Dibalik Diamnya Seorang Istri

Dibalik Diamnya Seorang Istri
Part 72


__ADS_3

Di pagi hari yang sangat cerah Kinan telah menyiapkan kejutan romantis untuk Rissa. Sama seperti suasan pagi yang sangat cerah, hati Kinan juga sangat bahagia sehingga senyuman indah selalu terpancar di wajahnya. Dia menatap sebuket bunga yang telah di beli di toko sambil membayangkan senyuman Rissa saat mendapatkan hadiah darinya.


Sesampainya di perkarangan salon Rissa, Kinan mencoba menepikan mobilnya dan melihat salon Rissa yang masih tertutup rapat. Kinan mencoba melirik jam tangannya dan melihat jam masih jam enam kurang.


"Apa aku yang terlalu semangat ya. Pagi pagi sudah menemui calon istriku, pasti Rissa masih tidur" gumam Kinan menyadari kebodohannya pagi pagi buta sudah berkunjung.


Kinan yang memiliki kunci cadangan toko Rissa langsung membuka pintu lalu berjalan menuju kamar Rissa. Benar saja Rissa masih tertidur pulas di balik selimut tebal yang menutup tubuhnya. Tidak mau berpikir panjang Kinan masuk kedalam selimut Rissa lalu memeluk tubuh Rissa untuk melepaskan kerinduannya.


Arghhh...


Bugh...


Rissa yang tersadar dengan pelukan Kinan tiba tiba menjerit dan menendang tubuh Kinan sekuat tenaganya sehingga jatuh ke lantai.


"Aw! Sayang" pekik Kinan sambil memegang pingangnya yang terasa sakit karna ulah Rissa.


"Kakak! Maaf aku tidak sengaja" ucap Rissa panik sambil mencoba membantu Kinan kembali naik ke atas kasur.


"Kakak sih main peluk peluk saja. Aku kira tadi ada orang yang menyusup dan mau berbuat jahat" ucap Rissa merusaha memijit kecil pinggang Kinan.


"Maaf! Kakak terlalu merindukanmu, Jadi kakak tidak bisa menunggu sebentar lagi" ucap Kinan mencoba membuka sepatu dan juga jasnya.


"Kakak mau ngapaing?"


"Mau melepaskan kerinduan kakak" ucap Kinan tersenyum nakal.


"Kakak!"


"He..he... Kakak becanda. Tolong pijitin pingang kakak, ini karna ulahmu jadi kamu harus tanggung jawab. Pernikahan kita tingal sebentar lagi, kakak tidak mau malam pertama kita tidak menyenangkan karna pingang kakak sakit" ucap Kinan membuka kemejanya lalu membaringkan tubuhnya di ranjang.


"Apa tidak ada yang lain di pikiran kakak selain pikiran mesum?" ucap Rissa kesal karna belakangan ini Kinan selalu saja mengodanya dengan kata kata mesum.


"Apa kamu lupa jika kakak ini calon suamimu? Bukan kakakmu lagi, jadi wajar saja jika kakak mengodamu seperti itu. Dari pada kakak mengoda Zhia"


"Kakak!"


"Aw, sakit sayang" pekik Kinan ketika cubitan kecil melayang ke tubuhnya.


"Maaf! Jangan cemberut seperti itu. Kakak mana berani mengoda Zhia seperti kakak mengodamu. Bisa bisa wajah kakak di penuhi tato biru" ucap Kinan terkekeh kecil.


"Sudah! Kakak jangan banyak bicara" ucap Rissa mencoba memijit kecil pingang Kinan.

__ADS_1


Kinan yang menikmati pijitan Rissa tanpa sadar tertidur pulas. Wajar saja pukul empat shubuh dia sudah bangun untuk menyiapkan kejutan untuk Rissa. Di tambah lagi pijitan Rissa yang sangat nikmat sehingga membuat matanya kembali ingin bermimpi indah.


"Sudah tidur?" ucap Rissa menyelimuti tubuh Kinan lalu berjalan ke kamar mandi.


Rissa mencoba melakukan aktivitasnya di pagi hari. Dia mencoba melakukan ritual mandi pagi lalu membuka salonnya. Semua pekerjaan salon memang Rissa sendiri yang melakukannya. Dia hanya memiliki satu anak buah itupun datang pukul sepuluh pagi.


Karna terlalu sibuk membuka salonnya Rissa sampai tidak sadar jika Kinan telah berdiri di belakannya. Kinan menatap haru Rissa yang harus melakukan semua pekerjaannya seorang diri.


"Ah! Kakak" pekik Rissa ketika Kinan meneluknya dari belakang sambil menciumi leher jenjangnya.


