Dibalik Diamnya Seorang Istri

Dibalik Diamnya Seorang Istri
Part 61


__ADS_3

"Sayang, pagi ini jadikan jemput aku? Aku tunggu di rumah ya. I love you, sayangku"


Tess...


Air mata Rissa kembali menetes melihat pesan singkat yang di kirimkan Sinta kepada Kinan. Rissa tidak menyangka jika Kinan dan Sinta akhirnya berpacaran beneran. Dia memang menyuruh Kinan dan Sinta untuk berpacaran kontrak tapi, Rissa tidak menbayangkan akan menjadi seperti ini.


Rissa mencoba mengambil keputusan yang sangat besar. Dia memutuskan untuk pergi ke luar kota dan membangun cabang di sana. Selain untuk menenangkan dirinya Rissa juga bisa mengembangkan bisnisnya. Rissa mencoba membereskan barang barangnya tanpa memberitau siapapun.


Tapi, saat Rissa keluar dari salonnya sambil membawa kopernya tiba tiba dia melihat Zhia sedang berdiri di depannya. Melihat Rissa yang membawa koper besar dan juga mata sembabnya Zhia mencoba mengahampiri Rissa dengan panik.


"Ris, kamu mau kemana? Kenapa kamu membawa koper sebesar ini?" ucap Zhia menatap Rissa dengan tidak percaya.


"A..aku mau pergi ke luar kota, Zhi. Aku mau membangun cabang di sana" ucap Rissa berusaha menyembunyikan kesedihannya.


"Apa! Kenapa tiba tiba seperti ini? Apa kamu sedang ada masalah?"


"Tidak! Aku tidak ada masalah sama sekali. Maaf karna aku tidak sempat mengatakannya kepadamu. Aku hanya pergi sebentar saja kok. Setelah urusan cabangku di luar kota selesai aku akan kembali lagi"


"Bohong! Kamu tidak usah berbohong, Ris. Kamu pergi karna Kak Kinan'kan?" ucap Zhia dapat melihat kesedihan yang terpancar di mata Rissa.


"Bukan! Ini semua tidak ada hubungannya dengan Kak Kinan. Aku beneran ke luar kota hanya ingin membuka cabang di sana"


"Sempai kapan kamu di luar kota?"


"Aku tidak tau, Zhi. Mungkin dua atau satu tahun"


"Apa! Kamu ingin meninggalkanku selama itu. Apa kamu tidak memikirkanku, Ris?. Bahkan aku sebentar lagi akan melahirkan. Apa kamu tidak mau melihat wajah keponakanmu?"


"Aku akan kembali lagi, Zhi. Aku bisa melihat keponakanku saat aku kembali. Bahkan sekarang jaman modern, Zhi. Kita bisa vidio call dan bisa saling memberi kabar kapan saja"


"Tapi aku tidak bisa jauh darimu, Ris. Aku hanya punya kamu, Rayyan dan Kak Kinan. Aku mohon jangan pergi"


"Aku minta maaf, Zhi. Aku harus pergi. Jaga keponakanku baik baik ya. Aku juga titip Kak Kinan selagi aku pergi" ucap Rissa tersenyum lalu memeluk Zhia.

__ADS_1


"Tapi, Ris!"


"Maaf, Zhi! Aku harus pergi. Bibi pergi dulu ya, Sayang. Ingat jangan nakal nakal di perut mama" ucap Rissa tersenyum sambil mengelus perut Zhia.


Rissa melihat taksi yang dia pesan telah datang. Rissa mencoba masuk kedalam raksi tanpa memperdulikan Zhia yang terus bersikeras menahannya.


"Sudah, Non?" ucap supir taksi.


"Sudah! Ayo jalan, Pak" ucap Rissa berusaha menahan air matanya.


"Tapi, Non" ucap supir itu melihat Zhia yang terus saja mengedor pintu Rissa.


"Jalan'kan saja" ucap Rissa tegas tanpa mau di bantah.


"Baik, Non" ucap supir taksi mencoba melajukan taksinya.


"Maafkan aku, Zhi. Aku tidak ingin meninggalkanmu tapi, aku harus melakukanny. Aku janji akan kembali lagi" batin Rissa sambil menyeka air matanya mendengar suara teriakan Zhia.


"Rissa! Jangan tinggalkan aku. Ris, aku mohon ubah pikiranmu. Aku dan Kak Kinan membutuhkanmu" teriak Zhia terus saja berusaha mengejar taksi yang di tumpangi Rissa.


