
Karrel berbaring terlentang di atas kasur empuknya, menatap langit langit kamar.
Kedua tangannya ia lipat dijadikan sebagai bantal.
Pikirannya berkelana, wajah dingin itu perlahan mengeluarkan setetes bulir bening dari manik hitam tersebut.
Namun dengan cepat dihapus.
Kemudian entah kenapa siluet wajah gadis berkepang dua yang menangis di rooftop sekolah tadi tiba-tiba datang menghiasi langit kamar cowok tampan tersebut.
Padahal gadis aneh yang tiga kali tak sengaja ditemuinya itu benar benar sudah gila.
Bagaimana Karrel tak berpikir demikian, pertama kali ia bertemu dengan cewek aneh itu saat beberapa minggu lalu, ketika dirinya sedang menggali informasi dari Jaky preman penjaga gang duren yang memang penyuka sesama jenis itu.
Syarat yang diajukan Jaky agar diberi informasi adalah foto bersama.
Namun jelas tangan Jaky malah merambat kemana mana. Karrel yang laki-laki tulen tentu risih.
Kemudian datang seorang gadis dengan seragam khas SMA Garuda Bangsa menghajar Jaky dengan buku bersampul hijau tosca tanpa ampun.
Tapi bukan Karrel namanya jika ia akan berterima kasih pada gadis itu, karena alih alih merasa diselamatkan Karrel justru merutuki gadis itu, gagal sudah ia mendapat info dari Jaky.
Lalu ingatannya beralih saat tak sengaja melihat gadis itu menangis dibawah pohon, kemudian tanpa takut mengajak Karrel pulang bersama.
Karrel sendiri baru sadar gadis aneh tersebut belum pernah melihat wajah Karrel sekalipun, setelah dua kali pertemuan mereka.
Karena entah kebetulan atau tidak, Karrel selalu memakai helm full face miliknya diwaktu ia bertemu gadis itu.
Pantas saja ia tak mengenali Karrel saat disekolah, jika ia tau mungkin reaksinya akan berbeda. Pikir Karrel.
"Hah,mikir apa sih gue." Gumam Karrel.
Saat masih asyik dengan pikirannya, tiba-tiba ada suara yang sangat ia kenali masuk tanpa permisi kekamar cowok itu.
"BOSS!!" Karrel mendengus saat tau siapa pemilik suara bak toa masjid itu.
"Ngapain Lo semua kesini." Ucap Karrel tanpa melihat wajah lawan bicaranya.
"Axel nih boss, kangen katanya." Ujar Lary merangkul pundak Axel.
"Mau konsul soal doi ceritanya." Tambah Ryan.
Axel yang baru mendudukkan tubuhnya disebelah Karrel lantas mengumpat tanpa suara.
"Fall in love boss, biasa remaja baru merasakan puber dia,haha." Timpal Hasan menggebu.
"Iya nih Axel,woo. Cupu Lo!" Ledek Dino kali ini yang langsung ditendang oleh Axel.
"ANJ... hmmpt"umpat Dino yang mulutnya disumpal tissue oleh Axel.
Sementara yang lainnya terbahak melihat adegan itu.
"Hahaha, Axel...Axel gue aduin doi kelakuan Lo,, udah gue rekam sebagai barang bukti, hayoo Lo... gue bilangin crush Lo kalo Lo cowok kasar, biar mampus Lo ditolak sebelum berjuang,haha." Axel mendelik malas pada Lary yang suka sekali mengompori.
"Horee! Putus! Putus! Putus!" Tambah Dino heboh dengan bertepuk tangan seolah menyemangati.
"Anjirr Lo,Dino! Emang udah jadian si Axel?" Ujar Ryan.
"Lah emang belom?" Tanya Hasan sok polos.
__ADS_1
Axel yang dijadikan bulanan mereka hanya bisa mendengus pasrah.
"Cewek tuh tau Axel hidup aja kagak, anjir. Haha." Ucap Ryan.
"Anjay! Kasian banget Lo,Xel." Hasan semakin meledek.
"Lo semua ngomongin apaan sih?" Tanya Karrel lelah mendengar celotehan temannya.
"Si Axel,Rel! Udah mulai ngerasain bibit bibit cinta di hatinya, asekk." Pekik Dino.
"Cinta?" Bingung Karrel.
"Ck, bacot Lo pada!" Kesal Axel.
"Lah pundung Lo,Xel?" Ujar Ryan.
"Lembek amat Lo gegara cewek doang," ledek Dino.
"Cewek apa sih bangsat! Lo semua dari tadi ngomong muter-muter gak jelas,kalo cuma mau ngerusuh dirumah orang mending Lo semua pulang, anjir!" Amuk Karrel.
"Selow bos, elah jangan keluar tanduk dulu," ucap Dino.
"Dasar Axel nih,wooo," seru Lary.
"Jadi gini bos," ucap Dino menjeda kalimat yang akan dikeluarkan. "Xel!! Jelasin,Xel!!" Lanjut Dino membuat Axel mau tidak mau mengumpat.
"Tai Lo!!" Umpat Axel, Dino malah menaikkan alisnya seolah-olah bertanya.
"Ekhem,,Rel! Di sekolah Lo ada cewek yang... ekhem... cantik kan?" Tanya Axel gugup.
Cowok dingin yang sifatnya sebelah dua belas dengan Karrel itu ternyata bisa malu malu juga hanya karena seorang perempuan.
