Dilan Picisan

Dilan Picisan
gak sengaja denger


__ADS_3

"Gue ikut seneng akhirnya Lo dan Bara balikan lagi Lan," ucap Miara.


"Gue sih gak setuju aja Lo ama Bara balikan lagi," sahut Tia berbeda lalu menyisir rambutnya sambil bercermin pada cermin toilet.


"Kenapa?" tanya Dilan ikut bercermin menambah bedak diwajahnya.


"Ya gak suka aja, Lo jadi cewek kok lenjeh banget," sewot Tia.


"Lenjeh gimana maksudnya?"


"Ya iya. Lo harusnya gak langsung mau mau aja diajak balikan, harus jual mahal gitu loh, harus classy," kata Tia kemudian menyibak rambutnya kebelakang


"Gak usah ajarin Dilan yang enggak enggak ya!" seru Miara.


"Lagian gue sama Bara gak putus ya nyet, cuman break sebentar," jelas Dilan.


"Sebulan Lo bilang sebentar?" heran Miara ikut emosi sedikit.


"Gue aja kalo berantem ama Bobby palingan cuma tiga hari terus baikan lagi," Miara geleng-geleng kepala.


"Makanya gue break nya sebulan biar sok jual mahal gitu, biar classy kata Tia, ya kan Ti?" ujar Dilan meminta pendapat Tia dan manggut-manggut saja.


"Tapi harusnya dua bulanan lah marahnya, biar makin gak karuan cowok Lo karena gak bisa ketemu ama ceweknya," kompor Tia.


"Iya juga ya? Apa gue batalin aja balikannya?" Ucap Dilan sembari memakai liptink dibibir nya.


Miara mengumpat mendengar betapa anehnya kelakuan dua sahabatnya ini.


"Makin ngelantur aja Lo pada, heran," ucap Miara.


"Gue yakin kalian balikan pas acara di GBK kemarin iya?" tebak Tia.


"Lebih tepatnya sih setelah acara itu," jawab Dilan. Tia dan Miara mengangkat kedua alisnya seolah bertanya.


"Jadi kemarin pak Akbar nyuruh gue beli minum buat anak-anak bareng Karrel sama Bara juga. Terus pas gue lagi beli minum, gak tau permasalahannya apa, keluar dari beli minum gue liat mereka berdua berantem. Ah gak, lebih tepatnya Bara yang lagi mukulin Karrel," jelas Dilan.


"Anjay, Lo diperebutin dua cogan sekaligus Lan?" sahut Miara.


"Tapi 'Aa Karrel gue gak papa kan Lan," seru Tia yang hanya dijawab decakan malas Dilan.


"Bodo! Gak perlu dilanjutin,gue bilang kan gak tau masalah mereka apa sampe berantem gitu sat!" kesal Dilan.


"Pasti gak jauh jauh karena elo," kata Tia semakin membuat Dilan masam.


"Pundungan amat sih anak satu," ledek Tia.


"Terus Lan?" ucap Miara penasaran, Dilan yang dongkol namun tetap melanjutkan ceritanya.


"Ya gitu, gue berusaha misahin mereka tapi gak sengaja kena pukul Bara," belum juga Dilan habis bercerita Tia menyela.


"Sialan!! Lo digampar ama cowok! Terus kenapa masih mau ama cowok toxic gitu Lan?! Kenapa gak Lo putusin aja, kenapa..." cerocos Tia.


"Diem!! Gue belum selesai nyet!" kesal Dilan.


"Ck, yaudah sih," decak Tia.


Mereka bertiga berjalan keluar dari bilik toilet.


"Abis itu Karrel yang tadinya gak ngebales pukulan Bara, setelah liat gue dipukul Bara gak tau kenapa dia langsung marah terus balik bales pukulan Bara, terus gue dibawa pergi ama Karrel ninggalin Bara yang udah bonyok gara gara dia," Dilan menceritakan kejadian kemarin.


"Fix Karrel suka ama Lo, kalo gak ngapain dia belain Lo gitu ya gak Tia?" ucap Miara meminta pendapat Tia yang bibirnya ditekuk kebawah.


"Ngaco! Namanya juga cowok kalo liat cewek dipukul emang biasanya gak terima gitulah, Abang gue juga kek gitu perasaan," elak Dilan.


"Tapi kan cowok juga milih milih kali cewek mana yang mau dibelain. Karrel gak pernah mau ikut campur masalah orang disekolah selama ini. Liat Karrel yang dingin itu belain Lo gue yakin dia punya perasaan khusus sama Lo," yakin Miara.


"Yahh, gak jadi deh gue ngejar cintanya Karrel, gak papalah yang penting Lo bahagia gue ikut seneng, gue rela lepas Karrel demi elo Lan," kata Tia menepuk pundak Dilan kayak bapak bapak.


