
Pagi ini Dilan terlihat begitu fresh. Bagaimana tidak, pacarnya sekarang sudah kembali. Ah, senangnya.
Dibalut seragam kebanggaan khas SMA Garuda Bangsa, Dilan menuruni tangga. Ia menuju dapur untuk sarapan. Namun alis Dilan menukik tajam melihat Raden ada dimeja makan.
"De'! Udah mau berangkat? Sini atuh sarapan dulu," sapa Anjani lembut.
Kalau saja bukan karena perutnya yang meronta minta diisi, Dilan ogah makan satu meja dengan Raden. Ditambah lagi ada Malika, adik Iyan. Ngapain bocah itu ikut ada disini?
"Gimana kamu sama Gavian? Udah ada perkembangan?" tanya Raden seketika membuat nafsu makan Dilan hilang.
"Nggak ada! Saya nggak suka sama kak Gavi. Jadi saya minta batalin perjodohan ini!" kata Dilan dengan penuh penekanan.
Raden seketika menggeram tak suka dengan sikap Dilan yang selalu saja membangkang.
"Suka tidak suka. Mau tidak mau. Kamu akan tetap papa jodohkan dengan Gavian! Terserah kamu setuju atau tidak,"
"Apa-apaan sih! Kenapa saya jadi jembatan Anda buat lancarin bisinis kalian?? Kalian pikir saya ini barang?"
"Jaga mulut kamu Maharani! Kamu tau sopan santun tidak?! Liat disini ada adik kamu, jangan beri dia contoh yang buruk!"
Dilan terkekeh sinis. "Nggak ngaca? Anda sendiri menjadi contoh yang buruk buat bang Dimas. Gimana kalo dia nanti ikutin jejak Anda? Menikah diam-diam tanpa sepengetahuan istrinya nanti?" ucap Dilan penuh sarkastik.
Kemudian mencium tangan Anjani. Lalu melenggang pergi. Meninggalkan Raden yang menahan kesal karena ucapan Dilan.
"Loh?? Dede' mana Bu?" tanya Dimas yang baru datang memakai setelan jas nya.
"Udah berangkat bang. Sana kamu anterin dede'!" suruh Anjani.
Dimas yang memang tidak biasa sarapan mengangguk cepat. Lalu mencium tangan Anjani. Ia sempat melirik Raden, tanpa pamit ke Raden Dimas segera menyusul Dilan.
"Dek!" panggil Dimas agak keras.
Dilan yang berjalan menoleh cepat.
"Berangkat bareng Abang aja, yuk!" ajak Dimas.
"Nggak usah bang. Entar Abang telat, kantor Abang sama sekolah dede' kan beda arah," tolak Dilan.
"Nggak papa. Boss Abang juga hari ini masuknya agak siang jadi Abang nggak akan dimarahin kalo telat dikit," ujar Dimas.
Dilan menipiskan bibir. Lalu naik kemobil Dimas.
"Dede' masuk ya, bang," pamit Dilan setelah sampai didepan gerbang sekolahnya.
"Iya, yang bener belajarnya! Jangan taunya cuma cinta cintaan aja!" goda Dimas.
"Abang apa sih! Siapa juga yang cinta cintaan!" sewot Dilan. Lalu keluar dengan pipi yang bersemu merah.
"Ciyeee, blushing tuh," goda Dimas lagi.
"Abang ihh," rengek Dilan.
"Hahaha, yaudah sana masuk,"
Dilan mengerucutkan bibirnya melihat mobil Dimas meninggalkan area sekolahnya.
Ia lalu masuk. Namun sejak dari pertama ia menginjakkan kakinya disekolah, mata para siswa disana terus menatap Dilan dengan tatapan aneh. Entah Dilan merasa mereka menatap Dilan seolah jijik dan penuh hujat. Tak sedikit pula bisik-bisikan yang membicarakan Dilan.
"Dasar bit*h! Masih berani dia masuk sekolah,"
__ADS_1
Dilan mengeryit mendengar umpatan salah seorang siswa. Dilan tidak yakin ejekan itu ditujukan untuknya. Namun kenapa pas sekali saat ia melewati siswa tersebut.
"Piwit piwit! Woi Dilan! Gue pengen pake elo malam ini. Kira-kira berapa bayaran elo permalam??"
"Ceban cukup kagak?"
"Cukuplah buat beli paket data, haha,"
Cukup. Dilan tak tahan lagi. Ia membalikkan badannya lalu menatap tajam siswa tersebut yang merendahkan dirinya.
"MAKSUD LO SEMUA APA?! KALO NGOMONG ITU DIJAGA!" sentak Dilan.
"Cih, sok banget. Cewek kayak elo tuh emang pantes digituin,"
"Biar tau diri dikit," tambah yang lain.