"Enggak! Buluk semua perasaan." Jawab Karrel tak sadar telinganya memerah saat teringat gadis maniak puisi itu.
"Ck,itu loh Rel, yang sering suka bareng sama cowok kaleng kaleng itu loh," jelas Axel salah tingkah sekarang.
"Anjirr! Kagak cocok Lo Xel salting gitu,haha,"ledek Hasan.
"Anjay!" Ucap Ryan dan Dino berbarengan.
Cekrek.
"Ngapain Lo,Ry?" Tanya Ryan pada Lary.
"Sedang mengabadikan ekspresi primata Belanda yang langka lagi salting," ucap Lary serius memotret Axel dengan kamera ponselnya.
Axel mengumpat tanpa suara. Dalam mode salting begini ia tidak bisa apa-apa.
Pertama kalinya cowok keturunan Belanda-Indonesia tersebut merasa berbeda melihat seorang perempuan dan rasanya..ah tidak bisa ia gambarkan.
Karrel mengingat-ingat cewek yang Axel maksud, kemudian matanya melebar pada Axel setelah tau siapa gadis yang cowok itu maksud.
"Ck, Tia maksud Lo?" Dengus Karrel.
"Ooh, jadi namanya Tia." Ujar Axel manggut-manggut kepala.
"Cantik gak Rel?" Tanya Ryan penasaran.
Karrel menoleh pada Axel yang senyum senyum sendiri. Ia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Axel yang biasanya sangar, sekarang malah mirip bocah SMP yang sedang kasmaran.
__ADS_1
"Lumayan sih." Kata Karrel. "Seandainya waras dikit." Lanjut Karrel dalam hati.
"Jangan Lo pepet Rel!! Ekhem udah gue tandain," ucap Axel serius.
Siapa juga yang mau sama cewek abnormal kayak Tia. Pikir Karrel.
"Enggaklah!! Lagian apa sih yang Lo suka dari cewek cabe kayak Tia?" Ujar Karrel.
"Lo pernah ngerasain 'love at first sight'?" Tanya Axel.
Karrel mengedikan bahunya.
"Gue juga gak tau, tiba-tiba aja gue ngerasa deg degan waktu pertama kali liat matanya. Gue pernah ngeledekin kak Alex kalo gak ada yang namanya cinta pandangan pertama, apalagi tiga detik natap mata seseorang. Kayaknya ini karma deh buat gue, hmm..tapi karma yang manis menurut gue," jelas Axel diakhiri kekehan.
"Asek asekk joss!" Sumpah itu mulut Dino gak bisa diem barang sebentar.
"Karma yang manis? KURMA KALI XEL MANIS!! Haha," pekik Hasan.
"Ah, om Axel ada ada saja," seru Ryan mengikuti nada bicara 'Lala Shabira' bocah 4 tahun yang viral karena bicara dengan bahasa baku.
"Aaa, gak nunu gak nana, aku jatuh cinta," ledek Lary menabok pantat Ryan yang tidur telungkup bersamanya di kasur milik Karrel, dengan tangan menopang dagu dan kaki yang naik turun, khas cewek cewek kalau lagi ngegosip.
Rasa kesal Axel yang diledek dari tadi sudah mencapai ubun ubun.
Cowok 17 tahun itu menerjang Dino dan Lary yang masih khusyuk meledeknya.
"AAA, ANJIRR!! AXEL!! SAKIT NYETT!" adu Dino yang kepalanya diapit oleh dua kaki Axel.
"AXELIO ANJRIT!! KETEK LO BAU TERASI JENGKOL EGE!!" teriak Lary yang kepalanya juga diapit oleh Axel dalam ketiaknya.
Bayangin posisi mereka sekarang. Tentu saja kedua cowok mulut mercon tersebut kesusahan melawan tenaga super seorang ketua geng Horrified 2.0.
"ANYING!! KENAPA CUMA KITA YANG LO SIKSA XEL?! NOH HASAN AMA DINO JUGA BUTUH ASUPAN KATANYA!!" Protes Dino kesusahan diantara kaki Axel.
"Uhuk! Uhuk! Bener Xel, udahan dong sesek nih sumpah, gue pengen muntah, huelk," adu Lary benar benar akan muntah.
Bukan karena bau badan Axel, malahan cowok itu wanginya minta ampun.
Hanya saja ia tidak bisa bernafas, entah penyakit apa, pasti Lary akan muntah setiap merasa sesak nafas.
"Ck,Anjing! Sini Lo berdua!" Ucap Axel seraya melepaskan Dino dan Lary.
"Alhamdulillah," ujar Dino kemudian memejamkan mata berniat tidur.
"Lo ngapain ngucapin Alhamdulillah? Lo Kristen peak!" Seru Karrel.
"Oh iya! Hehe lupa," kekeh Dino membuat Karrel langsung buang muka.
Sedangkan Lary langsung berlari menuju kamar mandi Karrel lalu mengeluarkan isi muntahan yang tadi ia tahan.
Lain lagi dengan Hasan dan Ryan yang sudah ngacir berlarian di rumah Karrel karena dikejar oleh Axel.
Karrel sendiri benar benar pusing melihat teman-temannya yang tingkahnya ada saja.
Rumah dan kamar Karrel bak kapal pecah dikarenakan ulah absurd mereka.
Dan siapa yang akan membereskan semua ini?
Tentu saja para maid yang jumlahnya puluhan di rumah mewah nan besar milik keluarga Radeya.
__ADS_1