
Karrel menatap rumah bak istana didepannya, tidak jauh beda dengan tempat tinggalnya. Rahangnya mengeras. Ia turun dari motor lalu berjalan ke gerbang menjulang tinggi.
"Ada apa mas?" tanya satpam penjaga gerbang rumah tersebut.
"Saya nyari yang punya rumah,"
"Bapak sedang tidak ada mas. Ibu juga keluar," ujar satpam.
"Anaknya ada? Yang perempuan," kata Karrel dingin.
Satpam tersebut nampak mengeryit. Lalu kembali berujar. "Ada perlu apa ya mas? Mas udah buat janji temu sebelumnya?"
Rahang Karrel mengeras. Tangannya terkepal disisi tubuh.
"Panggil cepat! Bilang Karrel datang nyari dia," titah Karrel.
Melihat ekspresi anak muda yang entah siapa, membuat satpam tersebut tanpa sadar meneguk ludah berat. Tau pemuda itu sedang emosi. Lalu satpam tersebut berbicara sendiri dengan tangan ditelinga.
Karrel dapat melihat ditelinga satpam itu terdapat alat mirip earphone warna putih dengan kabel menjuntai ke leher.
"Silahkan masuk mas," satpam tersebut membukakan gerbang mempersilahkan Karrel masuk.
Karrel melangkahkan kaki masuk ke area rumah itu.
Tiba didepan pintu rumah ia sudah disambut oleh seorang gadis. Mulut gadis itu terlihat mengunyah sesuatu, Karrel yakini adalah permen karet. Dengan gaya bersilang dada, angkuh.
"Masuk! Anggap aja rumah sendiri," kata gadis itu melangkah masuk lebih dulu diekori Karrel.
Karrel duduk di sofa menatap gadis ber-hotpans dengan tank top duduk tak jauh didepannya. Tatapan Karrel sulit diartikan.
Gadis itu mengeluarkan permen karet dari mulutnya lalu membuangnya ke asbak rokok yang ada dimeja. Kemudian beralih meraih bungkus rokok disebelah asbak, ia menyalakan korek lalu membakar ujung rokok yang diapit diantara bibir ranumnya.
"Rokok?" tawarnya pada Karrel. Dibalas gelengan.
Gadis itu duduk dengan kaki saling bertumpu. Pelan ia menghembuskan asap rokok.
"Btw, elo orang asing pertama yang gue kasi masuk rumah gue asal Lo tau," ucap gadis berponi rata itu pertama kali.
Kilatan amarah tergambar jelas dari manik hitam Karrel.
"Lo mau minum apa? Jus? Kopi? Teh? Susu??" sambung gadis itu.
"Gue nggak butuh basa-basi elo. Lo tau betul alasan gue datang," kata Karrel. "Sekarang bilang soal kecelakaan itu! And soal Mike," nada bicaranya berubah saat mengucap nama mendiang sahabatnya itu.
Karrel menegak. "Gue tau elo juga nyelidikin sama kayak gue," Karrel terkekeh sinis. "Sialnya, Lo lebih unggul dari gue,"
Rindu– gadis itu menyeringai. "As you wish, baby? But, my information is not free," ujar Rindu membuat Karrel menatap sinis.
______
Dilan mendesah panjang. Menatap tak minat berbagai macam makanan yang tertata rapi dimeja.
Malam ini adalah malam tahun baru. Dan beberapa jam lagi pergantian tahun akan dimulai, namun raut kegembiraan tak nampak diwajah imut gadis itu.
Bagaimana ia bisa merasa senang sekarang? Sementara Bara, kekasihnya masih terpejam dirumah sakit.
Dilan menatap teman-temannya yang terlihat menikmati acara barbeque ala-ala malam ini.
Dilan tau mereka mencoba menghibur Dilan yang sedang sedih.
"Lan! Dilan! Sini gabung ama kita," panggil Miara yang tengah membalikkan daging diatas panggangan.
