
Dilan segera menutup dan mengunci pintu rumah. Namun sebelum itu ia memecahkan celengan ayam miliknya untuk ongkos kerumah sakit. Karena ia tak sempat minta uang pada Anjani tadi.
Dengan perasaan kalut ia hendak menahan tukang ojek. Lalu teringat Raden ayahnya harus dikabari mengenai kondisi Diran. Segera Dilan mendial nomer telpon Raden, tersambung namun tidak diangkat.
Dilan kesal. Tanpa pikir panjang ia meminta tukang ojek tadi untuk mengantarnya ke rumah Iyan. Ia ingat karena pernah diberitahu dulu.
Sesampainya di rumah Iyan. Hal pertama yang dilihat adalah pekarangan rumah itu.
Gadis kecil berkuncir dua sekitar umur sembilan tahun terlihat disuapi oleh Raden. Dengan seorang wanita berusia tiga puluhan duduk diantara gadis kecil itu.
Juga terlihat Iyan yang tengah menikmati sandwich ditangannya.
Dilan benar benar terpukul. Bisa bisanya Raden melupakan hari ulang tahun anak kembarnya dan malah piknik dengan keluarga keduanya.
Mereka tertawa bahagia sedang Diran entah apa yang terjadi di rumah sakit sekarang. Tangan mungil itu terkepal.
Dilan bertekad mulai hari ini ia sudah tak punya papa lagi dan tak ingin mengenal yang namanya Iyan lagi.
Dilan berbalik hendak meninggalkan pemandangan tak enak dipandang itu. Namun ternyata Iyan tak sengaja melihat Dilan berdiri didepan gerbang rumah nya.
"Dilan," lirih Iyan masih didengar oleh Raden.
"Dilan?" Raden menoleh kemana arah pandang Iyan. Sontak matanya membulat melihat gadis kecilnya ada disini. Untuk apa Dilan datang jauh jauh ketempat ini?
"Sebentar," pamit Raden pada Riska yang juga tak kalah terkejutnya dari Raden.
Raden menghampiri Dilan. Iyan serta yang lain mengikuti dari belakang.
"Dede'? Kamu ngapain disini?" heran Raden.
Dilan tak menjawab. "Kamu kesasar?"
"Dilan kamu kok bisa sampai kerumah aku?" tanya Iyan polos. Seketika Dilan menoleh pada Iyan dan melemparkan tatapan sinis.
Aura yang tak pernah diperlihatkan Dilan. Si gadis ceria kini berubah sedingin es. "Iya sepertinya saya kesasar," kata Dilan.
Raden mengerutkan keningnya mendengar cara bicara anaknya yang tak biasanya.
"Dilan ayok masuk! Gabung sama Tante sama Iyan kita piknik kecil kecilan bareng," ajak Riska lembut seraya memegang tangan Dilan.
Dengan cepat Dilan menepis tangan Riska dengan kasar. "Jangan pegang pegang saya," kata Dilan tanpa ekspresi.
"DILAN! Kamu jangan kurang ajar begitu!" ujar Raden tak sadar meninggikan suaranya.
"Mas," lirih Riska memperingati.
Lalu Raden sadar pakaian yang dikenakan Dilan adalah pakaian pesta. "Kamu kenapa pakai baju begituan?"
Dilan terkejut papanya bahkan tak ingat hari ini adalah ulang tahunnya dengan Diran. "Papa gak inget hari ini hari apa?"
"Hari Minggu lah!" jawab Raden ketus. Dia benar benar lelah dengan sikap Dilan.
"Hari ini ulang tahun aku sama kak Diran lah," gumam Dilan menunduk menatap aspal. Air matanya tak dapat dibendung lagi.
Lagi lagi Raden terkejut. Ia melupakan ulang tahun anak kembarnya dan malah piknik bersama anak lainnya.
"Oh. Ya udah sekarang ayok kita pulang. Ris kamu sama anak-anak juga ikut," ajak Raden.
