
Dilan, Miara dan Bobby cs berjalan angkuh di koridor sekolah. Jangan lupakan Gavian juga ikut.
Karena hari ini mereka akan mengklarifikasi masalah gosip Dilan itu.
Dilan berjalan menunduk sambil memilin jarinya. Takut plus gugup.
"Lo jangan khawatir Lan. Kita bakal temenin elo kok," ucap Miara.
Dilan mendesah berat.
Gavian malah asyik dadah-dadah sama siswi sekolah Dilan. Kacamata hitamnya menambah ketampanan pemuda itu. Dilan serta yang lain mendelik melihat tingkah kakak kelas SMA sebelah mereka yang ternyata tak beda jauh dengan Bobby dan Aruk.
Jika kalian bertanya dimana Tia. Queen bee Garuda Bangsa itu pindah sekolah karena kasus yang menimpa dirinya beberapa hari lalu. Ya, kasusnya sih sudah berakhir dan Tia terbukti bukan dia yang ada dalam video itu. Tapi, entah masalah apa hingga ia memilih pindah sekolah.
Ruang ekskul untuk anak jurnalis adalah tujuan mereka. Pintu dibuka kasar oleh Miara. Siswa yang ada didalam sontak terkaget.
"Kori! Sesuai janji Lo kemarin," kata Bobby membuat siswa bernama Kori itu tersentak.
"Suka-suka elo," ucap Kori pasrah.
"Kamera, mana kamera?" tanya Aruk tidak sabaran.
"Lagi disetting," sahut salah satu anak jurnalis yang tengah mensetting kamera.
"Bagus. Yang cepetan kerjanya!"
Dilan mengerjap baru sadar. "Lo pada mau ngapain sih?" tanyanya.
"Lo nggak perlu banyak nanya Lan. Nanti juga elo tau," jawab Bobby.
Dilan semakin tak mengerti. Apa yang sebenarnya teman-temannya hendak lakukan.
"Nah. Udah siap nih," seru Kori.
"Lan. Cepetan sini!" suruh Bobby yang bersiap didepan kamera.
Dilan pasrah saja ditarik Gavian agar mendekat ke arahnya.
"Cameraaa? Rolling...and action!" pekik Kori.
"Haii! Kenalin gue Bobby," sapa Bobby ceria saat kamera menyala.
"Gue Aruk. Ini Theo," Aruk merangkul pundak Theo yang tersenyum kaku.
"Kalo gue Miara. Sahabat Dilan," sahut Miara.
"Kalian lagi live??" bisik Dilan.
Miara tersenyum lembut pada Dilan. Lalu menatap kamera.
Ya. Mereka sedang live streaming. Dengan akun sosial media khusus SMA Garuda Bangsa yang dikelola anak jurnalis.
Ini semua rencana teman-teman Dilan untuk membersikan namanya dari gosip miring yang menimpa dirinya kemarin.
"Kita disini buat klarifikasi tentang foto yang beredar kemarin. Karena oknum yang nggak bertanggung jawab udah bikin teman kita seakan-akan gampangan banget," ujar Miara.
"Dan kita udah bawa seseorang yang termasuk dari foto yang beredar dengan adanya Dilan didalamnya. Gavian!"
Gavian tersenyum tipis pada kamera. "Hai, gue Gavian. Anak Pajajaran. Kalian pasti bingung kan, kenapa gue bisa akrab sama Dilan?" Gavian merangkul pundak Dilan sok akrab.
Dilan tersentak samar. Memandang Gavian penuh peringatan.
Cowok itu melepas kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
__ADS_1
"Gue kakak kelas Dilan waktu SMP dan kita emang lumayan deket. Deket dalam artian gue udah anggep Dilan sebagai adek gue sendiri dan sebaliknya."
"Guys, ada yang komen! Katanya 'kak Gavian kenapa bisa sama Dilan dan dia pake dress difoto itu', gitu." seru Kori membaca komen.
Gavian mengulum bibir menahan senyum. Dilan mendelik seketika, takut cowok itu bocor kalau mereka berencana dijodohkan dengan kedua orang tua mereka.
