Dilan Picisan

Dilan Picisan
perjalanan (liburan)


__ADS_3

Tak terasa ujian semester ganjil akhirnya selesai. Dan seperti yang direncanakan Dilan dan teman temannya akan berlibur selama dua Minggu ke depan.


Tempat yang menjadi tujuan mereka yaitu puncak. Sengaja mereka tidak pergi ketempat yang terlalu jauh karena budget yang pas-pasan.


"Gimana? Udah siap semua belum?" tanya Bobby.


Mereka menunggu didepan sekolah sesuai kesepakatan.


"Dilan belum dateng," seru Miara diboncengan Bobby.


"Ck, tuh anak dia yang ngajakin, dia juga yang telat," kata Karrel mengomel.


"Sabar Rel," ucap Theo.


Tak lama setelah itu Dilan akhirnya datang bersama Bara diatas motornya.


Karrel membuang muka tak ingin melihat adegan Dilan memeluk Bara dari belakang.


"Akhirnya Lo sampe juga Lan," ujar Miara.


"Ck, ngapain Lo ajakin anak sekolah lain sih?" protes Karrel mendelik tak suka pada Bara.


"Emang kenapa? Dilan pacar gue, wajarlah kalo gue sebagai cowoknya ikut. Siapa Lo main protes segala," sungut Bara tak terima.


"Udah ga tau diri, main dateng keacara liburan anak Garuda Bangsa, terus nyolot lagi," sindir Karrel.


"Lo–"


"Udah udah! Ini pada kenapa sih? Lo berdua ada masalah emang?" lerai Theo memandang Karrel serta Bara bergantian.


Namun keduanya diam dan membuang muka. Theo menghela nafas pasrah.


"Dari pada ribut-ribut ga jelas, mending Lo berdua ga usah ikut aja!" sahut Dilan dengan kesal. Seketika Karrel dan Bara menoleh pada gadis itu bersamaan. Lalu berdecak.


"Udah ga ada lagi yang ketinggalan kan?" tanya Bobby memastikan.


Semuanya lantas mengangguk.


"Yaudah kita berangkat sekarang," lanjut Bobby.


Namun baru saja mereka akan melajukan motornya tiba-tiba ada seorang perempuan yang menghadang motor mereka.


"STOP! KALIAN KOK TEGA NINGGALIN GUE!?" teriak gadis itu sambil merentangkan tangannya.


"TIA!!" seru mereka serentak.


"LO GILA? LO MAU CARI MATI HAH?" omel Dilan.


"NGAPAIN LO DIDEPAN MOTOR KITA SIH! UNTUNG NGGAK KETABRAK!" geram Karrel tak kalah terkejutnya.


"BANGSAT! GUE HAMPIR JANTUNGAN TAU NGGAK!!"


Theo turun dari motornya lalu memeriksa keadaan Tia. Raut wajah terkejut sekaligus khawatir begitu terlihat jelas dimuka Theo. 


"Lo ga papa Ti? Ada yang sakit nggak?" tanya Theo menelisik keadaan Tia dengan raut wajah cemas.


"Kagak kena njir!" kata Dilan lelah.


"Bucin teross" kata Aruk meledek.


"Lebay Lo Theo! Orang anaknya ga kenapa napa, heboh bener, heran gue," kata Bobby.


"Namanya juga penyakit cinta beb, semua terlihat lebay bagi yang tidak merasakan," sahut Miara dengan nada mendayu-dayu.


"Berisik!" kata Theo tanpa menoleh. "Lo kenapa baru dateng? Pake acara ngehadang motor anak anak juga, kenapa ga ngabarin gue? biar sekalian gue jemput hah," lanjutnya dengan lembut setengah berbisik pada Tia.


Tia menipiskan bibirnya. Ia cuma menatap cowok jangkung didepannya ini tak berminat. "Udah ayok berangkat!" kata Tia akhirnya. "Btw GAES gue masih boleh ikut kan??" tanyanya yang dibalas delikan oleh Dilan.


"Kemarin gue ajak Lo kemana?? Sok sibuk banget anjuh, inilah, itulah. Giliran mau berangkat baru deh nongol," kata Dilan sedikit kesal.


