Dilan Picisan

Dilan Picisan
dilabrak Queen


__ADS_3

Tiga hari ini adalah hari-hari paling berat bagi gadis imut nan cantik. Dilan Maharani. Sejak didapatnya kabar kecelakaan Bara, perasaannya langsung hancur saat itu juga.


Firasat nya memang sudah tidak enak sejak keberangkatan Bara ke Jakarta pagi itu.


Seharusnya ia cegah Bara datang menemui Raniya saat itu. Jika saja ia mengikuti sedikit egonya, mungkin pemuda yang dicintainya tidak akan berbaring dengan alat dan infus ditempat ini.


Pandangan Dilan kosong. Satu jam lamanya ia duduk disamping brankar Bara.


Bara sudah dibawa kekamar inap. Dilan yang dibalut dengan baju steril serta penutup kepala dan masker menutup mulut dan hidung terus merutuki dirinya.


Dua hari sejak kecelakaan itu terjadi, Bara belum membuka matanya sampai sekarang.


"Bar," lirihnya. "Ayo dong buka mata kamu. Kamu nggak kangen sama aku?"


Tangannya bergerak mengelus rambut hitam Bara. Hal paling Bara sukai. Setiap Dilan melakukan itu, Bara akan memejamkan matanya dan menikmati sentuhan lembut gadisnya. Tapi sekarang Bara terpejam bukan karena menikmati sentuhan Dilan namun karena sakit.


"Maaf, harusnya aku nggak ngeyel. Harusnya aku ikut kamu, seandainya aku ikut ini mungkin nggak akan terjadi, iya kan? "


"Kamu nggak bakal ngalamin ini iya kan?" Dilan menunduk.


"Kamu tau aku benci banget sama orang sakit, tapi kenapa kamu malah tiduran disini," adunya pilu.


"Bangun Bara, kamu nggak suka kan liat aku nangis. Sekarang liat! Aku nangis Bar, kamu nggak mau hapusin air mata aku, Bar–aku kangen," adu Dilan diselingi isakan.


"Bentar lagi tahun baru, kamu nggak mau rayain malam tahun baru bareng aku," adunya.


"Aku mau kamu jadi orang pertama yang aku liat saat malam tahun baru nanti,"


Diluar kamar Bara, Karrel mengepalkan tangannya melihat betapa hancurnya Dilan saat ini. Matanya mengintip dibalik kaca pintu. Terlihat Dilan yang terus menangis.


Rasanya ingin sekali ia memeluk Dilan guna memberikan sedikit ketenangan. Namun hak apa yang ada pada dirinya? Sahabat? Bulshit! Ia tak pernah menganggap Dilan sahabatnya.


Ia ingin dekat dengan Dilan. Dengan embel-embel sahabat – meski saat itu ia sendiri yang memaksa Dilan.


Tapi, melihat Dilan yang seperti ini, apakah sanggup Karrel menambah beban dihati gadis itu? Hanya karena perasaan bodohnya ini?


Karrel mengusap wajah kasar. Menetralkan raut wajahnya. Ia tak mau Dilan melihat Karrel yang seperti ini.


Karrel menggeser pintu tersebut. Namun ia urungkan kembali niatnya untuk masuk, saat ekor matanya tak sengaja menangkap sosok wanita yang menjadi penyebab sakit Dilan-nya.


Dengan cepat ia mengejar Raniya yang terkejut karena kehadirannya diketahui oleh Karrel.


Karrel mencekal tangan Raniya membuat gadis itu berhenti.


"Buat apa lagi Lo kesini?" desis Karrel dengan tatapan tajam.


Ia ingat betul gadis yang tempo hari berdebat dengan Dilan. Gadis yang sering Dilan ceritakan – yang menjadi alasan Bara meninggalkan Dilan dipuncak kemarin.


Mata Raniya kesana-kemari seperti mencari alasan.


"G-gue mau konsul!" dalih Raniya, namun terdengar gugup.


