Dilan Picisan

Dilan Picisan
gadis itu


__ADS_3

~UNTUK HARI INI SAJA,BIARKAN AKU


MERASA BAIK BAIK SAJA~


{DILAN MAHARANI}


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Gadis itu berjalan sambil memeluk erat sebuah buku bersampul warna hijau tosca. Wajah cantiknya terlihat suram dengan aura mencekam. Berjalan dengan langkah yang amat besar. Ingin cepat cepat sampai ke tempat tujuannya.


Sapaan orang seumuran nya tak ia gubris. Sepertinya dia amat sangat kesal entah karena apa.


Kini ia sudah berdiri didepan pintu ruang guru.


Tangan mungilnya menggenggam erat gagang pintu.


Menarik nafas dalam-dalam menetralkan amarah yang sudah mencapai ubun ubun lalu menghembuskannya dengan kasar.


Kemudian masuk.


"Assalamualaikum Pak. Maaf saya terlambat." Cicitnya.

__ADS_1


"Dilan Maharani! Kamu ini benar benar serius untuk ikut lomba puisi atau tidak?! Kalau hanya mau main-main jangan buang buang waktu saya! Saya paling tidak bisa melatih anak tidak bertanggung jawab seperti kamu ini! Meski kamu ini anak ketua yayasan tapi saya tidak akan segan dengan kamu! Jangan karena guru guru tidak ada yang berani menegur kamu, kamu jadi CONGKAK!" Sosor Pak Akbar. Guru sastra yang terkenal killer.


Beliau tidak membedakan antara murid biasa atau murid tidak biasa seperti Dilan sang anak ketua yayasan sekolah.


"Maaf. Saya salah. Saya tidak tepat waktu." Kata gadis itu.


Sejak tadi ia hanya mendengarkan kata-kata pedas guru didepan nya ini. Ia mengepalkan tangannya kuat, menggigit bibir bawahnya, serta memejamkan matanya mencoba untuk tidak terbawa emosi lagi untuk kedua kalinya pagi ini.


"Sekarang kamu masuk saja ke kelasmu! Latihan hari ini tidak perlu dilanjutkan." Kata Pak Akbar kemudian masih dengan nada kesal.


"Tapi pak, saya bel..."


"Kita lanjutkan besok saja hari ini saya sedang tidak mood untuk melatihmu. Anggap ini sebagai hukuman." Lanjut Pak Akbar memotong kata gadis itu.


"SERIUS LAN, PAK AKBAR BILANG GITU?" Teriak gadis dengan rambut yang dipotong pendek bahkan sedikit mirip pria. Namun masih terkesan manis. Miara namanya.


Gadis dengan nama lengkap Dilan Maharani itu hanya menganggukkan kepalanya.


Mereka berdua tengah duduk di bangku taman sekolah.


"BENAR BENAR TUH PAK AKBAR. HARUSNYA DIA DENGERIN PENJELASAN LO DULU. ORANG KAYAK DIA KOK BISA JADI GURU SIH?!" Protesnya lagi.

__ADS_1


"Ck, iya Lo bener, Ra. Harusnya gue gak usah nolongin cowok gak tau terima kasih itu tadi pagi, huh biarin aja dia dipalak preman gang itu. Kalo gak nolongin dia gue gak bakal telat, gak bakal kena semprot nya pak Akbar, gak bakal emosi kayak gini. Apa tadi katanya, puisi-puisi gue picisan? Cih." Kata Dilan amat kesal.


"Gue gombalin pake puisi-puisi gue pasti baper dia." Lanjutnya.


Miara mengerjakan matanya berkali-kali. Tidak percaya dengan apa yang Dilan katakan.


"Lo ketemu cowok,Lan?"


"Huh, iya tadi pagi pas mau berangkat ke sekolah ada cowok yang mau dipalak sama bang Jaky, itu loh preman gang yang rada bencong." Jelas Dilan.


"Terus?"


"Ya. Terus.......gue tolonglah. Bukannya terimakasih kek, apa kek. Lo tau gak tuh cowok brengs*k malah ngatain gue! Apaan gue dibilang maniak puisi!" Gerutu Dilan.


"Cowoknya gant...." belum sempat Miara melanjutkan kata-katanya namun Dilan langsung melotot padanya.


Apa apaan sahabatnya ini sempat sempatnya menanyakan hal tidak berfaedah seperti itu. Pikir Dilan.


Dilan hanya berharap ia tidak akan pernah bertemu pria menyebalkan itu.


Jangan sampai bertemu.

__ADS_1


 


To be continued


__ADS_2