"Karena--," Gavian menggantung kalimatnya.
Ia melirik Dilan yang menatap tajam penuh intimidasi padanya.
"--gue undang Dilan ke ultah gue. Dan dia nggak ada tumpangan jadinya gue yang nganterin Dilan pulang. Gimana? Udah ke jawab kan??" sambung Gavian membuat Dilan menghela nafas lega.
"Ok. Soal Karrel itu gimana??" celatuk Kori membaca komen lagi.
Dilan menggigit bibir bawahnya. "Soal Karrel--,"
"Seantero sekolah juga udah tau kalo gue dan Dilan sahabatan," suara berat Karrel menyambar.
Tau-tau ia sudah berada didepan kamera. Dan mengambil posisi ditengah-tengah Dilan dan Gavian.
Dilan mendongak menatap tak percaya Karrel. Karrel tetap memasang wajah datarnya.
"Gue nggak perlu jelasin banyak. Soal gue yang meluk atau dipeluk Dilan, itu bukan urusan Lo semua! Karena disini kita saling support sistem. Jadi pendengar, pundak dan tangan yang baik buat teman yang lagi kesusahan. Lo pada emang nggak pernah punya sahabat? Hah??" kata Karrel datar dengan intonasi yang penuh penekanan.
Semua yang berada diruangan itu terperangah termasuk Dilan. Ia tak percaya dengan apa yang didengar dan dilihatnya.
Karrel? Bukannya dia sedang marah? Tidak! Bukannya dia tidak mau dekat-dekat dengan dirinya lagi? Ya, meski Dilan sendiri tak tau alasan sebenarnya Karrel tiba-tiba menjauhinya. Namun, ia sedikit senang karena sahabatnya membelanya.
"Iya! Kita sahabat. Jadi, apa perlu gue jelasin panjang kali lebar sama Lo pada soal gue yang dipeluk sama Karrel?" ucap Dilan.
"Nggak ada namanya antara cowok dan cewek temenan, pasti salah satunya ada yang suka-- anjir! Heh, gue buktinya! Gue temenan sama Dilan. Gue sahabatan sama Dilan sama Tia dan gue nggak napsu tuh sama mereka! Lo jangan ngomong sembarangan @rani.putri!" pekik Bobby tak terima. Langsung sewot saat membaca komen dari anak sekolah lain yang entah mengapa bisa melihat siaran live mereka.
Ia mendengus dengan nafas memburu. Miara segera menenangkan cowoknya itu. Kalo udah keluar taring, Bobby bisa menakutkan sebenarnya.
"Pada nggak ada otak!" hardik Theo.
"Terserah Lo pada mau bilang apa. Yang jelas apa yang Lo tuduhin itu nggak benar," kata Dilan.
Kori menipiskan bibir lalu berkata lagi membuat Karrel tersentak samar.
"Siapa cowok yang gendong elo, Lan??" Kori mewakilkan komen netizen.
Karrel menggigit bibir bawahnya. Berusaha menahan sesak yang menghimpit dadanya.
Miara sendiri sadar atas perubahan raut Karrel. Ia mendesah. "Mike," ucap Miara sebelum Dilan mulai bicara.
"Dia kakak gue," sontak mata Dilan membola.
Sejak kapan Miara punya kakak? Setahunya Miara anak tunggal.
Seakan mengerti dengan delikan Dilan, Miara kembali bicara.
"Cowok yang gendong Dilan di foto itu, kakak gue Mike. Dia udah meninggal beberapa bulan yang lalu akibat kecelakaan. Dia gendong Dilan waktu itu karena Dilan lagi cidera. Dan kebetulan kakak gue dan Dilan sering ketemu pas lomba puisi makanya mereka jadi kenal. Jadi?? Apa salah kalo rival dia bantu Dilan saat dia jatoh??" pernyataan Miara benar-benar membuat Dilan semakin bungkam.