"Konsul?" Karrel menaikkan satu alisnya.


"Iya, Lo apa-apaan sih? Lepas nggak!" sentak Raniya.


"Nggak ada orang konsul malam-malam gini," Karrel semakin mengeratkan cekalannya. "Rumah sakit tempat Lo konsul juga bukan disini," Karrel menajam.


Raniya tersentak, tau dari mana cowok ini mengenai tempat konsulnya? Namun dengan cepat mengubah mimik wajahnya.


"Lo nggak usah sotoy! Bukan urusan Lo gue mau konsul dimana,"


"Lo emang bukan urusan gue, tapi kalo Lo ngusik kehidupan Dilan, Lo berurusan sama gue," desis Karrel tidak main-main.


Raniya tersenyum miring. "Dilan udah jadi *****? Emang pantes dia dibilang 'picisan', emang murahan jadi cewek," hardiknya. "Bara lagi sakit kayak gitu tapi malah selingkuh sama cowok lain,"


Raniya meringis saat Karrel semakin memperkuat cekalannya. Bahkan lengannya sudah memerah.


"Apa Lo bilang? *****? Picisan? Murahan?" Karrel memajukan wajahnya. "Yang murahan itu elo! Gue tau Lo konsul bukan buat penyakit Lo itu, tapi karena perut ***** Lo itu ada kehidupan didalam," bisik Karrel sontak membuat Raniya melebarkan matanya.


"Lo-"


"Pergi dan jangan pernah nunjukin muka Lo didepan gue ataupun Dilan! Atau tunggu Bara sadar dan kita liat apa yang bakal dia lakuin sama ***** kayak Lo," ancam Karrel.


Raniya mengeraskan rahangnya menahan emosi. Lalu mendorong kuat dada Karrel kemudian melenggang pergi. 


Namun gadis itu tidak benar-benar meninggalkan rumah sakit. Ia masuk ke bilik toilet.


Raniya memuntahkan isi perutnya. Ia menghela nafas gusar, melihat lagi-lagi ada bercak darah yang keluar bersatu dengan muntahannya.


Ia lalu keluar dari bilik toilet menuju wastafel.


Raniya menatap pantulan dirinya sendiri dari cermin. Lalu tanpa aba-aba air matanya mengalir.


Raniya menaruh tangannya diperut lalu diusap beberapa kali. Sedetik kemudian ia remas kuat perut ratanya sendiri dengan nafas memburu.


Pikirannya melayang pada peristiwa yang membuatnya harus meninggalkan orang yang begitu dicintainya tiga tahun lalu.


Gadis itu terus menangis hingga suara derap kaki seseorang menghentikan tangisnya.


Segera ia hapus air mata dengan kasar dan cepat.


Lalu berjalan keluar.


________


Sementara itu.


"Nih, Lo belum makan dari siang," Karrel memberikan kantor kresek yang berisi makanan pada Dilan.

__ADS_1


Dilan melirik plastik hitam tersebut dengan malas.


"Gue nggak laper," Dilan malas.


"Makan bukan berarti harus laper. Perut Lo belum diisi sejak siang, ini udah malem dan Lo harus makan," Karrel mendudukkan dirinya disamping Dilan.


"Rel, gue nggak.."


"Makan!" titah Karrel tak terbantahkan.


Dilan mendengus meraih kotak makanan itu. Lalu memakannya dengan ogah-ogahan.


Karrel berdecak melihat suapan yang dimasukkan Dilan kemulutnya sangat sedikit. Ia lalu mengambil alih makanan dipangkuan Dilan.


"Kalo makan tuh yang bener! Apaan makannya kayak orang nggak semangat hidup aja," omelnya sembari menyuapi Dilan yang disambut dengan baik.


"Bara lagi berjuang antara hidup dan mati, gimana gue mau semangat hidup. Orang yang gue cinta kayak gini gara-gara gue," kata Dilan menyalahkan diri sendiri.