"Iya nih. Ah nggak seru Lo Lan! Masa cuman duduk doang dari tadi," gerutu Tia yang asyik mengarahkan kamera handphone kearah Miara.
"Gaya Lo! Kayak bantuin manggang dagingnya aja," semprot Miara.
"Gue bantu ngevideoin ya nyet!" Tia tak terima.
"Biar apa Lo video-videoin kek gitu?" Dilan kini ikut mendekat.
"Biar nambah followers elo pada. Gue lagi live– najis!" kata Tia lalu mengumpat melihat komen dilayar.
"Nape Lo?" tanya Dilan.
"Fans gue anjir! Masa gue dicem-cemin sama Axel mulu," umpat Tia tak terima memperlihatkan komen yang dimaksud.
"Alah taeek! Paling dalem ati Lo jingkrak kesenengan," cibir Dilan.
"Kesenengan ndassmu!" sembur Tia. "Ck, gue kagak demen sama tuh bule,"
"Dihh? Tumben Lo nggak cabe," julid Miara sambil mengangkat daging yang sudah matang.
Tia mencebikkan bibirnya.
"Bule loh Ti, masa iya Lo nggak suka. Kemarin pas di puncak gue liat Axel lirik-lirik manjaahh gitu ke elo," goda Dilan. Dengan begini ia sedikit melupakan masalah Bara.
"Ck, gue suka lokal. Enggak demen sama impor," kata Tia sok.
"Gaya Lo. Theo apa kabar? Pabrik Pakistan gitu buta Lo?" cibir Dilan.
"Paan sih bawa bawa Theo," ujar Tia tak terima.
"Gue tau ya, Lo sama Theo ada something," Miara berkata kali ini.
"Ck, paan sih. Something something, udah enggak ya. ENGGAK," bantah Tia.
"Dulu kan elo pernah suka sama Theo," kata Dilan tak berdosa.
"Dulu ya, DULU!" sarkas Tia.
"Siapa yang suka siapa?" Dilan kaget. Pun Miara dan Tia yang hampir terjungkal kebelakang saking terkejutnya.
Tiba-tiba entah dari mana Hasan datang dengan teman-temannya.
"Ngagetin aja Lo!" semprot Dilan.
Hasan menarik mundur wajahnya reflek.
"Busset! Galak amat mbak," kata Hasan.
Dilan mendelik tak suka pada Hasan.
"Ngapain Lo disini?" tanya Dilan tak biasa.
__ADS_1
"Mang kenapa? Rumah, rumah temen gue," ujar Hasan.
Dilan berdecak. Tempat ia barbeque-an adalah dirumah Karrel. Rumah yang lebih mirip istana. Karrel mengajak Dilan dan yang lain untuk menghabiskan malam tahun baru ditempatnya, lebih tepatnya di taman belakang rumah Karrel. Katanya sih orang tua Karrel sedang mengurus bisnis keluarga diluar negeri, jadi Karrel sendirian di rumah.
Dan ia lupa teman-teman Karrel yang lain bisa datang kapan saja.
Tapi Dilan kesal. Sejak sore tadi Karrel belum pulang. Masa ia dan kedua temannya menunggu Karrel sampai pulang. Mana rumah Karrel segede gaban lagi, kan Dilan agak gimana gitu. Kalau kalau ada yang hilang kan, Dilan bisa disalahkan.
Karrel hanya mengantar Dilan, Tia dan Miara masuk lalu pergi begitu saja. Pamitnya sih sebentar, tapi ini sudah jam berapa. Segala bahan buat barbeque-an sih memang sudah disiapkan Karrel, tapi masa dia nggak ada sih.
Bobby cs juga kemana lagi? Katanya bakal nyusul, tapi sampai sekarang belum keliatan batang hidungnya.
"Wihh, asekk nih. Barbeque-an kita," celatuk Dino.
