
"Assalamualaikum," Dimas memberi salam.
"Waalaikumsalam," jawab Dilan lesu.
Dimas yang baru pulang dari kantor lantas heran melihat wajah sang adik yang ditekuk.
"Kenapa de'? tanya Dimas khawatir.
Dilan menggeleng. Lalu melanggengkan masuk. Ia memilih duduk di sofa depan TV.
Dimas mengedikan bahu lalu masuk ke kamarnya.
Dilan meraih remot tv dan menekan tombol power.
Bahu Dilan yang tadinya merosot langsung menegak.
"TIA!!" pekiknya.
"Selebgram terkenal yang bernama lengkap Astia Kania Ajeng Kartika ini diketahui tengah menjalin hubungan dengan salah seorang model dan juga mantan trainee idol salah satu agensi di Korea, Gerald Hadvison Karendrar. Beredar kabar bahwa gaya berpacaran mereka yang kelewat dewasa. Dilansir dari salah video amatir yang memperlihatkan keduanya tengah berciuman panas."
"Dari video yang beredar, tidak menunjukkan muka sang perempuan dengan jelas. Namun jika dilihat dari warna dan gaya rambutnya yang nyentrik, para netizen yakin bahwa gadis yang bersama Gerald adalah Astia."
"Netizen mencocokkan bentuk tubuh serta rambut perempuan dalam video tersebut. Dan mereka yakin perempuan dalam video tersebut adalah selebgram tersebut."
"Banyak bukti yang menunjukkan bahwa keduanya memang memiliki hubungan. Mereka kerap tertangkap kamera fans sedang kencan diberbagai tempat."
"Baru baru ini diduga mereka juga menghabiskan malam tahun baru disalah satu hotel di Jakarta–"
Dilan mematikan tv tersebut. Segera ia menuju kamar dan menelpon sahabatnya itu.
Dilan berdecak. Beberapa kali ia mencoba menghubungi Tia, namun nomornya tidak aktif.
"Ti, Lo nggak kenapa-kenapa kan?" erang Dilan khawatir.
"Mia! Iya gue harus ngabarin Miara!"
Dilan lalu mendial nomor Miara.
"Halo Ra! Ra Tia!" pekik Dilan saat teleponnya tersambung.
"Iya gue tau! Jangan nge-gas juga Lan! Gua nggak budeg ,"
"Namanya juga khawatir," kilahnya.
"Lan, Lo nggak percaya kan sama berita 'ntuh,"
"Ya iya bego! Gue yakin Tia nggak gitu. Tuh anak emang cabe, tapi nggak mungkin sebego itu,"
Miara terdengar mendesah panjang. "Gue khawatir sama Tia, Lan. Nomernya nggak aktif juga," adu Miara.
"Sama Ra. Gue juga khawatir banget. Kita kerumahnya aja yuk," usul Dilan.
"Enggak bisa! Wartawan ngerumunin rumah Tia udah kayak pembagian sembako anjir,"
"Terus giman dong," kata Dilan frustasi.
"Kagak tau nyet!"
Hening sejenak.
"Axel! Coba kita tanya Axel. Siapa tau dia bisa bantu kita," usul Miara.
"Oh iya! Kan dia ada feeling sama Tia,"
"Tapi gue nggak ada nomernya,"
"Terus? Gimana dong. Theo aja deh," ujar Dilan.
"Anaknya lagi turnamen futsal dibandung bego!" umpat Miara.
"Masa nggak ada yang bisa kita minta bantuan buat masuk kerumahnya Tia,"
"Axel aja udah,"
"Kan kita nggak ada nomernya ege," sungut Dilan.
"Minta Karrel sana!" suruh Miara dari balik telpon.
"Karrel kagak mau ngomong ama gue bangsat!" tolaknya.
"Dihh? Sok yes banget Lo berdua. Ya elo ngomong duluan lah!"
"Dibilangin Karrel lagi marahan sama gue. Meneketehe karena apa. Tiba-tiba ngehindarin gue tau!" curhat Dilan.
