
"Dilan! Tunggu!" seru Iyan menghampiri Dilan yang hendak membuka gerbang rumah.
Iyan semalam menginap dengan Raden di rumah Anjani. Setelah perdebatan hebat antara Dilan dan Raden akhirnya Raden memilih untuk tidak pulang. Karena bujukan Anjani agar sesekali bermalam di tempatnya.
Iyan tidur dikamar Dimas. Sedang Dimas yang sama bencinya dengan cowok itu lebih memilih melenggang menuju kamar sang adik. Dan tidur di kasur empuknya. Dilan tidak keberatan dengan itu.
"Aku mau ngomong sama kamu Lan," lirih Iyan sembari menahan tangan Dilan.
Dilan tak menggubris Iyan. Wajah datarnya terlihat menahan emosi. Lalu menarik tangan yang tak sudi disentuh oleh cowok yang begitu dibencinya.
"Dede'," panggil Iyan lagi.
Dilan memejamkan matanya. Muak dengan suara yang memenuhi rungunya. "Stop manggil gue pake mulut kotor Lo! Jijik tau gak!" desis Dilan tanpa menoleh pada Iyan.
"Dilan kamu kenapa sih? Aku cuma kepengen kita kayak dulu lagi Lan," gumam Iyan memelas tentu didengar oleh Dilan.
"Lo bego kalo masih nanya alasan gue..." Dilan kini menoleh pada cowok berkacamata itu. Tatapannya menukik tajam. "...dasar parasit!"
"Dilan aku minta maaf. Aku... seandainya aku tau papa Raden itu papa kamu aku gak bakal..." Iyan tercekat tak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Bulshit!" desis Dilan membelakangi Iyan.
"Aku mohon Lan. Aku gak bisa kayak gini terus sama kamu. Aku rindu masa-masa kita dulu. Aku cuman mau kita kembali ke saat-saat kita jadi sahabat. Please, aku harus gimana biar kamu sama aku balik kayak dulu," Iyan memohon sambil meremas tas berwarna putih milik Dilan yang bertengger di punggung gadis itu.
Dilan kembali berucap tanpa berminat membalikkan tubuhnya menghadap Iyan. "Balikin papa gue. Balikin kembaran gue. Balikin kebahagiaan gue. Balikin semua hal yang udah Lo dan keluarga menjijikkan Lo rebut dari hidup gue dan keluarga gue," Dilan menekankan setiap kata yang diucapkannya bercampur amarah tertahan.
Iyan kicep. Tak tau harus berkata apa. "Kenapa diem? Atau gini aja. Lo menghilang dari hidup gue! Itu udah cukup bikin gue ngerasa happy kayak 'dulu' lagi,"
Setelah mengatakan itu Dilan kembali berjalan. Meninggalkan Iyan yang bungkam tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun.
Baru saja Iyan berniaga kembali mengejarnya Dilan. Tiba-tiba sebuah motor ninja merah berhenti didepan gadis itu.
Langkahnya terhenti kala melihat siapa pemilik motor itu setelah sang pemilik melepaskan helm full face nya. Iyan menghela nafas saat tangan kekar Bara mengelus ujung kepala Dilan lembut.
Ia juga sedekat itu dengan Dilan dulu. Tertawa bersama. Saling menjahili. Selalu kemana-mana bersama. Namun dulu teteplah dulu. Hanya masa lalu yang cuma dapat dikenang tanpa bisa diulang. Ia sadar akan hal itu.
Dilan tampak memberengut kala pipinya ditarik gemas oleh cowok itu. Semua itu tak luput dari rekaman mata Iyan.
"Sakit Bara," adu Dilan memberengut.
"Makanya maafin ya? Ya ya ya? Gak lagi lagi deh kayak kemarin," bujuk Bara sambil memperlihatkan dimple nya.
"Gak usah sok imut! Udah ah aku telat nih. Kapan berangkatnya?" ujar Dilan memasang helm dikepalanya. Namun ditahan Bara.
Bara bergerak memasangkan helm motif Doraemon di kepala Dilan. Meski dengan senyum tertahan, Dilan masih sok ngambek pada pacarnya ini.
"Kalo mau senyum mah senyum aja sayang," goda Bara sambil menyalakan motor sport nya setelah Dilan naik ke jok belakang.