"Paan sih, kok malah jodoh jodohin gue ama tuh kadal burik!! Gue pengen cerita soal Bara bukan Karrel jir!" kesal Dilan.


"Au ah gelap!!" Dilan meninggalkan dua sahabatnya yang tersenyum penuh arti.


"Tia. Lo sepemikiran ama gue kan?" tanya Miara. Tia mengangguk.


"Gue mencium aroma aroma love triangle diantara mereka,"


_______


Sedari tadi Bara tak henti hentinya tersenyum. Berbagai macam jenis senyuman tampak diwajah tampannya.


Mulai dari senyum malu malu meong. Senyum salah tingkah. Cengir gak jelas. Sampai senyum bang Jali pun dikeluarkan.


Mungkin giginya sudah kering saking lamanya ia cengar-cengir tak karuan.


Bagaimana tidak, setelah sekian purnama ia menanti, tujuh samudra ia arungi, gunung Himalaya ia daki, lima benua ia kelilingi, hanya untuk mendapat maaf dari Dilan. Lebay memang. Namun begitulah mungkin gambaran perasaan Bara sekarang.


Gadisnya kini kembali padanya. Dan ia pun sudah bertekad agar tidak menyakiti sang pemilik hatinya.


"Ihh gemes banget sih Lo Lan. Pengen gue karungin terus bawa pulang," gumamnya sembari menggigit kunci motor saking gemasnya.


"Bar. Lo masih waras pan?" tanya Rakesh bergidik ngeri melihat Bara.


Bukannya menjawab Bara semakin cengengesan gak jelas. Sambil memegang pipinya lalu menggerakkan badannya kekiri ke kanan. Lebay.


"Kesh. Teman Lo kenapa tuh? Kesurupan kucing oyen sampai gelayotan gak jelas gitu?" heran Malik.


"Kagak tau nyet! Dari kemarin udah kayak gitu, otaknya udah miring kayaknya,"


"Jangan jangan dia abis putus ama ceweknya terus stres," tebak Melky.


"Bisa jadi," setuju Malik.


"Anjir! Lim Jukyung peak! Kenapa kagak sama Han Seo Jun aja sih!!" greget seorang perempuan.


"Kaget gue!!" ucap Rakesh.


"Napa Rin?" tanya Malik.


"Ck, gue jadi lenjeh gini kan, ah!" gerutu cewek itu.


"Gara gara apalagi sekarang. Bae Kyung extraordinary you?" timpal Melky menyebutkan salah satu karakter cowok dalam drama Korea.

__ADS_1


"Bukan. Itu yang kemarin gue nonton, sekarang pelemnya beda lagi jir." jelas gadis bernama Rindu.


"Belajar yang bener Rin. Jangan cuma drakor mulu dipikirkan Lo." sahut Bara tiba tiba kemudian kembali ke mode gaje nya.


Teman temannya geleng-geleng kepala.


"Lah tuh anak kerasukan jin apaan sampe gitu?" heran Rindu baru sadar.


"Han Seo Jun kali!" celatuk Rakesh tanpa dosa.


"Bukan! Hoshi deh kayaknya," ucap Melky.


"Hoshi siapa jir. Main pelem apaan?" tanya Rindu polos.


"Ck, bukan aktor sat. Idol dia," Melky membenarkan.


"Oh, BTS kan? Yang anggotanya Jimin, RM, Jungkook, Chanyeol, Siwon, Sehun itu kan ya?" seru Malik yakin dan langsung ditabok oleh Rindu.


"Salah anjir! Chanyeol itu member EXO kalo Jimin Black Pink," kata Rindu semakin ngawur.


"Black Pink cewek sat!" geram Melky.


Saat teman temannya sedang asyik bercerita tiba tiba Bara berdiri.


"Gue cabut duluan ya," serunya.


"Kemana Lo Bar? Baru juga jam segini," tanya Rakesh melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 10 pagi.


"Lo gak ikut lomba panjat pinang nanti?" sahut Melky.


"Kagak. Daripada panjat pinang lebih baik gue meminang Dilan," ucap Bara membuat semua yang ada diwarung Bu Teti kayak mau muntah.


"BUCEENN TEROOOOSSS!!" umpat mereka serempak.


"Gak usah iri Lo pada, mending cari pacar sana biar ngerasain gimana dipeluk cewek," ladek Bara seraya memakai almamater merah khusus anak Pancasila 1 Jakarta.


"Sialan! Gue kedip doang cewek udah ngantri kali," sahut Malik bangga.


"Ck, yang ngantri sih banyak cuma yang nyantol gak ada, haha," timpal Melky.


"Cinta emang gak bisa dipaksakan bro," kata Bara dramatis menepuk pundak Melky. "Dah ah, gue duluan,"


"Bar! Gue ikut!" pinta Rindu berjalan kearah Bara.