"Yaudah deh, sini gue minta nomernya si Karrel,"
"Ok, ntar gue kirim,"
"Ok, nanti sekalian kita kerumah Tia bareng yang lain,"
Dilan mengangguk. Lalu mematikan panggilan sepihak.
Dilan mendesah panjang. Entah permasalahan apa yang menimpa sahabatnya.
"DEDEEE!!" suara lantang Dimas terdengar dilantai bawah.
"Ck, bang Dimas kenapa lagi," dumel Dilan sambil berjalan menuju lantai bawah.
"Apa bang?" tanyanya saat tiba didepan Dimas yang duduk anteng dikursi.
"Nih! Disuruh ibu pake ini ntar malam," kata Dimas seraya memberikan paper bag.
Dilan mengeryit. Lalu meraih paper bag itu. Alis Dilan semakin menukik saat mengetahui isi paper bag tersebut. Ternyata adalah sebuah baju.
"Buat apaan nih bang?" tanya Dilan penasaran.
"Raden ngajakin makan malam," jawab Dimas.
Memang baik dia dan Dilan tak ada yang menyebut Raden dengan sebutan papa lagi. Namun Dilan masih sopan– sedikit? Karena tidak menyebutkan nama papanya seperti Dimas abangnya.
"Ck, males," Dilan duduk dikursi yang kosong.
"Udah nurut aja! Ibu nanti sedih kalo kamu nggak mau," ujar Dimas
"Kalo makan doang kenapa harus pake dress gini?," Dilan mengeluarkan isi paper bag itu. Menunjukkan dress selutut cantik warna merah.
"Iyan sama keluarganya nggak ikut kali ini,"
Dilan yang sibuk mencocokan dress tersebut dengan dirinya jadi mendelik.
"Bagus deh. Dede' ikut kalo dia nggak ikut," kata Dilan.
Dimas gemas lalu mengacak rambut adiknya. "Udah sana mandi terus siap-siap!"
Dilan mengangguk. Langkahnya terhenti lalu kembali menoleh pada Dimas.
"Tapi bang, dede' mau kerumah Tia nanti," seru Dilan baru ingat.
__ADS_1
"Tia?" alis Dimas menukik.
Dilan mengangguk. "Iya. Dia lagi ada masalah. Dede' mau ngehibur teman dede',"
"Besok besok aja. Abang nggak mau Raden ngamuk karena nggak liat kamu dateng," saran Dimas.
"Tapi bang–" .
"De' abang mohon. Sekali aja, abang capek liat ibu nangis gara-gara Raden sialan itu," pinta Dimas.
"Iya bang," kata Dilan menurut.
_______
Karrel melempar tasnya asal. Melonggarkan dasinya yang terasa mencekat lehernya. Ia menggeram frustasi sambil mengacak rambutnya.
Tatapannya jatuh pada pigura dinakas.
"Gue bakal tepatin janji gue Mike,"
Karrel memandang foto mendiang sahabatnya itu. Sampai suara ketukan pintu membuatnya tersentak.
"Den?? Tuan dan nyonya mau ketemu Aden," suara maid dari balik pintu kamar.
Karrel menaruh bingkai foto itu kembali ke tempat semula.
"Bilang saya turun sebentar lagi," ujar Karrel.
Karrel masuk kekamar mandi lalu mandi sebentar.
Tubuh atletisnya dibiarkan terguyur air. Ia tak bergeming, berharap kepalanya yang terguyur dinginnya air shower mampu menghapus wajah cantik Dilan yang menangis karena ulahnya.
Mata bulat serta wajah pias Dilan terus memenuhi kepalanya. Jujur berlaku dingin pada gadis imut yang dicintainya itu membuat hati Karrel ikut sakit.
Setelah mandi. Karrel memilih memakai kaos hitam dengan celana selutut santai. Penampilan sederhana namun dipastikan membuat para kaum hawa menahan nafas.
Karrel menuju ruang keluarga. Dilihatnya kedua orang yang berjasa besar dalam kehidupannya. Ditambah satu lagi, pria yang sudah tidak muda lagi.