"Aku masih marah ya! Jangan ngomong dulu!" titah Dilan.
"Tapi dimaafin kan?"
"Hmm, tapi janji jangan kayak kemarin lagi. Aku nggak suka cara kamu kemarin. Asal kamu tau aku beneran kecewa banget tau ga," terang Dilan.
Saat hendak berucap, atensi Bara tak sengaja jatuh pada sosok cowok dengan seragam yang sama dikenakan Dilan. Keningnya berkerut samar saat cowok itu berjalan keluar dari gerbang rumah Dilan.
Sadar kemana arah tatapan Bara. Dilan berkata. "Enggak penting,"
"Dia siapa ay? Kok keluar dari rumah kamu? Perasaan kamu gak ada saudara lagi selain bang Dimas," tanya Bara penuh keheranan.
Dilan menggigit bibir bawahnya. "Kita udah telat Bara!" desak Dilan berusaha mengalihkan topik.
Mata Dilan melotot tajam kala Iyan malah berjalan mendekat ke arah mereka.
"Lo siapa? Kenapa keluar dari rumah cewek gue?" tersirat emosi tertahan pada nada bicara Bara.
"Gue ka-"
"Kampungan!" potong Dilan.
"Kampungan?" beo Bara.
Dilan mengangguk cepat. "Dia cowok kampung yang ngejer-ngejer gue mulu!" dalih Dilan.
Iyan merasakan sesak didadanya mendengar penolakan Dilan terhadapnya. Gadis itu serius membencinya.
Seketika rahang Bara mengeras. Panas mulai menyeruak dadanya. Tangannya mengepal hingga urat syarafnya terlihat sempurna. Dilan yang sadar atas perubahan sikap kekasihnya lantas meneguk ludah berat.
Ia lupa pacarnya ini posesifnya minta ampun. Atensinya beralih pada Iyan.
__ADS_1
"Lo mending pergi sana! Jauh-jauh dari gue!" usir Dilan sebelum Bara mengeluarkan tanduknya.
Iyan terkesiap. Ia sadar Dilan tidak hanya bersikap demikian karena ada Bara namun Dilan benar-benar ingin agar ia tak mengusik hidup gadis berkepang dua itu.
_____
Seharian ini Karrel tak dapat fokus dengan pelajaran. Pikirannya terus berkelana. Semua yang diterangkan Bu Maya didepan papan tulis hanya masuk ditelinga kanan keluar ditelinga kiri.
Satu tangannya memutar-mutar pulpen. Dan tangan lainnya menopang dahinya bertumpu pada meja. Beruntung karena tempat duduknya berada dibarisan paling belakang, sehingga Bu Maya tidak akan melihat Karrel yang sedang melamun tidak memperhatikan pelajaran.
Beberapa kali cowok itu menghela nafas panjang.
Tia yang kebetulan duduk didepan Karrel menoleh kebelakang, saat mendengar deru nafas Karrel yang membuat fokusnya pada Bu Maya pecah.
Tia menarik sedikit tubuhnya kebelakang lalu berbisik tanpa melihat Karrel. Takut kena semprot guru didepan sana. "Lo kenapa sih? Dari tadi tarik nafas mulu kayak orang mau lahiran aja,"
"Berisik," umpat Karrel.
"He! Yang berisik itu elo Abrar!" geram Tia setengah berbisik. "Nafas Lo muncrat kena leher gue tau. Bagus kalo wangi ini mah boro boro,"
"Ck, sejak kapan nafas muncrat njir. Liur baru bisa tolol,' hardik Karrel.
"Ya suka suka," sewot Tia. "Eh btw, Lo lagi ada masalah emang?"
"Maksud Lo?"
"Ya kagak, muka Lo kayak janda gagal kawin, haha," ledek Tia.
"Ck, Lo sama temen Lo sama aja, sama-sama gila," Karrel berdecak malas.
Tia mengedikan bahu lalu kembali ke posisi semula saat mendengar Bu Maya hendak mengabsen.
Lalu Karrel juga kembali pada pikirannya.
"Ternyata kita salah Rel," seru Axel.