"Ck, ngapain? Ntar yang ada cewek gue salah paham lagi liat gue sama cewek lain. Yang kemarin ama Raniya udah bikin gue ampir putus jangan nambah masalah lagi Rin," tolak Bara.


"Gue jelasin nanti. Etdah cewek Lo posesif banget,"


"Bilang apa barusan?" Bara memiting kepala gadis itu.


"Anjing! Lepas Bara!!"


Bara melepaskan pitingannya.


"Lagian Lo ngapain ikut sih! Ribet tau,"


"Cuman penasaran aja, gimana muka mukanya anak Garuda Bangsa, kali aja ada yang kepincut ama gue kan?"


Bara menaiki motor sport miliknya. Memakai helm full face.


"Eh eh, mau ngapain Lo?" tanya Bara saat Rindu meraih pundaknya untuk menjadi pegangan.


"Kan gue bilang pengen ikut gimana sih," jawab gadis itu lalu duduk manis dijok belakang Bara.


"Tapi gak nebeng gue juga sat!" kesalnya.


"Motor gue masih di bengkel,"


"Ck, udah hampir dua bulanan masih belum bisa bagus juga motor Lo?" tanya Bara bergantian. Motornya sudah menyapu jalanan.


"Belum anjir. Rusaknya parah banget waktu dipake malam itu,"


"Lo gak pernah cerita dengan jelas, sebenarnya malam itu apa yang udah terjadi sih?" Rindu bungkam. "Malah diem,"


"Gue harus ketemu sama cowok itu dulu baru gue bisa cerita," ujar Rindu seraya memeluk perut Bara.


"Anjir! Tangan Lo nyet, jangan peluk peluk gue sat!" gerutu Bara namun Rindu dengan isengnya semakin memeluk Bara.


Bara takut kalau begini bisa bisa Dilan salah paham lagi. Masa baru baikan udah berantem lagi, kan gak lucu. Mana Rindu gak mau lepas lagi. Sekolah Dilan juga udah deket.


"Rin. Lepasin..." pinta Bara memelas.


"Iya kenapa 'sayang'?" Rindu malah menaruh kepalanya dipunggung Bara sambil tersenyum geli melihat Bara misuh misuh gak karuan.


______


SMA Garuda Bangsa saat ini penuh dengan hiasan bernuansa merah putih. Bendera kecil yang terbuat dari kertas serta plastik tergantung indah di langit serta plafon sekolah.


Seluruh lorong berhiaskan hal hal berbau hari kemerdekaan RI.


Dilapangan tampak murid murid tampak antusias memenangkan lomba agustusan yang disiapkan sekolah.


Begitu juga Dilan yang terbahak melihat Michelle tersungkur saat melakukan lomba balap karung.


Kemudian ada Bobby CS yang tengah semangat membuat menara manusia demi mendapatkan hadiah untuk lomba panjat pinang.


"WOI BANGSAT!! IDUNG GUE KEINJEK ANJIR!" adu Theo saat wajahnya kena injak Bobby yang berada diatasnya.


"Sorry sorry. Gak sengaja,"


"NABIL SIALAN!! NAPA LO IKUTAN NAIK SIH! PANTAT LO BERAT ANJIR!!"  gerutu Aruk.


"SEBELAH SANA BOB. AMBIL HP, AMBIL HP!"


"ENGGAK ADA HP DIATAS GOBS!"


"LAH HADIAHNYA APAAN DONG." tanya Dedy yang posisinya dibawah juga.


"ANJIR!! HADIAHNYA KAGAK ADA YANG JELAS SEMUA SAT!!" teriak Bobby menunduk pada teman temannya yang berada dibawahnya dengan tangan memeluk tiang bambu yang dilumuri oli.


"TERUS APAAN BOB?"

__ADS_1


"BUKU BUKU DOANG ANJIR!"


"ANJING! TERUS YANG KOTAK KOTAK ITU APAAN NYET!"


"PULPEN CAIR AMA SPIDOL SEKOTAK!! SIALAN !! KITA DITIPU KEPSEK ANYING!!"


"BRENGSEK!"


"EMANG SIALAN SI BOTAK!!"


Karrel yang juga terpaksa menjadi penyangga menara manusia ini ikut mengumpat. Jika bukan Dilan yang mengejeknya mana mau ia ikut hal hal kekanakan begini.


"Ck, setan!" umpat Karrel keluar dari lomba itu.


Karena posisi Karrel yang berada paling bawah seketika membuat menara manusia itu roboh. Sehingga mereka langsung jatuh dengan mengenaskan.


"ADOHHH PANTAT EUKEH!!" suara Nabil.


"KARREL BANGSAT!" umpat Bobby yang badannya paling sakit karena ia yang berada paling atas.


"Sss, idung gue beneran patah," adu Theo.


Sedangkan Karrel tak peduli dengan keluh teman temannya.