"Mom. Dad. Opah," sapa Karrel sopan lalu duduk disebelah Marisa ibunya.
"Udah makan boy?" tanya Radeya opah alias kakek Karrel.
Karrel mengangguk. "Udah opah,"
Radeya tersenyum lalu menyeruput kopi yang sudah disediakan di meja.
"Gimana sekolah kamu?" tanya Jordan ayah Karrel.
"Kayak biasanya dad," jawab Karrel santai.
"Daddy dapat laporan, katanya kamu berantem disekolah??" ujar Jordan.
Karrel yang hendak memasukkan snack kemulutnya lantas terhenti. Kemudian melirik Jordan sebentar.
"Bukan berantem. Tapi aku yang mukulin," kata Karrel santai seolah itu bukanlah hal besar.
Jordan berdecak. "Kamu ini,"
"Ya ampun! Tangan kamu kenapa luka gini nak," panik Marisa melihat punggung tangan anaknya penuh luka.
Radeya ikut melirik. "Katanya kamu yang unggul dari lawan kamu. Tapi tangannya kok bisa begitu?"
"Alah pasti gara-gara perempuan," ledek Jordan membuat Karrel mencebikkan bibirnya.
"Paan sih Daddy,"
"Anak kamu ini berantem pasti karena perempuan," tebak Jordan seraya menaik turunkan alisnya menggoda Karrel.
"Kamu lagi suka sama cewek?" tanya Marisa sambil mengoles salep pada luka Karrel.
Karrel meringis kecil saat merasakan perih akibat salep yang dioleskan Marisa.
"Iya sayang. Udah dibawa juga kerumah," seru Jordan semakin semangat.
"Rumah?" pekik Marisa terkejut.
"Kapan?" Radeya menyahut kepo. Dasar opah opah genit. Pikir Karrel.
"Pas malam tahun baru honey. Masa kita lagi ngurusin bisnis demi masa depan dia. Tapi anaknya malah bawa cewek kerumah," adu Jordan menggebu-gebu.
Karrel melempar tatapan tajam pada sang ayah yang dibalas kerlingan oleh Jordan.
"Iya Karrel??" tanya Marisa meminta penjelasan.
"Cowok bawa pacarnya kerumah udah biasa. Kamu tidak usah terkejut berlebihan seperti itu," ujar Radeya santai.
"Kayak kamu nggak pernah main kerumah aku aja jaman dulu," timpal Jordan.
"Papa sama mas sama aja! Ajarin anak kok nggak ada yang bener. Kamu juga Rel! Ngapain bawa anak orang kerumah? Cewek lagi. Kamu mau mami nikahin sekarang? Mau mami lamarin hah?! Emang kamu udah bisa nafkahin anak orang? Mau kamu kasi makan apa anak-anak kamu nanti. Jangan mentang-mentang opah sama Daddy kamu kaya, kamu jadi besar kepala!" omel Marisa.
Jordan dan sang ayah menahan tawa mendengar omelan wanita tersebut, yang sudah merambat ke mana mana.
Karrel mendengus lelah. Ini semua karena ulah sang ayah yang biang kerok sekali. Ditambah lagi opanya yang tak mau absen menistakan cucunya.
"Cewek apa sih mam?? Aku nggak ada cewek," elak Karrel.
"Boong itu. Orang dibawa kerumah," sumpah ini mulut daddy-nya minta disumpal.
Sedangkan Radeya tidak menyahut lagi. Ia lebih memilih memakan camilan sambil meminum kopinya menikmati drama keluarga didepannya yang lebih asyik daripada sinetron Indosiar.
"Rumah apa sih? Daddy jangan mancing-mancing mami dong!" erang Karrel.
"Emang bener kan? Kamu bawa cewek kerumah," goda Jordan.
"Astagfirullah," kata Karrel reflek
tobat.
"Jangan sok alim kamu! Mi, cewek yang Karrel bawa pulang langsung tiga loh," adu Jordan menggebu-gebu.
