
Tak terasa sebulan telah berlalu. Kini nampak ratusan murid dari berbagai SMA tengah berdiri dibawah terik matahari.
Di Lapangan luas nan besar ini sedang dilaksanakan upacara peringatan HUT RI ke 77 tahun.
Berbagai macam model serta warna seragam khas SMA se-Jakarta Selatan terlihat kontras dengan hijaunya lapangan GBK tersebut.
Tak terkecuali SMA Garuda Bangsa juga ikut meramaikan upacara yang hanya dilakukan setahun sekali itu.
Perwakilan sekolah kali ini adalah anak kelas 11 dari berbagai jurusan. Memang hanya siswa tahun kedua yang diizinkan mengikuti acara tersebut.
Acara pun dimulai.
Saat pembawa acara menyebutkan area lapangan akan segera dimasuki oleh para anggota paskibra, diantara barisan murid SMA Garuda Bangsa malah ricuh tidak tau tempat.
"Ssut, piwit piwit,! 'Aa Karrel!" bisik Tia yang berbaris dibelakang Karrel.
Karrel tak menggubris gadis itu. "Maju dikit dong A'! Panas banget nih,!" suruh Tia sambil mengibaskan tangannya.
Theo mengangkat kedua tangannya diatas kepala Tia, melindungi gadis itu dari terik matahari ceritanya.
"Woi, diem Lo cabe! Lo pikir Lo doang yang kegerahan," celatuk Aruk.
"Apa sih! Gak usah ganggu Lo burik! Gue lagi pdkt oon," geram Tia berbisik. Theo yang ada dibelakang mendengus mendengar itu.
"Astagfirullah! Panas banget ini kapan selesainya, kayak di neraka aja." omel Bobby.
"Baru mulai gobs! Tahan tahan aja, anggap Lo lagi latihan ada di neraka," celatuk Dedy tanpa dosa disamping Bobby yang langsung ditendang saat itu juga.
"Itu paskibra nya lelet bener dah jalannya," ucap Tia.
"Eh, yang tugas bawa bendera itu cantik juga," kata Bobby yang langsung mendapat tatapan tajam dari Miara.
"Gak usah jadi aligator ya!" ucap Miara memperingati.
"Iya anjirr! Anak Jaya kan?" Timpal Zaki.
"Sodara gue semuanya cowok perasaan, jangan jangan bokap gue selingkuh anjay.." ucap Dedy drama.
"Bukan Jaya bapak Lo monyet!" geram Miara.
"Michelle. Lo temenan ama tuh cewek kan? Kenalin dong!" pinta Aruk menoleh pada Michelle yang ada dibelakangnya.
"Bacot! Kenal apaan jir orang gue ama tuh lampir musuhan!"
"Rebutan cowok Ruk." tambah Tia.
Ngomong ngomong barisan mereka memang sengaja di buat selang seling. Antara laki-laki dan perempuan.
"Heh! Liat Dilan gak?" tanya Karrel pada gadis bernama Lili. Karrel memang kenal beberapa anak kelas XI IPS 2 meski masih tak tau nama mereka.
"Aku disini 'A malah nyari Dilan sih..." keluar lagi cabenya Tia.
"Sejak kapan Lo deket sama cowok gak jelas ini Ti?" Theo bersuara, kesal melihat Tia malah kecentilan dengan Karrel.
__ADS_1
"Eh, Theo enggak kok cuma temen sekelas, kan harus ramah sama teman kata pak Saggaf." Theo mendelik sinis, gadis itu malah membawa bawa nama guru PAI.
"Tia Tia, Lo jan jadi cabe gini sehari bisa gak sih? Gue yang temen Lo malu nyet!" seru Aruk.
"Gak bisalah! Tia pan playgirl, haha." mulut Bobby ini benar benar.
"Bukan playgirl Bob, tapi buaya betina," tambah Zaki membawa gelak tawa bagi yang lain.
"Liat yang bening dikit langsung biru matanya,"
"Anjir bisa bisanya gue sempet naksir dia pas MPLS dulu," ringis Galih.
"Apaan sih pada bully Tia gini? Upacara yang bener Lo semua," bela Rindu dengan suara lembutnya. Iyan tersenyum penuh arti melihat gadis itu.
"Gak usah baper Lo culun!" sarkas Bobby yang tau kemana arah pandang Iyan.
Iyan berdecak kesal.
"Anjir anak anak Pancasila 1 pada bening bening semua gila!" kagum Dedy melihat barisan murid dengan almamater merah.
"Mana mana?" kepo Aruk.
"Anjay! Sumpah itu sekolah emang isinya berlian semua."
"Pancasila 1 sekolah mantan Dilan kan?" Karrel langsung menoleh saat itu juga.
"Mantan?" beonya.
