya geram.


"Jika kau ingin selamat maka kau harus menyeret wanita itu kehadapanku" ucap Kinan menatap tajam Ramlan yang terus bersimpuh di hadapannya.


"Ba..baik! Aku akan segera mencari wanita itu dan membawanya kehadapanmu" ucap Ramlan semangat.


"Lebih baik kau pergi sekarang dari pada kau akan menjadi sasaran kemarahanku"


Mendengar ucapan Kinan, Ramlan langsung bangun lalu mengambil langkah seribu sebelum Kinan berubah pikiran. Ramlan mencoba menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaan Enjel di seluruh penjuru kota. Dia harus bertindak cepat jika tidak sudah di pastikan kehidupannya akan terancam di tangan Kinan dan Rayyan.

__ADS_1


Sepeninggalan Ramlan, Kinan mencoba menemui Rayyan di kantornya untuk memastikan jika dia telah mencari keberadaan Enjel. Dia menatap bangunan kokoh di depannya yang lebih mewah dan megah dari perusahaannya. Kinan mencoba melangkahkan kakinya menuju ruangan Rayyan dengan begitu arogantnya.


"Ada setan apa sehingga kau menginjakkan kakimu di sini?" ucap Ardiyan mengerutkan keningnya binggung melihat kedatangan enjel.


"Ada malaikat maut yang ingin mengambil nyawamu" ucap Kinan datar tanpa ekspresi.


"Galak amat! Pantas adik adiknya laku terlebih dulu" gumam Ardiyan melihat tatapan elang Kinan.


"Tidak usah bergumam di depanku. Aku bisa mendengar apa yang kau katakan" ucap Kinan melemparkan tatapan elangnya sehingga membuat Ardiyan diam tidak berkutik.


"Dimana Rayyan?" ucap Kinan kembali.


"Bos ada di ruangannya" ucap Ardiyan menelan ludahnya kasar melihat manusia menyeramkan di depannya.


Mendengar ucapan Ardiyan, Kinan mencoba melangkahkan kakinya meninggalkan Ardiyan yang masih terdiam menatapnya.


"Huff! Mereka berdua sama saja. Bisa memiliki dua sifat sekaligus, kadang menyeramkan bagaikan singa yang siap menyerang kadang seperti kucing imut yang sangat mengemaskan" gumam Ardiyan menatap kepergian Kinan.


"Baiklah! Saya yang akan ke sana. Kamu siapkan berkas yang harus di bawa" ucap Ardiyan.


"Baik, Tuan" ucap sekertaris itu menunduk hormat lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Ardiyan.


Ardiyan mencoba kembali ke ruangan Rayyan untuk meminta izin. Karna jika dia tidak memberitau Rayyan, Ardiyan takut Rayyan akan mencarinya dan menjadikannya sasaran kekesalannya karna belum menemukan Enjel.


Setelah mendapatkan izin dari Rayyan, Ardiyan langsung menuju ke universitas yang mereka tanam saham untuk memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang berprestasi dan tidak mampu. Rayyan memang terkenal dengan jiwa sosialnya yang selalu membantu orang orang yang kesulitan.


Bahkan Rayyan juga mempunyai panti asuhan dan juga panti jompo untuk menampung anak anak jalanan dan juga pengemis yang tidak mempunyai tempat tinggal. Tidak menunggu lama akhirnya mobil yang di kendarai Ardiyan sampai di perkarangan kampus ternama yang di penuhi mahasiswa berprestasi.

__ADS_1


Walaupun kampus itu kampus yang ternama dan terkenal mahal tapi, banyak mahasiwa yang tidak mampu kuliah di sana karna beasiswa. Ardiyan mencoba menatap keramaian mahasiswa yang berlalu lalang di area kampus itu. Tiba tiba mata Ardiyan tertuju pada seorang mahasiswi yang berjalan memasuki kampus dengan tergesa gesa.


"Itu bukannya...? Tapi, sedang apa dia di sini?" batin Ardiyan menatap gadis cantik yang berpenampilan polos itu.


"Mungkin aku hanya salah lihat saja. Lebih baik aku masuk sekarang" gumam Ardiyan menepis pikirannya lalu melangkahkan kakinya memasuki kampus.


Melihat kedatangan Ardiyan meneger kampus itu langsung menyambutnya dengan hangat. Ardiyan juga melihat para pengusaha pengusaha ternama yang ikut menjadi donatur kampus itu. Ardiyan mencoba bergabung dan berbincang bincang hangat dengan para donatur yang hadir di sana.


"Aku dengar istri Rayyan mengalami hal yang tidak senonoh di pesta lelang itu. Apa benar?" ucap salah satu donatur yang mendengar kejadian yang menimpa Zhia


"Walaupun benar itu terjadi aku yakin jika pria itu yang mencari masalah. Aku tau seperti apa Nyonya Zhia dia bukan tipe wanita rendahan. Jadi tidak mungkin dia mengoda pria itu duluan" ucap salah satu donatur yang tau betul bagaimana sifat Zhia.


"Aku setuju denganmu. Nyonya Zhia adalah wanita terhormat dan juga berhati mulia. Sudah pasti ada orang yang berniat jahat kepadanya sehingga kejadian yang menjijikkan itu terjadi kepadanya"


Mendengar ucapan para donatur itu Ardiyan tersenyum tipis. Dari sana dia tau jika nama Zhia sangat bersih dan tidak ada noda sedikitpun. Dengan seketika Ardiyan semakin kagum dengan sosok Zhia yang selalu bisa menjaga nama baiknya dan juga suaminya.


Setelah selesai berbincang bincang mereka berkumpul di gedung pertemuan untuk memberikan beasiswa kepada mahasiswa/ mahasiwi yang berpretasi di semester ini. Ardiyan menatap begitu banyak mahasiswa/ mahasiswi yang duduk di depannya.


Hingga akhirnya mata Ardiyan tertuju pada sosok gadis yang dia temui di luar gedung kampus tadi. Ardiyan mencoba mengucek matanya karna tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Apa yang kulihat ini nyata atau pikiranku yang sudah gila" batin Ardiyan terus menatap wanita itu.


"Apa anda melihat gadis itu, Tuan?" ucap salah satu dosen yang melihat tingkah Ardiyan.


"Ia, siapa gadis itu?" ucap Ardiyan tidak mau terus terusan penasaran.


"Dia Nur, Tuan. Mahasiswa yang kami undang untuk menjadi mahasiswi kami karna prestasinya yang sangat bagus" jelas dosen itu tersenyum kagum atas kepintaran dan kerja keras Nur.

__ADS_1


"Jadi dia mahasiswi di kampus ini? Bukan hanya cantik dan baik. Tapi, dia juga pintar. Memang calon istri idaman" batin Ardiyan tersenyum menatap Nur yang juga menatap ke arahnya.


Bersambung....


__ADS_2