"Bapak sama anak sama aja. Sama-sama suka main belakang,"
"HEH!! PUNYA MULUT TUH DIJAGA! COWOK KOK MULUTNYA LAMBEH BANGET!!" Miara tiba-tiba datang dan menendang kaki salah satu dari mereka.
Dilan mematung mendengar perkataan siswa laki-laki tersebut. Apa maksudnya? Kenapa tiba-tiba mereka merendahkan dirinya? Dan darimana juga mereka tau jika papanya menikah dua kali?
"Ra, udah," lerai Dilan. "Maksud Lo apa ngomong kayak gitu??" tanya Dilan pada cowok yang Miara tendang tadi.
Cowok ber-name tage M. Kafri itu tertawa sinis. "Mending Lo liat sendiri dimading sekolah. Ada berita 'HOT' tentang elo," kata Kafri dengan nada mengejek.
Kening Dilan semakin mengerut. Lalu segera beranjak menuju mading sekolah diikuti Miara. Sebelum itu Miara sempat menggeplak kepala Kafri membuat empunya mengaduh.
Mading sekolah begitu penuh dikerumuni oleh murid-murid. Melihat Dilan yang datang sontak para murid yang berdiri didepan mading mempersilahkan Dilan maju membelah kerumunan itu. Tentu saja senyuman mengejek kembali menghiasi wajah para siswa-siswi yang ada disana.
Dilan tertegun. Tubuhnya membatu dan bola matanya seolah akan keluar. Lidahnya kelu. Pun dengan Miara tak kalah terkejutnya.
"Lan–," tenggorokan Miara tercekat.
Ada gambar Dilan yang dirangkul Karrel dalam posisi ia berdiri dan Karrel duduk, dengan tangan Karrel mengelus pipi Dilan. Dilan ingat saat itu ia mengobati Karrel karena berantem dengan Bara.
Ada juga saat mereka di rooftop lagi-lagi adegan berpelukan. Kedekatan mereka dipuncak, dirumah sakit beberapa waktu lalu dan yang terparah saat Karrel mencium keningnya dibelakang sekolah.
Dilan terkejut. Siapa yang mengambil foto mereka diam-diam?
Masalahnya bukan hanya foto dirinya dengan Karrel. Namun ada beberapa foto dia dan Gavian juga. Dimana Gavian berlaku manis padanya, dan Dilan seolah menikmati itu.
Lalu ada juga Iyan dalam beberapa gambar. Dilan ingat apa yang terjadi didalam foto mereka adalah Dilan yang marah pada Iyan. Tapi kenapa malah seolah Dilan merajuk manja pada cowok itu?
Yang terakhir ada gambar dirinya digendong Mike? Dan mereka terlihat tertawa tanpa beban. Tidak! Yang terjadi waktu itu, Dilan terjatuh dan Mike yang membantunya menuju mobil sekolah yang mengantar Dilan dan lainnya saat olimpiade puisi. Mereka memang akrab karena sering dipertemukan dan menjadi rivalnya dalam lomba membaca puisi.
Yang membuat Dilan hampir tersedak ludahnya sendiri adalah foto pernikahan Raden yang dicetak paling besar. Ada foto pengantin Raden dan Anjani, ibu Dilan. Lalu ada juga foto Raden dan Riska, ibu Iyan saling merangkul dengan pakaian pengantin sederhana.
Dilan membekap mulutnya syok. Bukan ia merasa dirinya rendah karena dituduh murah lewat foto-foto tersebut namun ia malu ditambah sakit melihat keluarganya yang berantakan dipamerkan dan dilihat seluruh sekolah.
Bahu Dilan melemas, rasanya ia tak kuat berdiri. Ia ambruk kelantai. Dengan air mata luruh dipipinya tanpa ia minta.
Miara segera berjongkok lalu memeluk Dilan berusaha menenangkan dia.
"Lan," Miara tak mampu berkata-kata. Ia ikut merasakan sakit untuk sahabatnya.
"Jadi gini kelakuan pak Raden? Ckckck, pantas anaknya kelakuannya nggak berbanding terbalik sama dia," ledek salah seorang dari siswi disitu.
"Udah gue duga sih. Mana ada cewek gampang deket sama Karrel yang notabenenya murid baru. Nggak tau deh apa yang udah dia kasih sama Karrel sampai-sampai Karrel mau nempel terus sama dia kayak perangko," timpal yang lain.
__ADS_1
"Cih, setiap hari koar-koar kalo dia anaknya ketua Yayasan Bangsa berasa bangga banget punya bokap tukang tanam benih dimana-mana. Kalo gue mah udah kabur dari rumah saking muak nya liat muka bokap kelakuannya kayak gitu. Ini mah beda sayy, bangga plus percaya dirinya kelewat tinggi,"
"Najis tau nggak! Untung gue nggak jadi naksir dia," umpat salah satu murid laki-laki.