"Kenapa yang terjadi sama Bara jadi salah elo? Karena Lo nggak larang Bara balik waktu itu??" Dilan mengangguk.


"Seandainya gue mau ikut atau nahan Bara, pasti dia nggak bakal kecelakaan. Iya kan?" Karrel mendengus.


Ia meletakkan kotak makan yang telah tandas.


"Nggak ada seandainya seandainya! Ini terjadi karena emang udah takdirnya. Meskipun Lo ikut atau nggak tetep aja Bara bakal ngalamin hal ini karena emang udah rencana  Tuhan buat bikin Bara sakit kek sekarang," jelas Karrel panjang lebar berusaha menenangkan Dilan.


Dilan berusaha memahami ucapan Karrel. Namun tetap saja rasa bersalah terus memenuhi hatinya.


Dilan menatap pintu ruangan yang terdapat Bara tengah terbaring didalam sana. Ia menghembuskan nafas berat.


Karrel melihat Dilan tanpa sadar meraih tangan Dilan lalu membawanya ke dekapannya.


Dilan tersentak samar lalu membalas pelukan Karrel. Ia menangis lagi. Entah untuk yang keberapa kalinya.


Lama Dilan mengeluarkan isi hatinya dengan air mata. Hingga seseorang datang menarik tangannya dengan kasar.


Plak.


Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Dilan. Karrel tercengang, pun Dilan yang kini memegangi pipinya yang terasa panas campur perih.


"*****!" umpat gadis berponi rata dengan rambut menutupi seluruh punggungnya.


Karrel membawa Dilan bersembunyi dibelakangnya.


"Lo apa-apaan?!" Karrel mengeraskan rahangnya. Menatap gadis yang tingginya sampai di lagu Karrel.


"MINGGIR LO! GUE NGGAK ADA URUSAN SAMA LO!" pekik– Rindu dengan mata memerah menahan emosi.


"Gue nggak mau!" tolak Karrel dingin.


"Gue bilang minggir!" desis Rindu. Aura disekitar gadis itu sungguh menakutkan.


Dilan yang sempat syok karena tiba-tiba ditampar oleh Rindu maju dan balik menatap nyalang.


"Cewek murahan!" Dilan melotot mendengar hardikan Rindu. "Pacar Lo lagi sakit didalem dan Lo malah asik peluk-pelukan sama cowok lain! Daebak! Emang pantes Bara cinta mati sama Lo," cecar Rindu geleng-geleng kepala dan bertepuk tangan.


"Maksud Lo apa? Jangan asal nuduh ya!" ujar Dilan tak terima.


Gadis bernama Rindu itu menyeringai. "Ternyata Lo emang kayak yang orang-orang bilang, *****! Cuih,"


"JAGA LISAN LO YA!" ancam Dilan.


"LO YANG JAGA KELAKUAN LO!" sentak Rindu lalu menarik rambut Dilan.


Dilan terpekik. Meringis kecil saat rambutnya ditarik dengan brutal oleh Rindu.


Karrel melotot tak percaya melihat itu. Ia segera memisahkan dua gadis yang saling jambak didepan matanya. Yang didominasi oleh gadis berponi rata tersebut.


"Anjing!" umpatnya saat matanya kena colok Rindu.


"LEPASIN NGGAK!"


"LO YANG LEPASIN DASAR *****!" Rindu menendang kaki Dilan hingga ia tersungkur.


Karrel membantu Dilan berdiri. "Lo nggak papa?"


Dilan tak menggubris Karrel. Ia kembali maju berusaha memukul Rindu namun ditahan Karrel.


"Lepas Rel! Gue nggak terima dihina sama dia," tunjuk Dilan. Rambutnya kini sudah tak berbentuk lagi. Sama halnya dengan Rindu meski Dilan lebih mengenaskan.


