Dilan Picisan

Dilan Picisan
Sia-sia?


__ADS_3

"Gue beneran nggak papa kak," ucap Dilan.


Gavian membawa Dilan kerumahnya. Dilan awalnya menolak tapi sifat keras kepala Gavian membuatnya tak bisa berbuat apa-apa.


Entah kebetulan atau tidak, Gavian melihat Dilan menangis di bukit sendirian.


Gavian terus bertanya pada gadis itu ada masalah apa tapi Dilan enggan menjawab. Bahkan Gavian bertanya apakah ada kaitannya dengan masalah perjodohan mereka, tapi lagi-lagi Dilan menggeleng.


Karena baju mereka yang basah kuyup meski memakai payung, Gavian membawa Dilan kerumahnya.


Dilan disambut dengan baik oleh Lati ibu Gavian.


Dilan memakai baju milik Lati karena tidak mungkin ia memakai baju milik Gavian. Sedang bajunya atau seragam Dilan tengah dikeringkan.


Lati tidak banyak bertanya seperti Gavian yang begitu cerewet. Dilan bersyukur karena Lati mengerti hal itu.


"Apa salahnya sih elo cerita ke gue, Lo lagi ada masalah apa sebenarnya?" entah sudah keberapa kalinya Gavian mendesak Dilan agar bercerita.


"Lo nggak perlu tau kak. Lagian kita nggak ada hubungan apa-apa sampai gue harus ceritain gue ada apa,"


Gavian berdecak tak suka. "Bentar lagi kita tunangan kalo Lo lupa,"


"Tapi gue nggak setuju kalo Lo lupa," balas Dilan malas.


"Lo ada masalah sama Bara?? Ck, udah Lo mending putusin cowok Lo! Dia toxic," kata Gavian enteng.


Dilan mendesah berat. Lalu melirik malas ke Gavian. "Please kak, nggak usah ikut campur kehidupan gue. Mau gue berantem ama Bara kek, putus kek, not your busness!"


"Lo bebal banget sumpah. Tinggal ngomong kenapa apa susahnya sih?" kesal Gavian.


"Terserah gue kak."


"Dilan, Gavi! Sini makan dulu," panggil Lati.


"Iya Tan," Dilan berdiri menuju meja makan. Duduk disalah satu kursi.


Gavian berdecak ikut berdiri.


"Makan yang banyak sayang. Badan kamu kurus tuh, banyak-banyakin makan sayur biar sehat," ucap Lati memberikan nasi ke piring Dilan.


Dilan tersenyum canggung menerima itu.


"Mah, Gavi juga mau! Kok Dilan doang yang dikasi nasi lauk banyak-banyak, Gavi nggak," protes pemuda itu.


"Badan kamu udah bongsor gitu. Diet aja!" ketus Lati.


Gavian manyun lalu dengan tak berdosanya mengambil ayam goreng milik Dilan.


Dilan mendelik samar namun tak peduli dengan yang cowok itu lakukan.


Gavian mengeryit. Tumben gadis ini tak keluar tanduk. Sewaktu SMP dulu, ia selalu marah jika makanannya diambil tanpa permisi.


Sepertinya memang Dilan sedang ada masalah.


Gavian mengedikan bahu. Lebih baik ia mengisi perutnya dahulu. Masalah Dilan nanti saja dipusingkan. Cacing diperutnya sudah minta jatah.


Selesai makan, Dilan kembali termenung dengan pandangan kosong dikursi teras. Memandang orang-orang komplek yang lalu lalang.


Gavian yang habis mandi dan berganti baju lagi, ikut duduk dikursi kosong. Ia melirik Dilan yang nampak berkaca-kaca.


"Lan, pinjem hp Lo bentar!" ucap Gavian.


Dilan melirik sebentar lalu memberikan hp nya. "Buat apa?"


"Password nya?" tanya cowok itu.


"Tanggal lahir gue," jawab Dilan tanpa melihat Gavian.


Gavian manggut-manggut.


"Emang Lo tau?" tanya Dilan balik.


"Taulah! Apasih yang nggak gue tau tentang elo," Gavian menaikkan turunkan alisnya.


Dilan berdecih saja.


Tanpa Dilan tau, Gavian tengah mengotak-atik isi ponsel gadis itu. Gavian mencibir samar saat membuka album foto di hp Dilan yang isinya banyak foto-foto Bara.


Lalu sudut bibirnya tertarik keatas saat menemukan foto jaman SMP Dilan. Dimana ada gambar dia dan Dilan waktu ikut gerak jalan saat lomba agustusan.