"Maksud Lo ,"
"Gue abis interogasi Iyan. Dan ternyata emang bener dia ngajakin Mike belajar balapan tapi bukan itu intinya,"
Alis Karrel menukik heran.
Kepala Karrel rasanya hampir pecah. Mengingat mendiang sahabatnya menghubungi pihak musuh untuk balapan. Padahal Mike tak pernah ikut hal-hal seperti itu. Jika memang balapan, mereka balapan hanya dengan sesama anggota Horrified saja. Karena memang mereka turun sesekali saja. Sebenarnya apa yang terjadi malam itu?
Lalu pikirannya teralih beberapa hari lalu saat Karrel lagi lagi menggertak Iyan.
"Gue ga liat dengan jelas siapa yang Mike ajak bicara. Tapi gue yakin itu perempuan karena dari postur tubuhnya. Lo tau sendiri kan dada cowok ama cewek itu beda. Meskipun malam itu agak gelap tapi gue masih bisa liat perbedaan itu dengan jelas,"
"Oh iya, gue rasa orang itu kemungkinan besar ketua The Lion, karena gue ga sempet denger Mike manggil dia dengan sebutan 'queen of Lion'. Sama satu lagi kalo ga salah mereka kenal karena lomba. Sumpah Rel cuma itu doang yang gue tau. Rahasia itu doang. Mike bilang jangan ngomongin ini sama Lo tapi gue terpaksa. Gue capek Lo jadiin samsak setiap hari. Gue emang pengecut Rel,"
"Cewek ya?" gumam Karrel yang hanya didengar olehnya.
_______
"Nih," Karrel merasakan dingin dan basah saat tiba-tiba Dilan menempelkan minuman dingin di pipinya.
"Thanks," ucap Karrel lalu meneguk minuman isotonik itu hingga tandas.
"Haus banget pak?" celetuk Dilan.
"Ck, menurut Lo? Habis main basket ga haus apa?" decak Karrel sedikit kesal.
"Santai atuh bro," ujar Dilan duduk disamping Karrel. "Btw, tumben Lo main basket. Sejak kapan Lo masuk tim inti sekolah? Perasaan dari kemarin kerjaan Lo cuma ngintilin gue mulu," cibir Dilan.
"Lo juga tumben perhatian sama gue. Biasanya juga suka siksa gue. Sejak kapan Lo tobat? Perasaan dari kemarin kerjaan Lo cuma minta gue jajanin mulu," sungut Karrel meniru cara bicara gadis itu.
"Gue botakin juga Lo!" Karrel benar benar mampu menyulut emosi Dilan.
"Santai atuh neng, jangan marah-marah mulu. Keriput Lo makin keliatan entar, haha," ledek Karrel. Entahlah melihat wajah kesal Dilan mungkin adalah hobby barunya.
Dilan menarik napas berusaha menahan dan menetralkan radikal emosi yang siap menghantam makhluk bernyawa bernama Karrel Abrar Radeya ini.
"Ekhem Rel," Dilan berdehem guna mengurangi rasa gugupnya.
"Hmm," jawab Karrel sekenanya dengan satu jarinya menahan bola orange yang berputar-putar di atasnya.
"Gue em... gini...gue mau minta maaf soal yang kemarin," kata Dilan gugup sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Yang kemarin?" beo Karrel.
__ADS_1
"Ck, itu loh yang pas Lo vece gue itu," terang Dilan.
"Oh, yang Bara cium elo," seru Karrel santai walau dalam hati, "Sialan pake diingetin lagi,".
"I-iya. Lo–ga marah kan?" tanya Dilan hati-hati.
"Marah? Kenapa gue musti marah?" tanya Karrel balik. Kini wajah cantik Dilan manjadi objek pandangnya.
"Ya karena Bara nyium gue didepan Lo,"
Sadar atau tidak, pernyataan Dilan seakan Karrel itu spesial dihidupnya. Padahal Karrel tau betul hati gadis itu hanya ditempati oleh Bara sepenuhnya.
"Wajarlah Bara nyium pacarnya. Kok Lo malah minta maaf sih," ujar Karrel santai namun itu hanya manipulatif. Perkataan dan hatinya bertolak belakang.