"Btw, Karrel mana?" tanya Lary.
Dilan mengedikan bahu. "Nggak tau. Katanya keluar sebentar. Tapi sampe sekarang belum balik-balik anaknya,"
Axel manggut-manggut. Lalu melirik Tia yang asyik nge-live.
"Temen-temen Lo pada kemana? Yang cowok-cowok," seru Hasan sembari mencomot daging yang sudah matang.
"Heh! Cuci tangan dulu!" kata Tia menepis tangan Hasan yang hendak mengambil daging di piring.
"Sakit," adu Hasan. "Eeh! Eh, jangan rekam gue," paniknya.
"Siapa yang rekam elo? Orang gue lagi live," kata Tia santai.
Hasan melebarkan mata. Kemudian berdehem, bergaya sok ganteng.
Axel memutar matanya malas.
Ryan sendiri membantu Miara memanggang daging.
"Dilan," panggil Axel tiba-tiba.
Dilan yang sedang terkikik melihat Dino dan Hasan saling berebut tempat agar terlihat di kamera lantas menoleh.
"Apa?"
"Gimana keadaan Bara?" tanya Axel.
Dilan mendesah lelah. "Dokter bilang Bara harus dioperasi,"
Axel diam menunggu Dilan melanjutkan kata-katanya.
"Tapi masalahnya Bara butuh donor jantung biar bisa bertahan. Tapi sampai sekarang belum ada pendonor nya," lanjut Dilan curhat.
Axel mengatupkan bibir. "Gue doain semoga cepat dapat pendonor ya," Axel menepuk pelan bahu Dilan.
Dilan tersenyum pada Axel.
"Ekhem," Tia berdehem keras. "Ciyeee, yang disenyumin Dilan," goda Tia dengan nada dibuat-buat.
Axel tersenyum tipis. Lalu mendekat ke Tia. Mengacak pelan rambut Tia yang sedikit berwarna ungu.
Tia melengos sok cantik. Kemudian kembali pada kegiatan nge-live nya.
Dilan geleng-geleng melihat tingkah Tia.
"Sorry lama," ucap Karrel meringis.
Dilan melirik Karrel. "Nggak papa,"
"Aruk mana?" tanya Dilan.
"Nggak tau. Katanya ngapel kerumah Michelle. Tahun baruan katanya," Karrel membakar rokok.
"Cih. Bucin," beo Dilan.
Karrel mengembulkan asap rokok kesamping takut merusak kesehatan Dilan.
"Ngaca!" cibir Karrel.
Dilan mendelik lalu menjambak kecil rambut Karrel. "Bacot,"
Karrel mencuatkan bibir. Membuat Dilan mendelik.
"Dihh? Imut Lo kek gitu?" julid Dilan.
Karrel balas menarik ujung rambut Dilan yang dikepang.
"Sakit ege!" adu Dilan.
"Elo ngeselin banget," kata Karrel.
Dilan berdecih. "Lo dari mana aja? Ninggalin kita bertiga dirumah Lo. Bagus kalo ada orang tua Lo disini. Lah ini, cuman maid sama tukang kebon doang, anjir." kata Dilan sebal.
"Ada urusan bentar. Lagian Lo juga nggak gue tinggal sendiri. Ada Tia sama Mia juga," ujar Karrel santai.
Dilan memukul Karrel. "Ck, kalo ada yang ilang gimana? Ya kali gue dituduh maling," Karrel meringis mengusap lengannya yang dipukul Dilan.
"Paling cuman dipenjara," kata Karrel.
"Pala Lo dipenjara!" semprot Dilan. Lalu melirik Miara sedang melerai Bobby dan Ryan yang asyik adu mulut.
"Mi! Udah mateng belom?" tanya Dilan sedikit berteriak.