Dilan mengepalkan tangannya mendengar penuturan Raden. Dengan mudahnya ia melupakan hari ulang tahunnya lalu dengan entengnya mengajak istri keduanya turut serta. Benar benar patut diberi jempol.
Iyan dapat melihat bahwa Dilan tengah menahan amarahnya. Namun ia tak dapat melakukan apa apa.
"Gak perlu! Lagi pula gak ada acara ulang tahun lagi yang bakal mau saya rayain dan kak Diran bareng papa," setelah mengatakan itu Dilan meninggalkan mereka.
Setelah beberapa meter berlari tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Halo bang,"
"Dede' kamu dimana sekarang?" sahut Dimas terdengar sedih.
"Ini dede' mau kerumah sakit. Tunggu bentar,"
"Kerumah sakit sekarang tapi kamu hati hati. Kalo bisa..." Suara Dimas tercekat tak dapat melanjutkan ucapannya.
"Kenapa bang?" tanya Dilan ikut sedih entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya tapi tak tau apa.
__ADS_1
"Tolong kerumah Iyan. Mungkin papa ada disana ajakin juga,"
"Emang ada apa sih bang? Jangan bikin dede' khawatir gini," Dilan tampak gusar.
"Kerumah sakit aja sekarang. Jangan lupa ajak papa,"
Tut.
Dimas mematikan panggilan sepihak.
Dengan berat hati Dilan melangkah kembali kerumah bak neraka itu. Ternyata Raden dan keluarga keduanya belum beranjak dari posisi terakhir mereka.
"Kenapa? Mau minta ongkos?" seru Raden ketus.
Semenjak kelakuannya terbongkar bukannya meminta maaf Raden malah semakin seenaknya. Dilan sedih dengan perubahan sikap papanya padanya. Sekarang Dilan seperti bukan anaknya saja.
"Pah...ayok kita kerumah sakit," lirih Dilan takut, entah ia merasa separuh nyawanya hilang. Bukan takut pada Raden.
"Papa sibuk!" tolak Raden cepat.
"Mas! Jangan kayak gitu!" ucap Riska.
"Siapa yang sakit Lan?" sahut Iyan.
"Bukan urusan Lo!" tukas Dilan lalu beralih ke Raden. "Diran sakit pah..ayok kita kesana. Tadi bang Dimas nelfon dede' suruh bawa papa kerumah sakit bareng dede'," Dilan menggenggam tangan Raden berharap papanya ingin diajak bersamanya.
Raden sebenarnya ingin ikut namun melihat ekspresi keruh wajah Ika anaknya dari Riska membuat ia buta. "Gak bisa! Kamu gak liat papa lagi piknik bareng adek kamu?"
"PAPA! PAPA BENAR BENAR KELEWATAN! AKU MASIH NERIMA PAPA GAK INGET DAN GAK DATENG KE ULTAH AKU SAMA KAK DIRAN. TAPI SEKARANG KAKAK LAGI SAKIT ASAL PAPA TAU! AKU LIAT BEBERAPA KALI ADA DARAH KELUAR DARI IDUNG KAK DIRAN TAPI KAK DIRAN GAK MAU AKI NGASIH TAU SIAPA-SIAPA!" Pekik Dilan benar benar marah dengan kelakuan Raden.
"KALO SAMPAI SESUATU TERJADI SAMA KAKAK. AKU GAK AKAN PERNAH MAAFIN PAPA DAN GAK BAKAL ANGGAP PAPA INI PAPA AKU!" sentak Dilan kemudian meninggalkan Raden yang mematung di tempatnya.
Sepeninggal Dilan, Riska membujuk suaminya untuk menyusul putri kecilnya.
"Mas, jangan diem aja! Sana kejar kalo sampai sesuatu terjadi sama Dilan gimana?" ujar Riska membuyarkan lamunan Raden.
Raden mengangguk lalu buru-buru masuk ke mobilnya yang memang terparkir didepan gerbang rumah Riska.
"Kamu gak ikut?" tanya Raden pada Riska.