"Bunga yang indah untuk wanita yang spesial" ucap Kinan memberikan sebuket bunga mawar putih untuk Rissa.


"Terima kasih kak. Kakak memang tau kesukaanku" ucap Rissa menerima bunga pemberian Kinan lalu mengirup aromanya yang begitu menenangkan pikiran.


"Itu belum apa apa. Sekarang coba pejamkan matamu"


"Ok!" ucap Rissa dengan semangat lalu memejamkan matanya.


Cup!


Kinan mencium lembut bibir Rissa sehinga Rissa langsung membuka matanya dan menatap Kinan dengan penuh kekesalan.


"Lama lamu kamu seperti Zhia" ucap Kinan terkekeh sambil mencubit kecil hidung mancung Rissa.


"Ini untukmu, Sayang" Kinan mencoba merogoh saku celananya dan menunjukkan kotak perhiasan yang sangat indah.


"Tolong bantu kakak" ucap Kinan membuka kotak perhiasan yang berisi kalung berlian dan memasangkannya di leher jenjang Rissa.


Rissa mencoba mengangkat rambut panjangnya yang menutupi leher jenjangnya. Kinan langsung memakaikan kalung itu di leher jenjang Rissa yang sangat indah.


"Indah sekali. Terima kasih, Kak" ucap Rissa menatap kalung yang melingkar di lehernya dari pantulan cermin.


"Apa tidak ada hadiah untuk kakak?" ucap Kinan tersenyum nakal.


"Tentu ada" Rissa mencoba melingkarkan tangannya di leher Kinan lalu mencium bibir Kinan.


Tidak mau buang kesempatan Kinan mencoba memperdalam ******nya. Dia ******* bibir Rissa dengan rakusnya, Rissa yang juga menikmati ******* itu mencoba membalasnya dan mengikuti permaianan Kinan sehingga membuat gairah Kinan semakin memuncak.


"Ehem!" dehem Zhia yang telah bosan melihat pemandangan yang telah menodai mata sucinya.


"Zhia!" ucap Rissa gugup sambil mengusap bibirnya yang basah.

__ADS_1


"Kamu ini! Selalu saja datang tidak tepat waktu" ucap Kinan mengacak acak rambutnya lalu menghepaskan tubuhnya di sofa.


"Kakak yang melakukannya di sembarang tempat. Untung Zhia yang melihatnya jika sampai orang iseng dan memfoto kalian lalu menyebarkannya di media sosial gimana?" ucap Zhia santai lalu duduk di samping Kinan.


Sedangkan Rissa yang gugup karna tertangkap basah oleh Zhia mencoba menyibukkan dirinya untuk menghindari godaan dari sahabatnya itu.


"Aku kedapur dulu ya, mau buat sarapan. Pasti kalian belum sarapan'kan?" ucap Rissa melangkahkan kakinya menuju dapur.


"Tidak usah, Sayang. Aku tadi sudah membeli sarapan untukmu. Aku letakkan di meja makan, kalian sarapan saja" ucap Kinan.


"Aku sudah sarapan! Kalian sarapan saja. Tapi aku minta sedikit ya" ucap Zhia tersenyum kecil.


"Tunggu, aku ambilkan dulu ya" ucap Rissa berjalan menuju dapur untuk mengambil sarapan yang telah di beli Kinan.


"Bagaimana persiapan pestanya, Zhi? Apa sudah selesai?" ucap Kinan tidak mau ada yang tertinggal di acara bahagianya dengan Rissa nantinya.


"Sudah selesai! Kakak tinggal terima bersih saja" ucap Zhia tersenyum.


"Kamu memang adik kebangaan kakak. Kamu pasti lelah ya"


"Sangat! Bahkan aku tidak ada waktu untuk memanjakan tubuhku"


"Ini hadiah untukmu" ucap Kinan memberikan dua sebuah tiket untuk Zhia


"Apa itu?"


"Tiket untuk memanjakanmu dan Rissa. Kalian pergi saja ke alamat yang tertera di tiket ini, kakak sudah mengurus semuanya"


"Yang benar, Kak?"


"Ia, kamu pasti lelah. Jadi kamu harus merilekskan tubuhmu. Bawa kakak iparmu dia juga perlu memanjakan tubuhnya, agar nanti malam di pertama dia tidak terlalu lelah" ucap Kinan tersenyum nakal.


"Dasar otak mesum" ucap Zhia kesal sambil mengambil tiket spa dan salon pemberian Kinan.


"Kamu juga mesum! Jika tidak mana mungkin perutmu bulat seperti itu" ucap Kinan mengoda Zhia.


"Kakak!"


"He..he.."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2