Miara yang memijat pangkal hidungnya menoleh. "Mateng ndassmu! Ini pada gosong semuanya nyet!" jawab Miara lalu beralih pada dua primata disampingnya. "Ck, berenti nggak Lo berdua! Bukannya bantu malah ngerusuh," sentak nya.
"Gue ke Mia dulu ya," pamit Dilan pada Karrel.
Karrel mengangguk. Dilan mendekat ke Miara yang sedang menaboki Bobby.
"Gue bantuin," tawar Dilan.
"Dari tadi kek," ujar Miara. "Eh Kartika! Bantuin kek elo!" kata Miara pada Tia.
Tia yang baru saja menutup live-nya menoleh.
"Ck, iya iya. Bawel banget Lo ****** Medusa!" cibir Tia mendekat.
Miara melotot. Hampir mengumpat jika tak sadar harus membalik daging di panggangan.
__ADS_1
"Panggilin cowok-cowok Lan," suruh Miara.
Dilan berdecak. "Kok gue??" kata Dilan tak terima.
"Terus Lo nyuruh gue?" sungut Miara. "Yang paling deket ama Karrel itu elo. Gue nggak mau kena semprot nya Karrel. Tuh liat anaknya lagi tidur takut gue bangunin singa yang lagi hibernasi," tunjuk Miara pada Karrel yang sedang memejamkan mata dalam posisi duduk.
"Hibernasi. Lo kata Karrel beruang kutub??" kata Dilan.
Dilan mendengus lalu berjalan mendekat ke Karrel. Dilan memperhatikan wajah Karrel yang tenang seperti tak ada beban saat tertidur begini. Seulas senyum terbit diwajahnya.
"Rel?? Hei bangun," Dilan menoel-noel lengan Karrel.
Karrel bergerak merasa tidurnya terusik. Namun masih memejamkan mata.
"Rel. Karrel! Sulngong! Bangun woi! Lo belum makan kan?" kata Dilan masih membangunkan Karrel. Kali ini pipi Karrel ia mainkan.
Karrel mengerjap beberapa kali berusaha mengumpulkan nyawa. Kemudian tercekat saat sadar wajah Dilan begitu dekat dengan wajahnya.
Nafas Karrel tertahan. Dilan masih diposisi yang sama selama beberapa saat. Jantung Karrel berdetak kencang sekarang.
Susah payah Karrel menelan salivanya.
Karrel tersentak saat Dilan menarik pipi Karrel gemas.
"Wake up! Elo ditunggu yang lain," kata Dilan tersenyum tipis. Senyum yang lagi-lagi membuat jantung Karrel terpompa cepat.
"Cepetan! Bentar lagi pergantian tahun," Dilan lalu meninggalkan Karrel menuju meja panjang yang diisi berbagai macam camilan serta makanan. Ia duduk dikursi kosong sebelah Miara.
Karrel mendesah panjang. Menghirup oksigen banyak-banyak. Entah kenapa berhadapan dengan Dilan dalam posisi sedekat tadi seakan membuat pasokan oksigen disekitarnya hilang.
Karrel memegang dadanya. Menatap Dilan yang tertawa bersama yang lain.
"Lo keterlaluan Lan. Kenapa Lo harus ada yang punya? Bikin gue susah nafas kayak gini," gumam Karrel yang didengar oleh dirinya sendiri.
Karrel berdiri lalu berjalan menuju meja tempat Dilan dan yang lain makan. Ia duduk disamping Dilan. Karena memang hanya kursi itu saja yang kosong.
Tak terasa pergantian tahun tinggal beberapa menit lagi.
Dilan sudah menyiapkan petasan yang hanya memercikkan api kecil. Pun dengan Karrel serta yang lain.
"Sepuluh detik lagi!" pekik Tia antusias.
Sepuluh.
Sembilan.
Delapan.
Tujuh.
Enam.
Lima.
Empat.
Tiga.
Dua.
Satu.
"HAPPY NEW YEAR!!" teriak mereka lantang serentak.