"Yaudah kalo aku pamit," ucap Raden lalu mengecup kening Riska.
Iyan sebenarnya ingin ikut tapi melihat bagaimana marahnya Dilan padanya membuat ia mengurungkan niatnya.
Di rumah sakit.
"Jani!" panggil Raden.
"Aa'..." Anjani langsung berhambur ke pelukan suaminya. "Diran A'. Diran teh keritis,"
"Iya aku tau," Raden mendekap istrinya sangat erat. Berusaha menyalurkan kekuatan.
Dimas yang melihat itu membuang mukanya muak dengan kelakuan Raden. Lalu sadar Dilan tak datang dengan Raden.
"Dilan mana?" tanya Dimas seketika Anjani melepas pelukannya.
"DILAN MANA PAH?" tanya Dimas lagi kini dengan suara yang ditinggikan.
Raden sendiri tak tau. Dia pikir Dilan langsung ke rumah sakit karena ia tak mendapati Dilan ada dimana-mana saat perjalanan menuju rumah sakit.
"Papa pikir Dilan udah sampai duluan," ujar Raden mencoba terlihat tenang.
Dimas semakin frustasi. Satu adiknya sedang kritis satu lagi tak tau ada dimana. Berkali kali ia mendial nomor Dilan namun tak dapat tersambung.
"Tadi Dimas suruh Dilan buat jemput papa kerumah 'istri' papa. Tapi kenapa bisa gak bareng?" ucap Dimas sambil menekan kata 'istri'.
"Papa mana tau. Tadi Dilan lari terus papa gak liat dia dimana mana selama perjalanan kesini," kata Raden ikut khawatir.
"Dede' kamu dimana nak," kalut Anjani.
Selang beberapa lama. Dokter keluar dari ruang UGD. Semua atensi beralih pada dokter pria itu.
"Gimana keadaan adik saya Dok?" sembur Dimas mendahului Raden ketika akan bersuara.
Ketiganya menatap penuh harap pada sang dokter. Dokter tersebut menatap satu persatu mata keluarga pasien yang habis ditangani itu. Lalu gelengan kepalanya menjadi jawaban untuk Dimas dan lainnya.
__ADS_1
"Maksud dokter apa? BICARA YANG BENAR?" ucap Dimas kalut lalu meremas kerah baju dokter itu.
"Bang udah jangan emosi gini atuh," seru Anjani seraya menenangkan Dimas meski ia juga telah terisak.
Sedang Raden tak mengeluarkan sepatah katapun.
"Maaf kami tidak dapat menyelamatkan nona Diran. Allah sepertinya lebih sayang dengan nona Diran," ucap dokter tersebut kemudian meninggalkan ketiga orang yang telah terisak.
"Enggak! Gak mungkin! Adek aku gak mungkin pergi. Gak mungkin kan Bu? Iya kan? Diran cuma tidur didalam!" racau Dimas.
Tepat saat itu Dilan datang dengan keadaan memilukan. Kakinya berdarah karena tak memakai alas. Baju pestanya juga sudah tak berbentuk lagi. Jangan tanyakan rambutnya. Namun kedua tangannya memeluk sebuah buku bersampul hijau tosca milik saudara kembarnya.
"ENGGAK!! MAKSUD BANG DIMAS APA?" Dilan histeris sembari mengguncang bahu Dimas. Dimas hanya pasrah diperlakukan seperti itu oleh Dilan. Dunianya juga hancur.
Dimas bahkan belum sadar jika adik yang sedari tadi dicarinya tengah meracau tak jelas didepannya.
Anjani jangan ditanya. Ia bahkan sudah pingsan duluan. Dengan sigap Raden menangkap istri nya itu lalu dibawa keruangan lain untuk diperiksa.
"Bang...." panggil Dilan pilu.
Dimas tersadar Dilan ada didepannya sekarang. Sontak ia langsung mendekap adiknya tercinta.
"Diran dek. Diran ninggalin kita. Dilan pergi. Diran..." adu Dimas. Entah Dimas hanya ingin mengadu bahwa adik kesayangannya telah berpulang.