"Semoga cepat resmi, amin!" ucap Dedy seketika kepalanya ditoyor Lili membuat si empunya mengadu sakit.
"ANJING!! KOK GUE BARU NYADAR? MUKA COWOK DILAN YANG MANA SIALAN!?" teriak Bobby langsung ditendang Miara.
"Bisa biasa aja gak? Lo teriak gitu gak malu? Tuh liat kita ditontonin sekolah lain goblok!" tunjuk Miara memang barisan mereka sekarang jadi pusat perhatian.
Untung saja lagu Indonesia Raya sedang dikumandangkan, sehingga para guru tidak mendengar kerusuhan Bobby kecuali murid sekolah lain yang berbaris tepat disamping kiri kanan barisan mereka.
"Ck, tapi gue emang kesel banget ama Bara udah bikin anak gue galau sebulan ini jir!"
" Anak anak. Enak aja Lo! Lo pikir Dilan mau punya bapak modelan kayak Lo!!"
"Tapi Dilan anaknya mana nyet?" seru Aruk.
"Lo lupa? Dia kan yang baca puisi nanti."
"Oh iya ya."
"Karrel!" panggil Tia kali ini tidak cabe. Tangan kanannya terangkat hormat pada bendera kebangsaan Indonesia yang telah dikibarkan oleh paskibra.
Karrel yang sedari tadi mencuri dengar percakapan teman sekelas Dilan tentang gadis itu, lantas terperanjat kaget.
"Paan sih!" Karrel dengan Tia memang sudah cukup akrab mungkin karena sekelas, atau Karrel ingin mengenal siapa saja teman baik Dilan?
"Lo dulu sekolah di Jaya kan?" Karrel menjawab dengan deheman.
__ADS_1
"Lo tau cowok yang namanya....ah Telkomsel itu gak?"
"Telkomsel?"
"Oh salah ya? XL? AXIS? Telkomsel? Ah pokoknya namanya mirip kartu sim."
Cowok itu mendengus. Sedang Theo yang belakang Tia memajukan kepala memasang telinga.
"Axel." ucap Karrel membenarkan.
"Ah iya itu. Axel! Lo kenal gak?"
Karrel mengangguk."Kenapa? Lo suka? 'Ntar gue titipin salam dari elo." kata Karrel tanpa ekspresi.
"Apaan sih! Gue cuman mau terimakasih doang udah dianterin malam itu." dengus Tia.
"Axel siapa lagi Ti? Astaga Lo emang kadal betina ya?" tau tau Nabil bicara membuat Tia mencubit perut bencong kaleng kaleng itu .
"Cakep gak Ti?" goda Bobby sedang telinga Theo sudah memanas.
"Hooh cakeplah! Gue pernah liat anaknya beuhh cakep gila!" gebu Aruk semakin memanaskan suasana.
"Kapan?" Iyan kali ini ikut menyahut kepo.
"Ituloh gue kan pernah ngomong pas di grup kelas." jelas Aruk.
"Anjing! Lo pada ghibahin gue di grup kelas Lo pada?!"
"Cuman sekali itu doang Ti." ucap Aruk enteng. "Eh itu tuh anaknya! Kagak salah lagi yang boceng si medusa malam itu! Anak Jaya ternyata!" lanjut Aruk menunjuk cowok bule yang berdiri dibarisan anak SMA Jaya.
Semuanya lantas menoleh pada cowok yang Aruk maksud.
"Gila! Bening banget jir!"
"Emang gak kaleng kaleng selera Lo Kartika." Tia mengangkat dagu sombong.
"Anjirlah! Theo Lo mending mundur saingan Lo Dominik Sadoch!!! Warna kulit Lo ama kulitnya aja beda jauh jir!" Seru Bobby menepuk bahu Theo seolah prihatin.
Theo menjauhkan bahunya dari tepukan Bobby dengan wajah dongkol.
Setelahnya mereka tertawa ngakak melihat paskibra yang tersandung kakinya sendiri saat meninggalkan lapangan sehabis mengibarkan bendera merah putih.
Berbagai acara hiburan pun dimulai. Mulai dari tari tradisional, nyanyian dari artis muda Lyodra yang memang diundang untuk mengisi acara, hingga pembacaan puisi oleh Dilan.
Karrel tampak tertegun melihat bagaimana gadis yang kini memakai baju adat Betawi itu benar benar menghayati puisi yang dibacakannya.
Puisi tema kemerdekaan yang dilontarkan penuh penghayatan sungguh menghipnotis lautan manusia yang berada di sana.
Barisan Karrel yang sedari tadi rusuh pun ikut tenggelam seolah berada di zaman penjajahan seperti sajak yang diucapkannya gadis tersebut.
Tanpa sadar cowok itu menitikkan air mata teringat seseorang.
________
__ADS_1