Mau tidak mau Zhia berhenti mengejar Rissa. Dia hanya mampu menatap taksi yang di tumpangi Rissa yang mulai menjauh. Zhia hanya mampu menyeka air matanya sambil memegang perutnya yang kram.


"Kak Kinan. Hanya Kak Kinan yang bisa menghentikan Rissa" gumam Zhia mencoba kembali ke mobilnya


Zhia mencoba melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke kantor Kinan. Dia tidak bisa berpikir panjang yang ada di pikirannya hanya ingin menghentikan Rissa. Tapi di perjalanan Zhia melihat sepasang kekasih sedang bertengkar. Zhia menatap wanita yang sedang bersitegang dengan kekasihnya itu dengan lekat.


Tak mau banyak pikir Zhia mencoba menepikan mobilnya lalu berjalan menemui kedua insan itu. Zhia membulatkan matanya terkejut karna wanita yang sedang bersitegang dengan seorang pria itu adalah Sinta.


"Lebih baik kita akhiri saja hubungan kita ini. Lebih baik kamu pokus sama karir dan juga bosmu itu" teriak kekasih Sinta yang bernama Bram lalu meninggalkan Sinta.


"Tidak! Aku tidak mau. Aku tidak ada hubungan dengan Bos Kinan. Kami hanya sebatas bos dan karyawan saja" ucap Sinta memohon.


"Apa! Jadi dia kekasihmu, Sin?" ucap Zhia menatap Sinta penuh rasa tidak percaya.

__ADS_1


"Zhia! A.. Aku" ucap Sinta gugup tidak tau harus berkata apa.


"Jika dia kekasihmu lalu Kak Kinan" ucap Zhia menatap Sinta dengan tatapan penuh tanya.


"Sudahlah! Aku ingin pergi. Aku tidak ada urusan lagi denganmu" ucap Bram mencoba meninggalkan Sinta.


"Tidak! Aku tidak mau" ucap Sinta berusaha menarik tangan Bram.


"Lepaskan" ucap Bram menepis kasar tangan Sinta sehingga Sinta terjatuh ke tanah.


"Hei! Apa kamu tidak bisa sopan sedikit saja keoada wanita?" ucap Zhia dengan berani sambil membantu Sinta untuk bangkit.


"Kamu tidak perlu ikut campur. Ini urusanku dengan wanita murahan ini" bentak Bram menatap tajam Zhia.


"Dia adalah sahabatku sekaligus karyawan kakakku. Jadi urusannya urusanku juga" ucap Zhia menatap tajam Bram tanpa rasa takut sedikitpun.


"Jadi kau adik dari pembinor itu. Katakan kepada kakakmu itu aku sudah melepaskan wanita murahan ini. Jadi dia boleh memakainya kapan saja"


Plakkk....


Zhia yang sudah naik pitam mendengar ucapan Bram langsung menapar wajah Bram dengan sekuat tenanganya. Zhia menatap Bram penuh amarah, Bram yang memagang wajahnya yang memanas karna tamparan Zhia hanya mampu mengeraskan rahangnya geram.


"Jangan sekali lagi kau menghina sahabatku dengan mulut hinamu itu. Kau memang tidak pantas untuknya. Bahkan kau tidak pantas bersanding dengan wanita manapun" ucap Zhia menatap tajam Bram dengan mata memerahnya.


"Sudah, Zhi. Ayo kita pergi" ucap Sinta melihat emosi Zhia yang sudah memuncak.


"Lebih baik kamu lupakan saja pria bajingan ini. Kau tidak pantas bersanding dengannya. Masih banyak pria yang lebih baik darinya yang ingin memilikimu" ucap Zhia menarik tangan Sinta menjauh dari Bram.


Sinta yang melihat amarah Zhia hanya bisa menganguk patuh. Sinta dan Zhia masuk kedalam mobil Zhia yang terparkir tidak jauh dari sana. Sesampainya di mobil Zhia mencoba melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa bicara sepatah katapun.


"Maafkan aku, Zhi. Aku tidak ada niat membohongimu. Tapi, Bos Kinan dan Rissa yang memintaku untuk jadi kekasih kontrak Bos Kinan" ucap Sinta menunduk sambil menahan tangisnya melihat amarah Zhia yang menakutkan.


"Apa! Jadi Kak Kinan dan Rissa dalang dari semua ini? Lihat saja aku akan memberi pelajaran untukmu, Kak. Berani beraninya kamu membohongiku" gumam Zhia penuh emosi bersiap siap untuk menerkam Kinan hidup hidup.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2