"Ucapin uneg-uneg Lo semua buat tahun kemarin dan harapan elo buat tahun ini!" ujar Tia semangat.
"Buat tahun 20xx makasih karena masih bikin gue sama Mia tetep sama-sama. Dan buat new year, gue harap kita terus sama-sama bukan cuma tahun baru ini. Tapi buat tahun baru dan baru lagi," ucap Bobby menatap Miara penuh arti. Miara tersipu sampai wajahnya memerah bak kepiting rebus.
Dilan menatap nanar Miara yang mendapat ucapan selamat tahun baru dari orang yang dicintainya. Ia mendesah panjang, menunduk sambil memainkan kembang api ditangannya asal.
Karrel yang melihat Dilan bersedih mengatupkan bibir.
"Gue nggak suka tahun kemarin karena gue kehilangan orang berharga buat gue. Tapi gue juga suka karena gue ketemu elo di tahun 20xx. Harapan gue buat new year ini, gue pengen Lo terus tersenyum dan terus bahagia. Walaupun bukan gue alasan elo bahagia. And gue yakin Bara pasti cepet sadar dan sembuh," ucap Karrel tulus dengan suara yang hanya Dilan mendengar perkataan Karrel. Karrel menatap Dilan disampingnya. Tatapannya menyendu.
Dilan mendongak mendengar perkataan Karrel. Memandang Karrel dengan tatapan sulit diartikan. Hatinya berdesir hangat merasa terhibur dengan ucapan Karrel. Ia melempar senyum tulus pada Karrel.
"Gue nggak pernah suka tahun apapun itu. Bagi gue setiap tahun sama aja. Tapi kayaknya tahun kemarin pengecualian, karena gue kenal sama elo. Sahabat terbaik selain Tia dan Mia. Gue harap kita terus jadi sahabat sampai waktu yang lama. Makasih karena udah doain Bara," ujar Dilan tulus.
Karrel mengatupkan bibir. Menekan pipi bagian dalam dengan lidah.
"Lo berdua ngapain bisik-bisik?" celatuk Tia memicing curiga.
"Paan sih. Siapa yang bisik-bisik?!" sembur Dilan.
"Buset. Ya nggak usah nge-gas juga," kata Bobby.
"Gue juga mau ngeluarin harapan gue. Dengerin dong!" kata Tia merengek.
"Iya iya,"
"Hmm, ekhem. Makasih buat tahun yesterday, karena udah ketemuin gue sama primata primata ini. Dan buat tahun tomorrow, gue harap bisa ketemu sama jodoh gue. Gue pengen punya cowok yang ganteng, pengertian, baik, setia. Yang terpenting gue mau yang lokal! No impor-impor! No blasteran blasteran!" Tia menggebu-gebu.
Theo dan Axel reflek mengumpat.
Dilan tertawa melihat wajah Axel dan Theo menahan kesal karena ucapan Tia.
Dilan terperanjat kaget saat denting handphone-nya berbunyi tanda ada notifikasi yang masuk. Dilan membuka kunci layar dan memencet aplikasi pesan berwarna hijau.
Keningnya berkerut. Lalu matanya membulat melihat pesan yang tertera di layar.
Bunda Ani.
'Dilan sayang. Maaf baru kasi tau kamu sekarang. Alhamdulillah Bara udah dapet donor jantung yang cocok. Pendonornya salah satu kerabat bunda yang ada di Singapura. Jadi, terpaksa Bara harus dibawa ke Singapura. Bunda berangkat beberapa menit lagi. Maaf karena nggak sempat ngabarin kamu.'
"Kenapa Lan??" tanya Karrel khawatir melihat Dilan terduduk lemah di tanah.
"Bara," lirih Dilan membekap mulutnya dengan air mata mengalir begitu saja.
***
**Jangan lupa untuk ninggalin jejak yaaa gaesss🥺
follow juga ig qyuu...
__ADS_1
@colorfull_green7**