"Emang bener kan?? Lo emang murahan, udah ngerebut Bara dari Raniya, sekarang selingkuhin Bara. Padahal dia jadi gitu gara-gara elo," tuduh Rindu.


Dilan mengepalkan tangannya berusaha menahan amarah. "Jadi ini tentang Raniya? Dibayar berapa Lo sama dia, sampai nge-labrak gue kek gini? Sok banget paling tersakiti, bulshit tau nggak! Dia yang ninggalin Bara dulu dan itu gak ada hubungannya sama gue. Tau mukanya Bara aja karena dia gak lulus, gimana bisa Lo nuduh gue rebut dia dari Raniya?" jelas Dilan.


Rindu tersentak baru tau fakta itu. Namun ia gengsi minta maaf.


"Terus ini apa?? Pelukan sama cowok lain dibelakang Bara. Disaat dia lagi kritis sekarang," tanya Rindu tak biasa.


"Dia temen gue, salah kalo gue hibur??" Karrel bersuara.


Rindu baru akan membuka mulutnya kembali namun tiba-tiba teman-temannya datang.


"Aduh Rin, jangan bilang Lo abis labrak Dilan?" sembur Rakesh.


Rindu mendengus membuang muka.


"Ck ck ck, Rin! Lo bener bener ratu jambak," Melky membenarkan rambut Rindu.


"Kagak capek apa Lo labrak anak orang sana sini?" Malik jengah.

__ADS_1


"Bacot!" sahut Rindu.


Melky menoleh ke Dilan. "Eh, Dilan. Gimana keadaan Bara?"


"Masih sama kayak kemarin," jawab Dilan lesu lalu duduk.


"Sorry, kita kita baru jengukin sekarang. Kita sibuk ngurusin anak anak karena tawuran kemarin," jelas Malik tanpa diminta.


"Ekhem," Karrel berdehem. Sontak mereka melirik Karrel.


"Lo-" Melky tercekat melotot tak percaya.


"Anjir, Lo Karrel kan? Boss geng Horrified," seru Rakesh.


"Karrel?" beo Rindu.


"Ituloh Rin, yang kemarin ngalahin elo pas turun pertama kali," bisik Melky.


"Ck, jadi elo yang namanya Karrel?" Rindu menarik satu alisnya.


Karrel melirik mereka malas. Kemudian ikut duduk disebelah Dilan. Dengan kaki bertumpu pada kakinya yang lain. Tangan disilangkan di dada.


Songong banget. Batin mereka serentak.


"Btw, Lo ngapain disini?" tanya Rakesh penasaran.


"Bukan urusan Lo," ketus Karrel tanpa melirik lawan bicaranya.


"Buset dingin amat," celatuk Melky berbisik masih didengar Karrel.


"Lo kenal sama ceweknya Bara?" Rindu menoleh ke Rakesh.


"Iyalah, orang Bara sering bawa dia ke tongkrongan kita. Jelas taulah," kata Rakesh.


"Lo cuman diceritain sama Bara doang, nggak pernah ketemu." timpal Malik.


"Sekalinya ketemu main labrak anak orang. Dijambak lagi," Melky tak habis pikir.


"Ck, gue pernah liat ya!" bantah Rindu tak mau kalah.


"Kapan?" seru Malik.


"Pas tujuh belasan kemarin,"


"Emang Lo masih apal mukanya Dilan kek apa? Orang Lo pelupa," ledek Rakesh. Rindu berdecak tak suka.


Dilan dan Karrel tak peduli celotehan orang-orang tersebut.


"Biasanya orang kalo salah itu minta maaf ya nggak??" tau tau Tia datang dan menyindir Rindu.


Tia memang melihat Dilan dilabrak Rindu tadi. Hanya saja dia tak sengaja menabrak seseorang hingga kepala orang itu terbentur dinding entah kenapa bisa seperti itu. Urusannya jadi panjang karena orang tersebut minta ganti rugi.


"Telinga gue gatel nih, pengen disumpal pake kata 'sorry'," sindir Tia sambil mengorek kupingnya sok.