Ternyata gadis itu masih menyimpan fotonya, meski tak berdua dengannya namun hatinya berdesir hangat.


"Ngapain sih Lo kak? Jan otak-atik hp gue sembarangan dong! Privasi kak," omel Dilan melihat Gavian menguber isi hpnya.


"Bentar, gue mau save nomer gue doang. Kagak bakal gue ambil hp elo," kata Gavian menjauhkan ponsel Dilan saat gadis itu mencoba meraihnya.


"Tapi jangan buka aplikasi gue sembarangan!" sungut Dilan.


"Iya iya,"


Gavian tak mendengar perkataan Dilan. Ia semakin asyik membaca chatting-an Dilan dengan Bara dan temannya.


"Cih, alay!" cibir Gavian membaca chat Dilan dengan Bara.


Klonting.


Sebuah pesan masuk dari Miara. Kening Gavian mengerut membaca isinya.


Miara : Laaaaan! Lo nggak kenapa-napa kan??


Miara : huhu sorry, gue nggak bisa nyusulin elo. Soalnya lari Lo kenceng bgt kek lagi estafet :((


Miara : Lo lagi Karrel sm Karrel kan? Tuh anak tadi rusuh pas liat berita soal elo;((

__ADS_1


Miara : langsung nyamperin elo!


Miara : ntar gue ma Tia kerumah elo abis sekolah. Huhu Lan, jan sedih-sedih trs. Gue sm anak-anak lagi nyari tau siapa yg nyebarin gosip ntuh ;))


"Lan! Lo ada masalah disekolah? Gosip apa yang temen Lo maksud?" tanya Gavian.


Dilan tersentak samar. "Maksud Lo?"


Gavian menyodorkan ponsel Dilan. Dilan mengatupkan bibir membaca pesan dari Miara yang ternyata terbaca oleh Gavian.


"Ck, nggak sopan. Baca-baca chat orang," ucap Dilan.


"Masih nggak mau cerita?? Mau gue langsung kesekolah elo buat nyari tau?" ancam Gavian tak main-main.


"Paan sih? Nggak usah berani Lo ya!"


"Bilang ke gue! Ada apa? Gosip apa yang Miara maksud?" desak Gavian.


"Nggak usah kepo kak," ucap Dilan menolak memberi tahu Gavian.


"Lo kira gue nggak bisa nyari tau sendiri?" Gavian lalu mendial nomor seseorang dengan ponselnya.


Dilan menunduk menatap lantai.


"Halo, Ri? Lo sekolah di SMA Garuda kan? Iya gue Gavi. Lo tau Dilan kan? Iya yang maniak puisi itu,"


Dilan mendelik samar mendengar Gavian bicara dengan seseorang ditelpon.


"Katanya lagi ada gosip soal dia? Lo tau nggak?" Gavian diam sejenak mencerna cerita dari temannya itu.


"APA?? LO YANG BENER AJA!! Ok, thanks infonya," Gavian menutup panggilan sepihak.


Lalu menoleh sepenuhnya pada Dilan. Seolah meminta penjelasan dari gadis itu.


Dilan mendesah panjang. Lalu mulai bercerita. Gavian berdecak malas mendengar cerita gadis itu.


"Lo ngapain main kabur dari sekolah sih? Kenapa nggak jelasin yang sebenarnya sama temen sekolah elo?" kata Gavian.


"Lo kira segampang itu? Gue udah terlanjur malu tau nggak!" sungut Dilan.


"Apa susahnya sih, tinggal bilang gue ini tunangan elo. Bara mantan elo. Karrel bukan siapa-siapa elo. Alfian kakak tiri elo, kan gampang. Lo nggak bakal dicap buruk sama teman sekolah Lo," enteng banget mulut Gavian bicara begitu.


"Mulut Lo minta gue tampol?? Enteng banget bilang Lo tunangan gue. Bara apa? Mantan your cangkem?? Enak aja!" semprot Dilan.


"Biasa aja kali. Nggak usah nyembur muka gue juga!" Gavian mengusap wajahnya yang kena cipratan air liur Dilan.


Dilan kembali menunduk. "Gue kudu gimana sekarang? Gue ga mau pulang. Gue takut bokap gue marah karena gosip itu," lirihnya.


Gavian menipiskan bibirnya. "Udah nggak papa. Lo bisa nginep disini kalo Lo mau. Soal om Raden, biar gue yang ngomong," ucap Gavian tulus.