"Yaudah ayok!" ajak Theo seraya menggandeng tangan Tia namun gadis itu tak bergeming sedikitpun. Theo mengeryit bingung.


"Kenapa?" tanya Theo.


Tia berdehem lalu menoleh kearah Karrel. "Rel gue bareng Lo ya?? Pliss," kata Tia mengeluarkan puppy eyes andalannya dan menyatukan tangannya membujuk Karrel dengan gaya orang khas orang Korea.


"Kok??"


"Sama pacar Lo aja sana!" kata Karrel malas.


"Pacar apasih? Gue jopi ya!" sarkas Tia. "Jomblo happy," lanjutnya.


"Bareng gue aja Ti! Jok motor gue licin abis gue kasih kit, jadi Lo bisa mepet mepet tanpa ada acara rem rem mendadak," tawar Aruk seraya menaik turunkan alisnya, langsung dicubit Michelle yang memang berada diboncengan nya.


"Nggak usah caper Lo kadal burik!" kata Michelle.


"Atau sama si bencong sana!" suruh Karrel ketus.


"Emang disika ada bincang?" tanya Nabil tak tau diri.


"YA ELO LAH BINCANG NYA!" kata Dilan emosi


"Bincang? BENCONG EGE!" kata Miara meralat.


"Bencong bukan yang kelihatan kalo malam itu ya?" kata Tia memberi tebak-tebakan.


"Ha? Waria??" jawab Bobby bingung.


"Bukan," kata Tia.


"Bintang njir!" sahut Karrel lelah.


"Benar! Seratus buat Karrel Abrar Radeya! Haha," Tia ngakak hampir terjungkal kebelakang jika saja Theo tidak menahan tangan gadis itu. Sedangkan yang lain melengos tak mau pusing.


"Bencong ada lagunya tau," seru Dilan ikut memberi tebakan.


Karrel serta yang lain mengeryit bingung.


"Bencong kecil di langit yang biru..." kata Dilan menyanyikan lagu bintang kecil namun liriknya ia ubah.


"Itu bintang kecil ******!!" umpat Miara. Dilan dan Tia puas tertawa padahal ga lucu sama sekali.


Nabil sendiri sudah manyun, karena jadi bahan bully-an teman-teman laknat nya ini.


Lalu Tia kembali menoel-noel lengan Karrel. "Ya Rel yaaa?? Gue sama Lo aja ya,"


"Ck, nggak!" tolak Karrel. "Nabil juga kosong," katanya ketus. Memang hanya kepada Dilan saja Karrel akan melembut.

__ADS_1


"Nggaklah yaww! Jok gue masih perawan bok, gue ga mau motor gue ternodai apabila dinaiki cabe kam-yse-uupayy,  baby Rel qyuu," tolak Nabil dengan nada manja membuat Karrel bergidik ngeri pada teman cowok, eh cewek, eh apasih yang benar?


"Lah bukannya kemarin Lo udah confess Yo? Anjay Lo ditolak??" kata Dilan kemudian terbahak.


Theo menghela nafas kesal. "Bacot!" katanya ketus.


"Ayok berantem! Aku nggak suka perdamaian!" seru Nabil sambil mengarahkan kamera ponsel kearah Theo dan Tia.


"Gue tampol juga Lo Bil!!" kata Dilan geram dengan mahluk satu itu. Nabil memberengut namun masih setia me-record momen.


"Emang teman kamu itu naksir cewek kayak Tia?" tanya Bara dengan pelan namun masih dapat didengar oleh Dilan.


"Kayak Tia gimana?" Dilan balik bertanya dengan nada tak suka.


Bara berdehem. Sadar akan perkataannya yang seakan mengolok-olok Tia. "Hmm, ya...bukan kayak gimana gimana juga, yang. Cuman kan kamu sendiri tau, temen kamu itu emang suka PHP-in cowok cowok gitu, aku yakin Theo juga tau kelakuan temen kamu yang satu itu," kata Bara hati-hati takut pacarnya itu tersinggung.


Dilan terkekeh kecil melihat ekspresi takut Bara lewat spion motor. "Haha. Emang tuh cabe demen nebar pesona dimana mana. Kamu nggak tau aja satu sekolah udah jadi korban PHP-nya si jablay Tia. Pak Agus aja diratain sama dia," kata Dilan menggebu diakhiri kekehan mengingat wakepsek SMA Garuda Bangsa itu.