Karrel melotot. "Nggak mih. Boong itu," elak Karrel.
"Tiga boy?? Wahh, daebak!" sahut Radeya. "Mantap! Berarti cucu opah lelaki perkasa,"
"Opah apaan sih!" sewot Karrel.
Jordan terkikik melihat raut wajah anaknya yang memerah entah menahan kesal atau tersipu.
"Mami, Daddy tuh," adu Karrel merengek.
"Siapa perempuannya Karrel?" tanya Marisa dingin. Karrel reflek meneguk ludah.
Bukan dari daddy-nya ia mendapat sifat dingin namun maminya. Kalau sudah nada bicara sang mami begini Karrel tak bisa apa-apa.
"Ck, kemarin itu aku nggak bawa perempuan kerumah. Maksud aku, iya aku emang bawa perempuan. Tapi, mereka teman-teman aku mih. Dan siapa bilang cuman ada cewek? Bertiga sama Karrel lagi. Enggak mih," jelas Karrel.
"Ngomong yang bener," celatuk Jordan.
__ADS_1
Karrel mendelik. "Ini udah bener dad!"
"Jadi?" kata Marisa.
"Jadi, kemarin itu aku sama teman-teman liburan ke puncak tapi baru beberapa hari terpaksa dibatalin karena pacar temen aku kecelakaan. Jadinya kita pulang. Nah, buat gantiin cara liburan yang batal akhirnya kita bikin acara barbeque-an kecil-kecilan buat rayain malam tahun baru. Iya, ada cewek juga diantara kami. Axel sama yang lain juga ikut kemarin. Kalo nggak percaya tanya aja sama anaknya. Perlu aku telfonin sekarang?" jelas Karrel panjang lebar.
"Panjang amat penjelasannya. Kayak takut banget ketauan," respon Jordan yang memang sudah tau ceritanya dari para pelayan.
Karrel hampir mengumpat jika tak sadar yang meledeknya adalah ayahnya.
"Tapi, kok kamu bawa teman-teman kamu kerumah? Tumben," kata Marisa.
"Ya– karena nggak ada tempat lain. Lagian Karrel pengen pamer dikit sama teman-teman Karrel," dalih Karrel.
"Pamer apa pengen kasi liat Dilan sekaya apa kamu," cibir Jordan.
"Dilan? Kamu suka sama cowok Karrel??" pekik Marisa.
Jordan sudah terbahak bersama sang ayah.
"Dilan itu cewek mih," kata Karrel membenarkan.
Marisa reflek mengelus dadanya. Hampir saja ia jantungan mengira sang anak belok.
"Cantik tau mih," celatuk Jordan. "Mas ada fotonya," katanya hendak memperlihatkan hpnya.
Karrel melotot langsung menyambar hp milik Jordan. "Paan sih dad!" sewot Karrel.
"Cih, malu malu," cibir Jordan.
Karrel berdecak lalu mendelik melihat foto sang mami tertera di layar. Ternyata dia dikerjai oleh daddy-nya.
"Duh anak mami udah gede ternyata. Udah suka sama lawan jenis," kata Marisa terharu memeluk sang anak.
"Apa sih mih!"
"Kapan kapan kamu bawa Dilan kerumah dong," ujar Marisa.
Karrel berdecak. "Apa sih mih,"
"Dari tadi ngomongnya cuman 'apa sih, apa sih'. Nggak ada yang lain apa," tukas Marisa.
"Karrel," panggil Radeya.
Karrel melepas pelukan Marisa. Lalu menoleh pada sang opah.
"Kenapa opah?"
"Jangan kayak gitu sama Dilan! Bukan salah dia," tegas Radeya.
"Kamu cuma nyakitin diri kamu sendiri boy!" kata Radeya menasehati.
Karrel mendesah kemudian mengangguk samar.
Marisa mengeryit melihat wajah Karrel berubah pias.
________
Dilan mendengus sambil berjalan bersama Dimas memasuki kafe yang menjadi tempat mereka akan dinner bersama Raden.