Dilan terkejut melihat Tia tiba-tiba nimbrung.


"Heh, cewek ganjen! Ngapain Lo disini?!" sepertinya Rindu punya dendam kesumat pada Tia.


Tia mengibaskan rambutnya kebelakang sok cantik. "Dihh?? Lo bilang apa? Pelakor? Eh, denger ya! Fitnah itu lebih sadis daripada pembunuhan tau!"


"Emang iyakan Lo keganjenan! Nggak sudi gue kalo Gerald sampai sama cewek tukang tebar pesona kek elo!" sungut Rindu.


"Dihh? Tia julid. "Siapa juga yang mau sama cowok buaya darat macam dia. Sowwriih gue ini classy, nggak cocok sama dia. Gue terlalu cantik buat kakak Lo yang amit-amit," Tia melengos menuju Dilan. Tak memperdulikan Rindu yang kini menggeram marah.


Rindu menyentak bahu Tia. Hingga Tia terpaksa menghadap Rindu.


"Jangan sok cantik Lo!" Sentak Rindu.


"Emang gue cantik kok," Tia tak mau kalah. "Tanya aja ma cowok-cowok dibelakang elo. Matanya udah mau keluar tuh, ngeces liat kecantikan paripurna gue," tunjuk Tia dengan dagunya pada tiga pemuda tampan dibelakang Rindu – yang menatap Tia penuh binar. Terutama Melky, udah kayak mau makan Tia.


Rindu reflek menoleh pada mereka. Ia mendelik tajam melihat ekspresi para temannya.


"Heh, goblok!" Rindu menoyor kepala mereka satu-satu.


"Dilaaan, sorry gue baru bisa datang sekarang," Tia menekuk bibirnya kebawah. Lalu memeluk Dilan drama.


Dilan tak ambil pusing sahabatnya satu ini. Memang begitu kelakuannya, entah karena apa. Begitu banyak musuh Tia diluar sana. Kemarin tunangan pak Agus, sekarang Rindu – yang Dilan tau salah satu teman baik Bara.


Karrel memutar matanya jengah. Emang rempong teman Dilan satu ini.


Dilan tak dapat menahan isakan saat mendapat pelukan dari sahabatnya.


"Eh eh, kok mewek?" Tia melepaskan pelukannya. Kemudian melihat wajah Dilan yang kini menangis.


"Bara Ti... Gue nggak tau lagi harus gimana," adu Dilan.


Tia menatap Dilan iba. Memeluk Dilan kembali. "Hush, udah jangan sedih mulu. Entar cantiknya ilang loh," Dilan terkekeh.


Rindu yang sibuk menaboki Melky melirik Dilan. Ia pun ikut iba. Setetes air matanya jatuh, namun dengan cepat dihapus. Malu jika ketauan nangis.


"Queen! Udah gue bilang Dilan itu cinta sama Bara. Lo nggak usah khawatir Dilan bakal selingkuh karena Bara lagi sakit sekarang. Jangan dengerin omongan Rani! Bara juga udah jelasin gimana hubungan mereka. Nggak ada lagi yang spesial diantara mereka. Rani cuman caper doang, dan liat gegara dia Bara jadi masuk rumah sakit kan?" bisik Malik masih didengar Karrel. Karena posisi duduknya memang dekat dengan mereka.


"Ck, tapi gue gedeg ama temennya. Sok kecapekan banget cuih," Rindu balik berbisik.


"Emang cakep gitu kok," celatuk Melky.


"Gue sepik ahh," sahut Rakesh semangat.


"Boleh kalo Lo pengen digorok kakak gue," ancam Rindu.

__ADS_1


Karrel melotot kecil mendengar Malik memanggil Rindu dengan sebutan 'queen'.


"Jadi elo queen itu," seringai Karrel dalam hati. Karrel menyungging senyum miring samar.


__ADS_2