"Sampe guru juga digodain sama dia?" tanya Bara polos.


"Iya ege, sampe tunangannya pak Agus nge-labrak aku, dikira aku yang godain pacarnya masa, dipikir aku pelakor apa?" adunya.


Bara melebarkan mata baru tau fakta itu. " Iya?? Kok ga pernah cerita?"


"Ck, kamu sibuk sama yang lain kalo lupa," ucap Dilan menyindir membuat Bara menggaruk kepalanya yang tertutup helm.


"Hehe, sorry Yang, kemarin bukan aku sengaja," kata Bara memelas.


Dilan mendelik malas tak menjawab. Pura-pura merajuk ceritanya.


"Eh tapi emang bener temen kamu itu terkenal banget," kata Bara lanjut nge-ghibah. "Melky temen aku juga ikut nge-follow ig-nya, terus Gerald boss geng SMK Nusa denger denger juga naksir Tia,"


"Iyah?? Wahh parah, saingan temen aku banyak juga," kata Dilan sok prihatin menatap Theo yang asyik membujuk Tia agar bareng dia.


"Tia emang cantik sih," jujur Bara tak berdosa membuat Dilan menggeram.


"Ohh, jadi Tia CANTIK?? OOOH!"


"B-bukan gitu Yang," Bara meringis. "Kan Tia e-emang cantik karena dia cewek kan?"


Dilan mendelik. "Halah. Bilang aja naksir, iya kan??"


Karrel menatap malas Theo yang masih keukeuh memperjuangkan Tia agar naik boncengannya. Karrel meringis kecil saat Tia menendang tulang kering Theo lalu naik juga keboncengan Theo yang mengaduh kesakitan.


Kemudian Karrel melirik teman-temannya yang lain. Ada Michelle tampak nafsu sekali memukuli Aruk dari belakang, karena cowok itu mengembulkan asap rokok mengenai wajah Michelle hingga terbatuk-batuk.


Terus Bobby dan Miara yang malah asyik membentuk tanda hati dengan menyatukan tangan masing-masing, di motor. Sumpah nggak jelas banget dua orang itu.


Ada Nabil yang asyik mengabadikan momen diatas motornya. Me-record Tia dan n Theo, karena cowok tulang lunak itu memang sedang live streaming. Jika diperhatikan sekilas Nabil cukup tampan, wajahnya yang manis kayak idol idol Korea. Tapi nyatanya, Nabil Mahendra Kim tak lebih dari manusia cincau yang merasa paling cantik diantara Dilan dan Tia.


Karrel mendengus saat netranya jatuh pada dua sejoli yang selalu dapat membuat dadanya otomatis memanas.


Bara nampak misuh misuh, menghentakkan kakinya sendiri. Entah karena apa, Karrel tak tau.


Setelah melewati drama dadakan Tia-Theo, akhirnya mereka semua memulai perjalanan. Dengan Karrel memimpin didepan, tak mau melihat teman-temannya pamer kemesraan mereka jika dia berada dibelakang.


Memang hanya Karrel saja yang jok belakangnya kosong karena tak ada gandengan, hiks ngenes sekali. Meski Nabil juga sama, tapi Karrel tak pernah menganggap manusia jadi-jadian itu ada.


Saat tiba dilampu merah, geng motor yang diketuai oleh Gerard-anak SMK Nusa berhenti tepat disamping mereka.


"Eh, Tia kan?" kata Gerard seraya membuka kaca helmnya. Memperlihatkan mata elangnya.


"Apaan Lo!? Gue ngomong ama Tia bukan sama Lo, JARJIT," hardik Gerald.


Tia yang tadi memeluk Theo dan menaruh kepalanya dipunggung Theo, karena sempat tertidur sebentar, menguap lalu melirik Gerald yang entah kapan ada disamping motor mereka.


Gadis itu melebarkan mata kemudian mengumpat tanpa suara. Ia melengos tak peduli. Lalu kembali pada posisi awalnya. Kali ini kepalanya ia taruh dibahu Theo, dengan dagu menumpu pada bahu kekar cowok itu.