Dilan menggeleng. "Nggak perlu. Gue mau balik, kasian ibu dirumah sendiri."


Gavian mencekal tangan Dilan saat hendak masuk.


Dilan tercengang mendengar kata-kata Gavian.


"Lo--?"


Gavian tersenyum tipis. "Gue masih ingat sama quote elo waktu SMP. Pas gue tawuran dan kena gampar sama bokap gue, elo yang hibur gue waktu itu. Cewek yang udah gue tolak cintanya tapi masih bisa peduli sama gue,"


Gavian terkekeh mengingat kenangan mereka saat SMP dulu. Lalu kembali bicara.


"Btw, makasih. Gue baru bisa ngomong itu sekarang. Waktu itu gengsi gue kegedean sampe nggak sempat bilang makasih dengan benar dulu. Bahkan gue nolak elo karena alasan yang sama,"


Padahal gue juga suka sama elo waktu itu Lan. Bahkan sampai sekarang.


"Sekarang gue bakal bantuin elo biar nggak dihina ataupun dibully sama teman-teman elo pas disekolah besok," kata Gavian.


"Maksud elo?"


Gavian menarik smirk. "Liat aja besok,"


_________


Karrel memandangi ponsel dengan gambar wajah Chairil Anwar dibelakangnya.


Ponsel milik Mike. Mendiang sahabatnya.


Karrel memejamkan mata sejenak. Ia menghembuskan nafas berat. Lalu menekan tombol power disisi kanan ponsel itu.


Foto Mike bersama Dilan menjadi wallpaper-nya.


"Rel, my bro! Gue seneng banget hari ini. Lo tau kenapa?"


Karrel teringat kenangannya dengan Mike dulu.


"Kenapa?" tanya Karrel datar.


"Gue lagi suka sama cewek," aku Mike.


"Terus?"


"Kayaknya gue jatuh cinta deh,"


"Ya urusannya sama gue apa?" ketus Karrel.


"Ck, nggak seru Lo! Dengerin gue curhat napa,"


"Iya," jawab Karrel.


"Namanya Dilan Rel,"


"Kayak nama cowok," celatuk Karrel.

__ADS_1


"Tapi, anaknya manis, imut ma cantik gitu tau,"


Karrel diam mendengarkan.


"Tapi, sayang dia udah punya cowok," kata Mike lesu.


"Jangan sepik cewek orang!" kata Karrel.


"Ck, Lo nggak tau anaknya yang mana makanya Lo ngomong gitu. Kalo Lo udah kenal, beuhh auto naksir Lo,"


Karrel mencibir saja.


"Dihh?? Nggak percaya," ucap Mike.


Karrel mengedikan bahu fokus main game online di ponselnya.


"Lagian kita udah janji nggak bakal suka sama cewek yang sama. Lo lupa?" ujar Karrel.


"Oh, iya. Hehe,"


Karrel tersenyum kecut mengingat momen itu. 


Meski dengan jantung berdebar, Karrel mengklik galeri foto hp tersebut.


Sontak mata Karrel membola melihat begitu banyak foto candid Dilan yang diambil diam-diam oleh Mike.


Sebegitu sukanya kah Mike pada Dilan?


Lalu jarinya mengklik perekam suara di ponsel itu. Ia diberi tahu Miara bahwa Mike suka curhat dengan merekam suaranya sendiri.


Ada banyak hasil rekaman suara yang tersimpan di hp Mike.


Satu persatu ia buka.


"Hayy. Kenalin gue Leonel Mike Areksa 16 tahun. Gue bisa balapan tapi nggak suka balapan, hehe aneh ya gue? Ok, segitu dulu," 


"Ekhem, gue mau cerita nih. Jadi gue abis tanding puisi sama sekolah lain. Tapi gue salfok sama perwakilan SMA Garuda Bangsa, ck cewek cantik anjir! Gue ampe nggak kedip pas dia tampil. Tau nggak? Masa gue kayak dag dig dug gitu. Gue kan nggak pernah ngerasa kek gitu sama orang, apalagi cewek. Gue ajak kenalan dong. Eh, dianya ramah banget buset! Gila gila gila, gue pengen salto rasanya."


"Anjir! Lo tau nggak?? Gue abis nolongin Dilan waktu dia kecengklang. Anyinglah! Gue ngerasa kek super Dede, eh salah super Hiro maksudnya. Gue gendong Dilan masaaaa, ahh gemes banget sumpah,"


"Sialan! Ck, Dilan udah punya pacar ternyata. Dan Lo tau siapa? BARA! F*CK! Gue kesel banget waktu dia sok manis usap-usap pala Dilan, cuih."