Ia tak tau harus bereaksi seperti apa. Karrel sahabat Mike. Dan kebetulan macam apa ini? Ternyata Miara adik dari mendiang Mike. Lalu apakah Karrel mengetahui hal tersebut.
Melihat raut wajah Karrel yang biasa saja. Dilan yakin pemuda itu sudah tau fakta itu. Berbeda dengan Bobby, Aruk dan Theo yang melongo masih diambang kebingungan. Mencerna apa yang gadis berambut cepak itu cecar kan.
Sontak berbagai komen dari netizen baik anak sekolah mereka maupun sekolah lain semakin banyak berdatangan.
Kori dan Bobby yang membaca komen bahkan meneguk ludah tanpa sadar. Saking banyaknya komen yang masuk mereka sampai kewalahan.
Hp yang dipakai mereka pun sampai ngelleg.
__ADS_1
Mata Bobby membulat saat akun ketua Yayasan atau ayah Dilan juga ikut berkomentar.
"Lan--" cicit Bobby.
Dilan yang melamun jadi menoleh.
"Bokap Lo komen," kata Bobby lewat gerakan mulut.
Dilan langsung menyambar ponsel ditangan Bobby.
Ia kemudian membaca komentar dari akun @radenraja78.
"Pulang??" beo Dilan.
Maksudnya apa? Raden memintanya untuk pulang begitu? Tapi klarifikasi mereka belum selesai.
"Lan. Bokap Lo minta Lo buat pulang?" tanya Bobby.
Karrel melirik sekilas. Lalu beranjak dari ruangan itu.
"Loh Rel?? Lo mau kemana?" tahan Aruk.
"Urusan gue udah selesai," lalu Karrel meninggalkan mereka semua.
Dilan yang merunduk dan berpikir tentang apa yang akan Raden lakukan kali ini padanya jadi menoleh.
Ia berdiri dan mencekal tangan Karrel yang sudah berada didepan pintu.
"Rel,"
Karrel berdehem saja dengan alis naik sebelah.
"Lo-- masih marah sama gue?" Dilan gatal ingin menanyakan hal itu pada Karrel.
Karrel tersenyum samar. "Emang Lo ada salah apa sama gue?" Karrel balik bertanya.
Dilan mencuat samar. "Ya, nggak tau! Orang Lo tiba-tiba sinisin gue,"
Karrel mengacak rambut Dilan yang kali ini tidak dikepang namun dibiarkan tergerai. Menambah kecantikan gadis itu. Terlebih rambutnya yang lurus jadi keriting kecil karena keseringan dikepang.
"Sorry. Gue udah bikin elo bingung," ucap Karrel.
Dilan mengangguk. Ia tersenyum hangat membuat hati Karrel ikut menghangat.
"Lo beresin urusan Lo disini. Gue juga mau beresin urusan gue di tempat lain," ujar Karrel lalu pergi.
"Maksud Lo?" namun Karrel tak menggubris pertanyaan Dilan.
Ia sudah menghilang dari pandangan Dilan.
Raut wajah Karrel yang semula biasa saja saat didepan teman-temannya berubah. Ia melangkah besar dengan tatapan menghunus.
Lalu menaiki motor sportnya. Tak peduli jika satpam melarangnya membolos. Melihat raut siswa itu yang kelihatannya tak mau diganggu, satpam meneguk ludah agak takut.
Lebih baik membiarkan Karrel pergi daripada mendapat masalah. Ia tau siapa Karrel.
_________
Akhirnya klarifikasi selesai Dilan bisa bernafas lega. Meski masih banyak pihak-pihak yang memandangnya buruk tapi ia tak peduli. Karena sahabatnya selalu mendukungnya.
Kini ia sudah berada dirumahnya.
Ia duduk diruang tengah menunggu Raden yang katanya akan datang. Dilan sih, tidak peduli apa yang akan papanya katakan nanti. Toh, bukan maunya Dilan juga sehingga ada kabar miring mengenai dirinya.
__ADS_1
Tak lama setelah itu Raden datang. Namun ia tak sendiri. Riska dan keluarga datang bersama.
Dilan mendengus. Mau apa lagi mereka.