"Bang... Kak Diran bang...kak Diran...kak Diran... hiks... hiks...kak Diran.... kembarannya dede' bang....kak Diran bang... Kak Diran.."
Dilan ikut mengadu. Kakak kembarnya lebih dulu berpulang.
Bayangkan bagaimana memilukan nya kondisi mereka. Kedua kakak beradik itu saling mengadu. Saling meracau siapa yang paling sakit ditinggal oleh Diran. Tentu mereka sama sakitnya.
Setelah pemakaman Diran. Dilan masih terus menangis. Bahkan hiasan bekas ulang tahun yang tak jadi dirayakan masih terlihat.
Dilan kini berandai-andai. Seandainya tidak menikah lagi pasti Diran akan mendapat kasih sayang penuh.
Seandainya Raden tak datang waktu kelulusan mereka dan tak tau bahwa ia dan Iyan bersaudara, pasti Diran masih bisa bermain dengan Iyan bahkan berpacaran.
Seandainya Raden datang dihari ulang tahun mereka bukannya piknik dengan keluarga Iyan, setidaknya Diran dapat merasakan serta menerima ucapan selamat ulang tahun meski untuk yang terakhir kalinya.
Dan semua ini karena keluarga Iyan yang telah merebut kebahagiaan dan keutuhan keluarganya. Ia kini benar benar membenci cowok itu. Juga Raden papanya. Seandainya Raden tidak keras kepala dan langsung mau ikut dengan Dilan waktu itu. Pasti Dilan dapat menemani kakaknya disaat saat terakhirnya.
Saat tengah melamun Raden datang dengan keluarga keduanya. Dilan tentu emosi. Benar benar tak tau malu keluarga perusak rumah tangga ini. Belum puaskah mereka melihat kehancuran Dilan dan keluarga?
Tidak ingin memandang wajah wajah menjijikkan itu. Dilan langsung berlari naik kekamar nya. Menghiraukan panggilan Raden.
Sesampainya di kamar ia duduk di kursi belajar kembarannya. Banyak piala-piala kecil serta piagam yang tersusun rapi atas di meja. Ia mengelus satu persatu piagam yang dimenangkan oleh kakaknya itu. Piagam dan piala pemenang lomba membaca puisi. Baik se-SMA sampai tingkat nasional.
Tangan Dilan berhenti pada buku bersampul hijau tosca milik saudara kembarnya. Buku yang selalu dibawa ke manapun oleh Diran. Namun melarang keras Dilan membuka ataupun menyentuh barang berharga tersebut.
Karena penasaran dan juga kakaknya sudah tak ada didunia. Huft, Dilan membuka lembaran tersebut.
Dilan terkekeh ia pikir buku ini semacam diary, tapi ternyata isinya puisi-puisi karya Diran. Ia membaca bait per bait puisi tersebut. Entah mengapa rasanya Diran ada bersamanya saat membaca puisi ini.
Keningnya berkerut membaca satu puisi yang tanggalnya tertulis sehari sebelum ulang tahun mereka.
'Batinku berteriak, jiwaku 'tlah koyak.
Dikala sepi, disaat menangis.
Ada sebuah pohon tempat ku berteduh.
Merangkai bingkai hidup yang tak berharga.
Namun ia tak berdaun dan tak berbunga.
Ingin rasanya kaki berlari, namun hati ini tak bergeming.
Yang kulakukan, hanya menangis dibelakangnya, berlaku tak mengapa didepannya.'
Dilan tak mengerti isi puisi milik saudara kembarnya itu. Terlalu misterius menurutnya. Siapa yang dimaksud dalam puisi Diran?
Kata pohon tentu merujuk pada seseorang tapi siapa? Apakah Raden papanya? Atau Iyan? Tidak mungkin.
Sejak saat itu Dilan bertekad belajar membaca puisi agar dapat mengartikan isi puisi kakak kembarnya ini.
__ADS_1