"Gue kayaknya udah gila deh. Gue selalu pengen lebih sama Dilan. Waktu deket dia gue rasanya pengen lahap bibir dia. Bahkan gue baru bisa tidur kalo udah nyiumin foto dia. Gue nggak boleh kayak gini. Gue harus jaga Dilan bukan rusak dia. Gue rusak kayaknya,"


Karrel tercengang mendengar kata-kata Mike.


"Parah! Obsesi gue ke Dilan semakin menjadi-jadi. AARHHK, Dilan Lo apain gue??"


"Bagus. Iyan minta ajarin buat balapan. Tuh anak kerasukan apa? Terserah, yang penting sekarang gue bakal bikin Bara hilang selamanya!"


Karrel membekap mulutnya tak percaya. Mike yang selama ini ia kenal bisa seperti itu?


Karrel kembali teringat kata-kata Rindu beberapa hari yang lalu.


"Maksud Lo??" sentak Karrel.


Rindu-gadis berponi rata itu terkekeh geli.


"Seperti yang Lo denger," ucapnya mengisap rokok santai.


Karrel menggeleng kuat. "Nggak! Nggak mungkin Mike segila itu."


"Otaknya udah rusak. Dia nggak sanggup hidup dipenuhi otak pedofil dikepalanya. Makanya dia milih akhirin hidupnya," kata Rindu.


"Jangan ngaco Lo!" Karrel naik pitam.


"Gue nggak ada alasan buat boong. Nggak penting juga. Apa yang Lo denger dari Iyan dan teman-teman Lo nggak sepenuhnya benar. Iyan bilang Mike ketemu sama cewek kan? That true, itu gue. Iyan denger Mike manggil gue queen karena dia emang tau kalo gue ketua geng the Lion."


Rindu menghisap kembali rokoknya dalam-dalam. Lalu dihembuskan.


"Lo tau kenapa bukan motor Mike yang dipake buat balapan malam itu?" Karrel terdiam.


"Karena motor itu hadiah dari elo. Dia nggak mau rusak hadiah dari sahabat terbaiknya. Ck, sialnya dia malah make motor gue. Sampe rusak parah banget. Dua bulan lebih baru bisa bener. Hampir semua bodi dan mesinnya gue ganti," dumel Rindu.


"Kenapa Lo baru ngomong sekarang?"


"Karena Lo baru ngeh sekarang," jawab Rindu santai. "Kalo Lo nyelidikin kantor polisi terdekat malam itu, Lo bakal tau kalo gue sempet ngasih kesaksian gue. Cuman dicabut sama bokap karena dia nggak mau nama baiknya tercoreng. Hebat nggak bokap gue?" kata Rindu terkekeh miris.


"Jadi? Kecelakaan itu pure kecelakaan?" kata Karrel tak percaya.


"Iya. Pure kecelakaan. Eh, enggak juga,"


Karrel mengeryit.


"Mau ada truk yang nabrak Mike malam itu. Tetep aja dia bakal celaka. Karena dia udah rencanain buat bikin Bara celaka malam itu. Cuman Bara nggak nongol karena sibuk bikin ketupat dirumahnya. Kalaupun Bara datang, Mike tetep akan akhirin hidupnya karena nggak mau terus dihantui obsesi nya sama Dilan," jelas Rindu.


"Seandainya dia bikin panglima tempur gue celaka, gue nggak bakal diem aja. Lo ngerti??" ucap Rindu lagi.


Hah. Karrel mendesah berat. Jadi? Selama ini dia salah paham? Mike tidak dibunuh, melainkan ia sendiri memang ingin bunuh diri.


Lalu penyelidikan Karrel bersama dengan temannya sia-sia?


Sudah ada beberapa orang yang dicurigai namun ternyata dugaannya salah.


Ditambah pengakuan Mike. Pantas saja keluarga Mike tak ada yang melaporkan kecelakaan yang menimpa Mike, karena mereka sudah tau bagaimana kondisi kejiwaan Mike saat itu.


"Jadi, gue harus gimana sekarang? Apa gue masih berhak disisi Dilan? Baik jadi temannya atau seseorang yang sayang sama dia," lirih Karrel.


Karrel meraih ponselnya. Dan menerima panggilan yang masuk.


"Rel, besok Lo kudu bantuin kita! Right? Anjir sok Inggris banget gue," 


Itu suara Bobby.

__ADS_1


__ADS_2