Theo awalnya sedikit terkejut dengan tindakan Tia. Namun tak dipungkiri ia senang bukan main. Kemudian ia mengambil kesempatan mengelus punggung tangan Tia yang berada diperutnya. Theo tak mampu menahan senyumnya.


"****!!" umpat Gerald.


Dilan yang melihat adegan picisan didepannya mendelik. "Ck, banyak banget drama Tia, sumpah. Itu siapa lagi?"


"Mana yang?" sahut Bara karena tadi fokus dengan Karrel yang melempar tatapan tajam kearahnya.


"Itu loh, yang motor hitam yang berenti disamping motor Theo," tunjuk Dilan.


Bara mengikuti arah tangan Dilan. Cowok itu lantas melotot tak percaya. Saat melihat Gerald yang menoel-noel lutut Tia.


"Anjir! Itu ay, yang namanya Gerald," kata Bara heboh sendiri.


"Hah? Iyah?"


"Iya! Anaknya ganteng gila!"


"Ganteng dari mana?? Orang ga keliatan komuknya, ketutupan helm Bar," kata Dilan celingak-celinguk mencoba melihat wajah Gerald.


"Ga usah cabe sa-yang," Bara menangkap kepala Dilan yang terus maju sampai nungging diatas motor.


Dilan merenggut. "Gerald itu teman kamu?"


"Kenal aja sih, temen balapan doang," ujar Bara santai.


Dilan manggut-manggut. Kemudian tersentak saat motor Bara tiba-tiba melaju hingga ia nyaris terjungkal.


"Hati-hati Baraaa," omelnya.


"Hmm," jawab Bara berdehem.


Perjalanan mereka sebenarnya tidak panjang, hanya saja karena mereka membawa ciwi-ciwi, jadi sengaja melambatkan laju motornya agar berlama-lama dipeluk, dalih para cowok.


Bobby memberikan instruksi lewat kibasan tangan. Lalu mereka semua berhenti disebuah rumah makan.


"Laper gua," ucap Karrel dingin. Di-angguki  yang lain.


"Dasar anak mami!" kata Bara meledek. Sambil menggeser tempat duduk untuk pacarnya.


"Lo anak babi!" kata Karrel sewot lalu tanpa berdosa duduk dikursi yang tadi disediakan Bara untuk Dilan.


Bara mengumpat. "Ngapain Lo malah duduk disini?! Ini kursi buat cewek gue," katanya emosi.


"Terserah gue, CEWEK Lo aja belum duduk," kata Karrel santai semakin menyulut emosi Bara.


Bara menarik kursi yang duduki Karrel dengan kuat membuat langsung terjatuh. Cowok jangkung itu meringis.


Karrel berdiri hendak memberikan bogeman mentahnya pada Bara, namun ia urungkan. Lalu saling adu bacotan.

__ADS_1


Dilan melirik Karrel dan Bara sesaat yang tengah berdebat tak penting, kemudian kembali asyik membahas drama Korea dengan Tia dan Nabil dalam posisi berdiri.


"Akh, sumpah pala gue pusing nonton Alcheimes of Soul season 2 nyet, masa jiwa naksu mati terus jiwa ama tubuh Jin Buyeon yang masih utuh dimasukin jiwa naksu karena keluarganya pengen anaknya idup terus tapi mukanya pake muka naksu juga, jiwanya jadi ada dua apa gimana ? Demi itu gimana sih ceritanya puyeng gue nontonnya anjirr," kata Dilan ngedumel.


"Ho-oh, sama gue juga pusing, kalo bukan Bae Kyung extraordinary you yang main gue males nonton," ujar Tia menimpali.


"Gue malah nonton once upon at small city karena yang main Joy red Velvet masa," kata Nabil beda sendiri.


"Joy red Velvet main film emang?" tanya Aruk ikut nimbrung dengan kepala nyembul diantara Nabil dan Dilan.


"Apasih buaya got! Ga usah join percakapan ciwi-ciwi Napa sih," Tia melotot tak biasa.


Aruk memberengut lalu memilih duduk disebelah Michelle yang memang tak terlalu suka drakor.