"Jaga ekspresi kamu dek. Mukanya jangan ditekuk kayak gitu!" bisik Dimas memperingati.
Dilan berdecak lalu memperbaiki ekspresi wajahnya.
"Gini??" Dilan menunjukkan wajahnya dengan senyum terpaksa.
Dimas mencubit gemas pipi Dilan. "Iya kayak gitu,"
Dilan dan Dimas menghampiri meja yang sudah disisi oleh Anjani ibunya dengan Raden ayahnya.
Dilan duduk di kursi kosong sebelah Anjani. Sedangkan Dimas di sebelah Raden.
Alis Dilan mengeryit melihat masih ada kursi kosong yang belum terisi di meja mereka.
"Bu, kok ada kursi kosong? Emang kita mau dinner sama siapa lagi? Jangan bilang sama keluarga kedua papa," tebak Dilan berbisik pada Anjani.
Anjani tersenyum lembut. "Bukan atuh de'. Kita teh mau dinner sama teman bisnis papa kamu ," ujar Anjani.
Dilan manggut-manggut. Lalu merunduk bermain hp. Menunggu teman bisnis Raden yang katanya sedikit telat.
Tring.
Bunyi bel pintu kafe tersebut membuat atensi Dilan teralihkan. Ia memandang sepasang suami-isteri yang usianya sama dengan orang tuanya tengah melambai kepada Raden.
"Maaf pak Raden, saya datang terlambat," kata pria itu merasa bersalah sembari menjabat tangan Raden.
"Tidak apa-apa pak Joan. Kami juga belum lama disini. Mari, silahkan duduk!" ujar Raden mempersilahkan.
Joan lalu duduk dikursi kosong. Pun dengan Lati sang istri setelah cipika-cipiki dengan Anjani.
"Duh, jeng Jani makin cantik aja," Lati bersuara.
Anjani hanya tersenyum menanggapi.
"Ngomong-ngomong anak pak Joan mana?" seru Raden.
"Oh, anak saya masih diluar. Sedang memarkirkan mobil," jawab Joan.
"Ini Dilan? Wah, cantik kayak difoto," puji Lati.
Dilan mengangguk sekali sambil tersenyum canggung.
"Ah, lebih cantik di asli nya mah," Joan ikut memuji.
"Anak saya yang satu nggak dipuji nih?" celatuk Raden.
Joan tertawa kecil. "Iya Dimas juga semakin gagah saja,"
Dimas meringis merasa gimana gitu kalo dipuji sama om-om.
"Ck, gue beli juga tuh parkiran. Bala-bala Avanza doang songong!" dumel seseorang yang baru sampai membuat semua Raden dan Joan yang asyik bercengkerama jadi menoleh. Termasuk Dilan.
"Eh! Om, Tante," pemuda yang mengenakan jas yang lengannya digulung hingga sikut itu meringis sambil menyalami Raden serta Anjani bergantian.
"Kamu ini gimana sih? Bicaranya yang sopan! Enggak liat ada orang lain disini?" omel Lati pada sang anak.
"Iya mah, sorry," kata pemuda itu lalu matanya melotot terkejut melihat gadis yang duduk santai dikursi depan.
Dilan mendongak pun tak kalah terkejutnya memandang cowok tampan itu.
Pemuda itu mengerjap beberapa kali bahkan mengucek matanya guna meyakinkan dirinya bahwa ini bukan mimpi.
"Kak Gavi?" lirih Dilan.
Gavian tersenyum lebar pada Dilan. "Hai!" Sapanya. Lalu duduk dikursi sebelah Lati yang berada di antara Dilan dan Lati. Jadi Gavian duduk disamping Dilan.
Gavian menoleh pada Lati. "Mah, jadi yang mau dijodohin sama Gavi, Dilan??" tanya Gavian dengan raut wajah senang.
__ADS_1
Wait, wait, wait! Apa tadi kata kak Gavi? Dijodohkan?? Maksudnya ini gimana? Otak Dilan tiba-tiba nge-bug.