Ini yang Dilan takutkan jika orang-orang tau pasal keluarganya. Karena itu ia selalu membanggakan Raden didepan orang, karena ia tidak mau dicap anak broken home dan dikasihani. Tapi sekarang, dia tidak hanya dikasihani namun juga dihujani hujatan karena ulah Raden.
Dilan hanyalah anak SMA yang bahkan belum genap 17 tahun. Apakah salah jika ia bersembunyi dibalik nama Raden yang sukses sebagai ketua Yayasan Bangsa? Apakah salah jika ia tak mau ada yang tau mengenai keluarganya?
Gadis itu hanya mampu menangis. Dilan yang biasanya mampu mengembalikan perkataan orang yang tak suka terhadapnya, sekarang untuk bicara saja sulit rasanya.
Telinganya rasanya panas mendengar umpatan serta hujatan yang diberikan padanya. Tak mau lama-lama mendengar suara yang menusuk hati paling dalamnya, Dilan berdiri dan berlari meninggalkan kerumunan itu.
"DILAN!!" teriak Miara mengejar Dilan.
Dilan terus berlari sembari menghapus air matanya dengan kasar. Tak mengindahkan panggilan Miara ia terus berlari sampai ke gerbang sekolah.
Ia melempar tasnya asal lalu berlari meninggalkan sekolah. Entah kemana tujuannya yang pasti ia ingin lari sekuat tenaga. Lari dari kenyataan jika bisa.
Miara tercengang lalu memungut tas Dilan. Baru saja ia hendak berlari mengejar Dilan, tiba-tiba kakinya tersandung. Ia meringis melihat lututnya mengeluarkan darah.
Miara tersadar lalu celingak-celinguk mencari Dilan yang sudah tak terlihat lagi. Entah kemana gadis itu.
"RA!!" panggil Bobby, Theo, Aruk dan Iyan bersamaan mendekat.
"Lo nggak papa?" tanya Bobby sembari membantu gadis itu berdiri.
Miara menggeleng. "Tapi Dilan Bob," adunya parau.
"Gue tau," Bobby membawa Miara kepelukan nya.
Theo dan Aruk ikut menghela nafas. Prihatin.
Tanpa mereka sadari Iyan mengepalkan tangannya dengan wajah tampak menahan amarahnya.
Dilan terus berlari dan berlari. Air matanya masih setia menemani langkah cepatnya.
Ia bahkan tak sadar sudah berapa jauh ia berlari.
Namun tanpa sadar ia berhenti disebuah bukit kecil. Ia dapat melihat dengan jelas dibawahnya ada danau.
Ia ingat ini tempat yang pernah Karrel perlihatkan padanya malam itu. Dilan duduk direrumputan. Kakinya ia lipat keatas kemudian memeluk lututnya. Wajahnya ia benamkan diatas lututnya.
Hatinya benar-benar sakit mendengar penghinaan orang-orang tadi. Hujan tiba-tiba turun membuat tangis gadis itu semakin menjadi-jadi. Seakan langit ikut mengolok-olok nya, hingga ia diguyur dengan lebat sekarang.
Panggilan serta notifikasi pesan terus masuk dari teman-temannya. Namun ia hiraukan. Melihat nama kekasihnya, Dilan mendial nomor Bara. Tersambung tapi tidak diangkat.
Dilan menyerah. Sudah lima kali ia mencoba menghubungi Bara namun tak diangkat juga. Mungkin Bara sedang sibuk, atau terapi atau mungkin check up sehingga tidak bisa mengangkat telpon darinya. Pikir Dilan.
Untung saja ponselnya tipe tahan air jadi ia tidak perlu khawatir jika hpnya ikut basah terkena air hujan.
Lalu sebuah pesan membuat Dilan hampir membuang ponselnya jika tak sadar. Iyan, cowok itu kenapa mengirim pesan yang membuatnya Dilan semakin sedih saja.
'Dilan aku minta maaf. Aku janji bakal bersihin nama kamu lagi. Besok aku harap kamu datang ke sekolah. Karena besok semuanya bakalan baik-baik aja. Keep smile ^_^ '
"Smile, gigi Lo kering!"
Dilan kembali menyatukan keningnya dengan lutut. Sampai ia merasa air hujan tak lagi membasahi tubuhnya. Ia mengangkat wajahnya. Keningnya mengeryit melihat hujan jelas masih belum reda.
Lalu netranya menangkap sepasang sepatu kets biru dihadapannya. Ia mendongak. Matanya membulat dengan tenggorokan tercekat melihat cowok dengan pakaian basket tengah berdiri memegang payung kuning menghalau air hujan mengguyur Dilan.
__ADS_1
Cowok itu merunduk dan tersenyum tipis. Ia kemudian berjongkok hingga posisi wajah Dilan dan cowok itu sejajar.
"Lo ngapain disini?" tanya Dilan dengan suara serak.