"Nabil emang udah jadi cewek tulen?" tanya Bara polos ditengah tengah perdebatannya dengan Karrel. Mereka berdua saling sewot memperebutkan kursi.


"Udah, jadian aja Lo sekalian," jawab Karrel tanpa dosa.


Bara mengumpat lalu kembali menarik kursi yang juga ditarik oleh Karrel. Terjadilah aksi tarik menarik kursi.


"KURSI CEWEK GUE BANGSAT!!" sewot Bara.


"CK, GUE YANG DUDUK DULUAN SIALAN!! JADI KURSI GUE," protes Karrel tak mau kalah.


"Astagfirullah..Lo berdua bisa berhenti ga sih??" Miara lelah dengan kelakuan dua cogan itu.


"Lan, kandangin noh duo macan Lo! Malu maluin banget sat," kata Bobby melirik pada pengunjung lain yang tengah menatap mereka heran. "Bukan teman saya pak, ibu," katanya lagi pada para pengunjung.


"Ck, Dilan woi! Pacar Lo noh war ama selingkuhan Lo," celatuk Tia meringis melihat Karrel kini memiting leher Bara di ketiaknya.


Dilan pura-pura tuli. "Seok Jin pergi wamil masaaa, suami gueee," katanya dengan lebay.


Bara yang mendengar itu lantas mendelik horor pada kekasihnya. "Ay, aku yang bakal jadi suami kamu dimasa depan nanti ya! Bukan jin-jin itu,"


Karrel pun mendelik tak suka pada perkataan Dilan dan pernyataan Bara. "Halu," hardik Karrel untuk keduanya.


Dilan memeletkan lidahnya. "Wlee, suka suka,"


"Ini kapan kita makannya sih??" protes Michelle benar benar lelah sekaligus lapar.


"Yaudah gue pesen dulu," ucap Aruk berdiri. "Pacar gue mau mamam apa?" tanyanya pada Michelle membuat yang lain mengeluarkan lidahnya seakan mau muntah.


"Gue nasgor aja deh, minumnya air putih," kata Dilan lalu tanpa berdosa menarik kursi yang akan duduki Karrel sehingga cowok itu terjatuh untuk yang kedua kalinya.


Karrel mengumpat seraya mengusap bokongnya yang terasa perih. "Lo sadis banget, sialan,"


Dilan hanya cengengesan menampilkan deretan gigi putihnya. "Ini kan emang kursi yang udah disediain sama ayang gue," kata Dilan membela diri.


Bara tersenyum miring pada Karrel merasa menang membuat Karrel mengumpat.


"Ayang ayang, cuih! Ayam kali," kata Karrel mencibir.


Tak lama setelah itu, pelayan rumah makan datang membawa makanan yang mereka pesan.


Mereka ber-sepuluh terbagi menjadi tiga meja. Dimana satu meja diisi oleh empat orang. Tia, Theo, Miara dan Bobby satu meja. Aruk dan Michelle mojok berdua. Lalu Bara, Dilan Karrel dan Nabil satu meja. Dimana Dilan berada diantara Karrel dan Bara sedang Nabil disisi kanan Bara, sambil senyum malu-malu.


Mereka semua makan dengan lahap, kecuali Karrel yang tampak meringis menatap makanan berbumbu kacang alias gado-gado. Seumur hidup ia belum pernah melihat apalagi memakan makanan jenis ini. Ia sendiri tak tau apa yang ia pesan, karena Dilan yang memilihkan menu itu untuknya.


"Rel?? Kok ga dimakan? Lo ga suka?" tanya Dilan sehabis minum lalu melirik Karrel yang belum menyentuh makanannya sedikitpun.


Karrel menggeleng pelan. Ia menggigit bibir bawahnya lalu berdehem. "Gue ga pernah liat yang kayak begini Lan," akunya.


Alis Dilan terangkat. Kemudian berdecih. "Cih, dasar sulngong,"


Karrel sedikit melotot lalu memanjukan bibir bawahnya. "Emang gitu kok," ucap Karrel tak terima.


"Namanya juga holkay Lan, wajarlah kagak pernah makan makanan rakyat jelata," sahut Nabil santai seraya menyeruput es teh miliknya.