"Gue cuman ga enak aja sama Lo. Kan Lo itu sahabat gue. Gue ga mau aja hubungan gue sama Lo jadi canggung atau rusak cuman karena kelakuan Bara itu," ungkap Dilan tulus.
"Jangan!" kata Karrel.
"Ha? Jangan kenapa?" beo Dilan.
"Jangan ngerasa ga enak. Gue ga mau kesenengan karena berhasil masuk ke ruang hati Lo meski setitik doang,"
Setelah mengatakan itu Karrel meninggalkan Dilan yang melongo.
"Maksud tuh anak apaan?" gumam Dilan. "Sok puitis banget. Tapi kok otak gue ga nyampe maksud Karrel ya?"
________
Kening Dilan mengeryit melihat perdebatan dua orang didepan minimarket.
Salah satunya cowok yang lumayan... ganteng? Dilan yakin cowok itu blasteran bule.
Dan satunya lagi orang yang Dilan kenali. "Tia?" Gumamnya.
Dilan mendekat kearah mereka berniat menguping pembicaraan mereka.
"Gue udah bilang berhenti ngintilin gue!" kesal Tia.
"Siapa yang ngintilin elo?" elak cowok itu dengan nada dingin. Dilan yakin cowok itu spesiesnya Karrel, meski sedikit lebih dingin.
"Ya elo lah siapa lagi!"
"Gue kesini emang mau beli sesuatu. Bukan ngintilin elo,"
"HA HA! Dari kemaren gue ketemu Lo mulu dimana-mana. Lo stalker-in gue kan! Ngaku!" tuduh Tia sambil berdacak pinggang. Surai hitam yang dimix warna abu-abunya tampak meliuk indah mengikuti arah angin.
"Alah bulshit Lo Ti! Bilang aja Lo kesenengan ditempelin cowok cakep," gumam Dilan masih ditempat persembunyiannya.
Cowok berjaket kulit itu tampak menghela nafas. "Gue emang tertarik sama Lo tapi bukan berarti gue jadi stalker juga,"
"Wihh langsung confess ga tuh," gumam Dilan sambil menggigit kukunya saking greget nya.
"Sowrehh. Gue udah ada crush jadi Lo jauh-jauh sana," usir Tia mengibaskan tangannya.
"Baru juga gebetan belum pacaran. Gue yakin bisa naklukin hati Lo sebelum naik kelas," ujar cowok itu percaya diri.
"Ck ck ck, Axel Axel. Lo bucin banget sama gue ternyata. Gue baru sadar pesona gue emang segininya ya? Sampe cowok seganteng elo bisa cinta mati sama gue," kata Tia dramatis.
"Oh...jadi itu yang namanya Axel. Gila ganteng banget," bisik Dilan pada dirinya sendiri sambil manggut-manggut.
Mata Axel tampak berbinar. Tangan yang semula disaku celananya kini berpindah menangkup wajah kecil Tia.
"Lo tadi ngomong apa? Gue–ganteng?" ucap Axel kegirangan. Hingga deretan gigi putihnya terlihat.
Tia mengerjap sambil berusaha agar tidak salah tingkah.
"A-apa sih. Cuma gue puji gitu doang udah kayak orang menang lotre aja Lo," hardik Tia guna mengurangi gugupnya.
"Sekarang tanggal bulan tahun jam menit detik ke berapa?" tanya Axel beruntun.
"Ha? Mana gue tau! Gue ga punya kalender di rumah," ujar Tia seketika lupa ponselnya juga memiliki aplikasi kalender.
"Pokoknya gue harus catet waktu kapan Lo ngomong gue ganteng," seru Axel semangat.
Cowok itu lalu mengeluarkan ponselnya. Kemudian benar-benar mencatat tanggal serta waktu saat ia dipuji oleh crush. Jam, menit, hingga detiknya tak ada satupun yang boleh terlewat.
"Ishh gemesh banget sih cowok Tia. Gue yang liat baper sendiri. Si medusa sok jual mahal lagi. Kalo gue udah nyosor pasti. Ihhh gemes banget...." gumam Dilan sembari mencakar-cakar batang pohon tempatnya mengintip saking gemasnya.
"Nggak baik ngintip orang pacaran entar mata Lo bintitan," bisik seseorang tepat ditelinga Dilan.
__ADS_1
"Eh...?"