Ia berjalan menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya yang penuh dengan oli karena panjat pinang tadi.


Cowok itu mandi sebentar guna menghilangkan bau menyengat dari oli.


Karena tadi ia hanya memakai kaos biasa dengan celana sekolah yang sudah berwarna hitam, ia mengganti pakaiannya dengan seragam olahraga.


Ketika berjalan ia tak sengaja berpapasan dengan Iyan. Cowok itu menyungging senyum miring melihat seragam Iyan yang bersih tak ada noda tanah sedikit pun. Jelas cowok berkacamata itu tak mengikuti lomba apapun.


Sedang Iyan menelan ludah berat melihat orang yang berusaha ia hindari selama sebulan lebih ini. Tangannya berkeringat.


"Ikut gue!" perintah Karrel tak terbantahkan. Iyan tersentak.


"Ke-mana?" tanya Iyan takut.


"Hmm, ke neraka," Karrel menunjukkan smirk menyeramkan membuat Iyan semakin takut.


Iyan tak bisa menghindar lagi sekarang. Terpaksa ia mengikuti langkah Karrel.


Karrel membawa Iyan kekelas XI IPS 2. Tanpa aba aba ia meninju wajah mulus Iyan.


Cowok berkacamata itu langsung tersungkur dengan darah segar disudut bibirnya.


Karrel kembali maju lalu menarik kerah baju Iyan. Sorot matanya menusuk, bola matanya ikut memerah, buku tangannya terlihat jelas. Dan urat lehernya menegang.


"Uhuk uhuk," Iyan terbatuk batuk saat cengkraman Karrel pada lehernya semakin kuat.


"Gue bisa aja bunuh Lo saat ini juga, kalo gue gak inget Lo temen baiknya Mike," ancam Karrel dengan raut wajah dingin.


"Gue gak suka buang buang waktu, sekarang bilang apa yang terjadi malam itu!"


"G-gue gak bisa bi- akhh," Karrel meraih tangan Iyan lalu dengan kasar ia putar tangan itu.


"Jangan main main! Dasar pembunuh!" geram Karrel.


"GUE BUKAN PEMBUNUH!! JANGAN ASAL NUDUH LO!!" emosi Iyan ikut tersulut.


Lagi lagi Karrel menampilkan smirk.


"Lo penyebab utama kematian Mike. Dan Lo bilang Lo bukan pembunuh?"


"EMANG BUKAN GUE PELAKUNYA!! MIKE SENDIRI YANG MI-," belum sempat Iyan menyelesaikan ucapannya Karrel kembali meninjunya.


Buhg.


Buhg.


"SEANDAINYA LO GAK AJAK DIA TURUN MALAM ITU SEMUANYA GAK BAKALAN TERJADI BANGSAT!!"


Buhg.


"SEANDAINYA LO GAK MINTA DIA NGAJARIN LO YANG BEGO ITU CARA BALAPAN DIA GAK AKAN MATI ANJING!!"


Buhg.


"DAN SEANDAINYA LO GAK NGILANG WAKTU ITU MIKE PASTI MASIH IDUP BRENGSEK!!"


Buhg.


"Gue udah bi-" lagi Karrel tak memberi Iyan waktu untuk bicara.


"GAK USAH BANYAK BACOT LO!!"


Karrel perlahan mundur. Menetralkan emosi nya. Dadanya kembang kempis.


"Gue minta baik baik sekali lagi. Kasi tau gue yang sebenarnya terjadi!" ujar Karrel.


"Gue gak bisa. Mike minta gue buat gak bilang apapun sama Lo," ucap Iyan masih diposisi terlentang akibat ulah Karrel.


"Bulshit!!" umpat Karrel.


Karrel menyungging senyum miring lalu menyandar pada tembok. Mendongak menatap keatas entah apa yang dilihatnya.


"Bahkan Mike udah nganggap Lo kayak sodaranya sendiri. Tapi Lo? Lo malah nyembunyiin fakta sebenarnya. Kalo emang Lo itu peduli ama gue, kasi tau gue sialan!" Karrel benar benar frustasi.


Iyan menggeleng.


"Gak bisa. Lo bahkan akan lebih hancur dari ini seandainya Lo tau yang sebenarnya Rel,"  gumam Iyan dalam hati sembari menatap Karrel yang hancur.


Karrel keluar dari kelas namun sebelum itu ia berkata lagi.


"Dan sampai Lo ngasih tau gue apa yang Lo sembunyiin, hidup Lo gak akan tenang Iyan," setelah mengatakan itu Karrel benar benar meninggalkan Iyan sendiri dengan luka diwajahnya.


Tepat saat Karrel didepan pintu matanya membola sempurna, ia terkejut mendapati seorang gadis berdiri diluar kelas.


"L-lo?"


"Gue gak sengaja denger," ucap gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2