Karrel mendelik walau sebenarnya memang benar apa yang dikatakan Nabil.


Bara berdecih mencibir Karrel lalu kembali menikmati mi ayam pesanannya.


"Makan aja udah, enak tau," ucap Dilan tulus.


Karrel meneguk ludah berat. Makanan apa ini? Apakah bahan yang digunakan bersih? Apakah cara mengolahnya steril? Apakah ini sehat? Tidak akan membuat perut sixpack-nya sakit? Tapi melihat Dilan yang lahap memakan nasi goreng miliknya membuat Karrel diam diam meneguk ludah. Sepertinya makanan milik Dilan lebih enak daripada punya Karrel.


Terlihat dari cara makan gadis itu yang tidak ada anggun anggunnya sama sekali.


Karrel kembali menatap gado-gadonya. Dengan enggan ia menyendukkan satu potong ketupat yang sudah dibaluri bumbu kacang kedalam mulutnya. Perlahan ia menguyah makanan tersebut. Sedetik kemudian matanya membulat lalu meraih tissue kemudian mengeluarkan sisa gado gado tadi yang berada di mulutnya.


"Kenapa?" tanya Dilan khawatir sembari menepuk-nepuk punggung Karrel yang tengah terbatuk-batuk.


"G-gue ga kuat sama baunya. Gue ga bisa makan itu," aku Karrel mengadu.


"Halah lebay banget,"  cibir Bara.


"Bar.." ucap Dilan memperingati lalu kembali mengusap punggung Karrel lembut membuat Bara mencebikkan bibirnya.


"Gue pesen yang lain aja mungkin," kata Karrel.


"Ga usah ntar yang ada Lo lepehin makanan Lo lagi karena ga suka, mubazir tau gak. Mending Lo cari cafe atau restoran yang sesuai sama lidah Lo," kata Dilan memberi solusi.


Karrel menggeleng cepat. "Nggak! Gue ga mau!" tolaknya.


"Ck, ribet Lo!" Bara jadi geram. "Sana cari aja tempat makan khusus anak SULTAN kayak Lo, ini tempat makan khusus orang kelas MENENGAH. Hush hush sana!" usir Bara mengibaskan tangannya.


Karrel baru berdiri hendak meninju Bara, namun kaosnya ditarik oleh Dilan membuatnya mau tak mau kembali duduk.


"Atau Lo mau coba nasgor gue dulu? Gue yakin Lo pernah makan nasi goreng," tawar Dilan membuat Karrel merekah namun segera ia tahan.


"Hmm, emang enak? Kayak yang biasa gue makan?" tanya Karrel sok polos. Bara memutar matanya jengah.


"Enak kok enak!" sahut Dilan manggut-manggut. "Cobain deh," tawarnya seraya memberikan Karrel nasgor dari bekas sendoknya tanpa sadar.


Dilan mengerjap beberapa kali saat Karrel memajukan wajahnya lalu memasukan nasgor tadi ke mulutnya sendiri, namun sendoknya masih dipegang Dilan. Sehingga terkesan Dilan sedang menyuapi Karrel padahal niatnya memberikan nasgor itu agar Karrel makan sendiri.


"Enak," celatuk Karrel datar sambil mengunyah makanan.


Ternyata enak, tambah enak karena disuapi ayang, AWW.


Bara kebakar jenggot melihat modus Karrel. Dengan kesal ia ikut menyuapi Karrel. "Nih juga enak loh! Co-ba-in deh," kata Bara dengan nada mengancam. Karrel baru akan menolak namun Dilan mengangguk riang.


Dengan perasaan was-was Karrel menerima suapan dari sendok bekas Bara. Matanya membulat sempurna saat hawa panas memenuhi mulutnya. Bara menyeringai puas melihat Karrel misuh misuh karena kepedasan.


"Sialan Lo!" umpat Karrel.


Bara sialan! Brengsek! Gue dikerjain.

__ADS_1


"Kenapa? Kepedasan ya?? Aduhh sorry, gue tadi nabur bon cabe yang level sepuluh ditambah sambel ijo banyak banyak," kata Bara sok prihatin bin kasihan. Padahal dalam hati tertawa puas.


__ADS_2